
Mengenal Posisi Plasenta Normal Serta Risiko Letak Rendah
Mengenal Posisi Plasenta Normal dan Berisiko Bagi Janin

DAFTAR ISI
- Mengenal Fungsi Plasenta dalam Kehamilan
- Tempat Plasenta yang Normal dan Aman
- Risiko Tempat Plasenta Rendah (Plasenta Previa)
- Faktor Risiko dan Penyebab Plasenta Bermasalah
- Cara Menjaga Kesehatan Plasenta Selama Hamil
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Masa kehamilan adalah salah satu momen paling menakjubkan sekaligus mendebarkan bagi seorang wanita. Di dalam rahim, tubuh ibu tidak hanya membentuk dan membesarkan janin, tetapi juga menumbuhkan sebuah organ baru yang sangat vital, yaitu plasenta atau yang sering disebut ari-ari. Plasenta adalah nyawa bagi janin selama berada di dalam kandungan, karena organ inilah yang menjadi jembatan penghubung antara sistem peredaran darah ibu dan bayi.
Selama proses pemeriksaan kehamilan rutin melalui USG (Ultrasonografi), dokter kandungan biasanya akan selalu mengecek kondisi, ukuran, serta letak atau tempat plasenta menempel di dalam rahim. Mengapa hal ini sangat penting? Karena posisi atau letak plasenta sangat menentukan kelancaran dan keamanan proses persalinan nantinya. Posisi plasenta yang tepat akan memastikan bayi bisa lahir tanpa hambatan, sementara letak yang salah bisa menimbulkan risiko perdarahan hebat.
Pada sebagian besar kehamilan, tempat plasenta akan berada di posisi yang normal dan aman hingga tiba waktu persalinan. Namun, ada kalanya plasenta menempel di area yang tidak seharusnya, seperti menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (serviks). Kondisi ini memerlukan perhatian medis ekstra agar ibu dan bayi tetap selamat. Memahami seluk-beluk tentang posisi plasenta akan membantu para ibu hamil lebih waspada dan tenang dalam menjalani masa kehamilannya.
Nah, mau tahu apa saja variasi tempat plasenta yang normal dan kapan posisi tersebut dianggap berbahaya? Serta bagaimana cara menjaga kesehatan kehamilan agar terhindar dari komplikasi? Berikut ulasan lengkapnya!
Mengenal Fungsi Plasenta dalam Kehamilan
Sebelum membahas tentang tempat plasenta, penting untuk memahami betapa krusialnya peran organ yang satu ini. Plasenta mulai terbentuk segera setelah sel telur yang telah dibuahi (embrio) menempel pada dinding rahim (implantasi). Organ ini berbentuk seperti piringan datar yang penuh dengan pembuluh darah dan terhubung langsung ke bayi melalui tali pusat.
Fungsi utama plasenta tidak bisa digantikan oleh apa pun selama janin berada di dalam kandungan. Berikut adalah beberapa peran utama plasenta:
- Menyalurkan Oksigen dan Nutrisi: Darah ibu mengalir melalui plasenta, membawa oksigen, glukosa, vitamin, dan nutrisi penting lainnya. Nutrisi ini kemudian disalurkan melalui tali pusat ke tubuh bayi untuk mendukung tumbuh kembangnya. Untuk mendukung hal ini, penting bagi ibu hamil untuk rutin mengonsumsi vitamin kehamilan guna memastikan asupan gizi yang optimal.
- Membuang Zat Sisa: Bayi juga menghasilkan zat sisa metabolisme dan karbon dioksida. Plasenta bertugas menyerap kembali zat-zat buangan tersebut dari darah bayi, memindahkannya ke aliran darah ibu, untuk kemudian dibuang oleh ginjal dan paru-paru ibu.
- Menghasilkan Hormon Kehamilan: Plasenta memproduksi berbagai hormon yang esensial, seperti Human Chorionic Gonadotropin (hCG), estrogen, dan progesteron. Hormon-hormon ini berfungsi untuk mempertahankan kehamilan, mencegah kontraksi rahim prematur, dan mempersiapkan payudara untuk menyusui.
- Sebagai Sistem Imun dan Penghalang: Plasenta menyalurkan antibodi dari ibu ke janin untuk memberikan kekebalan pasif pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Selain itu, plasenta juga bertindak sebagai penghalang yang mencegah bakteri dan sebagian besar virus agar tidak langsung masuk ke tubuh bayi.
Tempat Plasenta yang Normal dan Aman
Setelah pembuahan terjadi, sel telur akan bergerak menyusuri tuba falopi menuju rahim. Di mana pun embrio tersebut menempel di dinding rahim, di situlah plasenta akan mulai tumbuh dan berkembang. Secara medis, ada beberapa posisi atau tempat plasenta yang dianggap normal dan tidak mengganggu proses persalinan pervaginam (lahir normal).
1. Plasenta Posterior
Ini adalah salah satu posisi yang paling umum. Plasenta menempel di dinding belakang rahim (posisi yang paling dekat dengan tulang belakang ibu). Posisi ini sangat aman dan sering kali memungkinkan ibu hamil untuk merasakan gerakan atau tendangan bayi lebih cepat dan lebih kuat, karena tidak ada bantalan plasenta di bagian depan perut.
2. Plasenta Anterior
Pada posisi ini, plasenta menempel di dinding bagian depan rahim (dekat dengan kulit perut ibu). Sama seperti posterior, plasenta anterior sepenuhnya normal dan aman. Satu-satunya perbedaan adalah ibu mungkin merasakan gerakan bayi sedikit lebih lambat atau lebih lembut, karena plasenta bertindak seperti “bantal” peredam antara bayi dan perut ibu. Dokter juga mungkin butuh waktu sedikit lebih lama untuk menemukan detak jantung janin menggunakan Doppler.
3. Plasenta Fundal
Fundus adalah bagian puncak atau atap dari rahim. Jika plasenta menempel tepat di bagian atas rahim, ini disebut plasenta fundal. Posisi ini juga sangat ideal karena lokasinya sangat jauh dari serviks (leher rahim), sehingga sama sekali tidak akan menghalangi jalan lahir ketika bayi siap untuk dilahirkan.
4. Plasenta Lateral
Jika plasenta menempel di dinding samping rahim, baik di sisi kanan maupun sisi kiri, maka disebut plasenta lateral. Letak ini juga tergolong normal dan aman untuk kehamilan serta persalinan.
Fakta Menarik tentang Pergerakan Plasenta
- Plasenta sebenarnya tidak benar-benar berpindah tempat. Namun, seiring dengan membesarnya rahim secara signifikan dari bawah ke atas, plasenta yang tadinya berada di bawah seolah-olah “tertarik” ke atas menjauhi leher rahim.
- Fenomena ini sering disebut sebagai migrasi plasenta. Inilah sebabnya mengapa diagnosis plasenta letak rendah pada trimester kedua sering kali dapat sembuh atau normal dengan sendirinya saat memasuki trimester ketiga.
- Oleh karena itu, jangan terlalu panik jika dokter mendiagnosis plasenta letak rendah di usia kehamilan 18-20 minggu. Terus lakukan pemantauan rutin.
Risiko Tempat Plasenta Rendah (Plasenta Previa)
Masalah utama terkait tempat plasenta terjadi ketika plasenta menempel terlalu rendah di dalam rahim, letaknya berdekatan dengan atau bahkan menutupi serviks (leher rahim). Kondisi ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah Plasenta Previa. Mengapa ini berbahaya? Karena saat proses persalinan dimulai, serviks akan menipis dan membuka. Jika plasenta ada di atasnya, pembuluh darah pada plasenta dapat robek dan memicu perdarahan hebat yang mengancam nyawa ibu dan janin.
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan seberapa banyak jaringan plasenta yang menutupi leher rahim:
1. Plasenta Previa Totalis (Komplit)
Pada kondisi ini, seluruh lubang leher rahim atau jalan lahir benar-benar tertutup oleh plasenta. Ibu dengan kondisi ini tidak bisa melahirkan secara normal (pervaginam) dan wajib menjalani operasi caesar (C-section) terencana untuk keselamatan ibu dan bayi.
2. Plasenta Previa Parsial
Sesuai namanya, plasenta hanya menutupi sebagian dari jalan lahir. Persalinan pervaginam mungkin masih memiliki peluang, tetapi risiko perdarahannya tetap sangat tinggi, sehingga operasi caesar biasanya masih menjadi pilihan utama dokter.
3. Plasenta Previa Marginalis
Letak tepi plasenta berada tepat di pinggir leher rahim, bersentuhan dengan pembukaan tetapi tidak menutupinya. Pada beberapa kasus, persalinan normal masih bisa diusahakan di bawah pengawasan ketat yang intensif, meskipun risiko perdarahan masih ada.
4. Plasenta Letak Rendah (Low-Lying Placenta)
Plasenta berada di bagian bawah rahim, jaraknya kurang dari 2 sentimeter dari leher rahim, tetapi tidak menyentuh atau menutupinya. Sering kali, seiring bertambah besarnya rahim di trimester ketiga, plasenta ini akan “bergeser” menjauh dari serviks.
Faktor Risiko dan Penyebab Plasenta Bermasalah
Secara pasti, dokter tidak selalu bisa memprediksi atau mencegah mengapa embrio menempel di bagian bawah rahim dan menyebabkan plasenta previa. Namun, ada berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang wanita hamil mengalami kondisi kelainan tempat plasenta ini. Mengenali faktor-faktor risiko ini sangat penting agar ibu hamil bisa mendapatkan pemantauan yang lebih intensif sejak awal kehamilan.
1. Riwayat Operasi pada Rahim
Ini adalah faktor risiko terbesar. Jika seorang ibu pernah menjalani operasi caesar sebelumnya, operasi pengangkatan miom (miomektomi), atau kuretase akibat keguguran, rahimnya akan memiliki jaringan parut atau bekas luka. Embrio sering kali kesulitan menempel pada jaringan parut tersebut, sehingga “terpaksa” menempel di bagian rahim yang lebih rendah. Semakin sering ibu menjalani operasi caesar, semakin tinggi pula risiko mengalami plasenta previa di kehamilan berikutnya.
2. Usia Ibu Saat Hamil
Penelitian medis menunjukkan bahwa wanita yang hamil pada usia 35 tahun ke atas memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami komplikasi plasenta dibandingkan wanita yang hamil di usia 20-an. Hal ini berkaitan dengan penurunan elastisitas dan perubahan vaskularisasi pada dinding rahim seiring bertambahnya usia.
3. Kehamilan Ganda (Bayi Kembar)
Mengandung bayi kembar dua, tiga, atau lebih berarti tubuh memerlukan ukuran plasenta yang lebih besar, atau bahkan membentuk lebih dari satu plasenta. Karena ukurannya yang besar atau jumlahnya yang lebih dari satu, plasenta cenderung mengambil lebih banyak ruang di dalam rahim, meningkatkan kemungkinan mencapai dan menutupi jalan lahir.
4. Gaya Hidup Tidak Sehat
Merokok aktif maupun pasif selama masa kehamilan, serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dapat merusak pembuluh darah secara sistemik, termasuk di dalam rahim. Hal ini mengganggu proses implantasi yang sehat dan meningkatkan risiko masalah letak plasenta serta solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya).
Cara Menjaga Kesehatan Plasenta Selama Hamil
Meskipun kamu tidak dapat mengontrol secara langsung di mana letak plasenta akan menempel, kamu sangat bisa menjaga agar plasenta tetap sehat, berfungsi optimal, dan terhindar dari komplikasi lain. Plasenta yang sehat berarti bayi mendapatkan nutrisi maksimal untuk pertumbuhannya. Berikut beberapa langkah penting yang harus diterapkan oleh setiap ibu hamil:
1. Lakukan Pemeriksaan USG Rutin (Antenatal Care)
Jangan pernah melewatkan jadwal kontrol kehamilan dengan dokter spesialis kandungan. Melalui pemeriksaan USG, terutama USG di trimester kedua (sekitar minggu ke-18 hingga 20), dokter dapat memetakan posisi plasenta dengan akurat. Jika ditemukan letak plasenta yang rendah, dokter bisa langsung membuat rencana pemantauan lanjutan dan memberikan saran terkait aktivitas yang aman dilakukan.
2. Kontrol Tekanan Darah
Hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol (preeklamsia) bisa sangat berbahaya bagi pembuluh darah di plasenta. Kondisi ini bisa menghambat aliran darah ke janin atau menyebabkan solusio plasenta. Kurangi asupan garam berlebih, kelola stres, dan minumlah obat penurun tensi jika memang diresepkan oleh dokter.
3. Hindari Benturan pada Perut (Trauma Fisik)
Lindungi perut dari risiko benturan fisik. Selalu gunakan sabuk pengaman saat berada di dalam mobil (letakan sabuk di bawah perut, bukan melintang di tengah perut). Hindari olahraga yang berisiko jatuh seperti bersepeda, menunggang kuda, atau bela diri.
4. Waspada Terhadap Gejala Perdarahan
Ciri khas utama dari plasenta previa adalah perdarahan dari vagina yang berwarna merah segar, namun tidak disertai rasa nyeri atau kram perut. Perdarahan ini biasanya muncul tiba-tiba pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Jika kamu mengalami hal ini, meskipun hanya bercak atau jumlahnya sedikit, jangan diabaikan. Segera lakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan terdekat.
Kapan Harus ke Dokter?
Penanganan terhadap komplikasi tempat plasenta, khususnya plasenta previa, sangat bergantung pada usia kehamilan, tingkat keparahan perdarahan, serta kondisi kesehatan ibu dan janin. Kamu harus segera mendatangi UGD (Unit Gawat Darurat) rumah sakit terdekat apabila:
- Mengalami perdarahan vagina yang keluar mengalir deras.
- Perdarahan disertai dengan rasa kram, kontraksi rahim yang teratur, atau nyeri punggung yang parah.
- Merasa pusing berputar, lemas, pucat, atau hampir pingsan (tanda-tanda anemia atau syok akibat kehilangan banyak darah).
- Merasakan bahwa gerakan bayi di dalam kandungan berkurang drastis atau tidak bergerak sama sekali dalam rentang waktu yang lama.
Jika didiagnosis dengan plasenta previa namun tidak mengalami perdarahan parah (biasanya diketahui hanya dari USG), dokter umumnya akan merekomendasikan pelvic rest (istirahat panggul). Artinya, ibu dilarang keras melakukan hubungan seksual, dilarang menggunakan tampon, dan tidak boleh melakukan olahraga berat atau angkat beban berat. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko gesekan yang dapat memicu robeknya pembuluh darah plasenta.
Studi Mengenai Risiko Plasenta Previa
The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine menerbitkan studi di tahun 2016 yang menjelaskan bahwa persentase kasus plasenta previa meningkat secara signifikan pada wanita dengan riwayat persalinan caesar berulang.
Studi observasional ini menemukan bahwa risiko plasenta menempel di bagian bawah rahim meningkat dari 1% pada wanita tanpa riwayat caesar, menjadi hampir 3% setelah satu kali caesar, dan melonjak tajam hingga lebih dari 10% pada wanita dengan riwayat 4 kali operasi caesar atau lebih. Temuan ini menegaskan pentingnya konseling prakonsepsi bagi wanita yang merencanakan kehamilan setelah riwayat operasi rahim.
Kondisi tempat plasenta yang tidak normal bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan, asalkan terdeteksi sejak dini. Dengan teknologi medis modern saat ini, sebagian besar ibu hamil dengan plasenta previa tetap dapat melahirkan bayi yang sehat dengan prosedur operasi caesar terencana. Kuncinya adalah kepatuhan dalam menjalani pemeriksaan kehamilan dan menjaga pola hidup sehat.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Placenta Previa.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Placenta Previa: Symptoms, Causes & Treatment.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Diakses pada 2024. Bleeding During Pregnancy.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. WHO recommendations on interventions for improving preterm birth outcomes.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Buku Panduan Ibu Hamil.
FAQ
1. Apakah posisi plasenta bisa berubah selama masa kehamilan?
Ya, sangat bisa. Pada trimester pertama dan kedua, wajar jika plasenta berada di bawah (letak rendah). Seiring membesarnya ukuran rahim menjelang trimester ketiga, plasenta biasanya akan tertarik ke atas menjauhi leher rahim secara alami.
2. Apakah ibu dengan plasenta previa totalis bisa melahirkan normal?
Tidak. Jika diagnosis plasenta previa totalis (menutup jalan lahir sepenuhnya) bertahan hingga trimester ketiga, ibu hamil wajib melahirkan melalui operasi caesar demi mencegah perdarahan fatal yang mengancam nyawa ibu dan bayi.
3. Apa ciri-ciri perdarahan akibat plasenta bermasalah?
Gejala paling khas dari plasenta previa adalah keluarnya darah segar dari vagina yang datang secara tiba-tiba tanpa disertai rasa sakit atau kram perut sama sekali. Kondisi ini merupakan keadaan gawat darurat medis yang butuh penanganan segera.
4. Apakah letak plasenta anterior berbahaya?
Sama sekali tidak. Plasenta anterior (menempel di dinding depan rahim) adalah posisi yang sangat normal dan aman. Ibu hanya mungkin merasakan gerakan atau tendangan janin sedikit lebih lambat dibanding letak plasenta lainnya, karena plasenta menjadi bantalan antara bayi dan kulit perut ibu.


