Ad Placeholder Image

Nevus Pigmentosus: Kenali Tanda Alami Pada Kulit

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 Juni 2026

Nevus pigmentosus adalah tahi lalat jinak yang bisa berubah dan perlu diawasi untuk mencegah risiko melanoma.

Nevus Pigmentosus: Kenali Tanda Alami Pada KulitNevus Pigmentosus: Kenali Tanda Alami Pada Kulit

DAFTAR ISI


Banyak dari kita memiliki tanda kecil berwarna cokelat atau hitam di permukaan kulit yang sering disebut sebagai tahi lalat. Dalam istilah medis, tahi lalat ini dikenal dengan sebutan nevus. Nevus adalah istilah medis yang merujuk pada pertumbuhan jinak sel-sel melanosit di kulit. Melanosit itu sendiri merupakan sel yang berfungsi memproduksi melanin, yaitu pigmen atau zat pewarna alami yang memberikan warna pada kulit, rambut, dan mata kita.

Hampir setiap orang memiliki setidaknya satu atau bahkan puluhan nevus di tubuh mereka. Sebagian besar tahi lalat ini bersifat jinak dan sama sekali tidak membahayakan kesehatan. Mereka bisa muncul di bagian tubuh mana saja, baik di area yang sering terpapar sinar matahari seperti wajah, lengan, dan dada, maupun di area yang tertutup pakaian seperti punggung, paha, dan bahkan di telapak tangan atau kaki.

Meskipun nevus adalah kondisi kulit yang sangat umum dan normal, pemahaman yang mendalam mengenai karakteristiknya sangatlah penting. Mengapa demikian? Karena dalam beberapa kasus tertentu, nevus dapat mengalami mutasi dan berubah menjadi melanoma, yaitu salah satu jenis kanker kulit yang paling agresif dan mematikan. Oleh karena itu, mengenali perbedaan antara nevus yang normal dan tahi lalat yang berpotensi ganas adalah langkah pencegahan utama yang wajib kamu ketahui.

Nah, mau tahu apa saja jenis-jenis nevus, penyebabnya, dan kapan kamu harus mulai waspada? Mari kita bahas secara mendalam dan menyeluruh dalam ulasan berikut ini!

Pengertian Nevus Adalah Pertumbuhan Sel Pigmen

Seperti yang telah disinggung secara singkat sebelumnya, nevus (bentuk jamaknya adalah nevi) adalah tumor jinak berpigmen yang berasal dari sel melanosit. Dalam perkembangan normal kulit, sel-sel melanosit biasanya menyebar secara merata di lapisan epidermis. Sel-sel inilah yang memproduksi melanin, yang kemudian mendistribusikannya ke sel-sel kulit lain di sekitarnya untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet (UV).

Namun, karena alasan tertentu—seperti faktor genetik atau paparan sinar matahari yang berlebihan di masa kanak-kanak—sel-sel melanosit ini terkadang tidak menyebar dengan sempurna. Alih-alih menyebar, mereka justru berkumpul dan tumbuh dalam satu klaster atau kelompok. Kelompok sel melanosit inilah yang kemudian tampak di permukaan kulit sebagai nevus atau tahi lalat.

Warna dari nevus sangat bervariasi, mulai dari warna kulit (flesh-colored), merah muda terang, cokelat muda, cokelat tua, hingga hitam pekat. Bentuknya pun bisa bermacam-macam, ada yang datar menyatu dengan permukaan kulit, ada yang sedikit menonjol (kubah), dan ada pula yang bertekstur kasar atau ditumbuhi rambut. Warna dan bentuk ini sangat dipengaruhi oleh kedalaman kumpulan sel melanosit tersebut di dalam lapisan kulit.

Jenis-Jenis Nevus yang Umum Terjadi

Dalam dunia dermatologi, nevus diklasifikasikan ke dalam berbagai jenis berdasarkan waktu kemunculannya, lokasi anatomi di dalam lapisan kulit, serta karakteristik klinisnya. Berikut adalah jenis-jenis nevus yang paling sering dijumpai:

1. Nevus Kongenital (Congenital Melanocytic Nevus)

Nevus kongenital adalah jenis tahi lalat yang sudah ada sejak bayi dilahirkan atau muncul pada beberapa minggu pertama kehidupannya. Nevus jenis ini terbentuk selama masa perkembangan janin di dalam kandungan. Ukurannya bisa sangat bervariasi, mulai dari sangat kecil (kurang dari 1,5 cm) hingga sangat besar (giant congenital nevus) yang bisa menutupi sebagian besar area tubuh seperti dada atau punggung. Nevus kongenital yang berukuran raksasa memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi untuk berkembang menjadi melanoma di kemudian hari, sehingga memerlukan pemantauan rutin oleh dokter kulit.

2. Nevus Akuisita (Acquired Nevus)

Berbeda dengan nevus kongenital, nevus akuisita adalah tahi lalat yang baru muncul setelah lahir, biasanya selama masa kanak-kanak hingga dewasa awal (usia 20-30 tahunan). Mayoritas tahi lalat yang dimiliki oleh orang dewasa termasuk dalam kategori ini. Berdasarkan lokasinya di lapisan kulit, nevus akuisita dibagi lagi menjadi tiga sub-tipe:

  • Nevus Junctional: Sel melanosit berkumpul di persimpangan antara lapisan epidermis (kulit luar) dan dermis (kulit dalam). Tahi lalat ini biasanya berbentuk datar, tidak menonjol, berwarna cokelat gelap atau hitam, dan simetris.
  • Nevus Compound (Campuran): Kumpulan sel melanosit berada di lapisan epidermis dan menjalar hingga ke dermis. Nevus ini biasanya sedikit menonjol (timbul), permukaannya bisa halus atau bergelombang, dan warnanya berkisar dari cokelat terang hingga cokelat gelap.
  • Nevus Intradermal: Sel melanosit sepenuhnya berada di lapisan dermis (lapisan kulit bagian dalam). Tahi lalat ini tampak sangat menonjol menyerupai kubah, sering kali warnanya sangat pudar menyamai warna kulit aslinya, lunak saat diraba, dan terkadang ditumbuhi sehelai atau beberapa helai rambut.

3. Nevus Displastik (Atypical Nevus)

Nevus displastik adalah tahi lalat yang memiliki bentuk tidak biasa atau atipikal. Secara klinis, tampilannya sering kali menyerupai ciri-ciri awal kanker kulit melanoma, meskipun sebenarnya jinak. Ciri-cirinya meliputi ukuran yang lebih besar dari tahi lalat biasa (lebih dari 6 mm), batas tepiannya kabur atau tidak teratur, bentuknya asimetris, dan memiliki campuran beberapa warna seperti cokelat, merah muda, dan hitam di dalam satu tahi lalat. Seseorang yang memiliki banyak nevus displastik di tubuhnya (sindrom nevus displastik) memiliki risiko genetik yang jauh lebih tinggi untuk terkena melanoma.

4. Nevus Spitz

Nevus Spitz adalah jenis tahi lalat yang lebih jarang terjadi, biasanya muncul pada anak-anak atau remaja. Warnanya sering kali merah muda atau merah terang karena tahi lalat ini mengandung banyak pembuluh darah (meskipun kadang bisa berwarna cokelat atau hitam). Bentuknya menonjol seperti kubah dan sering kali pertumbuhannya cukup cepat. Secara mikroskopis, sel-sel nevus Spitz sangat mirip dengan sel melanoma, sehingga dokter kulit biasanya menyarankan tindakan biopsi untuk memastikan bahwa itu benar-benar nevus Spitz yang jinak dan bukan kanker kulit.

5. Halo Nevus

Halo nevus ditandai dengan adanya cincin kulit berwarna putih terang (depigmentasi) yang mengelilingi tahi lalat berwarna cokelat di bagian tengahnya. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh penderita menganggap tahi lalat tersebut sebagai benda asing dan mulai menyerang sel-sel melanosit di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, tahi lalat di bagian tengah akan memudar dan menghilang, diikuti dengan kembalinya warna kulit yang normal di area cincin putih tersebut. Proses ini biasanya tidak berbahaya, namun jika cincin putih muncul pada nevus dengan bentuk yang asimetris, pemeriksaan medis diperlukan.

Mitos vs Fakta tentang Tahi Lalat (Nevus)
  1. Mitos: Mencabut bulu pada tahi lalat bisa menyebabkan kanker kulit. Fakta: Mencabut atau mencukur bulu pada nevus intradermal tidak akan memicu kanker. Namun, hal itu bisa menyebabkan iritasi, kemerahan, atau infeksi ringan jika folikel rambut terluka.
  2. Mitos: Tahi lalat yang menonjol dan besar pasti berbahaya. Fakta: Bentuk yang menonjol (seperti nevus intradermal) justru sering kali merupakan tahi lalat jinak yang matang. Tanda bahaya yang sebenarnya lebih berkaitan dengan perubahan bentuk, warna yang tidak merata, dan tepian yang asimetris.
  3. Mitos: Semua tahi lalat muncul saat lahir. Fakta: Sebagian besar tahi lalat (acquired nevus) justru muncul akibat respons kulit terhadap sinar matahari seiring bertambahnya usia, dari masa anak-anak hingga awal usia 30-an.

Penyebab dan Faktor Risiko Munculnya Nevus

Mengapa sel-sel melanosit berkumpul dan membentuk nevus? Hingga saat ini, para ahli dermatologi sepakat bahwa pembentukan nevus adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan. Berikut adalah penjelasan detail mengenai elemen-elemen yang memicu dan memperbanyak kemunculan tahi lalat:

1. Faktor Genetik (Riwayat Keluarga)
DNA memainkan peran krusial dalam menentukan berapa banyak tahi lalat yang akan dimiliki oleh seseorang. Jika kedua orang tua kamu memiliki banyak tahi lalat, besar kemungkinan kamu juga akan memilikinya. Selain itu, kecenderungan untuk memiliki nevus displastik (tahi lalat atipikal) juga sangat kuat diturunkan di dalam garis ketuarga.

2. Paparan Sinar Matahari (Sinar UV)
Sinar ultraviolet (UV), terutama dari paparan matahari yang intens selama masa kanak-kanak dan remaja, adalah pemicu lingkungan terbesar. Kulit yang terbakar sinar matahari (sunburn) berulang kali dapat merangsang proliferasi dan pertumbuhan sel melanosit yang agresif. Sinar UV tidak hanya memicu pertumbuhan nevus baru, tetapi juga dapat memicu mutasi DNA pada nevus yang sudah ada, sehingga mengubah sifatnya dari jinak menjadi ganas (melanoma). Untuk perlindungan harian dari dalam maupun luar, kamu bisa mencari produk kesehatan atau beli tabir surya atau produk perawatan kulit di apotek online terpercaya guna mencegah kerusakan sel kulit berlanjut.

3. Tipe dan Warna Kulit
Orang dengan tipe kulit terang atau pucat (Kaukasia) yang mudah terbakar matahari dan sulit mengalami kulit kecokelatan (tanning), umumnya memiliki jumlah nevus yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki kulit gelap. Berkurangnya produksi melanin penyebar membuat melanosit pada kulit terang lebih rentan berkumpul akibat respons stres dari radiasi UV.

4. Perubahan Hormonal
Fluktuasi hormon di dalam tubuh, seperti yang terjadi pada masa pubertas atau selama masa kehamilan, sering kali menyebabkan tahi lalat menjadi tampak lebih gelap, lebih besar, atau memicu kemunculan tahi lalat baru. Selama kehamilan, peningkatan kadar hormon estrogen dan MSH (Melanocyte-Stimulating Hormone) merangsang sel melanosit menjadi lebih aktif.

5. Sistem Kekebalan Tubuh yang Menurun
Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah—misalnya akibat konsumsi obat imunosupresan, pasien kemoterapi, atau penderita HIV/AIDS—cenderung mengalami pertumbuhan nevus yang lebih banyak serta peningkatan risiko mutasi seluler.

Gejala dan Tanda Bahaya: Panduan ABCDE

Sebagian besar nevus tidak menimbulkan gejala fisik apa pun. Mereka tidak terasa gatal, tidak nyeri, dan tidak mudah berdarah. Namun, penting bagi kita untuk rutin melakukan pemeriksaan mandiri terhadap kulit guna memantau ada tidaknya perubahan pada tahi lalat.

Sebagai pedoman medis internasional, dokter kulit menggunakan aturan ABCDE untuk membedakan antara nevus normal dengan tahi lalat yang mencurigakan mengarah pada gejala awal melanoma. Jika kamu menemukan salah satu tanda ini, penting untuk segera konsultasi dokter spesialis guna mendapatkan diagnosis dini.

  • A – Asymmetry (Bentuk Tidak Simetris): Nevus yang normal biasanya memiliki bentuk yang simetris atau bulat sempurna. Jika kamu menarik garis imajiner di tengah tahi lalat, kedua sisinya akan terlihat identik. Tanda bahaya muncul jika tahi lalat memiliki bentuk tidak beraturan dan satu sisi tidak cocok dengan sisi lainnya.
  • B – Border (Batasan atau Tepian): Tahi lalat jinak memiliki tepian yang tegas, halus, dan jelas batasnya dengan kulit sekitar. Waspadalah jika tepian nevus terlihat kabur, bergerigi, tidak beraturan, bergelombang, atau menyebar ke area kulit di sekitarnya.
  • C – Color (Warna yang Berubah-ubah): Nevus normal biasanya hanya memiliki satu warna solid (misalnya cokelat tua seluruhnya). Tahi lalat yang patut diwaspadai adalah yang memiliki perpaduan warna yang tidak merata di dalam satu lesi, seperti adanya bercak merah muda, hitam pekat, putih, abu-abu, atau kebiruan yang campur aduk.
  • D – Diameter (Ukuran): Tahi lalat jinak umumnya memiliki ukuran yang relatif kecil. Jika kamu memiliki nevus yang diameternya lebih besar dari ukuran penghapus pensil (sekitar 6 milimeter), kondisi ini perlu mendapat pemantauan lebih lanjut oleh ahli dermatologi. Namun, perlu dicatat bahwa beberapa melanoma bisa terdeteksi pada ukuran yang lebih kecil dari 6 mm.
  • E – Evolving (Perubahan Seiring Waktu): Inilah indikator yang paling penting. Setiap tahi lalat yang mengalami perubahan cepat—baik dalam hal ukuran yang tiba-tiba membesar, perubahan warna, perubahan bentuk, maupun munculnya gejala baru seperti rasa gatal parah, nyeri, mengelupas, atau berdarah secara spontan tanpa digaruk—adalah tanda peringatan darurat medis.

Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Jika kamu mendapati tahi lalat dengan kriteria ABCDE di atas, langkah terbaik adalah menemui dokter spesialis kulit (dermatolog). Untuk mendiagnosis apakah sebuah nevus adalah tahi lalat normal, displastik, atau kanker, dokter akan melakukan beberapa tahapan pemeriksaan klinis yang sangat teliti.

1. Pemeriksaan Visual dan Dermoskopi

Langkah pertama adalah pemeriksaan fisik menyeluruh. Dokter akan memeriksa selutuh tubuh pasien dari ujung kepala hingga ujung kaki (full-body skin exam). Untuk melihat struktur nevus dengan sangat jelas, dokter akan menggunakan alat yang disebut dermatoskop (dermatoscope). Alat pembesar dengan pencahayaan khusus ini memungkinkan dokter melihat detail pembuluh darah, pola pigmen, dan struktur sel di bawah permukaan epidermis yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

2. Biopsi Kulit

Jika temuan dermoskopi menunjukkan adanya aktivitas sel yang tidak wajar atau mencurigakan, dokter akan merekomendasikan prosedur biopsi. Biopsi adalah tindakan pengangkatan sebagian atau seluruh tahi lalat beserta sedikit jaringan kulit di sekitarnya. Sampel jaringan ini kemudian dikirim ke laboratorium patologi. Dokter spesialis patologi anatomi akan mengamati jaringan di bawah mikroskop untuk memastikan apakah sel-sel di dalam nevus tersebut bersifat jinak, atipikal (precancerous), atau sepenuhnya ganas (melanoma).

Tips Melindungi Kulit dan Mencegah Mutasi Nevus
  1. Gunakan Tabir Surya (Sunscreen) Setiap Hari: Oleskan tabir surya berspektrum luas dengan SPF minimal 30. Gunakan kembali setiap 2 jam, terutama jika kamu berenang atau berkeringat, bahkan saat cuaca mendung.
  2. Hindari Paparan Matahari Puncak: Kurangi aktivitas luar ruangan antara jam 10 pagi hingga 4 sore saat radiasi sinar UVB sedang berada di level tertingginya.
  3. Lakukan Pemeriksaan Mandiri Bulanan: Berdirilah di depan cermin berukuran penuh, gunakan cermin tangan kecil untuk memeriksa area yang sulit dijangkau seperti punggung, paha belakang, dan leher. Kenali letak, bentuk, dan ukuran tahi lalat yang ada di tubuhmu.

Pilihan Penanganan dan Prosedur Pengangkatan

Faktanya, sebagian besar nevus tidak memerlukan tindakan pengobatan atau pengangkatan apa pun selama ia bersifat jinak. Namun, ada dua alasan utama mengapa dokter atau pasien memutuskan untuk membuang tahi lalat: pertama, karena alasan medis (tahi lalat dicurigai sebagai kanker atau berpotensi menjadi kanker); kedua, karena alasan kosmetik (tahi lalat berada di lokasi yang sangat mengganggu penampilan, seperti di tengah wajah) atau alasan kenyamanan fisik (tahi lalat berada di area yang sering tergesek pakaian atau sisir rambut).

Jika pengangkatan nevus perlu dilakukan, dokter kulit akan memilih metode bedah minor yang bisa dilakukan di klinik dengan anestesi lokal (bius lokal). Berikut adalah beberapa prosedur medis yang umum dilakukan:

1. Bedah Eksisi (Surgical Excision)

Prosedur ini adalah gold standard untuk mengangkat tahi lalat yang dicurigai sebagai kanker, maupun untuk nevus yang berukuran besar. Dokter akan menyuntikkan obat bius lokal di sekitar area nevus, kemudian menggunakan pisau bedah (skalpel) untuk memotong dan mengangkat seluruh bagian tahi lalat hingga mencapai batas lapisan lemak subkutan di bawah kulit. Tujuannya adalah memastikan tidak ada sel pigmen yang tertinggal. Setelah itu, sayatan bedah akan ditutup dan dijahit dengan rapi. Metode ini sering kali meninggalkan bekas luka (scar) berupa garis memanjang.

2. Bedah Cukur (Shave Excision)

Metode ini sangat cocok untuk jenis nevus yang letaknya menonjol di atas permukaan kulit (seperti nevus intradermal). Setelah area tersebut dibius lokal, dokter akan menggunakan pisau bedah kecil dan tipis untuk menyayat (mencukur) tahi lalat sejajar dengan permukaan kulit di sekitarnya. Prosedur ini umumnya tidak memerlukan jahitan, dan masa pemulihannya pun lebih cepat. Bekas luka yang dihasilkan biasanya berbentuk datar dan berwarna sedikit lebih muda dari kulit sekitarnya. Namun, metode shave tidak boleh digunakan jika dicurigai adanya melanoma, karena tidak mengambil jaringan kulit yang cukup dalam.

3. Biopsi Plong (Punch Biopsy)

Untuk tahi lalat berukuran sangat kecil (di bawah 4 mm) namun masuk ke lapisan yang cukup dalam, dokter mungkin menggunakan alat khusus yang berbentuk seperti pembolong kertas silinder mini. Alat pemotong melingkar ini akan ditekan ke dalam kulit untuk mengangkat jaringan inti dari tahi lalat tersebut beserta beberapa lapisan kulit di bawahnya. Sayatan melingkar kecil ini biasanya hanya membutuhkan 1 hingga 2 jahitan kecil.

Catatan Penting: Jangan pernah mencoba menghilangkan nevus sendiri di rumah menggunakan silet, gunting kuku, cuka apel, bawang putih, atau produk penghilang tahi lalat ilegal yang dijual bebas. Tindakan “do-it-yourself” ini sangat berbahaya karena berisiko memicu infeksi berat, pendarahan, kerusakan jaringan, hingga bekas luka permanen (keloid). Lebih fatal lagi, jika tahi lalat tersebut ternyata adalah kanker yang tidak terdeteksi, penundaan perawatan medis bisa mengancam nyawa.

Studi Terkait Perubahan Nevus Menjadi Kanker Kulit

Journal of the American Academy of Dermatology menerbitkan studi komprehensif yang menganalisis hubungan antara nevus dan kemunculan melanoma. Studi ini menjelaskan bahwa sekitar 20 hingga 30 persen melanoma baru benar-benar berasal dari tahi lalat jinak (nevus) yang telah ada sebelumnya dan mengalami mutasi (nevus-associated melanoma).

Sementara itu, studi yang sama juga menemukan fakta mengejutkan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen sisanya, sel kanker melanoma justru muncul di area kulit normal (de novo) sebagai bintik hitam baru yang sebelumnya tidak pernah ada tahi lalatnya. Temuan medis ini sangat penting karena menegaskan perlunya kesadaran bukan hanya untuk memperhatikan perubahan pada tahi lalat yang sudah ada, tetapi juga mewaspadai kemunculan “tahi lalat baru” yang tumbuh agresif dan memiliki bentuk yang tidak biasa pada usia dewasa.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
American Academy of Dermatology. Diakses pada 2024. Moles: Overview.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Moles – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Moles (Nevi): Types, Causes & Treatment.
Skin Cancer Foundation. Diakses pada 2024. Melanoma Warning Signs: The ABCDEs.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Melanocytic Nevus.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Radiation: Ultraviolet (UV) radiation and skin cancer.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah semua nevus adalah awal dari kanker kulit?

Tidak. Mayoritas nevus adalah pertumbuhan jinak yang sama sekali tidak berbahaya dan tidak akan pernah berubah menjadi kanker kulit seumur hidup seseorang. Mutasi nevus menjadi melanoma tergolong jarang terjadi pada tahi lalat biasa, meski risiko meningkat pada tahi lalat displastik.

2. Apa penyebab tahi lalat bisa bertambah banyak saat usia dewasa?

Faktor utamanya adalah kombinasi dari genetika dan paparan sinar matahari terakumulasi sepanjang hidup. Fluktuasi hormon karena kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, hingga melemahnya sistem imun tubuh karena penyakit atau gaya hidup juga bisa memicu kemunculan nevus baru.

3. Bagaimana cara menghilangkan tahi lalat tanpa operasi?

Tahi lalat hanya bisa dihilangkan secara aman melalui prosedur medis oleh dokter spesialis kulit, seperti bedah eksisi atau shave excision (bedah potong dan cukur kecil). Tindakan dengan laser kosmetik tidak dianjurkan untuk mengangkat tahi lalat utuh, terutama karena prosedur laser merusak sampel jaringan sehingga dokter tidak bisa melakukan biopsi di laboratorium.

4. Apakah tahi lalat yang tiba-tiba berdarah berbahaya?

Ya, pendarahan tanpa sebab (seperti tergores atau tergesek) yang terjadi secara spontan dari dalam tahi lalat merupakan salah satu tanda bahaya potensial terjadinya kanker melanoma kulit. Gejala seperti tahi lalat berdarah, mengeluarkan cairan, gatal tidak tertahankan, atau bernanah harus segera diperiksakan ke dokter.