Ad Placeholder Image

Mengenal Olahraga Diving, Jenis, dan Persiapannya

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

“Sebagai olahraga menyelam bawah laut, ada banyak jenis diving antara lain free diving, cave diving hingga ice diving. Untuk prosedurnya, ada beberapa hal umum yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan olahraga ini.”

Mengenal Olahraga Diving, Jenis, dan PersiapannyaMengenal Olahraga Diving, Jenis, dan Persiapannya

DAFTAR ISI


Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia menyimpan pesona bawah laut yang luar biasa. Tidak heran jika aktivitas menyelam, baik itu freediving (menyelam bebas) maupun scuba diving (menyelam menggunakan tabung oksigen), menjadi salah satu olahraga air yang sangat diminati. Mulai dari keindahan terumbu karang di Raja Ampat hingga keanekaragaman biota laut di Taman Nasional Komodo, semuanya menjadi magnet bagi para penyelam.

Namun, di balik keindahannya, menyelam bukanlah sekadar aktivitas rekreasi biasa. Dari kacamata medis, menyelam menuntut kesiapan fisik dan mental yang prima. Tubuh manusia sejatinya dirancang untuk hidup di lingkungan dengan tekanan atmosfer sebesar 1 ATA (Atmosfer Absolut) di permukaan laut. Saat kamu masuk ke dalam air, tekanan di sekitar tubuh akan meningkat drastis. Perubahan tekanan ini memengaruhi berbagai organ vital, terutama rongga-rongga yang berisi udara seperti telinga tengah, sinus, dan paru-paru.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap penyelam pemula maupun profesional untuk memahami secara mendalam mengenai fisiologi tubuh saat berada di bawah air. Mengabaikan aspek kesehatan sebelum, selama, dan setelah melakukan penyelaman dapat berisiko memicu cedera serius. Beberapa komplikasi yang umum terjadi berkisar dari nyeri telinga ringan hingga kondisi darurat yang mengancam jiwa seperti penyakit dekompresi.

Lantas, apa saja manfaat, risiko medis, dan persiapan kesehatan yang wajib kamu ketahui terkait olahraga air yang satu ini? Mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini!

Manfaat Kesehatan dari Menyelam

Meskipun memiliki tantangan tersendiri, menyelam memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan fisik dan mental jika dilakukan dengan prosedur yang benar. Berikut adalah beberapa manfaatnya:

1. Meningkatkan Kapasitas dan Kendali Pernapasan

Saat menyelam, terutama scuba diving, kamu diajarkan untuk bernapas secara lambat dan dalam. Teknik pernapasan ini sangat mirip dengan teknik yang digunakan dalam meditasi atau yoga. Tujuannya adalah untuk menghemat konsumsi udara di dalam tabung sekaligus mencegah penumpukan karbon dioksida di dalam tubuh. Kebiasaan bernapas secara teratur dan dalam ini pada akhirnya dapat membantu memperkuat otot-otot pernapasan, meningkatkan kapasitas paru-paru, dan menstabilkan detak jantung.

2. Memperkuat Otot dan Sendi Tanpa Beban Berlebih

Air memiliki massa jenis yang jauh lebih padat dibandingkan udara, sehingga memberikan resistensi (tahanan) secara alami pada setiap gerakan yang kamu buat. Hal ini membuat aktivitas berenang dan menendang (kicking) menggunakan sirip katak (fins) di bawah air menjadi latihan kardio dan pembentukan otot yang sangat efektif, terutama untuk otot kaki, paha, dan inti tubuh (core). Menariknya, efek daya apung (buoyancy) dari air membuat tubuh terasa ringan. Ini berarti persendian kamu terbebas dari beban kejut atau benturan yang biasa terjadi pada olahraga darat seperti berlari, sehingga sangat baik untuk kesehatan sendi.

3. Mengurangi Stres dan Memberikan Efek Relaksasi

Ada sebuah konsep psikologis yang dikenal dengan istilah Blue Mind, yang merujuk pada keadaan meditatif dan damai yang dialami manusia ketika berada di dekat, di dalam, atau di bawah air. Kombinasi antara fokus pada ritme pernapasan, hilangnya suara bising dari hiruk-pikuk daratan, dan keindahan visual terumbu karang yang menenangkan terbukti secara klinis mampu menurunkan kadar hormon stres (kortisol). Menyelam memaksa kamu untuk “hadir sepenuhnya” di momen tersebut (mindfulness), yang sangat bermanfaat bagi kesehatan mental.

Risiko Medis yang Perlu Diwaspadai

Di samping manfaatnya, lingkungan bawah air yang ekstrem membawa sejumlah risiko medis. Berikut adalah kondisi kesehatan yang paling sering dikeluhkan oleh para penyelam:

1. Barotrauma (Cedera Akibat Perubahan Tekanan)

Menurut Hukum Boyle dalam ilmu fisika, volume gas berbanding terbalik dengan tekanan. Saat kamu menyelam semakin dalam, tekanan air akan menekan udara yang terperangkap di dalam tubuh, menyebabkannya menyusut. Sebaliknya, saat kamu naik ke permukaan, udara tersebut akan mengembang kembali. Jika rongga udara di telinga tengah atau sinus tersumbat (misalnya karena flu atau alergi), proses penyesuaian tekanan (ekualisasi) akan gagal. Hal ini memicu barotrauma, yang ditandai dengan nyeri tajam di telinga, perdarahan dari hidung, hingga gendang telinga robek.

2. Penyakit Dekompresi (Decompression Sickness / Bends)

Ini adalah risiko paling serius dalam scuba diving. Udara yang kamu hirup dari tabung mengandung nitrogen. Di bawah tekanan tinggi saat menyelam, nitrogen ini akan larut ke dalam aliran darah dan jaringan tubuh. Jika seorang penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, nitrogen yang terlarut tersebut tidak punya cukup waktu untuk dikeluarkan melalui paru-paru dan malah berubah menjadi gelembung mikro di dalam aliran darah. Gelembung ini dapat menyumbat pembuluh darah, memicu nyeri sendi yang hebat, ruam kulit, kelumpuhan saraf, hingga kematian. Kondisi ini memerlukan penanganan darurat menggunakan Terapi Oksigen Hiperbarik.

3. Keracunan Nitrogen (Nitrogen Narcosis)

Sering dijuluki “efek martini”, kondisi ini terjadi ketika penyelam berada di kedalaman yang cukup ekstrem (biasanya lebih dari 30 meter). Gas nitrogen yang dihirup pada tekanan tinggi dapat bertindak seperti obat bius ringan di otak. Penyelam yang mengalami kondisi ini mungkin merasa euforia berlebihan, kebingungan, kehilangan koordinasi motorik, hingga halusinasi. Untungnya, efek ini bisa langsung hilang jika penyelam naik ke kedalaman yang lebih dangkal.

4. Mabuk Laut (Motion Sickness) dan Cedera Biota Laut

Sebelum tiba di titik penyelaman, kamu biasanya harus menaiki kapal laut. Guncangan ombak sering kali menyebabkan mabuk laut, yang memicu mual, pusing, dan muntah. Menyelam dalam kondisi perut kosong dan mual bisa sangat berbahaya karena berisiko memicu muntah melalui regulator di bawah air. Jika kamu sering mengalami kondisi ini, penting untuk minum obat anti-mabuk sebelum perjalanan. Kamu bisa dengan mudah mempersiapkan perbekalan kesehatan ini, cukup beli obat online di Halodoc yang produknya 100% asli dan diantar langsung ke rumah.

Tips Mencegah Barotrauma Telinga Saat Menyelam
  1. Jangan pernah memaksakan diri untuk menyelam jika sedang menderita pilek, flu, batuk, atau infeksi sinus.
  2. Lakukan teknik ekualisasi (Valsalva maneuver) sedini mungkin saat mulai turun, yaitu dengan memencet hidung lalu menghembuskan udara perlahan dari hidung.
  3. Jika telinga terasa sakit dan gagal diekualisasi, segera hentikan penurunan. Naiklah perlahan beberapa meter ke atas lalu coba ekualisasi kembali.

Persiapan Kesehatan Sebelum Menyelam

Bagi kamu yang berencana mengambil sertifikasi atau sekadar melakukan discovery dive, ada beberapa evaluasi kesehatan yang wajib dilakukan:

1. Evaluasi Medis (Medical Clearance)

Asosiasi penyelaman internasional mewajibkan setiap peserta untuk mengisi kuesioner medis (Medical Statement) sebelum menyelam. Jika kamu memiliki riwayat asma yang dipicu oleh olahraga ringan, riwayat penyakit jantung koroner, hipertensi yang tidak terkontrol, epilepsi, atau pernah mengalami operasi telinga dan paru-paru, kamu wajib mendapatkan surat persetujuan dari dokter ahli sebelum diizinkan masuk ke air.

2. Hidrasi yang Cukup

Dehidrasi adalah salah satu faktor risiko utama terjadinya penyakit dekompresi. Udara yang ada di dalam tabung scuba adalah udara yang sangat kering, sehingga tubuh akan kehilangan cairan setiap kali kamu menghembuskan napas. Selain itu, paparan sinar matahari di atas kapal juga mempercepat dehidrasi. Pastikan kamu minum air putih yang cukup sebelum dan sesudah melakukan penyelaman. Hindari konsumsi alkohol malam sebelum menyelam karena alkohol bersifat diuretik yang menguras cairan tubuh.

3. Istirahat yang Berkualitas dan Nutrisi

Menyelam menghabiskan banyak energi (kalori) akibat paparan suhu air yang lebih dingin dari suhu tubuh, memaksa metabolisme bekerja lebih keras untuk menjaga panas inti tubuh. Konsumsi makanan ringan yang kaya akan karbohidrat kompleks sebelum menyelam sangat disarankan untuk menjaga stamina. Tidur yang cukup juga penting untuk menjaga tingkat konsentrasi dan kewaspadaan saraf.

Studi Terkait

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi pada tahun 2018 yang menjelaskan bahwa barotrauma telinga tengah adalah cedera medis yang paling banyak dialami oleh penyelam rekreasi, menyumbang lebih dari 50% keluhan medis pasca-penyelaman.

Studi tersebut menyoroti bahwa kegagalan melakukan ekualisasi pada 10 meter pertama adalah penyebab utamanya. Hal ini membuktikan bahwa pembekalan pengetahuan tentang teknik ekualisasi telinga dan skrining kesehatan hidung serta tenggorokan sebelum memulai aktivitas diving memegang peranan krusial untuk mencegah kerusakan gendang telinga secara permanen.

Jika kamu baru saja selesai menyelam dan merasakan telinga terasa penuh, pendengaran berdenging (tinnitus), nyeri sendi yang berpindah-pindah, atau sesak napas yang tidak kunjung reda, jangan pernah mengabaikannya. Risiko penyakit dekompresi bisa muncul hingga 24 jam setelah penyelaman berakhir. Segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan panduan medis darurat yang tepat.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Divers Alert Network (DAN). Diakses pada 2024. Health & Safety: Decompression Sickness.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Decompression sickness – Symptoms and causes.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Drowning and Water Safety.
PubMed/NCBI. Diakses pada 2024. Middle Ear Barotrauma in Scuba Divers.

FAQ

1. Apakah penderita asma boleh menyelam?

Tergantung pada jenis dan tingkat keparahan asma. Asma yang sering kumat atau dipicu oleh aktivitas fisik dan udara dingin sangat berisiko karena dapat menyebabkan penyempitan saluran napas (bronkospasme) di bawah air. Penderita asma wajib berkonsultasi dengan dokter spesialis paru-paru (pulmonologis) untuk menjalani tes fungsi paru (spirometri) sebelum diizinkan menyelam.

2. Berapa lama harus menunggu untuk naik pesawat setelah menyelam?

Divers Alert Network (DAN) merekomendasikan jeda minimal 12 jam setelah melakukan satu kali penyelaman tanpa dekompresi, dan minimal 18 hingga 24 jam setelah melakukan penyelaman berkali-kali atau penyelaman dalam (deep dive) selama beberapa hari berturut-turut. Terbang terlalu cepat ke ketinggian akan memicu penurunan tekanan atmosfer secara tiba-tiba, yang dapat melepaskan sisa gelembung nitrogen dan memicu penyakit dekompresi.

3. Bolehkah wanita hamil melakukan scuba diving?

Tidak disarankan. Hingga saat ini, komunitas medis secara sepakat melarang aktivitas scuba diving bagi wanita hamil. Alasannya, janin yang berada di dalam kandungan tidak terlindungi dari gelembung nitrogen. Jika ibu mengalami penyakit dekompresi, janin berisiko mengalami kecacatan lahir atau kondisi fatal lainnya.

4. Bagaimana cara mengatasi telinga yang sakit setelah menyelam?

Sakit telinga pasca-menyelam biasanya diakibatkan oleh barotrauma ringan. Untuk pertolongan pertama, hindari membuang ingus terlalu kencang atau memasukkan korek kuping ke dalam telinga. Kamu bisa mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas, namun jika nyeri disertai cairan atau darah dari telinga, penurunan pendengaran, dan rasa pusing berputar (vertigo), segera periksakan diri ke dokter THT terdekat.