
Mengenal Tes Mantoux, Pemeriksaan TBC Lewat Kulit
“Untuk mendiagnosis TBC, salah satu tes yang bisa dijalani adalah tes mantoux. Tes ini dilakukan pada kulit.”

DAFTAR ISI
- Apa Itu Tes Mantoux?
- Tujuan dan Fungsi Pemeriksaan
- Prosedur dan Cara Kerja Tes Mantoux
- Cara Membaca dan Interpretasi Hasil
- Faktor yang Memengaruhi Akurasi Hasil
- Studi Terkait
- FAQ
Dalam dunia medis, istilah “mantuk” sebenarnya merujuk pada Tes Mantoux (Mantoux Test) atau juga dikenal sebagai Tuberculin Skin Test (TST). Tes ini merupakan metode standar yang digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan untuk mendeteksi apakah seseorang telah terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman penyebab penyakit Tuberkulosis atau TBC.
Penyakit TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Karena penularannya yang terjadi melalui udara (airborne), deteksi dini menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan. Tes Mantoux sering kali menjadi langkah awal, terutama pada anak-anak, untuk mengidentifikasi apakah kuman TBC sudah masuk ke dalam tubuh, meskipun orang tersebut belum menunjukkan gejala sakit yang nyata.
Penting untuk memahami bahwa hasil tes Mantoux yang positif tidak selalu berarti seseorang menderita TBC aktif yang dapat menularkan penyakit. Hasil tersebut bisa mengindikasikan infeksi laten, di mana kuman ada di dalam tubuh namun dalam keadaan “tidur” dan tidak menimbulkan gejala. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai prosedur dan interpretasi tes ini sangat krusial bagi pasien dan orang tua.
Nah, mau tahu lebih lanjut mengenai apa itu tes Mantoux, bagaimana prosedurnya, dan apa arti dari hasil tesnya? Berikut ulasannya!
Apa Itu Tes Mantoux?
Tes Mantoux adalah prosedur diagnostik yang dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil protein yang berasal dari bakteri TBC ke lapisan atas kulit lengan bawah. Protein ini disebut dengan PPD (Purified Protein Derivative). Tes ini pertama kali dikembangkan oleh Charles Mantoux pada tahun 1908 dan tetap menjadi metode yang sangat relevan hingga saat ini.
Kandungan PPD yang digunakan dalam tes ini bukanlah bakteri hidup, sehingga Tes Mantoux tidak akan menyebabkan seseorang terkena penyakit TBC. Cara kerjanya didasarkan pada respons sistem kekebalan tubuh terhadap antigen tersebut. Jika seseorang pernah terpapar kuman TBC sebelumnya, sistem imunnya akan mengenali protein PPD ini dan memberikan reaksi berupa peradangan atau tonjolan di area suntikan dalam waktu tertentu.
Tujuan dan Fungsi Pemeriksaan
Tujuan utama dari tes Mantoux adalah untuk menyaring populasi yang berisiko tinggi terpapar TBC. Hal ini mencakup individu yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC aktif, petugas kesehatan, hingga anak-anak yang menunjukkan gejala penurunan berat badan atau batuk lama tanpa penyebab yang jelas. Di Indonesia, tes ini menjadi bagian standar dalam penegakan diagnosis TBC pada anak melalui sistem skoring.
Fungsi lainnya adalah untuk membedakan antara mereka yang memerlukan terapi pencegahan TBC (TPT) dan mereka yang tidak. Pada kondisi infeksi laten, meskipun tidak sakit, kuman TBC berisiko menjadi aktif di masa depan jika daya tahan tubuh menurun. Dengan deteksi lewat Mantoux, dokter dapat memberikan pengobatan pencegahan untuk memastikan kuman tersebut benar-benar mati sebelum menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.
Siapa Saja yang Membutuhkan Tes Mantoux?
- Orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC aktif.
- Anak-anak dengan gejala batuk lebih dari 2 minggu atau berat badan tidak naik.
- Penderita HIV atau kondisi imunosupresi lainnya yang rentan terinfeksi.
- Petugas medis yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
Prosedur dan Cara Kerja Tes Mantoux
Prosedur tes Mantoux tergolong sederhana namun memerlukan ketelitian tinggi dari tenaga medis yang melakukannya. Berikut adalah tahapan yang umumnya dilakukan:
1. Proses Penyuntikan
Dokter atau perawat akan membersihkan area kulit di bagian dalam lengan bawah. Kemudian, cairan PPD sebanyak 0,1 ml disuntikkan secara intrakutan (tepat di bawah permukaan kulit). Jika suntikan dilakukan dengan benar, akan muncul benjolan kecil menyerupai gigitan nyamuk di lokasi tersebut.
2. Masa Tunggu
Setelah penyuntikan, pasien diminta untuk membiarkan area tersebut dan tidak menutupinya dengan plester atau mengoleskan salep apa pun. Pasien harus kembali ke fasilitas kesehatan dalam waktu 48 hingga 72 jam (2 sampai 3 hari) untuk dilakukan pembacaan hasil. Jika pasien tidak kembali dalam jangka waktu tersebut, tes biasanya harus diulang kembali di lengan yang berbeda.
Cara Membaca dan Interpretasi Hasil
Interpretasi hasil tes Mantoux tidak didasarkan pada warna kemerahan (eritema) yang muncul, melainkan pada diameter indurasi atau tonjolan keras yang terbentuk. Tenaga medis akan meraba area suntikan dan mengukur diameter tonjolan tersebut secara melintang menggunakan penggaris khusus.
Kriteria hasil positif bervariasi tergantung pada kondisi kesehatan individu tersebut:
- Positif (Indurasi ≥ 5 mm): Dianggap positif pada kelompok risiko sangat tinggi, seperti penderita HIV, orang yang baru melakukan kontak erat dengan pasien TBC aktif, atau individu dengan hasil rontgen dada yang menunjukkan tanda TBC lama.
- Positif (Indurasi ≥ 10 mm): Dianggap positif pada kelompok risiko sedang, termasuk anak-anak di bawah usia 4 tahun, orang yang tinggal di pemukiman padat, atau pengguna obat suntik.
- Positif (Indurasi ≥ 15 mm): Dianggap positif pada individu yang tidak memiliki faktor risiko TBC sama sekali.
Jika indurasi tidak terbentuk atau berukuran sangat kecil (di bawah batas ambang), maka tes dinyatakan negatif. Namun, hasil negatif belum tentu berarti bebas kuman TBC sepenuhnya, terutama jika sistem imun seseorang sedang sangat lemah (anergik).
Faktor yang Memengaruhi Akurasi Hasil
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hasil “positif palsu” atau “negatif palsu” pada tes Mantoux. Hal ini sangat penting untuk didiskusikan dengan dokter sebelum melakukan tes.
1. Vaksinasi BCG
Di Indonesia, vaksinasi BCG diberikan saat bayi lahir untuk mencegah TBC berat. Beberapa orang yang pernah divaksin BCG mungkin menunjukkan reaksi positif pada tes Mantoux meskipun tidak terinfeksi kuman TBC. Hal ini terjadi karena sistem imun bereaksi terhadap protein PPD karena kemiripannya dengan komponen vaksin.
2. Kondisi Imunodefisiensi
Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat rendah, misalnya karena HIV/AIDS lanjut atau penggunaan kemoterapi, mungkin tidak mampu memberikan reaksi kulit terhadap PPD meskipun kuman TBC ada di tubuhnya. Kondisi ini disebut sebagai anergik dan sering kali menghasilkan negatif palsu.
Studi Mengenai Tes Mantoux
The New England Journal of Medicine menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa meskipun ada metode baru seperti IGRA (Interferon-Gamma Release Assays), Tes Mantoux tetap menjadi pilihan utama yang efektif biaya di negara berkembang untuk skrining infeksi TBC laten.
Studi tersebut menegaskan bahwa efektivitas Mantoux dalam memprediksi risiko penyakit TBC aktif pada anak sangat tinggi, terutama di wilayah endemik. Penanganan dini pada anak dengan hasil Mantoux positif terbukti menurunkan angka mortalitas akibat meningitis TB dan TB milier secara signifikan.
FAQ
1. Apakah tes mantuk adalah prosedur yang menyakitkan?
Prosedur ini melibatkan suntikan jarum kecil di bawah kulit, sehingga sensasinya mungkin terasa seperti cubitan ringan atau gigitan serangga sesaat. Bagi anak-anak, rasa tidak nyaman biasanya bersifat minimal dan singkat.
2. Apakah saya boleh mandi setelah tes Mantoux?
Ya, kamu boleh mandi. Namun, pastikan area suntikan tidak digosok terlalu keras dengan sabun atau spons mandi. Cukup tepuk-tepuk lembut untuk mengeringkannya. Hindari penggunaan bedak atau salep di area tersebut hingga hasil dibaca oleh dokter.
3. Jika hasil tes Mantoux positif, apakah saya pasti sakit TBC?
Belum tentu. Hasil positif hanya berarti kuman TBC pernah masuk ke tubuh kamu. Dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan seperti rontgen dada atau tes dahak untuk memastikan apakah kamu menderita TBC aktif atau hanya infeksi laten.
4. Kenapa hasil tes harus dibaca setelah 48-72 jam?
Karena reaksi yang diukur adalah hipersensitivitas tipe lambat. Sistem kekebalan tubuh membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 hari untuk merespons protein PPD dan membentuk tonjolan indurasi yang stabil untuk diukur.
Jika kamu atau anggota keluargamu mengalami gejala seperti batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari 2 minggu, keringat malam tanpa aktivitas, atau penurunan berat badan yang drastis, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan pemeriksaan lebih lanjut.
Untuk mendukung daya tahan tubuh selama masa pemulihan atau pencegahan, kamu juga bisa rutin mengonsumsi vitamin dan beli obat online di Halodoc yang terjamin keaslian produknya.
Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2026. Tuberculin Skin Testing.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Latent Tuberculosis Infection: Updated and Consolidated Guidelines for Programmatic Management.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Tuberculosis – Diagnosis and Treatment.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Petunjuk Teknis Manajemen Penyakit Tuberkulosis pada Anak.
—
## Khawatir dengan Risiko Penularan TBC? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya kekhawatiran tentang gejala TBC atau bingung mengenai jadwal pemeriksaan kesehatan? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!
[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


