Ad Placeholder Image

Mikrotia: Penyebab, Grade, & Pilihan Penanganan Telinga

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   25 Februari 2026

Mikrotia: Penyebab, Grade, & Cara Penanganan Telinga Kecil

Mikrotia: Penyebab, Grade, & Pilihan Penanganan TelingaMikrotia: Penyebab, Grade, & Pilihan Penanganan Telinga

Mikrotia adalah kondisi langka bawaan lahir yang memengaruhi perkembangan telinga luar, di mana daun telinga tidak terbentuk sempurna, berukuran kecil, atau bahkan tidak ada sama sekali. Kelainan ini umumnya terjadi hanya pada satu sisi (unilateral) dan seringkali disertai dengan atresia liang telinga, yaitu tidak adanya lubang telinga, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Penanganan mikrotia melibatkan pendekatan multidisiplin, salah satunya melalui rekonstruksi telinga yang umumnya dilakukan pada usia 5-8 tahun.

Apa Itu Mikrotia?

Mikrotia merupakan kelainan kongenital atau bawaan lahir yang ditandai dengan kurangnya perkembangan daun telinga (aurikel). Kondisi ini menyebabkan telinga tampak lebih kecil dari normal atau memiliki bentuk yang tidak lengkap. Dalam kasus yang lebih parah, daun telinga bisa tidak terbentuk sama sekali. Mikrotia seringkali menjadi perhatian tidak hanya karena aspek penampilan, tetapi juga karena potensi dampaknya terhadap fungsi pendengaran.

Kondisi ini umumnya terjadi pada satu telinga, namun dapat pula memengaruhi kedua telinga. Hampir selalu, mikrotia disertai dengan atresia liang telinga, yang berarti saluran telinga tidak terbentuk. Hal ini secara langsung berkontribusi pada gangguan pendengaran pada sisi telinga yang terpengaruh.

Tingkat Keparahan Mikrotia

Mikrotia diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh mana daun telinga terbentuk. Pemahaman tentang tingkatan ini membantu dalam perencanaan penanganan yang tepat.

  • Grade 1: Daun telinga lebih kecil dari normal, tetapi struktur dasarnya masih dapat dikenali dan bentuknya relatif lengkap.
  • Grade 2: Struktur telinga hilang sebagian, dan ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan telinga normal. Bagian-bagian seperti lobulus atau helix mungkin tidak terbentuk sempurna.
  • Grade 3: Ini adalah bentuk mikrotia yang paling umum. Telinga hanya berbentuk sisa jaringan lunak dan tulang rawan yang menyerupai kacang polong atau gumpalan kecil (tipe lobulus).
  • Grade 4 (Anotia): Merupakan kondisi yang paling parah, di mana tidak ada daun telinga maupun liang telinga yang terbentuk sama sekali.

Penyebab Mikrotia

Penyebab pasti mikrotia seringkali belum diketahui secara spesifik. Namun, para ahli meyakini bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial, yang berarti ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap perkembangannya. Mikrotia diyakini terjadi akibat gangguan selama perkembangan janin pada sekitar usia 6 minggu kehamilan, saat telinga luar mulai terbentuk.

Beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi meliputi:

  • Infeksi virus pada ibu hamil, seperti rubela (campak Jerman).
  • Paparan zat-zat tertentu selama kehamilan, termasuk obat-obatan seperti thalidomide dan isotretinoin.
  • Faktor genetik, meskipun sebagian besar kasus terjadi secara sporadis tanpa riwayat keluarga yang jelas.

Dampak Mikrotia

Selain perbedaan penampilan fisik yang dapat memengaruhi kepercayaan diri individu, mikrotia seringkali memiliki dampak signifikan pada fungsi pendengaran. Anak-anak dengan mikrotia hampir selalu mengalami gangguan pendengaran pada telinga yang terkena.

Jenis gangguan pendengaran yang paling umum adalah tipe konduktif, yaitu masalah terjadi pada penghantaran suara dari telinga luar dan tengah ke telinga dalam. Hal ini disebabkan oleh atresia liang telinga dan anomali pada tulang-tulang pendengaran kecil (osikel) di telinga tengah.

Penanganan Mikrotia

Penanganan mikrotia memerlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan tim multidisiplin. Tim ini biasanya terdiri dari ahli telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), bedah plastik, serta spesialis anak untuk memastikan perawatan terbaik sejak dini.

Beberapa pilihan penanganan mikrotia meliputi:

  • Rekonstruksi Aurikel: Operasi plastik ini bertujuan untuk membentuk daun telinga baru. Teknik yang umum digunakan adalah rekonstruksi menggunakan tulang rawan iga pasien sendiri (misalnya, teknik Nagata) atau bahan sintetis. Prosedur ini biasanya dilakukan pada usia 5-8 tahun, ketika tulang rawan iga sudah cukup besar dan telinga satunya telah mencapai ukuran mendekati dewasa.
  • Alat Bantu Dengar: Untuk mengatasi gangguan pendengaran konduktif, penggunaan alat bantu dengar hantaran tulang (Bone-Anchored Hearing Aid/BAHA) sering direkomendasikan. Alat ini bekerja dengan mengirimkan getaran suara langsung ke tulang tengkorak dan telinga dalam, melewati telinga luar dan tengah yang tidak berfungsi.
  • Protesis: Pilihan lain adalah penggunaan daun telinga buatan yang terbuat dari bahan silikon. Protesis ini dapat dilekatkan secara medis atau dengan bantuan magnet yang ditanam di tulang tengkorak, memberikan hasil kosmetik yang baik bagi beberapa individu.

Pemilihan metode penanganan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan mikrotia, kondisi kesehatan pasien, dan pertimbangan individual lainnya.

Rekomendasi Medis di Halodoc

Jika ditemukan tanda-tanda mikrotia pada anak, sangat penting untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis. Diagnosis dini dan intervensi yang tepat dapat membantu mengoptimalkan hasil penanganan, baik dari segi fungsi pendengaran maupun aspek kosmetik.

Melalui Halodoc, dapat diakses informasi medis terpercaya mengenai mikrotia dan kondisi kesehatan lainnya. Tersedia juga layanan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis THT atau bedah plastik secara langsung, guna mendapatkan penanganan yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan.