Ad Placeholder Image

Mengenal Fungsi Otot m. sternocleidomastoideus pada Leher

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 April 2026

Mengenal Letak dan Fungsi Otot m. sternocleidomastoideus

Mengenal Fungsi Otot m. sternocleidomastoideus pada LeherMengenal Fungsi Otot m. sternocleidomastoideus pada Leher

Pengertian Otot M. Sternocleidomastoideus

M. sternocleidomastoideus merupakan salah satu otot leher paling besar dan terletak di bagian paling superfisial atau dekat dengan permukaan kulit. Otot ini berbentuk sepasang yang berada di sisi kiri dan kanan leher, memberikan kontur khas pada struktur anatomi manusia. Keberadaannya sangat krusial karena menghubungkan dasar tengkorak dengan bagian atas dada.

Nama otot ini berasal dari titik perlekatannya pada tubuh manusia. Istilah sterno merujuk pada tulang dada atau sternum, cleido merujuk pada tulang selangka atau klavikula, dan mastoideus merujuk pada prosesus mastoid. Kombinasi dari ketiga titik ini membentuk struktur penyangga yang kuat untuk mobilitas kepala dan stabilitas leher secara keseluruhan.

Menurut Cleveland Clinic, m. sternocleidomastoideus memiliki peran yang sangat kompleks dalam sistem muskuloskeletal. Selain sebagai penggerak utama, otot ini berfungsi sebagai pelindung bagi struktur penting di leher, seperti pembuluh darah besar dan saraf-saraf utama. Memahami anatomi ini sangat penting untuk mengenali berbagai gangguan kesehatan yang mungkin muncul di area servikal.

Struktur dan Titik Anatomi M. Sternocleidomastoideus

Secara anatomi, m. sternocleidomastoideus memiliki dua origo atau titik awal perlekatan yang berbeda di bagian bawah. Kepala sternal berorigo pada bagian manubrium sterni, sementara kepala klavikula berorigo pada sepertiga medial tulang selangka. Kedua kepala otot ini kemudian menyatu saat bergerak ke arah atas menuju bagian samping kepala.

Titik insersio atau lokasi akhir otot ini berada pada prosesus mastoid yang terletak pada tulang temporal tengkorak, tepat di belakang telinga. Lokasi ini memungkinkan otot untuk memiliki daya ungkit yang besar saat menggerakkan kepala. Selain itu, bagian atas otot juga menempel pada garis nuchal superior pada tulang oksipital di dasar tengkorak belakang.

Persarafan otot m. sternocleidomastoideus utamanya disuplai oleh saraf aksesori atau saraf kranial kesebelas. Saraf ini bertanggung jawab untuk mengirimkan sinyal motorik yang memungkinkan otot berkontraksi dengan presisi. Selain itu, terdapat cabang-cabang dari pleksus servikalis yang memberikan persarafan sensorik untuk mengirimkan informasi mengenai posisi dan rasa nyeri ke otak.

Fungsi Utama M. Sternocleidomastoideus bagi Tubuh

Fungsi m. sternocleidomastoideus sangat beragam, bergantung pada apakah satu atau kedua sisi otot berkontraksi secara bersamaan. Secara unilateral atau saat hanya satu sisi yang bekerja, otot ini melakukan rotasi kontralateral. Hal ini berarti saat otot kanan berkontraksi, kepala akan berputar ke arah kiri, dan sebaliknya.

Secara bilateral atau saat kedua otot kiri dan kanan bekerja bersama, fungsi utamanya adalah melakukan fleksi leher. Gerakan ini menarik kepala ke arah depan sehingga dagu mendekati dada. Selain fleksi, kerja sama kedua sisi otot ini juga membantu dalam ekstensi kepala pada persendian antara tulang atlas dan tengkorak, yang memungkinkan gerakan mendongak ringan.

M. sternocleidomastoideus juga berperan sebagai otot pernapasan tambahan yang sangat penting dalam kondisi tertentu. Saat tubuh membutuhkan asupan oksigen secara maksimal, otot ini akan membantu mengangkat sternum dan klavikula. Gerakan ini memperluas volume rongga dada, sehingga paru-paru dapat mengembang lebih besar untuk menarik udara lebih banyak.

Gejala dan Penyebab Gangguan pada Otot Leher

Gangguan pada m. sternocleidomastoideus dapat memicu berbagai gejala yang terkadang disalahartikan sebagai masalah kesehatan lain. Salah satu kondisi yang paling umum adalah terbentuknya trigger point atau titik picu nyeri. Titik ini dapat menyebabkan nyeri yang merujuk atau menjalar ke area wajah, dahi, hingga sekitar rongga mata.

Ketegangan kronis pada otot ini sering kali mengakibatkan gejala sebagai berikut:

  • Kekakuan leher yang membatasi kemampuan untuk menoleh secara penuh.
  • Sakit kepala tipe tegang yang terasa seperti diikat di bagian dahi.
  • Gangguan keseimbangan atau sensasi melayang yang mirip dengan vertigo.
  • Telinga berdenging atau tinitus karena ketegangan di area prosesus mastoid.
  • Nyeri pada persendian rahang yang sering menyerupai gangguan temporomandibular.

Penyebab utama dari masalah otot m. sternocleidomastoideus biasanya berkaitan dengan faktor ergonomi dan postur. Kebiasaan menggunakan telepon genggam dengan posisi menunduk dalam waktu lama atau posisi tidur yang salah menjadi pemicu utama. Selain itu, stres psikologis juga sering kali membuat seseorang tanpa sadar mengencangkan otot-otot leher secara berlebihan.

Penanganan Nyeri dan Peradangan Otot SCM

Penanganan awal untuk nyeri otot leher melibatkan istirahat yang cukup dan koreksi postur tubuh saat beraktivitas. Terapi panas atau kompres hangat pada area leher dapat membantu meningkatkan aliran darah dan merelaksasi serat otot yang tegang. Peregangan ringan yang dilakukan secara konsisten juga efektif untuk mengembalikan fleksibilitas m. sternocleidomastoideus.

Langkah Pencegahan Gangguan Otot Leher

Mencegah gangguan pada m. sternocleidomastoideus jauh lebih efektif daripada mengobati kerusakan yang sudah kronis. Pengaturan ruang kerja yang ergonomis sangat disarankan, seperti menempatkan layar komputer sejajar dengan mata. Hal ini mencegah leher berada dalam posisi fleksi atau ekstensi yang dipaksakan dalam durasi yang lama.

Beberapa kebiasaan sehat untuk menjaga kesehatan otot leher meliputi:

  • Melakukan jeda istirahat setiap 30 menit saat bekerja di depan layar.
  • Menggunakan headset saat menerima telepon untuk menghindari posisi leher yang miring.
  • Memilih bantal tidur yang mampu menopang lengkungan alami tulang belakang leher.
  • Melakukan latihan penguatan otot punggung atas untuk menyeimbangkan beban otot depan leher.

Apabila rasa nyeri pada m. sternocleidomastoideus tidak kunjung membaik setelah penanganan mandiri, pemeriksaan lebih lanjut sangat diperlukan. Tenaga medis profesional dapat memberikan terapi fisik atau fisioterapi untuk melepas perlengketan otot yang kompleks. Penanganan yang tepat waktu akan mencegah terjadinya kondisi tortikolis atau leher miring yang permanen.