Ad Placeholder Image

Mengenal Tumor Parotis, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

“Tumor parotis ada yang bersifat non-kanker atau jinak, tapi ada juga yang bersifat ganas. Tingkat bahaya tumor ini tergantung pada jenisnya. Tumor parotis ganas lebih sering kambuh setelah pengobatan.”

Mengenal Tumor Parotis, Gejala, Penyebab, dan Cara MengatasinyaMengenal Tumor Parotis, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasakan ada benjolan yang tidak biasa di area rahang, tepatnya di bawah telinga? Kondisi ini sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama jika benjolan tersebut muncul secara tiba-tiba atau perlahan membesar. Salah satu kemungkinan penyebab dari benjolan tersebut adalah tumor parotis.

Tumor parotis adalah pertumbuhan sel abnormal yang terjadi pada kelenjar parotis. Kelenjar ini merupakan kelenjar ludah (saliva) terbesar yang terletak di kedua sisi wajah, tepat di depan telinga. Meskipun sebagian besar kasus tumor ini bersifat jinak, pemahaman yang mendalam mengenai gejala dan penanganannya sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Kelenjar parotis memiliki peran vital dalam sistem pencernaan awal manusia, karena ia memproduksi air liur yang membantu melunasi mulut dan memulai proses pemecahan makanan. Gangguan pada kelenjar ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan estetika wajah, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi saraf wajah yang melintasi area tersebut.

Penting bagi kamu untuk menyadari bahwa tidak semua benjolan berarti kanker. Namun, diagnosis dini merupakan kunci utama dalam manajemen kesehatan kelenjar ludah. Jika kamu menemukan gejala yang mencurigakan, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai apa itu tumor parotis, mulai dari jenis hingga langkah pengobatannya? Berikut ulasan lengkapnya untuk kamu!

Apa Itu Tumor Parotis?

Tumor parotis adalah tumor yang berkembang di dalam jaringan kelenjar parotis. Secara anatomi, manusia memiliki tiga pasang kelenjar ludah utama: kelenjar parotis, kelenjar submandibular (di bawah rahang), dan kelenjar sublingual (di bawah lidah). Kelenjar parotis adalah yang paling sering menjadi lokasi tumbuhnya tumor kelenjar ludah, yakni sekitar 80 persen dari seluruh kasus tumor kelenjar saliva.

Kelenjar parotis dibagi menjadi dua bagian atau lobus, yaitu lobus superfisial dan lobus dalam, yang dipisahkan oleh saraf wajah (nervus fasialis). Saraf ini sangat krusial karena mengontrol gerakan otot wajah, seperti tersenyum, menutup mata, dan mengangkat alis. Oleh karena itu, penanganan tumor di area ini memerlukan ketelitian tinggi agar tidak merusak fungsi saraf tersebut.

Jenis-Jenis Tumor Parotis

Tumor pada kelenjar parotis diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yaitu jinak (benign) dan ganas (malignant/kanker). Beruntungnya, sekitar 75 hingga 80 persen tumor parotis bersifat jinak.

1. Tumor Parotis Jinak (Non-Kanker)

Tumor jinak tumbuh secara lambat dan tidak menyebar ke jaringan tubuh lainnya. Jenis yang paling umum adalah:

  • Adenoma Pleomorfik: Juga dikenal sebagai tumor campuran jinak. Ini adalah jenis tumor parotis yang paling sering ditemukan. Meskipun jinak, tumor ini memiliki potensi kecil untuk berubah menjadi ganas jika dibiarkan selama bertahun-tahun tanpa penanganan.
  • Tumor Warthin: Jenis tumor jinak kedua yang paling umum, biasanya terjadi pada pria lanjut usia dan sering dikaitkan dengan riwayat merokok. Uniknya, tumor ini terkadang muncul di kedua kelenjar parotis (bilateral).

2. Tumor Parotis Ganas (Kanker)

Tumor ganas memiliki kemampuan untuk tumbuh agresif, merusak jaringan sekitar, dan menyebar (metastasis) ke kelenjar getah bening atau organ lain. Beberapa jenisnya antara lain:

  • Karsinoma Mukoepidermoid: Jenis kanker kelenjar ludah yang paling umum.
  • Karsinoma Adenoid Kistik: Dikenal karena sifatnya yang sering menyebar mengikuti jalur saraf.
  • Karsinoma Sel Asinic: Cenderung tumbuh lebih lambat dibandingkan jenis kanker lainnya namun tetap memerlukan operasi pengangkatan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pada tahap awal, tumor parotis sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Inilah yang membuat banyak orang terlambat menyadarinya. Namun, seiring pertumbuhannya, beberapa gejala berikut mungkin muncul:

  • Adanya benjolan atau pembengkakan di area rahang, pipi, atau leher di dekat telinga.
  • Mati rasa atau kesemutan pada sebagian wajah.
  • Kelemahan pada otot wajah (wajah tampak miring atau sulit digerakkan).
  • Rasa nyeri yang terus-menerus di area kelenjar parotis.
  • Kesulitan saat membuka mulut lebar-lebar atau saat menelan.
  • Perbedaan bentuk yang nyata antara sisi wajah kiri dan kanan.
Tanda Bahaya Tumor Ganas
  1. Benjolan yang tumbuh sangat cepat dalam waktu singkat.
  2. Kelumpuhan saraf wajah secara mendadak.
  3. Benjolan terasa keras, terfiksasi (tidak bisa digerakkan), dan sangat nyeri.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti dari perubahan sel menjadi tumor parotis belum diketahui sepenuhnya. Namun, para ahli medis telah mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini:

  • Paparan Radiasi: Riwayat terapi radiasi di area kepala dan leher untuk pengobatan penyakit lain dapat meningkatkan risiko tumor di masa depan.
  • Usia: Tumor parotis lebih sering ditemukan pada orang dewasa usia lanjut, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi pada usia muda.
  • Paparan Zat Kimia: Paparan industri terhadap zat tertentu seperti debu silika atau bahan kimia di pabrik karet sering dikaitkan dengan risiko kanker kelenjar ludah.
  • Merokok: Khusus untuk Tumor Warthin, merokok merupakan faktor risiko yang sangat signifikan.
  • Infeksi Virus: Beberapa penelitian mengaitkan infeksi virus seperti HIV atau EBV (Epstein-Barr Virus) dengan peningkatan risiko gangguan kelenjar ludah.

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Jika kamu menemukan benjolan di wajah, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apakah itu tumor parotis dan menentukan jenisnya:

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan meraba benjolan untuk menilai ukuran, tekstur, dan mobilitasnya. Dokter juga akan memeriksa kemampuan kamu dalam menggerakkan otot wajah untuk melihat apakah ada keterlibatan saraf.

2. Pencitraan (Imaging)

Pemeriksaan seperti USG, CT Scan, atau MRI sangat membantu dokter untuk melihat posisi tumor secara detail, hubungannya dengan saraf wajah, serta apakah ada penyebaran ke jaringan sekitar.

3. Biopsi Jarum Halus (FNAB)

Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel sel dari benjolan menggunakan jarum yang sangat tipis. Sampel tersebut kemudian diperiksa di bawah mikroskop oleh dokter patologi untuk menentukan apakah tumor tersebut jinak atau ganas.

Metode Pengobatan Tumor Parotis

Langkah utama dalam menangani tumor parotis, baik jinak maupun ganas, biasanya adalah melalui tindakan pembedahan. Nama prosedurnya disebut parotidektomi.

1. Parotidektomi Superfisial

Jika tumor hanya berada di bagian luar (lobus superfisial), dokter hanya akan mengangkat bagian tersebut dengan tetap mempertahankan saraf wajah.

2. Parotidektomi Total

Jika tumor sudah masuk ke lobus dalam atau bersifat ganas, seluruh kelenjar parotis mungkin perlu diangkat. Dalam kasus kanker yang agresif, saraf wajah yang terkena mungkin terpaksa diangkat dan segera dilakukan prosedur rekonstruksi atau cangkok saraf.

3. Terapi Tambahan

Untuk kasus tumor ganas, operasi biasanya diikuti dengan terapi radiasi atau kemoterapi guna memastikan sel-sel kanker benar-benar hilang dan tidak muncul kembali.

Pasca operasi, pemulihan tubuh membutuhkan nutrisi yang optimal. Kamu dapat mendukung daya tahan tubuh dengan beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk mendapatkan vitamin atau suplemen yang direkomendasikan dokter selama masa penyembuhan.

Studi Mengenai Tumor Parotis

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa deteksi dini melalui ultrasonografi (USG) memiliki akurasi yang sangat tinggi dalam membedakan tumor jinak dan ganas pada kelenjar parotis.

Studi tersebut menekankan bahwa penanganan bedah pada tahap jinak (seperti Adenoma Pleomorfik) memiliki tingkat keberhasilan mendekati 100 persen. Sebaliknya, penundaan operasi dapat meningkatkan risiko tumor berubah menjadi ganas (carcinoma ex pleomorphic adenoma) seiring bertambahnya usia pasien.

Jika kamu merasakan ketidaknyamanan atau benjolan di wajah, jangan tunda untuk mencari bantuan profesional. Diagnosis yang tepat akan memberikan ketenangan pikiran dan peluang kesembuhan yang jauh lebih besar.

Kamu bisa mendapatkan informasi lebih lanjut atau melakukan janji temu dengan dokter spesialis bedah onkologi melalui aplikasi Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc secara praktis.

Punya Keluhan Kesehatan di Area Wajah tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan seperti benjolan di wajah, tapi bingung harus periksa ke mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Parotid Tumor: Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Parotid Gland Tumors: Diagnosis and Treatment.
National Health Service (NHS) UK. Diakses pada 2026. Salivary Gland Cancer.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2026. Pleomorphic Adenoma of the Salivary Glands.
Journal of Oral and Maxillofacial Surgery. Diakses pada 2026. Management of Warthin Tumor.

FAQ

1. Apakah semua tumor parotis berarti kanker?

Tidak. Sekitar 80% tumor yang tumbuh di kelenjar parotis adalah tumor jinak (non-kanker) seperti Adenoma Pleomorfik dan Tumor Warthin. Namun, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikannya.

2. Apakah operasi tumor parotis akan mengubah bentuk wajah?

Tergantung pada ukuran tumor dan jenis operasinya. Dokter bedah biasanya berusaha menggunakan teknik sayatan yang tersembunyi (seperti bekas luka operasi plastik) untuk meminimalkan dampak estetika pada wajah.

3. Apa risiko dari operasi pengangkatan kelenjar parotis?

Risiko utama adalah cedera pada saraf wajah yang dapat menyebabkan kelemahan otot wajah sementara atau permanen. Risiko lainnya termasuk sindrom Frey (berkeringat di wajah saat makan) dan mulut kering.

4. Bisakah tumor parotis tumbuh kembali setelah dioperasi?

Tumor jinak seperti adenoma pleomorfik memiliki risiko kekambuhan jika tidak diangkat secara bersih beserta sebagian jaringan sehat di sekitarnya. Oleh karena itu, tindak lanjut rutin pasca operasi sangat disarankan.