Ad Placeholder Image

Mengenal Diabetic Retinopathy: Gejala dan Bahaya Kebutaan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 April 2026

Kenali Diabetic Retinopathy Gejala Dan Bahayanya Bagi Mata

Mengenal Diabetic Retinopathy: Gejala dan Bahaya KebutaanMengenal Diabetic Retinopathy: Gejala dan Bahaya Kebutaan

Mengenal Diabetic Retinopathy adalah Komplikasi Serius pada Mata

Diabetic retinopathy adalah komplikasi diabetes yang menyerang mata dan menjadi salah satu penyebab utama kebutaan pada orang dewasa. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di jaringan retina, yaitu lapisan peka cahaya yang terletak di bagian belakang mata. Pengidap diabetes tipe 1 maupun tipe 2 memiliki risiko yang sama terhadap gangguan ini, terutama jika kadar gula darah tidak terkendali dalam jangka waktu lama.

Secara medis, diabetic retinopathy adalah dampak dari tingginya kadar glukosa yang merusak dinding pembuluh darah kapiler di seluruh tubuh, termasuk mata. Kerusakan ini dapat menyebabkan pembuluh darah bocor, tersumbat, atau memicu pertumbuhan pembuluh darah baru yang tidak normal pada permukaan retina. Tanpa penanganan medis yang tepat dan deteksi dini, gangguan ini dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan secara permanen.

Masalah penglihatan ini sering kali berkembang secara bertahap dan tidak menunjukkan tanda-tanda signifikan pada fase awal. Hal inilah yang menjadikan pemeriksaan mata rutin sangat krusial bagi setiap individu yang memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus. Dengan diagnosis yang cepat, dokter dapat melakukan tindakan pencegahan agar kerusakan tidak berkembang menjadi tahap yang lebih parah.

Penyebab Utama Diabetic Retinopathy adalah Kadar Gula Darah Tinggi

Penyebab utama dari diabetic retinopathy adalah kadar gula darah yang terlalu tinggi dalam periode yang panjang. Kelebihan glukosa di dalam aliran darah menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil yang memberi nutrisi ke retina. Akibatnya, pasokan darah ke jaringan retina menjadi terganggu dan mata berusaha untuk membentuk pembuluh darah baru sebagai kompensasi.

Namun, pembuluh darah baru yang terbentuk tersebut biasanya sangat rapuh dan tidak berkembang dengan sempurna. Pembuluh darah ini mudah mengalami kebocoran cairan atau darah ke dalam bagian tengah mata (vitreous). Selain faktor gula darah, terdapat beberapa faktor risiko lain yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mata pada pengidap diabetes.

  • Durasi menderita diabetes yang sudah berlangsung lama.
  • Kondisi tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol.
  • Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah.
  • Kondisi kehamilan yang dapat mempercepat progresi kerusakan retina.
  • Kebiasaan merokok yang merusak sistem vaskular secara keseluruhan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai pada Mata

Pada tahap awal, diabetic retinopathy adalah kondisi yang sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Pengidap mungkin merasa penglihatan masih normal meskipun kerusakan mikroskopis pada retina sudah mulai terjadi. Gejala biasanya baru muncul ketika kerusakan sudah mencapai tahap lanjut atau ketika cairan mulai menumpuk di area makula, bagian pusat retina untuk penglihatan detail.

Beberapa gejala yang sering dilaporkan oleh pasien meliputi munculnya noda hitam yang melayang-layang atau sering disebut sebagai floaters. Selain itu, pandangan bisa menjadi kabur atau berbayang tanpa sebab yang jelas. Kesulitan dalam membedakan warna atau melihat pada kondisi cahaya redup juga merupakan tanda bahwa fungsi retina mulai terganggu secara signifikan.

Jika tidak segera ditangani, pengidap dapat mengalami penurunan penglihatan secara mendadak atau munculnya area gelap pada bidang penglihatan. Kondisi ini menunjukkan adanya perdarahan di dalam mata atau kemungkinan lepasnya retina (ablasi retina). Kehilangan penglihatan yang terjadi bisa bersifat progresif atau terjadi secara tiba-tiba tergantung pada lokasi kerusakan pembuluh darah.

Tahapan Perkembangan Penyakit pada Pengidap Diabetes

Perkembangan diabetic retinopathy terbagi menjadi dua tahap utama, yaitu non-proliferatif dan proliferatif. Tahap non-proliferatif merupakan tahap awal di mana dinding pembuluh darah di retina mulai melemah. Pada fase ini, pembuluh darah kecil mengalami tonjolan mikro yang dapat membocorkan cairan ke dalam retina tanpa pertumbuhan pembuluh darah baru.

Tahap selanjutnya adalah diabetic retinopathy proliferatif yang merupakan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Pada tahap ini, pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal di permukaan retina. Karena sifatnya yang rapuh, pembuluh darah ini sering pecah dan menyebabkan jaringan parut yang berisiko menarik retina keluar dari posisinya semula.

Pengobatan dan Pencegahan secara Medis

Fokus utama dalam menangani diabetic retinopathy adalah mengontrol kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. Pada kasus yang masih ringan, dokter mata mungkin hanya akan melakukan observasi berkala untuk memantau kondisi retina. Namun, untuk kasus yang sudah lanjut, diperlukan tindakan medis seperti terapi laser (fotokoagulasi) untuk menutup pembuluh darah yang bocor.

Selain terapi laser, penyuntikan obat ke dalam mata (anti-VEGF) juga sering dilakukan untuk mengurangi pembengkakan makula dan mencegah pertumbuhan pembuluh darah baru. Dalam kondisi yang sangat parah, tindakan bedah vitrektomi mungkin diperlukan untuk mengeluarkan darah atau jaringan parut dari dalam bola mata. Keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada seberapa awal diagnosis ditegakkan oleh tenaga medis.

Rekomendasi Layanan Kesehatan Melalui Halodoc

Langkah terbaik untuk menghadapi diabetic retinopathy adalah melalui pencegahan dan monitoring yang ketat. Pengidap diabetes sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata lengkap minimal satu kali dalam setahun meskipun tidak merasakan keluhan. Pengendalian gaya hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan diabetes harian adalah kunci utama untuk menjaga fungsi penglihatan tetap optimal.

Masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan di Halodoc untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata secara daring. Melalui platform ini, seseorang bisa mendapatkan rujukan pemeriksaan fisik atau membeli kebutuhan suplemen kesehatan dengan lebih mudah. Jangan menunda pemeriksaan jika merasakan perubahan pada penglihatan, karena tindakan medis yang cepat dapat menyelamatkan mata dari kebutaan permanen.