
Mengenal Kelainan Sperma Oligozoospermia dan Cara Mengatasinya
Oligozoospermia atau oligospermia adalah kondisi saat jumlah sel sperma dalam air sangat sedikit.

DAFTAR ISI
- Pengertian Oligospermia
- Penyebab Medis dan Lingkungan Oligospermia
- Gejala dan Diagnosis Oligospermia
- Cara Mengatasi dan Penanganan Medis
- Perubahan Gaya Hidup untuk Meningkatkan Kualitas Sperma
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Masalah kesuburan atau infertilitas sering kali menjadi kekhawatiran besar bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan. Banyak orang beranggapan bahwa masalah kesuburan lebih sering dialami oleh wanita, padahal faktanya, masalah pada pria juga memiliki persentase yang sama besarnya dalam memengaruhi peluang kehamilan. Salah satu kondisi medis yang paling umum menjadi penyebab infertilitas pada pria adalah rendahnya jumlah sel sperma.
Secara medis, oligospermia adalah kondisi di mana seorang pria memiliki jumlah sperma yang lebih rendah dari batas normal dalam air mani yang diejakulasikan selama orgasme. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan jumlah sperma normal adalah minimal 15 juta sperma per mililiter air mani, atau total 39 juta sperma per ejakulasi. Jika jumlahnya di bawah angka tersebut, maka pria tersebut didiagnosis mengalami oligospermia.
Kondisi ini sangat penting untuk dideteksi dan ditangani sedini mungkin karena secara langsung menurunkan probabilitas sel sperma untuk membuahi sel telur wanita. Semakin sedikit jumlah sperma, semakin kecil pula kemungkinan terjadinya pembuahan secara alami. Meski demikian, memiliki jumlah sperma yang rendah bukan berarti kamu sama sekali tidak bisa memiliki anak. Banyak pria dengan kondisi ini yang tetap berhasil menjadi ayah, baik melalui pembuahan alami dengan perubahan gaya hidup maupun dengan bantuan teknologi medis.
Kabar baiknya, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang medis, ada banyak pilihan penanganan yang bisa disesuaikan dengan akar penyebab oligospermia. Penanganannya pun beragam, mulai dari terapi obat-obatan, tindakan bedah, hingga penyesuaian gaya hidup dan asupan nutrisi harian. Memahami penyebab dan gejalanya adalah langkah pertama yang krusial.
Pengertian Oligospermia dan Tingkatannya
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, oligospermia merupakan istilah klinis untuk menggambarkan penurunan jumlah sel sperma. Kondisi ini berbeda dengan azoospermia, yaitu kondisi di mana tidak ada sel sperma sama sekali di dalam air mani. Oligospermia sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan tingkat keparahannya, yang nantinya akan menentukan jenis penanganan medis yang paling tepat.
Klasifikasi tersebut meliputi:
- Oligospermia Ringan: Terdapat antara 10 juta hingga 15 juta sperma per mililiter air mani. Pada tahap ini, peluang kehamilan secara alami masih cukup besar, terutama jika kualitas pergerakan (motilitas) dan bentuk (morfologi) sperma sangat baik.
- Oligospermia Sedang: Terdapat antara 5 juta hingga 10 juta sperma per mililiter air mani. Pada tahap ini, bantuan medis mungkin mulai diperlukan, dan dokter biasanya akan menyarankan perubahan gaya hidup yang signifikan.
- Oligospermia Berat: Terdapat kurang dari 5 juta sperma per mililiter air mani. Kondisi ini membuat pembuahan alami menjadi sangat sulit, dan dokter umumnya akan merekomendasikan program reproduksi berbantu seperti In Vitro Fertilization (IVF) atau Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI).
Penting untuk dipahami bahwa kehamilan membutuhkan sperma yang tidak hanya banyak, tetapi juga sehat. Sperma harus mampu berenang melewati leher rahim, rahim, dan saluran tuba fallopi untuk mencapai sel telur. Oleh karena itu, dokter tidak hanya akan melihat “jumlah” sperma, tetapi juga kualitas pergerakannya.
Faktor Pemicu dan Risiko Oligospermia
- Usia: Kualitas dan kuantitas sperma pria perlahan menurun setelah menginjak usia 40 tahun.
- Berat Badan: Obesitas dapat memicu perubahan hormonal yang menurunkan produksi sperma secara drastis.
- Gaya Hidup Buruk: Merokok, konsumsi alkohol berlebih, dan penggunaan obat-obatan terlarang sangat beracun bagi testis.
- Suhu Panas Berlebih: Sering berendam air panas, menggunakan sauna, atau memangku laptop dapat meningkatkan suhu skrotum yang membunuh sperma.
Penyebab Medis dan Lingkungan Oligospermia
Produksi sperma adalah proses biologis yang sangat kompleks (spermatogenesis) dan membutuhkan fungsi normal dari testis, hipotalamus, dan kelenjar pituitari (organ di otak yang memproduksi hormon pemicu sperma). Gangguan pada salah satu bagian dari sistem ini dapat memicu oligospermia. Penyebabnya dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: medis, lingkungan, dan gaya hidup.
1. Faktor Medis
Ada berbagai kondisi anatomi dan penyakit yang secara langsung mengganggu produksi sperma, di antaranya:
- Varikokel: Ini adalah pembengkakan pembuluh darah vena yang mengalirkan darah dari buah zakar. Varikokel adalah penyebab paling umum dari ketidaksuburan pria yang dapat diobati. Kondisi ini membuat testis tidak bisa mendinginkan diri dengan baik, sehingga suhu yang tinggi merusak sperma.
- Infeksi: Beberapa jenis infeksi dapat mengganggu produksi sperma atau menyebabkan jaringan parut yang menyumbat jalannya sperma. Ini termasuk radang epididimis (epididimitis) atau peradangan testis (orkitis) akibat gondongan, serta infeksi menular seksual seperti gonore, klamidia, dan HIV.
- Masalah Ejakulasi: Ejakulasi retrograde terjadi ketika air mani masuk ke dalam kandung kemih saat orgasme, bukannya keluar dari ujung penis. Berbagai kondisi kesehatan dapat menyebabkan hal ini, termasuk diabetes, cedera tulang belakang, dan operasi kandung kemih, prostat, atau uretra.
- Ketidakseimbangan Hormon: Hipotalamus, kelenjar pituitari, dan testis menghasilkan hormon yang diperlukan untuk membuat sperma. Perubahan pada hormon-hormon ini, serta kelenjar lain seperti tiroid dan kelenjar adrenal, dapat menghentikan produksi sperma.
- Cacat Kromosom: Kelainan bawaan seperti sindrom Klinefelter, di mana seorang pria lahir dengan dua kromosom X dan satu kromosom Y (bukannya satu X dan satu Y), menyebabkan perkembangan abnormal pada organ reproduksi pria.
- Pengaruh Obat-obatan: Terapi penggantian testosteron, penggunaan steroid anabolik jangka panjang, obat kanker (kemoterapi), beberapa obat antijamur, dan obat maag tertentu dapat mengganggu produksi sel sperma dan menurunkan kesuburan pria.
2. Faktor Lingkungan
Paparan berlebihan terhadap elemen lingkungan tertentu dapat memengaruhi fungsi testis secara fatal. Berikut beberapa di antaranya:
- Bahan Kimia Industri: Paparan jangka panjang terhadap benzena, toluena, xilena, pestisida, herbisida, pelarut organik, bahan pengecat, dan timbal dapat menurunkan jumlah sperma. Ini rentan dialami oleh pekerja pabrik, petani, dan pekerja tambang.
- Radiasi atau Sinar-X: Paparan radiasi, baik karena tuntutan pekerjaan maupun karena perawatan medis (seperti terapi kanker), dapat secara dramatis menurunkan produksi sperma. Pemulihan biasanya memakan waktu bertahun-tahun, atau bisa juga bersifat permanen.
- Suhu Ekstrem pada Testis: Testis berada di luar tubuh (di dalam skrotum) karena membutuhkan suhu yang sedikit lebih dingin dari suhu tubuh inti untuk memproduksi sperma. Duduk terlalu lama, menggunakan pakaian dalam yang ketat, atau meletakkan laptop hangat di atas paha dapat memanaskan testis dan membunuh bibit sperma.
Gejala dan Diagnosis Oligospermia
Satu-satunya tanda utama dan paling nyata dari oligospermia adalah ketidakmampuan untuk memiliki anak setelah mencoba berhubungan seksual tanpa alat kontrasepsi selama satu tahun penuh. Bagi kebanyakan pria, tidak ada gejala fisik yang terlihat sama sekali. Pria dengan kondisi ini biasanya masih memiliki dorongan seksual yang normal, fungsi ereksi yang baik, dan cairan ejakulasi (air mani) yang tampak normal baik dari segi warna, kekentalan, maupun volume.
Namun, dalam beberapa kasus di mana oligospermia disebabkan oleh masalah mendasar (seperti kelainan bawaan, ketidakseimbangan hormon, varikokel, atau pelebaran pembuluh darah prostat), beberapa tanda dan gejala penyerta mungkin muncul, seperti:
- Penurunan gairah seksual (libido) yang drastis.
- Kesulitan mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi).
- Rasa sakit, bengkak, atau adanya benjolan di area sekitar testis atau skrotum.
- Berkurangnya rambut di area wajah atau tubuh, yang merupakan tanda adanya kelainan kromosom atau hormon.
Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan serangkaian tes komprehensif, dimulai dengan wawancara medis mendalam mengenai riwayat kesehatan, gaya hidup, hingga kebiasaan seksual. Setelah itu, prosedur utamanya meliputi:
- Analisis Sperma (Semen Analysis): Ini adalah tes wajib dan utama. Kamu akan diminta memberikan sampel air mani (biasanya dengan cara masturbasi di ruangan khusus di klinik). Di laboratorium, ahli akan menghitung jumlah sperma, menilai bentuk (morfologi), dan melihat pergerakannya (motilitas). Biasanya diperlukan 2-3 kali tes pada waktu yang berbeda karena jumlah sperma bisa berfluktuasi.
- USG Skrotum: Pemeriksaan menggunakan gelombang suara ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat varikokel atau masalah anatomi lain pada testis dan struktur pendukungnya.
- Tes Hormon: Dokter mungkin mengambil sampel darah untuk mengukur tingkat testosteron, FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), dan hormon lain yang mengatur produksi sperma.
- Urinalisis Pasca Ejakulasi: Tes ini dilakukan untuk melihat apakah ada sel sperma di dalam urine. Jika ada, ini menunjukkan bahwa sperma berjalan mundur ke kandung kemih selama orgasme (ejakulasi retrograde).
- Biopsi Testis: Dalam prosedur ini, dokter akan mengambil sampel jaringan kecil dari testis menggunakan jarum khusus. Tes ini jarang dilakukan, namun berguna untuk membedakan apakah masalahnya terletak pada pabrik pembuat sperma (testis) atau ada penyumbatan di saluran keluar.
Cara Mengatasi dan Penanganan Medis
Penanganan medis untuk oligospermia sangat bergantung pada apa yang menjadi penyebab utamanya. Jika masalahnya dapat diidentifikasi dan ditangani, jumlah sperma biasanya akan meningkat secara perlahan dalam waktu 3 hingga 6 bulan (waktu yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi siklus sperma baru). Beberapa opsi medis yang tersedia antara lain:
1. Tindakan Operasi
Jika oligospermia disebabkan oleh varikokel (pembengkakan pembuluh darah di skrotum), dokter bedah urologi dapat melakukan operasi ringan untuk mengikat vena yang bengkak sehingga aliran darah dialihkan ke pembuluh darah yang sehat. Jika terdapat sumbatan pada saluran sperma (vas deferens), pembedahan rekonstruktif juga dapat dilakukan untuk membuka sumbatan tersebut.
2. Pengobatan Infeksi
Antibiotik dapat mengobati infeksi pada saluran reproduksi. Meskipun obat-obatan ini sangat efektif untuk membunuh bakteri penyebab penyakit menular seksual atau peradangan prostat, namun antibiotik tidak selalu dapat mengembalikan tingkat kesuburan jika infeksi tersebut telah menyebabkan kerusakan jaringan atau pembentukan jaringan parut permanen.
3. Terapi Hormon dan Obat-obatan
Dokter spesialis endokrinologi dapat meresepkan penggantian hormon atau obat-obatan jika penyebab ketidaksuburan adalah ketidakseimbangan kadar hormon (seperti testosteron yang terlalu rendah) atau masalah pada cara tubuh merespons hormon tersebut. Obat seperti Clomiphene citrate terkadang digunakan off-label untuk merangsang pituitari agar memproduksi lebih banyak FSH dan LH, yang pada gilirannya mendorong testis memproduksi lebih banyak sperma.
4. Teknologi Reproduksi Berbantu (ART)
Jika metode pengobatan lain gagal, atau kondisi oligospermia sudah sangat berat dan tidak dapat diobati, Teknologi Reproduksi Berbantu menjadi solusi terbaik. Proses ini melibatkan pengambilan sperma secara langsung baik dari air mani maupun melalui ekstraksi jarum dari testis. Sperma tersebut kemudian disuntikkan langsung ke sel telur di laboratorium melalui prosedur yang disebut Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI), sebagai bagian dari program bayi tabung (IVF).
Perubahan Gaya Hidup untuk Meningkatkan Kualitas Sperma
Selain penanganan medis dari dokter, ada banyak langkah mandiri yang bisa kamu lakukan di rumah untuk mendukung produksi sperma yang optimal. Meskipun tidak instan, perbaikan gaya hidup memiliki dampak jangka panjang yang luar biasa bagi kesuburan pria.
Pertama, pastikan kamu mendapatkan asupan nutrisi yang kaya akan antioksidan. Stres oksidatif di dalam tubuh adalah musuh utama sel sperma. Konsumsilah sayuran berdaun hijau, buah beri, jeruk, dan tomat. Selain itu, penuhi kebutuhan vitamin dan mineral penting seperti Zinc, Vitamin C, Vitamin D, Selenium, dan Coenzyme Q10 (CoQ10). Studi klinis menunjukkan bahwa suplemen Zinc dipadukan dengan asam folat terbukti meningkatkan jumlah dan kualitas sperma pada pria yang subfertil.
Kedua, jagalah berat badan tetap ideal. Obesitas diketahui dapat mengubah testosteron menjadi estrogen, yang secara langsung menekan produksi sperma. Berolahraga secara teratur minimal 30 menit sehari, seperti jogging, berenang, atau angkat beban ringan, sangat disarankan. Namun, hindari olahraga sepeda jarak jauh menggunakan sadel yang keras, karena tekanan terus-menerus pada area perineum dan testis dapat merusak pembuluh darah.
Ketiga, kelola stres dengan baik dan pastikan jam tidur tercukupi. Kurang tidur kronis dan stres emosional dapat mengganggu pelepasan hormon di otak yang dibutuhkan untuk merangsang testis. Selain itu, hentikan sama sekali kebiasaan merokok dan batasi konsumsi kafein serta alkohol.
Studi Mengenai Penurunan Kualitas Sperma Global
Human Reproduction Update menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2017 yang dilakukan oleh Hagai Levine dan timnya. Studi ini mengumpulkan data dari puluhan ribu pria di seluruh dunia selama hampir 40 tahun terakhir.
Penelitian tersebut mengungkapkan temuan yang cukup mengejutkan: terjadi penurunan jumlah sperma hingga 50-60% pada pria di negara-negara Barat, Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Meskipun penyebab pastinya masih terus diteliti, para ahli meyakini bahwa paparan bahan kimia endokrin (seperti plastik BPA dan pestisida), perubahan pola makan yang didominasi makanan ultra-proses, serta gaya hidup yang kurang gerak (sedentari) berkontribusi besar terhadap krisis oligospermia global ini. Ini menjadi peringatan bahwa menjaga gaya hidup sehat adalah keharusan, bukan sekadar pilihan.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Low sperm count.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Oligospermia: Causes, Symptoms, and Treatments.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Infertility.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Male Infertility: Pathophysiology, Diagnosis, and Treatment.
Human Reproduction Update. Diakses pada 2024. Temporal trends in sperm count: a systematic review and meta-regression analysis.
FAQ
1. Apakah pria dengan oligospermia masih bisa memiliki anak secara alami?
Ya, masih bisa. Meskipun jumlahnya di bawah normal, asalkan kualitas sperma (pergerakan dan bentuknya) sangat baik, kehamilan secara alami masih mungkin terjadi, terutama pada kasus oligospermia ringan.
2. Apa bedanya oligospermia dengan azoospermia?
Oligospermia berarti jumlah sperma di dalam air mani rendah (kurang dari 15 juta per ml). Sedangkan azoospermia berarti tidak ada sel sperma sama sekali di dalam air mani saat ejakulasi.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah sperma setelah pengobatan?
Siklus produksi sperma dari awal hingga matang dan siap diejakulasikan memakan waktu sekitar 70 hingga 90 hari (2,5 hingga 3 bulan). Oleh karena itu, hasil pengobatan atau perubahan gaya hidup biasanya baru akan terlihat pada tes air mani setelah 3 hingga 6 bulan.
4. Makanan apa yang pantang dikonsumsi jika ingin meningkatkan jumlah sperma?
Pria yang sedang berusaha memperbaiki jumlah sperma sangat disarankan untuk menghindari daging olahan (seperti sosis dan bacon), makanan tinggi lemak trans dan lemak jenuh (gorengan, makanan cepat saji), produk kedelai berlebih (karena dapat meniru estrogen), serta alkohol dalam jumlah besar.







