Pod adalah rokok elektrik ringkas yang menggunakan nicotine salt, namun tetap berisiko menyebabkan adiksi tinggi dan cedera paru.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Vape (Mod)?
- Apa Itu Pod?
- Perbedaan Pod dan Vape
- Dampak Pod dan Vape bagi Kesehatan
- Cara Berhenti dari Kebiasaan Menggunakan Pod dan Vape
- Studi Mengenai Dampak Rokok Elektrik
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Dalam beberapa tahun terakhir, rokok elektrik telah menjadi fenomena gaya hidup yang sangat populer di Indonesia, terutama di kalangan anak muda dan perokok dewasa yang ingin mencari alternatif selain rokok tembakau konvensional. Fenomena ini memunculkan berbagai jenis perangkat rokok elektrik di pasaran, yang paling umum dikenal adalah pod dan vape.
Banyak orang yang menganggap bahwa rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok biasa karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran tembakau dan tar. Namun, secara medis, anggapan ini keliru. Rokok elektrik tetap mengandung zat-zat kimia beracun dan nikotin yang dapat menyebabkan kecanduan serta berbagai masalah kesehatan serius pada saluran pernapasan dan sistem kardiovaskular.
Meskipun pod dan vape sama-sama merupakan perangkat rokok elektrik (Electronic Nicotine Delivery Systems atau ENDS), keduanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Perbedaan ini mencakup bentuk, cara kerja, jenis cairan (e-liquid) yang digunakan, hingga seberapa cepat nikotin diserap oleh tubuh.
Bagi kamu yang mungkin sedang mempertimbangkan untuk menggunakan perangkat ini, atau justru ingin memahami bahayanya bagi orang terdekat, sangat penting untuk mengetahui secara rinci perbedaan pod dan vape. Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini secara mendalam!
Apa Itu Vape (Mod)?
Vape, yang di kalangan komunitas pengguna sering disebut sebagai “Mod” (kependekan dari *Modified*), adalah jenis rokok elektrik berukuran relatif besar yang memungkinkan penggunanya untuk mengatur suhu, tegangan (voltage), dan daya (wattage) secara manual. Fleksibilitas inilah yang membuat vape sangat populer di kalangan pengguna yang sudah berpengalaman (cloud chasers).
Perangkat vape biasanya terdiri dari baterai bertenaga tinggi (yang sering kali bisa dilepas pasang), tangki (tank) atau atomizer untuk menampung cairan, dan koil (kumparan pemanas). Vape menggunakan cairan yang disebut e-liquid atau e-juice. Cairan untuk vape umumnya menggunakan jenis nikotin “Freebase”. Nikotin freebase ini murni dan memberikan efek *throat hit* (sensasi menggelitik atau tajam di tenggorokan) yang cukup kuat, terutama pada kadar nikotin yang tinggi.
Karena kemampuannya menghasilkan daya yang tinggi, vape memproduksi uap (cloud) yang sangat tebal dan banyak. Hal ini dicapai karena komposisi e-liquid untuk vape biasanya memiliki rasio Vegetable Glycerin (VG) yang jauh lebih tinggi dibandingkan Propylene Glycol (PG).
Apa Itu Pod?
Pod system adalah inovasi yang lebih baru dalam dunia rokok elektrik. Dirancang dengan konsep praktis, pod memiliki ukuran yang jauh lebih kecil, ringan, dan ramping dibandingkan dengan mod vape, menyerupai bentuk pena atau USB flash drive. Perangkat ini didesain khusus untuk kemudahan penggunaan (plug and play), sehingga pengguna tidak perlu repot merakit koil atau mengatur daya secara manual.
Bagian tangki pada pod (yang sering disebut cartridge) biasanya berukuran kecil dan menempel langsung dengan baterai bawaan (built-in battery). Perbedaan paling mendasar dari pod adalah jenis cairan yang digunakannya. Pod secara eksklusif dirancang untuk menggunakan “Salt Nicotine” (nikotin garam).
Salt nicotine adalah bentuk nikotin yang telah dicampur dengan asam tertentu (biasanya asam benzoat) sehingga tingkat keasamannya (pH) menurun. Hasilnya, salt nicotine dapat memberikan kadar nikotin yang sangat tinggi (bahkan bisa mencapai 30-50 mg) tanpa memberikan efek *throat hit* yang menyakitkan. Ini memungkinkan nikotin diserap oleh aliran darah jauh lebih cepat, hampir menyamai kecepatan penyerapan nikotin pada rokok tembakau konvensional.
Perbedaan Pod dan Vape
Untuk memahami lebih jelas, berikut adalah rangkuman detail mengenai perbedaan pod dan vape dari berbagai aspek teknis maupun penggunaannya:
1. Desain, Ukuran, dan Kepraktisan
Vape (Mod) memiliki ukuran yang besar (bulky), cukup berat, dan terdiri dari beberapa komponen yang harus dirakit serta dirawat secara berkala. Pengguna harus sering mengganti kapas dan membersihkan kawat (koil). Sebaliknya, pod berukuran sangat mungil, ringan, dan bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam saku celana. Penggunaannya sangat praktis; kamu hanya perlu mengganti cartridge yang sudah terintegrasi dengan koil jika rasanya sudah tidak enak.
2. Jenis Cairan dan Kandungan Nikotin
Seperti yang telah dibahas, vape mod menggunakan e-liquid jenis *freebase nicotine*. Kadar nikotin pada liquid freebase biasanya lebih rendah (sekitar 3 mg hingga 6 mg), karena jika lebih dari itu, sensasi di tenggorokan akan sangat menyakitkan. Di sisi lain, pod menggunakan *salt nicotine*. Kadar nikotin pada salt nic jauh lebih pekat (berkisar antara 15 mg hingga 50 mg). Ini berarti, meskipun hisapannya sedikit, pengguna pod mendapatkan asupan nikotin yang jauh lebih masif dibandingkan pengguna vape mod.
3. Produksi Uap (Cloud)
Jika kamu melihat seseorang menghembuskan asap (uap) yang sangat tebal hingga menyerupai kabut, bisa dipastikan ia menggunakan vape mod. Daya yang besar dan kadar VG yang tinggi menghasilkan uap tebal. Sementara itu, pod dirancang untuk *stealth vaping*. Daya baterainya kecil, sehingga uap yang dihasilkan jauh lebih sedikit, menyerupai asap rokok konvensional biasa.
4. Harga dan Biaya Perawatan
Di awal pembelian, perangkat pod jauh lebih murah dibandingkan mod vape. Namun, secara jangka panjang, pembelian cartridge pod (yang tidak bisa direbuild dan harus dibuang/diganti utuh) beserta liquid salt nic yang biasanya lebih mahal, dapat membuat pod terasa lebih menguras kantong. Mod vape membutuhkan modal awal yang besar untuk membeli mesin, baterai eksternal, dan atomizer, namun biaya perawatan bulanannya (membeli kapas dan kawat) cenderung lebih murah.
Kandungan Berbahaya dalam Cairan Rokok Elektrik
- Propylene Glycol (PG) & Vegetable Glycerin (VG): Meski dianggap aman untuk dimakan (food grade), memanaskan dan menghirup uapnya ke dalam paru-paru dapat menyebabkan iritasi saluran napas.
- Perasa (Flavorings): Beberapa perasa mengandung bahan kimia seperti diacetyl, yang dikaitkan dengan penyakit paru-paru serius yang disebut *popcorn lung* (bronkiolitis obliterans).
- Logam Berat: Proses pemanasan koil dapat melepaskan partikel logam berat seperti nikel, timah, dan timbal ke dalam uap yang dihirup.
Dampak Pod dan Vape bagi Kesehatan
Dari sudut pandang medis dan farmakologi, baik pod maupun vape tidak ada yang 100% aman bagi kesehatan. Banyak orang terjebak pada persepsi bahwa uap yang berbau wangi buah atau kue tidak berbahaya. Faktanya, aerosol (uap) yang dihasilkan mengandung berbagai zat toksik.
Salah satu dampak kesehatan jangka pendek yang paling nyata adalah iritasi pada mulut, tenggorokan kering, dan batuk rejan. Dalam jangka panjang, penggunaan rokok elektrik berkaitan erat dengan kondisi yang disebut EVALI (E-cigarette or Vaping Use-Associated Lung Injury). Penyakit paru ini ditandai dengan kerusakan jaringan paru-paru secara cepat, peradangan akut, hingga kesulitan bernapas yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Khusus untuk pengguna pod, bahaya kecanduan nikotin jauh lebih tinggi. Karena salt nicotine diserap tubuh dengan sangat cepat tanpa rasa sakit di tenggorokan, pengguna sering kali menghisapnya terus-menerus tanpa sadar bahwa mereka telah mengonsumsi jumlah nikotin yang sangat berlebihan (nicotine toxicity). Nikotin sendiri dapat meningkatkan tekanan darah, mempersempit pembuluh darah, dan meningkatkan detak jantung, yang pada akhirnya membebani kerja jantung.
Bila kamu mulai merasakan gejala yang mengganggu aktivitas, jangan diabaikan. Jika kamu sering mengalami sesak napas, batuk kronis, atau nyeri dada yang tak kunjung hilang akibat kebiasaan menghisap rokok elektrik, segera periksakan kondisi paru-parumu untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sebelum terjadi kerusakan permanen.
Cara Berhenti dari Kebiasaan Menggunakan Pod dan Vape
Berhenti menggunakan pod dan vape sering kali terasa lebih sulit dibandingkan berhenti merokok konvensional, terutama karena kadar nikotin tinggi pada pod dan kemudahannya untuk dihisap di mana saja. Namun, dengan langkah yang tepat, kamu pasti bisa melakukannya.
1. Tentukan Alasan Kuat dan Tetapkan Tanggal (Quit Date)
Langkah pertama adalah niat. Tentukan tanggal pasti kapan kamu akan berhenti sepenuhnya. Singkirkan semua perangkat pod, vape, liquid, dan cartridge dari pandanganmu. Jangan menyimpan “cadangan” karena itu hanya akan memicu kamu untuk menggunakannya kembali di saat stres.
2. Atasi Gejala Putus Zat (Withdrawal)
Ketika berhenti menggunakan nikotin, tubuh akan mengalami *nicotine withdrawal* yang ditandai dengan sakit kepala, mudah marah, sulit konsentrasi, dan keinginan kuat untuk kembali *vaping* (craving). Untuk mengelola hal ini, sibukkan diri dengan aktivitas fisik, minum banyak air putih, atau mengunyah permen karet bebas gula.
Untuk mendukung proses pemulihan daya tahan tubuh yang sempat terdampak akibat paparan racun, kamu dapat mengonsumsi makanan bergizi, menjaga hidrasi, atau menambah asupan vitamin. Kamu bisa cari dan beli suplemen dan vitamin secara praktis untuk membantu proses pemulihan sistem imun tubuhmu di masa transisi ini.
Studi Mengenai Dampak Rokok Elektrik
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerbitkan laporan studi berkelanjutan yang menjelaskan bahwa penggunaan produk rokok elektrik atau vaping sangat erat kaitannya dengan wabah penyakit paru-paru yang disebut EVALI.
Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa pemanasan aerosol pada perangkat vaping menghasilkan partikel ultrafine yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Selain itu, bahan kimia tertentu (termasuk Vitamin E asetat yang sering digunakan sebagai bahan pengental pada beberapa liquid modifikasi) menjadi agen toksik utama yang merusak silia paru dan memicu gagal napas akut pada ribuan pengguna rokok elektrik secara global.
Apapun jenisnya, baik pod yang praktis maupun mod vape yang canggih, keduanya membawa risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Terutama pada pod dengan kandungan *salt nicotine* yang tinggi, risiko ketergantungan mengintai dengan sangat nyata. Sayangi paru-paru dan jantungmu sedini mungkin.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Paru via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Paru terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Electronic cigarettes.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Quick Facts on the Risks of E-cigarettes for Kids, Teens, and Young Adults.
American Lung Association. Diakses pada 2024. Popcorn Lung: A Dangerous Risk of Flavored E-Cigarettes.
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2024. 5 Vaping Facts You Need to Know.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Bahaya Rokok Elektrik (Vape) Bagi Kesehatan.
FAQ
1. Apakah pod lebih aman dari rokok tembakau biasa?
Tidak ada rokok elektrik yang 100% aman. Meskipun tidak menghasilkan asap dan tar dari proses pembakaran, pod mengandung kadar nikotin garam yang sangat tinggi, bahan kimia pemicu iritasi, dan logam berat yang dapat merusak paru-paru secara serius.
2. Apa yang membuat pod lebih mudah bikin kecanduan dibandingkan vape biasa?
Pod menggunakan cairan jenis *salt nicotine* (nikotin garam) yang pH-nya sudah direndahkan. Hal ini membuat nikotin tidak terasa gatal di tenggorokan, sehingga memungkinkan kadar nikotin dimasukkan sangat tinggi (hingga 50 mg). Ini mempercepat aliran nikotin ke otak dan menciptakan kecanduan ekstrem.
3. Apakah uap vape bisa memengaruhi orang di sekitarnya (perokok pasif)?
Tentu bisa. Uap dari pod dan vape bukanlah sekadar uap air. Ini adalah aerosol yang mengandung partikel ultrahalus, bahan kimia perasa (seperti diacetyl), nikotin, dan sisa logam berat yang berbahaya jika terhirup terus-menerus oleh orang di sekitar (secondhand aerosol).
4. Bagaimana cara mengatasi rasa gatal di tenggorokan bagi yang ingin berhenti vaping?
Saat awal berhenti *vaping*, tenggorokan memang akan terasa kering karena hilangnya efek zat kimia propilen glikol. Kamu bisa mengatasinya dengan banyak minum air hangat, mengonsumsi permen pelega tenggorokan bebas gula, atau menggunakan *humidifier* (pelembap udara) di dalam ruangan.



