
Mengenal Doomscrolling dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental
Doomscrolling dapat memicu dan memperburuk kecemasan, stres, atau depresi yang dipicu oleh kecenderungan untuk terus melihat berita buruk.

DAFTAR ISI
- Mengenal Apa Itu Doomscrolling
- Mengapa Kita Sulit Berhenti Melakukannya?
- Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Fisik dan Mental
- Cara Efektif Menghentikan Kebiasaan Doomscrolling
- Tanya ke HILDA Dulu!
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu berniat membuka media sosial hanya untuk melihat notifikasi selama lima menit, namun tiba-tiba menyadari bahwa dua jam telah berlalu dan kamu masih asyik membaca berita-berita buruk? Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling. Di era digital yang serba cepat ini, akses terhadap informasi negatif seperti bencana alam, konflik politik, hingga krisis ekonomi tersedia dalam genggaman tangan 24 jam sehari.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan buruk menghabiskan waktu, melainkan sebuah pola perilaku yang dapat berdampak serius pada kesejahteraan emosional. Ketika kamu terus-menerus mengonsumsi konten yang memicu rasa takut atau cemas, otak akan tetap berada dalam kondisi waspada tinggi (high alert). Kondisi ini jika dibiarkan akan memicu stres kronis yang memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Penting untuk memahami bahwa teknologi dirancang sedemikian rupa untuk membuat kita tetap terpaku pada layar. Namun, kesehatan mental kamu jauh lebih berharga daripada algoritma media sosial. Mempelajari cara membatasi paparan informasi negatif adalah langkah awal untuk mendapatkan kembali kendali atas kebahagiaan kamu.
Jika kamu merasa kecemasan akibat kebiasaan ini sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan medis atau dukungan psikologis yang tepat.
Nah, mau tahu apa saja ulasan mendalam mengenai dampak dan cara mengatasi doomscrolling? Berikut ulasannya!
Mengenal Apa Itu Doomscrolling
Doomscrolling adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan terus-menerus menelusuri berita buruk di media sosial atau situs berita, meskipun berita tersebut menyedihkan, menjengkelkan, atau membuat depresi. Istilah ini mulai populer secara global selama pandemi COVID-19, di mana banyak orang merasa perlu untuk terus memantau situasi kesehatan dunia meskipun hal itu memicu kecemasan hebat.
Perilaku ini sering kali terjadi secara tidak sadar. Seseorang mungkin mulai dengan mencari informasi penting, namun berakhir dengan terjebak dalam lubang kelinci (rabbit hole) informasi negatif yang tidak ada habisnya. Sifat algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten serupa dengan apa yang kita lihat sebelumnya memperparah kondisi ini, menciptakan siklus negatif yang sulit diputus.
Mengapa Kita Sulit Berhenti Melakukannya?
Secara evolusioner, otak manusia memiliki apa yang disebut sebagai negativity bias atau bias negatif. Manusia purba perlu waspada terhadap ancaman di lingkungan mereka untuk bertahan hidup. Di zaman modern, ancaman tersebut berubah bentuk menjadi berita negatif di layar ponsel kita. Otak kita secara insting menganggap bahwa mengetahui berita buruk akan membantu kita “bersiap diri” menghadapi bahaya, padahal kenyataannya hal itu hanya meningkatkan kadar hormon stres.
Selain itu, adanya rasa takut akan ketinggalan informasi atau Fear of Missing Out (FOMO) juga berperan besar. Kita merasa bahwa jika kita berhenti memantau berita, kita mungkin akan melewatkan sesuatu yang krusial bagi keselamatan atau kehidupan kita. Padahal, sebagian besar informasi yang kita konsumsi saat doomscrolling bukanlah hal yang bisa kita kendalikan secara langsung.
Pemicu Utama Doomscrolling
- Ketidakpastian tentang masa depan atau situasi global.
- Kurangnya batasan waktu dalam menggunakan perangkat digital.
- Rasa kesepian atau kebosanan yang dialihkan ke media sosial.
Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Fisik dan Mental
Kebiasaan ini membawa dampak domino bagi kesehatan tubuh. Secara mental, doomscrolling berhubungan erat dengan peningkatan gejala depresi dan gangguan kecemasan. Paparan terus-menerus terhadap konten traumatis dapat menyebabkan seseorang mengalami stres sekunder, di mana mereka merasa trauma meskipun tidak mengalami kejadian tersebut secara langsung.
Secara fisik, doomscrolling sering dilakukan sebelum tidur, yang berakibat pada gangguan ritme sirkadian. Cahaya biru (blue light) dari layar ponsel menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur. Akibatnya, kamu mungkin mengalami insomnia, kelelahan kronis, dan penurunan sistem imun. Selain itu, ketegangan pada mata dan otot leher (text neck) adalah masalah fisik umum yang sering menyertai kebiasaan ini.
Untuk membantu meredakan ketegangan fisik seperti sakit kepala atau mata lelah akibat terlalu lama menatap layar, kamu bisa beli obat online di Halodoc yang menyediakan berbagai vitamin mata atau pereda nyeri ringan yang aman digunakan sesuai aturan pakai.
Cara Efektif Menghentikan Kebiasaan Doomscrolling
Menghentikan doomscrolling memerlukan disiplin dan perubahan kebiasaan digital. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kamu terapkan:
1. Tetapkan Batasan Waktu (Screen Time)
Gunakan fitur pengingat durasi aplikasi di ponsel kamu. Batasi penggunaan media sosial maksimal 30-60 menit sehari untuk tujuan hiburan.
2. Ubah Tampilan Layar Menjadi Grayscale
Warna-warna cerah di ponsel didesain untuk menarik perhatian. Dengan mengubah layar menjadi hitam putih (grayscale), daya tarik visual media sosial akan berkurang drastis.
3. Kurasi Ulang Daftar Ikuti (Following)
Berhenti mengikuti akun-akun yang secara konsisten membagikan konten negatif atau provokatif. Mulailah mengikuti akun yang memberikan edukasi positif, hobi, atau konten inspiratif.
4. Praktikkan ‘Digital Detox’ Sebelum Tidur
Jauhkan ponsel dari tempat tidur setidaknya satu jam sebelum tidur. Gantilah kebiasaan menggulir layar dengan membaca buku fisik atau melakukan meditasi ringan.
Studi Mengenai Dampak Media Sosial
Health Psychology Review menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa paparan terus-menerus terhadap berita buruk melalui media sosial berkorelasi signifikan dengan peningkatan kadar kortisol dalam darah.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang terpapar berita negatif lebih dari 3 jam sehari memiliki risiko 40% lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan umum dibandingkan mereka yang membatasi durasi akses informasi. Hal ini membuktikan bahwa manajemen konsumsi konten digital sangat krusial bagi stabilitas emosi manusia di era modern.
Jika kamu merasa terjebak dalam siklus doomscrolling dan mulai merasakan gejala kecemasan, gangguan tidur, atau penurunan nafsu makan, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional. Mengakui bahwa kamu butuh bantuan adalah langkah berani menuju pemulihan.
Selain menjaga kesehatan mental, pastikan juga kebutuhan nutrisi tubuhmu terpenuhi agar daya tahan tubuh tetap kuat menghadapi stres. Kamu bisa mendapatkan vitamin dan suplemen kesehatan dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan akibat Sering Doomscrolling? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu sering merasa cemas atau pusing setelah lama melihat berita di ponsel, tapi bingung harus konsultasi ke mana? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant (HILDA) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2026. The science of doomscrolling and how to stop.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Everything You Need to Know About Doomscrolling.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. How Technology Affects Mental Health.
Healthline. Diakses pada 2026. Tips to Break the Doomscrolling Habit.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Mental health and social media.
FAQ
1. Apakah doomscrolling bisa menyebabkan depresi?
Ya, paparan terus-menerus terhadap konten negatif dapat memicu perasaan putus asa dan sedih yang mendalam, yang merupakan gejala utama depresi.
2. Bagaimana cara berhenti doomscrolling di malam hari?
Gunakan mode “Jangan Ganggu” (Do Not Disturb) dan simpan ponsel di luar jangkauan tempat tidur agar tidak tergoda untuk mengeceknya sebelum tidur.
3. Apa perbedaan antara mencari informasi dan doomscrolling?
Mencari informasi bertujuan untuk mendapatkan fakta spesifik, sedangkan doomscrolling adalah aktivitas tanpa tujuan yang terus dilakukan meskipun sudah merasa cemas.
4. Apakah anak-anak bisa mengalami doomscrolling?
Bisa, terutama remaja yang memiliki akses luas ke media sosial. Peran orang tua sangat penting dalam memantau durasi dan jenis konten yang mereka konsumsi.


