
Mengenal 4 Jenis Attachment Style dan Ciri-Cirinya
“Attachment style memiliki 4 jenis, yaitu secure, avoidant anxious, dan disorganized. Masing-masing karakteristik tersebut memiliki ciri yang berbeda, tergantung dari pola asuh orang tua.”

DAFTAR ISI
- Memahami 4 Jenis Attachment Style
- Faktor Pembentuk Attachment Style
- Dampak Attachment Style dalam Kehidupan
- Cara Mengubah Insecure Attachment Menjadi Secure
- Studi Mengenai Attachment Style
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa kamu selalu merasa cemas saat pasanganmu telat membalas pesan, atau sebaliknya, mengapa kamu justru merasa risih ketika seseorang mencoba terlalu dekat secara emosional denganmu? Jawabannya mungkin terletak pada attachment style atau gaya kelekatan yang kamu miliki. Dalam dunia psikologi, pemahaman tentang apa itu attachment menjadi kunci utama untuk membedah bagaimana pola hubungan antarmanusia terbentuk.
Teori attachment pertama kali dikembangkan oleh psikolog asal Inggris, John Bowlby, pada tahun 1950-an. Secara sederhana, attachment adalah ikatan emosional mendalam yang terbentuk antara seorang anak dengan pengasuh utamanya (biasanya orang tua) di masa kecil. Ikatan awal ini ternyata berfungsi sebagai cetak biru (blueprint) yang akan terus dibawa hingga dewasa. Cetak biru inilah yang menentukan bagaimana cara kamu mencintai, merespons konflik, dan membangun ekspektasi terhadap orang lain.
Penting untuk memahami apa itu attachment karena hal ini memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan sosialmu. Kelekatan yang tidak aman (insecure attachment) sering kali menjadi akar dari berbagai masalah hubungan, seperti rasa cemburu yang berlebihan, ketidakmampuan untuk berkomitmen, hingga siklus hubungan yang toksik. Jika dibiarkan tanpa kesadaran dan penanganan, pola ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental secara keseluruhan, memicu stres kronis, hingga depresi ringan.
Oleh karena itu, mengenali gaya kelekatan diri sendiri adalah langkah pertama menuju hubungan yang lebih sehat dan bahagia. Nah, mau tahu apa saja jenis-jenis attachment style, dampaknya, serta bagaimana cara mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya!
Memahami 4 Jenis Attachment Style
Psikolog Mary Ainsworth, rekan kerja John Bowlby, memperluas teori ini dan mengelompokkan attachment ke dalam beberapa kategori. Saat ini, para ahli psikologi modern membagi attachment style orang dewasa menjadi empat jenis utama. Berikut adalah penjelasannya:
1. Secure Attachment (Gaya Kelekatan Aman)
Orang dengan secure attachment memiliki pandangan yang positif terhadap diri mereka sendiri maupun pasangannya. Mereka merasa nyaman dengan kedekatan emosional (intimasi) dan kemandirian secara bersamaan. Saat berada dalam hubungan, mereka tidak mudah panik jika pasangannya butuh waktu sendiri, dan tidak takut untuk meminta bantuan saat mereka sendiri sedang kesulitan.
Kondisi ini umumnya terbentuk ketika anak dibesarkan oleh orang tua atau pengasuh yang responsif, hangat, dan selalu hadir untuk memenuhi kebutuhan emosional serta fisik sang anak. Orang dewasa dengan gaya ini cenderung memiliki hubungan yang awet, stabil, didasari rasa saling percaya, dan mampu menyelesaikan konflik secara sehat tanpa drama yang berlebihan.
2. Anxious-Preoccupied Attachment (Gaya Kelekatan Cemas)
Jika kamu sering merasa “haus” akan kasih sayang, takut ditinggalkan (fear of abandonment), dan cenderung memikirkan hubungan secara berlebihan (overthinking), kamu mungkin memiliki tipe anxious attachment. Individu dengan gaya ini sering merasa bahwa mereka lebih mencintai pasangannya daripada pasangan mencintai mereka. Mereka butuh validasi dan jaminan yang konstan.
Pola ini biasanya berakar dari pola asuh masa kecil yang tidak konsisten. Terkadang orang tua sangat hangat, namun di lain waktu menjadi dingin, abai, atau tidak tersedia secara emosional. Hal ini membuat anak menjadi bingung dan cemas, sehingga saat dewasa ia selalu “berjaga-jaga” akan kemungkinan ditinggalkan. Stres akibat memikirkan hubungan sering kali mengganggu kesehatan fisik mereka. Jika kamu sering merasa lelah akibat stres dan cemas memikirkan hubungan, jangan lupa jaga kondisi tubuhmu. Kamu bisa beli vitamin dan suplemen daya tahan tubuh secara online di Halodoc agar tubuh tetap fit meski pikiran sedang terbebani.
3. Dismissive-Avoidant Attachment (Gaya Kelekatan Menghindar)
Berbanding terbalik dengan tipe anxious, individu dengan dismissive-avoidant attachment sangat mengagungkan kemandirian. Mereka memandang keintiman sebagai ancaman terhadap kebebasan mereka. Orang dengan gaya ini cenderung menekan emosi mereka dan menjauh ketika hubungan terasa “terlalu dekat” atau saat konflik mulai muncul emosi yang dalam.
Di masa kecil, mereka mungkin diasuh oleh figur yang secara emosional tidak tersedia, kaku, atau secara tegas menolak kebutuhan anak akan kenyamanan. Anak belajar bahwa mengekspresikan kebutuhan hanya akan berujung pada penolakan, sehingga mereka mengembangkan mekanisme pertahanan: “Saya tidak butuh siapa pun.” Di mata orang lain, individu avoidant sering dianggap dingin, cuek, atau takut berkomitmen (commitment phobe).
4. Fearful-Avoidant / Disorganized Attachment (Gaya Kelekatan Takut-Menghindar)
Ini adalah tipe attachment yang paling kompleks. Individu dengan gaya fearful-avoidant mendambakan keintiman dan kasih sayang, tetapi di saat yang sama mereka juga sangat ketakutan akan hal itu. Mereka memiliki pandangan negatif tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Sikap mereka sangat fluktuatif—bisa sangat menempel (clingy) namun tiba-tiba menjauh tanpa alasan jelas.
Gaya kelekatan ini paling sering dikaitkan dengan trauma masa kecil yang signifikan, pengabaian yang parah (neglect), atau kekerasan (baik fisik maupun verbal) dari orang tua. Orang tua yang seharusnya menjadi sumber rasa aman justru menjadi sumber ketakutan. Jika kamu memiliki pola ini dan merasa hal ini sangat mengganggu keseharian serta mentalmu, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Kamu bisa konsultasi ke dokter spesialis kejiwaan atau psikolog klinis di Halodoc untuk membantu mendiagnosis masalah, memproses trauma masa lalu, dan mendapatkan penanganan medis secara psikologis.
Tanda-Tanda Kamu Memiliki Insecure Attachment Style
- Sulit memercayai niat baik orang lain (mudah curiga).
- Selalu butuh kepastian yang berlebihan (constant reassurance) bahwa kamu dicintai.
- Kecenderungan untuk menyabotase hubungan yang sebenarnya sehat dan berjalan baik.
- Merasa sangat tidak nyaman saat harus membicarakan perasaan terdalam atau menunjukkan sisi rentan.
- Ketergantungan emosional (codependency) yang tinggi pada pasangan.
Faktor Pembentuk Attachment Style
Meskipun dasar attachment terbentuk di masa balita, ada beberapa faktor yang secara berkelanjutan membentuk dan dapat memodifikasi gaya kelekatan seseorang:
1. Dinamika Pola Asuh Masa Kecil
Ini adalah fondasi utamanya. Respons orang tua saat bayi menangis, kelaparan, atau ketakutan akan terekam dalam sistem saraf anak. Pengasuhan yang stabil menciptakan secure attachment, sementara pengasuhan yang tidak stabil, manipulatif, atau abusif akan memicu insecure attachment (anxious, avoidant, atau disorganized).
2. Pengalaman Romantis Pertama
Menariknya, meskipun kamu dibesarkan di keluarga yang penuh kasih sayang (secure), pengalaman cinta pertama di masa remaja yang sangat traumatis—misalnya, diselingkuhi berulang kali atau terjebak dalam hubungan yang manipulatif (toxic relationship)—bisa mengubah gaya kelekatanmu menjadi anxious atau avoidant di masa dewasa.
3. Trauma Kehilangan di Masa Dewasa
Kehilangan sosok penting secara tiba-tiba, perceraian yang buruk, atau pengkhianatan dari orang yang sangat dipercaya dapat mengguncang rasa aman dalam diri seseorang, sehingga mereka mulai membangun tembok pertahanan emosional sebagai bentuk survival mode.
Dampak Attachment Style dalam Kehidupan
Memahami apa itu attachment tidak hanya berguna untuk urusan asmara. Gaya kelekatan ini meresap ke berbagai area kehidupan:
1. Dalam Hubungan Romantis
Pasangan dengan tipe secure umumnya lebih bahagia, langgeng, dan memuaskan secara emosional maupun seksual. Di sisi lain, kombinasi pasangan anxious dan avoidant sering kali menciptakan dinamika push-and-pull (tarik-ulur) yang sangat melelahkan. Yang satu terus mengejar dan menuntut perhatian, sementara yang lainnya merasa tercekik dan terus berlari menjauh.
2. Dalam Lingkungan Kerja
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa karyawan dengan secure attachment lebih mudah bekerja sama dalam tim, menerima kritik membangun, dan menjadi pemimpin yang suportif. Karyawan dengan tipe anxious mungkin terus-menerus mencari validasi dari atasan dan takut mengambil risiko karena takut gagal. Sedangkan tipe avoidant lebih suka bekerja secara individual, enggan mendelegasikan tugas, dan kurang pandai membangun networking.
Cara Mengubah Insecure Attachment Menjadi Secure
Kabar baiknya, attachment style bukanlah vonis mati. Otak manusia memiliki neuroplastisitas, yang berarti jalur saraf dan pola perilaku dapat diubah. Proses mengubah kelekatan yang tidak aman menjadi aman disebut dengan Earned Secure Attachment. Berikut adalah beberapa langkahnya:
1. Meningkatkan Self-Awareness (Kesadaran Diri)
Langkah awal adalah mengakui pola perilakumu. Jika kamu sering mendadak menjauhi orang yang mulai menyukaimu, sadari bahwa itu adalah respons avoidant. Jika kamu cemas berlebihan saat pesanmu tidak dibalas selama 10 menit, sadari bahwa itu respons anxious. Penyadaran diri (mindfulness) membantu mencegah reaksi impulsif.
2. Menjalani Terapi Psikologis
Bagi pemilik gaya fearful-avoidant atau mereka yang memiliki trauma masa kecil yang berat, bantuan psikolog sangatlah krusial. Terapi Kognitif Perilaku (CBT) atau Terapi Perilaku Dialektis (DBT) terbukti efektif merestrukturisasi pola pikir negatif terkait hubungan dan diri sendiri.
3. Memilih Pasangan yang “Secure”
Orang dengan insecure attachment sering kali secara tidak sadar tertarik pada tipe yang justru akan memvalidasi ketakutan terdalam mereka (contoh: orang anxious tertarik pada orang avoidant). Secara sadar pilihlah pasangan yang stabil, sabar, komunikatif, dan memiliki tipe secure. Hubungan yang aman dapat menjadi wadah penyembuhan (healing) yang sangat kuat.
Studi Mengenai Attachment Style
Journal of Personality and Social Psychology menerbitkan studi klasik yang sangat terkenal di tahun 1987 oleh Hazan dan Shaver yang menjelaskan bahwa cinta romantis pada dasarnya adalah proses attachment yang sama dengan ikatan antara bayi dan ibu. Temuan ini merevolusi pandangan psikologi modern tentang hubungan asmara.
Studi tersebut menemukan bahwa persentase attachment style pada orang dewasa berbanding lurus dengan persentase pada balita (sekitar 60% secure, 20% avoidant, 20% anxious). Lebih lanjut, penelitian ini menegaskan bahwa model kerja internal (bagaimana kita memandang diri sendiri dan orang lain) yang dibentuk sejak kecil bertindak sebagai kacamata tempat kita melihat realitas hubungan di masa dewasa.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Psychological Association (APA). Diakses pada 2024. Attachment Theory.
Psychology Today. Diakses pada 2024. Attachment Styles.
Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Journal of Personality and Social Psychology. Romantic love conceptualized as an attachment process.
Verywell Mind. Diakses pada 2024. What Is Attachment Theory?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Attachment Styles: What They Are and How They Affect Relationships.
FAQ
1. Apa itu attachment issue?
Attachment issue adalah kesulitan psikologis yang dialami seseorang dalam membentuk ikatan emosional yang sehat dengan orang lain. Hal ini mencakup rasa takut akan penolakan, ketidakmampuan memercayai pasangan, hingga kecenderungan untuk menghindari keintiman emosional secara ekstrem.
2. Apakah attachment style seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu?
Ya, tentu bisa. Meskipun terbentuk sejak masa kanak-kanak, attachment style bersifat dinamis (tidak permanen). Melalui terapi psikologis, peningkatan kesadaran diri, resolusi trauma, dan menjalin hubungan jangka panjang dengan pasangan yang memiliki gaya kelekatan secure, seseorang bisa perlahan-lahan beralih menjadi secure attachment.
3. Bagaimana cara mengetahui attachment style yang saya miliki secara akurat?
Cara paling akurat adalah melalui konsultasi dan asesmen dengan psikolog klinis. Namun, kamu juga bisa melihat pola reaksimu dalam hubungan masa lalu. Jika kamu selalu takut ditinggalkan, kamu mungkin anxious. Jika kamu selalu ingin lari saat hubungan menjadi serius, kamu mungkin avoidant.
4. Apa bedanya love language dan attachment style?
Love language (bahasa cinta) berfokus pada cara spesifik bagaimana seseorang lebih suka memberi dan menerima kasih sayang (misalnya lewat kata-kata atau hadiah). Sementara attachment style berbicara lebih dalam mengenai sistem saraf, pola kecemasan, kepercayaan, dan bagaimana seseorang secara psikologis merespons kedekatan dan ancaman dalam sebuah hubungan.


