• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Gen Z Memiliki Mental yang Lebih Lemah
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Gen Z Memiliki Mental yang Lebih Lemah

Mitos atau Fakta, Gen Z Memiliki Mental yang Lebih Lemah

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 12 Oktober 2022

“Ada banyak hal yang membuat Gen Z lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental. Termasuk overstimulasi dan paparan media sosial.”

Mitos atau Fakta, Gen Z Memiliki Mental yang Lebih LemahMitos atau Fakta, Gen Z Memiliki Mental yang Lebih Lemah

Halodoc, Jakarta – Gen Z mengacu pada generasi yang lahir kira-kira antara tahun 1996-2013. Mereka adalah generasi pertama yang sepenuhnya dibesarkan dengan internet dan smartphone, dan telah tumbuh dengan pengalaman dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.

Secara khusus, mereka saling berhubungan secara global dengan beragam orang dan sebagian besar berkomunikasi melalui teknologi dan media sosial. Generasi ini perlahan mulai menghadapi tantangan dunia nyata dan mengelola stres kehidupan sehari-hari sebagai orang dewasa.

Kesehatan Mental Gen Z

Menurut laporan yang diterbitkan American Psychological Association, Gen Z adalah yang paling mungkin dari semua generasi untuk melaporkan kesehatan mental yang buruk. Lantas, apakah berarti Gen Z punye mental yang lebih lemah?

Sebenarnya, anak-anak, remaja, dan orang dewasa Gen Z menghadapi banyak penyebab stres yang sama seperti generasi sebelumnya. Namun, mereka mungkin mengalami versi yang lebih intens, terutama mengingat banyaknya berita dan media sosial.

Tantangan kesehatan mental di kalangan generasi ini sangat memprihatinkan. Seperti mengapa Gen Z lebih terpengaruh oleh stres dan depresi selama pandemi? Tentu saja, mereka mengalami masa dewasa pada saat masa depan tampak tidak pasti bagi mereka.

Sementara generasi yang lebih tua mungkin memiliki lebih banyak perspektif dan pengalaman yang memungkinkan mereka untuk mengatasi perubahan. 

Alasan lain Gen Z dianggap memiliki mental yang lebih lemah adalah karena kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi, termasuk pendapatan, pendidikan tinggi, pekerjaan, makanan yang lebih baik, perumahan mewah, transportasi yang nyaman, dukungan sosial, keamanan, dan lain-lain.

Bagi mereka yang mengandalkan interaksi sosial untuk dukungan emosional, pandemi membawa banyak kerugian bagi mereka. Bagi kaum muda, pandemi yang menetapkan batasan telah mengakibatkan pertemuan sosial yang lebih pendek dengan teman-teman yang menyebabkan dampak utama pada kesehatan mental mereka. 

Media Sosial Jadi Pedang Bermata Dua

Gen Z tumbuh dewasa di era media sosial. Di satu sisi, hal ini memudahkan komunikasi dengan banyak orang, dan mendekatkan yang jauh. Namun, di sisi lain, dampak negatifnya cukup signifikan bagi kesehatan mental mereka.

Saking bergantungnya pada media sosial, Gen Z sering terpaku pada pembaruan konstan ini di Instagram, Facebook, dan platform lain. Mereka melihat betapa indahnya kehidupan orang lain melalui postingan foto atau video. Ini adalah sumber depresi, kecemasan, kebencian diri bagi banyak orang akhir-akhir ini. 

Media sosial juga membuat Gen Z mengalami overstimulasi. Di dunia nyata, mereka telah sibuk dengan pekerjaan, tugas dan PR, tapi fokus mereka juga terbagi pada media sosial. Hal ini dapat menghabiskan sebagian besar sumber daya kognitif mereka, tidak menyisakan sedikit pun untuk fokus pada orang lain dan bahkan diri sendiri.

Lebih Terbuka Tentang Kesehatan Mental

Tidak menutup kemungkinan juga bahwa anggapan Gen Z punya mental yang lebih lemah adalah karena tingkat kesadaran mereka yang lebih tinggi terhadap kesehatan mental. Mereka lebih sadar dan menerima masalah kesehatan mental secara umum. Ini mengarah pada diskusi yang lebih terbuka tentang masalah psikologis dan bagaimana mengelola stres.

Apa alasan Gen Z lebih terbuka tentang kesehatan mental mereka? Ada kemungkinan beberapa alasan. Generasi sebelumnya mungkin telah membuka jalan bagi keterbukaan Gen Z melalui peningkatan kesadaran akan kesehatan mental dan kampanye publik untuk mengurangi stigma.

Ketika orang-orang di internet berbicara tentang perjuangan mereka melawan masalah kesehatan mental, ini juga memudahkan orang lain di seluruh dunia untuk membicarakan perjuangan mereka. Media sosial dan internet telah menghubungkan Gen Z dengan cerita orang lain, baik itu orang asing di internet atau selebriti dan influencer.

Semua faktor ini mungkin memudahkan generasi ini untuk berbicara secara terbuka tentang perjuangan kesehatan mental mereka, dibandingkan dengan generasi sebelumnya seperti Milenial dan Gen X. 

Menormalkan percakapan tentang kesehatan mental berarti bahwa Gen Z memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah mereka. Alih-alih terjebak, mereka memilih untuk bersuara dan mencari solusi. 

Generasi ini tidak ingin terkekang oleh masalah kesehatan mental. Sebaliknya, mereka ingin mendapatkan perawatan, agar mereka memiliki kesehatan mental yang baik untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan dalam hidup. 

Jadi, jika kamu memiliki masalah kesehatan mental, jangan ragu untuk meminta bantuan ahlinya. Agar mudah, download Halodoc saja untuk membuat janji rumah sakit dengan psikolog atau psikiater.

Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2022. Stress In America™ – Generation Z.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Generation Z Most Likely to Have Poor Mental Health.
The Health Site. Diakses pada 2022. Depression And Stress More Rampant Among Gen Z’s Than Other Generations: Know What Experts Say.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Is Gen Z More Depressed?
Very Well Mind. Diakses pada 2022. Why Gen Z Is More Open to Talking About Their Mental Health.