Ad Placeholder Image

Misophonia: Pahami Kenapa Suara Kecil Bikin Marah

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Misophonia: Kenapa Suara Bikin Frustrasi Berlebihan?

Misophonia: Pahami Kenapa Suara Kecil Bikin MarahMisophonia: Pahami Kenapa Suara Kecil Bikin Marah

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa sangat marah, cemas, atau bahkan panik secara tiba-tiba hanya karena mendengar suara kunyahan makanan, tarikan napas, atau ketukan jari dari orang di sebelahmu? Jika reaksi emosional yang kamu rasakan sangat kuat dan di luar kendali, bisa jadi kamu sedang mengalami suatu kondisi medis yang dikenal dengan istilah misophonia.

Misophonia, yang secara harfiah berarti “kebencian terhadap suara”, adalah suatu gangguan di mana suara-suara tertentu yang repetitif memicu reaksi emosional dan fisik yang sangat intens. Bagi kebanyakan orang, suara decakan bibir atau ketikan keyboard hanyalah bagian dari latar belakang aktivitas sehari-hari. Namun, bagi pengidap kondisi ini, suara-suara tersebut bertindak layaknya alarm bahaya yang memicu respons fight-or-flight (lawan atau lari) di dalam otak.

Kondisi ini tidak boleh disepelekan, karena dampaknya bisa sangat signifikan terhadap kualitas hidup seseorang. Banyak pengidap misophonia yang akhirnya mengisolasi diri dari pergaulan sosial, menghindari makan bersama keluarga, hingga kesulitan berkonsentrasi di tempat kerja atau sekolah karena takut terpapar suara pemicu (trigger). Hal ini sering kali berujung pada tingginya tingkat stres, masalah kecemasan, hingga depresi.

Mengingat misophonia merupakan masalah respons neurologis dan psikologis, tidak ada obat minum atau produk medis spesifik yang dijual bebas untuk menyembuhkan kondisi ini secara instan. Namun, pemahaman mendalam tentang kondisi ini dan dukungan terapi yang tepat sangatlah krusial. Nah, mari kita bahas secara tuntas apa itu misophonia, penyebab, hingga bagaimana cara mengatasinya!

Apa Itu Misophonia?

Misophonia adalah gangguan neurobehavioral yang ditandai oleh reaksi emosional, kognitif, dan fisiologis yang berlebihan terhadap suara-suara spesifik. Kondisi ini berbeda dengan hiperakusis, di mana seseorang merasa terganggu karena volume suara yang terlalu keras. Pada misophonia, bukan volume suaranya yang menjadi masalah, melainkan pola dan jenis suara tersebut—yang biasanya bersuara pelan atau memiliki ritme yang repetitif.

Kondisi ini umumnya mulai muncul pada akhir masa kanak-kanak atau awal masa remaja, tepatnya di rentang usia 9 hingga 13 tahun. Pada awalnya, kondisi ini mungkin hanya dipicu oleh satu jenis suara spesifik, seperti suara kunyahan orang tua di meja makan. Namun seiring berjalannya waktu, jenis suara pemicu bisa bertambah banyak dan melibatkan suara dari orang-orang di luar lingkaran keluarga.

Reaksi yang ditimbulkan sering kali dianggap berlebihan oleh orang di sekitarnya. Pengidapnya menyadari bahwa respons mereka tidak proporsional, namun mereka benar-benar kehilangan kendali untuk meredam lonjakan emosi dan fisik tersebut saat suara pemicu itu terdengar.

Faktor Pemicu (Trigger) Paling Umum pada Misophonia
  1. Suara dari Mulut atau Wajah: Mengunyah, menelan, mengecap bibir, menyeruput minuman, menggosok gigi, hingga suara napas yang berat.
  2. Suara Gerakan Repetitif: Ketukan pulpen, bunyi keyboard atau mouse, suara langkah kaki yang diseret, ketukan jari di meja.
  3. Suara Lingkungan: Bunyi jam berdetak, dengungan mesin atau AC, gonggongan anjing yang terus-menerus, gemeresik plastik kemasan.
  4. Pemicu Visual: Pada kondisi lanjutan, misophonia bisa berkembang menjadi misokinesia, di mana pengidapnya merasa terganggu hanya dengan melihat gerakan tubuh seseorang yang repetitif (seperti menggoyangkan kaki), bahkan tanpa adanya suara.

Gejala Utama Misophonia

Gejala misophonia bisa bervariasi dari ringan hingga sangat parah. Reaksi yang timbul tidak hanya sekadar rasa jengkel biasa, melainkan melibatkan seluruh sistem saraf otonom. Berikut adalah beberapa gejala yang sering dialami:

1. Respons Emosional yang Ekstrem

Gejala pertama dan paling menonjol adalah munculnya emosi negatif secara mendadak. Hal ini bisa berupa rasa jijik, kemarahan yang meluap-luap, kecemasan, hingga rasa ingin menangis. Dalam kasus yang parah, pengidapnya bisa merasakan kemarahan yang memicu agresi verbal atau keinginan kuat untuk menyakiti sumber suara.

2. Reaksi Fisiologis Tubuh

Saat mendengar suara pemicu, otak akan mengaktifkan respons fight-or-flight. Ini menyebabkan perubahan fisik instan, seperti detak jantung yang tiba-tiba meningkat tajam (palpitasi), keringat dingin, otot-otot menegang (terutama di sekitar leher dan rahang), serta tekanan darah yang meningkat.

3. Perubahan Perilaku (Penghindaran)

Untuk melindungi diri dari rasa sakit psikologis tersebut, pengidap misophonia akan melakukan berbagai cara untuk menghindari suara. Mereka mungkin akan selalu memakai earphone dengan volume tinggi, makan sendirian di kamar, atau menolak ajakan bersosialisasi di tempat yang padat. Perilaku penghindaran ini yang paling sering merusak hubungan interpersonal dan kualitas hidup pengidapnya.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti misophonia masih terus diteliti oleh para ahli medis dan ilmuwan. Namun, beberapa temuan medis menunjukkan bahwa misophonia bukanlah sekadar gangguan psikologis atau kecengengan belaka, melainkan adanya perbedaan pada struktur dan fungsi otak.

Otak pengidap misophonia terbukti memiliki konektivitas yang tidak normal antara korteks pendengaran (bagian otak yang memproses suara) dengan anterior insular cortex (bagian otak yang mengatur pemrosesan emosi). Ketika suara spesifik terdengar, jalur saraf ini mengalami korsleting atau aktivitas yang hiperaktif, sehingga menghasilkan respons emosional yang masif.

Beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan mengalami kondisi ini meliputi:

  • Faktor Genetik: Kondisi ini sering kali menurun dalam keluarga. Jika salah satu orang tua memiliki sensitivitas berlebih terhadap suara, risiko anak untuk mengalaminya akan meningkat.
  • Kondisi Kesehatan Mental Penyerta: Misophonia sangat sering ditemukan berdampingan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), sindrom Tourette, gangguan kecemasan umum (GAD), dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
  • Tinnitus: Orang yang memiliki tinnitus (kondisi telinga berdenging) memiliki persentase yang lebih tinggi untuk mengembangkan misophonia di kemudian hari.

Cara Mengatasi dan Pilihan Terapi

Mengingat misophonia adalah kondisi yang kompleks dan sangat individual, tidak ada satu jenis obat pil atau sirup yang bisa “menyembuhkan” kondisi ini secara langsung. Penanganan misophonia berfokus pada manajemen gejala dan melatih otak agar tidak merespons suara dengan cara yang ekstrem.

1. Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy / CBT)

CBT adalah salah satu metode psikoterapi yang paling efektif untuk pengidap misophonia. Terapis akan membantu pasien untuk mengubah pola pikir dan cara mereka merespons suatu pemicu. Melalui sesi rutin, pasien diajarkan teknik relaksasi, cara mengontrol amarah, dan secara bertahap mengurangi sensitivitas emosional terhadap suara-suara yang mengganggu.

2. Tinnitus Retraining Therapy (TRT)

Awalnya terapi ini dirancang untuk pasien yang mengalami telinga berdenging. Namun, konsepnya ternyata sangat berguna bagi pengidap misophonia. TRT bertujuan untuk melatih kembali otak agar dapat mengabaikan suara yang memicu gangguan. Pasien biasanya diajarkan untuk menyandingkan suara pemicu dengan suara yang menyenangkan secara bertahap, sehingga otak tidak lagi menganggap suara pemicu tersebut sebagai ancaman atau bahaya.

3. Penggunaan Alat Bantu Suara (White Noise)

Sebagai langkah pencegahan sehari-hari, banyak pasien yang mengandalkan alat penghasil white noise (suara statis seperti gemeresik kipas atau hujan) atau selalu membawa noise-cancelling headphones. Perangkat ini membantu menyamarkan frekuensi suara pemicu di lingkungan sekitar, sehingga pengidap bisa tetap bekerja atau beraktivitas tanpa merasa terancam secara konstan.

4. Manajemen Stres dan Modifikasi Gaya Hidup

Stres yang menumpuk terbukti dapat memperburuk gejala misophonia secara signifikan. Ketika seseorang kurang tidur atau sedang dalam tekanan, toleransi otak terhadap suara akan menurun drastis. Oleh karena itu, menjaga pola tidur yang baik, melakukan meditasi atau yoga, serta rutin berolahraga sangat disarankan untuk menjaga keseimbangan sistem saraf.

Jika kondisi ini memicu stres yang tidak tertahankan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, penting untuk segera mendapatkan penanganan medis yang tepat. Kamu bisa konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Psikolog atau psikiater dapat memberikan evaluasi mendalam dan merancang program terapi yang disesuaikan dengan kondisimu.

Di samping terapi, beberapa orang juga disarankan untuk menjaga asupan nutrisi yang mendukung fungsi dan kesehatan saraf. Jika membutuhkan vitamin penunjang kesehatan saraf maupun produk medis lainnya, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan diantar ke rumah dengan praktis dan aman.

Studi Mengenai Misophonia

Current Biology menerbitkan studi komprehensif di tahun 2017 yang menjelaskan bahwa misophonia berhubungan erat dengan hiperaktivitas pada bagian otak yang bernama anterior insular cortex (AIC).

Dalam penelitian yang dipimpin oleh Dr. Sukhbinder Kumar tersebut, dilakukan pemindaian fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) terhadap otak pengidap misophonia. Hasilnya menunjukkan bahwa saat mereka mendengar suara pemicu (seperti kunyahan atau pernapasan), jaringan saraf di AIC yang menghubungkan indera pendengaran dan sistem emosi bereaksi secara berlebihan (overdrive). Studi ini menjadi tonggak penting karena memberikan bukti fisik dan medis yang sah bahwa misophonia bukanlah sekadar “sikap yang dibuat-buat”, melainkan kelainan neurologis yang nyata.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
PubMed / NCBI. Diakses pada 2024. Misophonia: Diagnostic Criteria for a New Psychiatric Disorder.
Current Biology. Diakses pada 2024. The Brain Basis for Misophonia.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Misophonia: Causes, Symptoms & Treatment.
WebMD. Diakses pada 2024. What Is Misophonia?
Harvard Medical School. Diakses pada 2024. Misophonia: When sounds really do make you “crazy”.

FAQ

1. Apakah misophonia bisa disembuhkan secara total?

Hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan misophonia secara total. Namun, melalui terapi seperti CBT dan Tinnitus Retraining Therapy (TRT), serta manajemen stres yang baik, intensitas gejala dapat ditekan secara signifikan sehingga pengidap bisa menjalani hidup dengan lebih normal dan produktif.

2. Mengapa suara dari orang terdekat sering kali menjadi pemicu yang paling parah?

Banyak pengidap misophonia melaporkan bahwa mereka jauh lebih terpicu oleh suara dari anggota keluarga dekat atau pasangan dibandingkan dengan orang asing. Secara psikologis, hal ini diduga terjadi karena tingkat kedekatan emosional membuat pengidap merasa lebih “bebas” atau rentan untuk melepaskan respons emosional mereka tanpa filter, berbeda saat berada di ruang publik.

3. Apakah misophonia sama dengan autisme?

Tidak. Misophonia bukanlah bagian dari spektrum autisme, meskipun keduanya bisa melibatkan sensitivitas sensori yang berlebihan. Pada autisme, masalah sensori biasanya mencakup spektrum yang lebih luas (cahaya, sentuhan, dan semua suara keras), sedangkan misophonia secara eksklusif sangat spesifik pada pola suara tertentu yang repetitif, terlepas dari volume suaranya.

4. Bagaimana cara terbaik membantu teman atau pasangan yang memiliki kondisi ini?

Dukungan dan validasi adalah kunci utama. Jangan pernah menertawakan, menganggap remeh, atau sengaja memproduksi suara pemicu untuk “menguji” reaksi mereka, karena hal itu sangat menyakitkan bagi mereka. Diskusikan batasan yang nyaman, izinkan mereka meninggalkan ruangan atau memakai headphone saat sedang kesulitan menahan emosi akibat suara di sekitarnya.