Ad Placeholder Image

Naik Pitam Artinya: Marah Sekali atau Malah Pusing?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   26 Februari 2026

Naik Pitam Artinya: Marah atau Justru Pusing?

Naik Pitam Artinya: Marah Sekali atau Malah Pusing?Naik Pitam Artinya: Marah Sekali atau Malah Pusing?

Naik pitam artinya adalah ungkapan yang menggambarkan kondisi emosi marah yang sangat intens dan memuncak, sering kali diiringi rasa geram atau panas hati. Selain makna utama tersebut, ungkapan ini juga dapat merujuk pada sensasi pusing atau pening yang muncul akibat peningkatan tekanan atau aliran darah ke kepala saat emosi memuncak. Ungkapan ini bersifat kiasan dan sering disamakan dengan “naik darah” untuk menggambarkan tingkat kemarahan yang tinggi. Memahami makna dan implikasi “naik pitam” penting untuk mengenali dan mengelola emosi demi menjaga kesehatan fisik dan mental.

Definisi Naik Pitam Secara Mendalam

Naik pitam adalah sebuah frasa idiomatik dalam bahasa Indonesia yang memiliki dua makna utama, tergantung pada konteks penggunaannya.

Secara umum, makna yang paling sering dijumpai adalah:

  • Marah besar atau geram: Ini merujuk pada kondisi emosional ketika seseorang merasakan kemarahan yang sangat kuat, meluap-luap, dan sulit dikendalikan. Emosi ini bisa muncul karena frustrasi, kekecewaan, atau ketidakadilan. Sebagai contoh, “Aksi pencurian itu membuat warga kampung naik pitam.”

Namun, dalam konteks lain, “naik pitam” juga bisa diartikan sebagai:

  • Pusing atau pening: Makna ini muncul dari sensasi fisik yang kadang menyertai kemarahan ekstrem atau stres. Ketika emosi memuncak, aliran darah ke kepala bisa meningkat, menimbulkan rasa pusing, kepala berat, atau bahkan sakit kepala.

Ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan reaksi spontan terhadap suatu kejadian yang memicu emosi kuat. Penting untuk membedakan antara kemarahan yang sehat dan respons “naik pitam” yang bisa berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.

Gejala Fisik dan Emosional Saat Naik Pitam

Ketika seseorang “naik pitam” dalam artian marah besar, ada beberapa gejala fisik dan emosional yang sering menyertainya. Gejala-gejala ini adalah respons alami tubuh terhadap stres dan kemarahan.

Gejala fisik yang mungkin muncul meliputi:

  • Peningkatan detak jantung dan tekanan darah.
  • Otot menegang, terutama di leher, bahu, dan rahang.
  • Napas menjadi lebih cepat dan dangkal.
  • Wajah memerah atau pucat.
  • Merasa panas atau berkeringat dingin.
  • Sakit kepala atau pusing (sesuai makna kedua “naik pitam”).
  • Gemetar atau tangan berkeringat.

Secara emosional, seseorang yang naik pitam mungkin merasakan:

  • Frustrasi dan iritasi yang intens.
  • Keinginan kuat untuk melampiaskan kemarahan.
  • Kesulitan untuk berpikir jernih atau rasional.
  • Rasa tidak berdaya atau kehilangan kontrol.
  • Agresi verbal atau fisik.

Mengenali gejala-gejala ini adalah langkah pertama dalam upaya mengelola emosi tersebut sebelum mencapai titik yang merugikan.

Penyebab Umum Seseorang Merasa Naik Pitam

Berbagai faktor dapat memicu seseorang “naik pitam”. Pemicu ini bisa bersifat internal (dari diri sendiri) maupun eksternal (dari lingkungan atau orang lain).

Beberapa penyebab umum meliputi:

  • Ketidakadilan atau perlakuan tidak adil: Merasa dirugikan atau disalahkan tanpa alasan yang jelas dapat memicu kemarahan yang mendalam.
  • Frustrasi dan kekecewaan: Ketika harapan tidak terpenuhi, tujuan tidak tercapai, atau hambatan muncul secara terus-menerus, rasa frustrasi dapat menumpuk dan meledak menjadi kemarahan.
  • Pelanggaran batasan pribadi: Orang sering marah ketika merasa batasan pribadinya dilanggar, privasinya diusik, atau nilai-nilainya tidak dihormati.
  • Stres kronis dan kelelahan: Tingkat stres yang tinggi dan kurangnya istirahat dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap hal-hal kecil, sehingga lebih mudah marah.
  • Kondisi kesehatan tertentu: Beberapa kondisi medis atau ketidakseimbangan hormon dapat memengaruhi mood dan membuat seseorang lebih mudah tersinggung atau marah.
  • Gaya komunikasi yang buruk: Kesalahpahaman atau komunikasi yang tidak efektif dapat menjadi sumber konflik dan kemarahan.

Memahami pemicu pribadi dapat membantu seseorang mengembangkan strategi yang lebih baik untuk mencegah atau mengelola respons “naik pitam”.

Dampak Kesehatan Akibat Sering Naik Pitam

Jika respons “naik pitam” sering terjadi dan tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental jangka panjang.

Dampak kesehatan yang mungkin timbul meliputi:

  • Peningkatan risiko masalah kardiovaskular: Kemarahan kronis dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah, detak jantung, dan risiko penyakit jantung.
  • Masalah pencernaan: Stres dan kemarahan dapat memperburuk kondisi seperti sindrom iritasi usus besar (IBS), sakit maag, atau gangguan pencernaan lainnya.
  • Sistem kekebalan tubuh melemah: Emosi negatif yang berkelanjutan dapat menekan sistem imun, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
  • Gangguan tidur: Kesulitan tidur atau kualitas tidur yang buruk sering dialami oleh individu yang sering merasa marah atau stres.
  • Masalah kesehatan mental: Kemarahan yang tidak terkontrol dapat berkontribusi pada depresi, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lainnya.
  • Kerusakan hubungan sosial: Respons kemarahan yang tidak tepat dapat merusak hubungan dengan keluarga, teman, atau rekan kerja.

Penting untuk mencari cara efektif untuk mengelola kemarahan demi menjaga kesejahteraan secara keseluruhan.

Cara Mengatasi dan Mencegah Respons Naik Pitam

Mengelola emosi marah, termasuk respons “naik pitam”, adalah keterampilan penting yang dapat dipelajari dan ditingkatkan.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi:

  • Mengenali pemicu: Identifikasi situasi, orang, atau pikiran yang sering memicu kemarahan. Dengan mengetahui pemicu, seseorang dapat mempersiapkan diri atau menghindarinya.
  • Teknik relaksasi: Latihan pernapasan dalam, meditasi, atau yoga dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh saat merasa marah.
  • Berkomunikasi secara asertif: Ungkapkan perasaan dan kebutuhan secara jelas dan tenang, tanpa menyerang atau menyalahkan orang lain.
  • Berolahraga secara teratur: Aktivitas fisik dapat menjadi saluran yang sehat untuk melepaskan ketegangan dan mengurangi stres.
  • Mencari cara untuk memecahkan masalah: Fokus pada solusi daripada berlarut-larut dalam kemarahan terhadap masalah yang ada.
  • Mengubah perspektif: Coba lihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Kadang-kadang, mengubah cara berpikir tentang suatu kejadian dapat mengurangi intensitas kemarahan.
  • Mencari dukungan: Berbicara dengan teman, anggota keluarga, atau profesional kesehatan mental dapat memberikan perspektif dan strategi baru.

Jika kemarahan terasa sangat sulit dikendalikan atau mulai memengaruhi kualitas hidup, mencari bantuan profesional sangat dianjurkan.

Pertanyaan Umum Seputar Naik Pitam

1. Apa arti “naik pitam” dalam konteks emosi?

Naik pitam berarti seseorang sedang sangat marah, geram, atau panas hati. Ini adalah ungkapan kiasan yang menggambarkan emosi marah yang memuncak dan intens.

2. Apakah “naik pitam” sama dengan “naik darah”?

Secara umum, ya. Kedua ungkapan ini sering digunakan secara bergantian untuk menggambarkan kondisi emosional yang sangat marah atau panas hati.

3. Kapan “naik pitam” juga bisa berarti pusing atau pening?

Makna ini muncul dari sensasi fisik ketika darah terasa “naik ke kepala” saat seseorang marah besar atau mengalami stres. Ini bisa menyebabkan rasa pusing atau pening.

4. Apakah sering naik pitam bisa berbahaya bagi kesehatan?

Ya, kemarahan yang tidak terkontrol dan sering terjadi dapat berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, dan masalah kesehatan mental.

5. Bagaimana cara yang efektif untuk mengelola emosi “naik pitam”?

Beberapa cara efektif meliputi mengenali pemicu, melatih teknik relaksasi (seperti pernapasan dalam), berkomunikasi secara asertif, berolahraga, dan mencari dukungan jika diperlukan.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Naik pitam adalah ekspresi kiasan untuk kemarahan ekstrem atau, dalam konteks lain, sensasi pusing akibat emosi yang memuncak. Memahami bahwa kemarahan yang tidak terkontrol dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental adalah langkah awal yang krusial. Mengembangkan strategi manajemen emosi yang sehat bukan hanya untuk kesejahteraan pribadi, tetapi juga untuk menjaga hubungan sosial.

Jika seseorang atau orang terdekat mengalami kesulitan dalam mengelola emosi marah yang sering memicu respons “naik pitam”, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Halodoc menyediakan akses mudah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater yang dapat memberikan panduan, teknik, dan terapi yang sesuai untuk mengelola kemarahan secara efektif dan menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.