Ad Placeholder Image

Mimisan: Kenali Epistaksis, Penyebab, dan Cara Atasi

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   28 April 2026

Jangan Panik! Ini Penyebab Mimisan dan Solusinya

Mimisan: Kenali Epistaksis, Penyebab, dan Cara AtasiMimisan: Kenali Epistaksis, Penyebab, dan Cara Atasi

Epistaksis Adalah: Memahami Kondisi Mimisan

Epistaksis adalah istilah medis untuk mimisan, yaitu kondisi keluarnya darah dari hidung. Umumnya, kondisi ini terlihat ringan dan seringkali dapat sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi medis khusus. Namun, penting untuk diketahui bahwa epistaksis bisa menjadi pertanda masalah kesehatan yang lebih serius.

Kondisi ini merupakan salah satu kegawatdaruratan THT yang paling sering ditemukan. Pendarahan dapat berasal dari bagian depan (anterior) atau belakang (posterior) rongga hidung. Epistaksis terjadi ketika pembuluh darah halus di selaput lendir hidung pecah akibat berbagai faktor.

Jenis Epistaksis

Pendarahan hidung dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasinya, yang memengaruhi tingkat keparahan dan penanganannya.

  • Epistaksis Anterior: Ini adalah jenis mimisan yang paling umum dan biasanya kurang serius. Pendarahan berasal dari bagian depan septum hidung, area yang kaya akan pembuluh darah kecil (pleksus Kiesselbach). Pendarahan seringkali mudah dihentikan dan dapat ditangani di rumah.

  • Epistaksis Posterior: Jenis ini lebih jarang terjadi namun cenderung lebih serius. Pendarahan berasal dari bagian belakang rongga hidung, melibatkan pembuluh darah yang lebih besar. Epistaksis posterior seringkali memerlukan perhatian medis segera karena pendarahan bisa lebih banyak dan sulit dihentikan.

Penyebab Epistaksis Adalah Kondisi yang Bervariasi

Epistaksis dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari yang ringan hingga yang memerlukan perhatian medis. Memahami penyebabnya dapat membantu dalam pencegahan dan penanganan.

  • Trauma Lokal: Cedera pada hidung, seperti mengorek hidung, benturan, atau patah tulang hidung, adalah penyebab umum. Trauma ini dapat merusak pembuluh darah di dalam hidung.

  • Udara Kering: Lingkungan dengan kelembapan rendah, seperti di ruangan ber-AC atau saat musim dingin, dapat mengeringkan selaput lendir hidung. Kondisi ini membuat pembuluh darah menjadi rapuh dan mudah pecah.

  • Infeksi Saluran Pernapasan Atas: Pilek, flu, atau sinusitis dapat menyebabkan peradangan dan iritasi pada lapisan hidung. Batuk atau bersin berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah hidung.

  • Penggunaan Obat-obatan Tertentu: Obat pengencer darah (antikoagulan) seperti aspirin atau warfarin, serta semprotan hidung dekongestan, dapat meningkatkan risiko mimisan.

  • Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi): Meskipun jarang menjadi penyebab langsung, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat memperburuk pendarahan jika pembuluh darah hidung sudah pecah.

  • Kelainan Pembekuan Darah: Gangguan seperti hemofilia atau penyakit Von Willebrand, serta kondisi lain yang memengaruhi kemampuan darah untuk membeku, dapat menyebabkan mimisan berulang atau sulit berhenti.

  • Benda Asing: Terutama pada anak-anak, masuknya benda asing ke dalam hidung dapat menyebabkan iritasi dan pendarahan.

Gejala Epistaksis

Gejala utama epistaksis adalah keluarnya darah dari salah satu atau kedua lubang hidung. Darah bisa menetes perlahan, mengalir deras, atau keluar dalam bentuk gumpalan. Terkadang, darah juga bisa mengalir ke belakang tenggorokan dan menyebabkan pasien menelan darah atau batuk darah.

Jika pendarahan cukup banyak, pasien mungkin juga merasakan pusing, lemah, atau bahkan pingsan akibat kehilangan darah. Perasaan tidak nyaman atau adanya benda asing di hidung juga bisa menyertai.

Penanganan Awal dan Pengobatan Epistaksis

Penanganan awal mimisan dapat dilakukan di rumah untuk kasus epistaksis anterior yang ringan.

  • Duduk tegak dan condongkan tubuh sedikit ke depan. Posisi ini membantu mencegah darah mengalir ke tenggorokan.

  • Pencet bagian lunak hidung (tepat di bawah tulang hidung) menggunakan ibu jari dan telunjuk. Tahan selama 10-15 menit tanpa dilepas.

  • Bernapas melalui mulut selama hidung dipencet. Kompres dingin di pangkal hidung juga dapat membantu menyempitkan pembuluh darah.

Jika pendarahan tidak berhenti setelah penanganan awal atau merupakan epistaksis posterior, tindakan medis mungkin diperlukan. Dokter dapat melakukan kauterisasi (pembakaran pembuluh darah yang berdarah), pemasangan tampon hidung (nasal packing), atau dalam kasus yang sangat jarang, ligasi pembuluh darah.

Pencegahan Epistaksis

Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya mimisan.

  • Menjaga kelembapan rongga hidung, terutama di lingkungan kering, menggunakan pelembap udara atau salep hidung khusus. Menggunakan semprotan saline juga dapat membantu.

  • Hindari mengorek hidung secara berlebihan atau meniup hidung terlalu kencang, terutama saat sedang pilek.

  • Mengelola kondisi medis yang mendasari seperti tekanan darah tinggi atau alergi.

  • Berhati-hati dalam penggunaan obat-obatan pengencer darah dan ikuti petunjuk dokter.

Kapan Harus Mencari Bantuan Medis untuk Epistaksis?

Penting untuk mengenali tanda-tanda kapan mimisan memerlukan evaluasi medis lebih lanjut. Konsultasikan dengan dokter jika:

  • Pendarahan tidak berhenti setelah 20 menit penanganan awal.

  • Pendarahan terjadi setelah cedera kepala atau cedera wajah yang serius.

  • Mimisan disertai gejala lain seperti pusing hebat, lemas, pingsan, atau kesulitan bernapas.

  • Pendarahan sangat hebat atau terjadi secara berulang tanpa penyebab yang jelas.

  • Mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki riwayat gangguan pembekuan darah.

Meskipun seringkali tidak berbahaya, epistaksis dapat menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian. Jika mengalami mimisan yang tidak biasa atau berulang, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional medis. Halodoc menyediakan layanan konsultasi dokter terpercaya untuk membantu mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.