Ad Placeholder Image

Nutrisi: Jenis dan Fungsinya untuk Kesehatan Tubuh

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Nutrisi berfungsi mendukung pertumbuhan atau mencegah penyakit.

Nutrisi: Jenis dan Fungsinya untuk Kesehatan TubuhNutrisi: Jenis dan Fungsinya untuk Kesehatan Tubuh

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat tubuh kita bisa berfungsi dengan baik setiap harinya? Jawabannya ada pada asupan gizi yang kita konsumsi, atau yang dalam dunia medis lebih sering disebut dengan istilah nutrien. Nutrien adalah zat kimia dasar yang terdapat dalam makanan, yang mutlak dibutuhkan oleh organisme untuk bertahan hidup, tumbuh, dan bereproduksi.

Tanpa asupan nutrien yang memadai, sel-sel di dalam tubuh kita tidak akan memiliki bahan bakar untuk melakukan metabolisme. Mulai dari proses pernapasan, pemompaan darah oleh jantung, perbaikan jaringan kulit yang terluka, hingga pengiriman sinyal saraf ke otak, semuanya sangat bergantung pada keberadaan nutrien tertentu. Sayangnya, tubuh manusia tidak bisa memproduksi semua jenis nutrien ini secara mandiri, sehingga kita harus mendapatkannya dari sumber eksternal, yakni makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari.

Di era modern ini, kemudahan mendapatkan makanan instan seringkali membuat banyak orang mengabaikan kualitas kandungan gizi di dalamnya. Fenomena “kenyang tapi kurang gizi” (hidden hunger) menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup memprihatinkan di Indonesia. Hal ini menekankan betapa pentingnya pemahaman dasar mengenai apa itu nutrien, jenis-jenisnya, serta perannya masing-masing bagi tubuh kita agar terhindar dari berbagai penyakit degeneratif maupun defisiensi.

Nah, mau tahu apa saja jenis-jenis nutrien dan bagaimana fungsinya secara mendetail? Berikut ulasan lengkap mengenai makronutrien, mikronutrien, serta dampaknya bagi kesehatan tubuh kita secara keseluruhan!

Mengenal Apa Itu Nutrien

Secara sederhana, nutrien dapat diartikan sebagai komponen gizi organik dan anorganik yang diekstraksi oleh sistem pencernaan manusia dari makanan. Ketika kamu mengonsumsi sepotong roti atau buah, lambung dan ususmu akan memecah makanan tersebut menjadi molekul-molekul kecil. Molekul-molekul kecil inilah yang disebut nutrien, yang kemudian diserap oleh aliran darah untuk didistribusikan ke seluruh triliunan sel yang ada di dalam tubuh.

Dalam ilmu gizi, nutrien dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, yaitu makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dibutuhkan dalam jumlah besar (biasanya diukur dalam satuan gram), sedangkan mikronutrien hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil (diukur dalam miligram atau mikrogram). Walaupun mikronutrien dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil, ketidakhadirannya bisa menyebabkan gangguan metabolisme yang fatal dan penyakit yang serius.

Kelompok Makronutrien yang Dibutuhkan Tubuh

Makronutrien merupakan kelompok gizi utama yang menyumbangkan energi bagi tubuh. Terdapat tiga pilar utama dalam makronutrien, ditambah satu elemen krusial yang tidak memberikan energi namun sangat esensial. Berikut rinciannya:

1. Karbohidrat (Sumber Energi Utama)

Karbohidrat sering kali dianggap sebagai “bahan bakar” utama bagi tubuh, terutama bagi sistem saraf pusat dan otak. Satu gram karbohidrat memberikan energi sebesar 4 kalori. Karbohidrat sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni karbohidrat sederhana (gula) yang cepat diserap dan karbohidrat kompleks (pati dan serat) yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga memberikan efek kenyang yang lebih lama serta menjaga kestabilan gula darah. Sumber karbohidrat kompleks yang baik meliputi nasi merah, gandum utuh, oat, ubi jalar, dan singkong.

2. Protein (Zat Pembangun)

Jika karbohidrat adalah bahan bakar, maka protein adalah “batu bata” yang membangun struktur tubuh. Protein tersusun atas rantai asam amino yang sangat dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki jaringan, memproduksi enzim dan hormon, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh. Ada asam amino esensial yang wajib didapatkan dari makanan karena tubuh tidak bisa membuatnya sendiri. Daging tanpa lemak, telur, ikan, tahu, tempe, dan kacang-kacangan adalah sumber protein yang sangat direkomendasikan. Setiap gram protein juga menyumbang sekitar 4 kalori.

3. Lemak (Cadangan Energi dan Pelindung Sel)

Meski sering dihindari, lemak adalah makronutrien yang sangat vital. Lemak berfungsi sebagai cadangan energi terbesar (1 gram lemak mengandung 9 kalori), menjaga suhu tubuh, melindungi organ-organ vital, serta membantu tubuh menyerap vitamin yang larut dalam lemak (Vitamin A, D, E, dan K). Tentu saja, jenis lemak yang dipilih sangat penting. Prioritaskan lemak tak jenuh yang sehat bagi jantung, seperti yang terdapat pada alpukat, minyak zaitun, kacang almond, dan ikan berlemak (salmon, tuna) yang kaya akan asam lemak omega-3. Hindari lemak trans dan batasi lemak jenuh.

4. Air (Pelarut dan Pengatur Suhu)

Walaupun air tidak mengandung kalori atau energi, ia diklasifikasikan sebagai makronutrien karena tubuh membutuhkannya dalam jumlah literan setiap hari. Lebih dari 60% tubuh manusia terdiri dari air. Air berperan sebagai pelarut segala reaksi biokimia di dalam tubuh, pengantar nutrien ke dalam sel, pembawa sisa metabolisme ke luar tubuh melalui urine, hingga pelumas sendi dan pengatur suhu tubuh lewat keringat.

Tips Memenuhi Kebutuhan Makronutrien Harian
  1. Gunakan panduan “Isi Piringku”: 50% piring berisi sayur dan buah, 25% sumber karbohidrat kompleks, dan 25% sumber protein sehat.
  2. Cukupi hidrasi dengan minum minimal 8 gelas atau sekitar 2 liter air putih per hari.
  3. Pilih teknik memasak yang sehat seperti merebus, mengukus, atau memanggang untuk menjaga kualitas lemak dan protein pada bahan makanan.

Kelompok Mikronutrien untuk Fungsi Optimal

Beralih ke mikronutrien, kelompok ini mencakup jajaran vitamin dan mineral yang bertindak sebagai ko-enzim dan katalisator dalam berbagai proses enzimatik di tubuh. Jika tubuh kesulitan menyerap mikronutrien dari makanan utuh akibat kondisi tertentu, kamu bisa mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen atau vitamin sesuai anjuran medis guna menambal celah nutrisi tersebut.

1. Vitamin yang Larut dalam Air

Vitamin jenis ini tidak disimpan lama di dalam tubuh. Jika ada kelebihan, tubuh akan membuangnya melalui urine. Oleh karena itu, kita harus mengonsumsinya secara rutin setiap hari. Vitamin yang masuk ke dalam kelompok ini meliputi:

  • Vitamin C (Asam Askorbat): Berperan sebagai antioksidan kuat, membantu sintesis kolagen untuk kesehatan kulit, pembuluh darah, dan tulang, serta meningkatkan penyerapan zat besi. Banyak ditemukan pada jeruk, kiwi, stroberi, dan paprika.
  • Vitamin B Kompleks: Terdiri dari B1 (Tiamin), B2 (Riboflavin), B3 (Niacin), B5 (Asam Pantotenat), B6 (Piridoksin), B7 (Biotin), B9 (Folat), dan B12 (Kobalamin). Mereka bekerja secara sinergis untuk mengubah makanan menjadi energi, memelihara kesehatan sel saraf, serta memproduksi sel darah merah. Sayuran berdaun hijau, daging unggas, telur, dan produk susu sangat kaya akan vitamin B.

2. Vitamin yang Larut dalam Lemak

Vitamin ini membutuhkan lemak dari makanan agar dapat diserap oleh usus, dan kemudian akan disimpan di dalam jaringan lemak tubuh dan hati untuk cadangan jangka panjang.

  • Vitamin A (Retinol): Sangat penting untuk fungsi penglihatan, pertumbuhan sel, dan pemeliharaan organ. Banyak terdapat pada wortel, hati sapi, bayam, dan ubi jalar.
  • Vitamin D (Kalsiferol): Berfungsi menyerap kalsium dan fosfor untuk kepadatan tulang. Uniknya, tubuh bisa memproduksi vitamin D saat kulit terpapar sinar matahari pagi.
  • Vitamin E (Tokoferol): Bertindak sebagai pelindung sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas dan memperkuat sistem imun. Bisa didapatkan dari biji bunga matahari dan kacang almond.
  • Vitamin K (Filokuinon): Esensial untuk proses pembekuan darah (koagulasi) saat terjadi luka dan metabolisme tulang. Berlimpah di brokoli, kangkung, dan kubis.

3. Mineral Makro dan Mineral Mikro (Trace Minerals)

Sama seperti vitamin, mineral adalah senyawa anorganik yang menjaga keseimbangan cairan dan membangun struktur tubuh.

  • Kalsium dan Fosfor: Membangun dan menjaga kekuatan tulang dan gigi. Ditemukan pada susu, keju, dan ikan teri.
  • Kalium dan Natrium: Mengatur tekanan darah, keseimbangan cairan, dan kontraksi otot, termasuk otot jantung.
  • Zat Besi: Komponen utama hemoglobin pada sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Bayam, daging merah, dan hati sangat kaya akan zat besi.
  • Seng (Zinc): Mendukung fungsi kekebalan tubuh dan mempercepat penyembuhan luka.

Tanda Tubuh Mengalami Kekurangan Nutrien

Kekurangan atau defisiensi nutrien terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan pasokan gizi yang cukup dalam jangka waktu yang lama. Gejalanya bisa bervariasi, tergantung dari nutrien apa yang tidak terpenuhi. Beberapa kondisi defisiensi yang paling sering ditemukan meliputi:

  • Anemia Defisiensi Besi: Menyebabkan kelelahan ekstrem, kulit pucat, napas pendek, dan pusing karena otak kurang mendapat suplai oksigen.
  • Sariawan Berulang dan Gusi Berdarah: Seringkali menjadi tanda awal dari kekurangan Vitamin C kronis (skorbut).
  • Rambut Rontok Parah: Bisa mengindikasikan rendahnya asupan protein, zat besi, zinc, atau vitamin B7 (biotin).
  • Tulang Rapuh dan Nyeri Otot: Merupakan manifestasi dari kurangnya kadar kalsium dan vitamin D di dalam tubuh, yang jika dibiarkan bisa berujung pada osteoporosis dini.

Jika kamu merasakan gejala-gejala yang tidak biasa, merasa lelah terus-menerus tanpa sebab yang jelas, atau sistem imun terasa melemah, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dokter secara virtual untuk mendapatkan diagnosis dini dan saran perbaikan pola makan yang komprehensif.

Studi Terkait Nutrisi dan Kesehatan Tubuh

Nutrients Journal menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2020 yang menjelaskan bahwa status gizi makronutrien dan mikronutrien yang seimbang sangat memengaruhi respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus dan patogen.

Studi tersebut menemukan bahwa defisiensi seng (zinc), vitamin D, dan vitamin C secara signifikan menurunkan produksi sel T dan antibodi, membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan. Penelitian ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nutrien tunggal yang bertindak sebagai “obat ajaib”, melainkan sinergi dari seluruh spektrum nutrien yang membentuk benteng pertahanan kesehatan manusia yang optimal.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Nutrient Requirements and Recommended Dietary Allowances.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Nutrition and healthy eating: How to balance macronutrients.
Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses pada 2024. The Nutrition Source: Vitamins and Minerals.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Gizi Seimbang dan Angka Kecukupan Gizi (AKG).
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Dietary Supplements: What You Need to Know.

FAQ

1. Apakah suplemen vitamin bisa menggantikan nutrien dari makanan asli?

Tidak. Suplemen vitamin dirancang untuk menutupi celah gizi (gap) bagi mereka yang kesulitan memenuhi asupan dari makanan, bukan sebagai pengganti utama. Makanan utuh memiliki fitonutrien, antioksidan, dan serat alami yang bekerja sinergis dan tidak dapat sepenuhnya ditiru oleh suplemen dalam bentuk pil.

2. Apa yang terjadi jika mengonsumsi makronutrien karbohidrat secara berlebihan?

Karbohidrat berlebih yang tidak dibakar menjadi energi akan diubah oleh organ hati menjadi trigliserida (lemak) dan disimpan di jaringan adiposa. Dalam jangka panjang, asupan karbohidrat tinggi, terutama gula sederhana, dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, dan diabetes melitus tipe 2.

3. Mengapa kebutuhan nutrien anak-anak dan orang dewasa berbeda?

Anak-anak berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan sel yang masif, sehingga mereka membutuhkan rasio makronutrien dan mikronutrien (terutama protein, zat besi, dan kalsium) yang lebih tinggi secara proporsional terhadap berat badannya dibandingkan dengan orang dewasa yang fungsinya lebih pada pemeliharaan organ dan perbaikan sel.

4. Bagaimana cara mudah mengetahui apakah makanan kita padat nutrien?

Makanan padat nutrien (nutrient-dense) umumnya ditandai dengan warna yang alami dan bervariasi, berwujud makanan utuh (whole food) yang tidak banyak melewati proses pabrikan, dan bebas dari gula tambahan maupun pengawet. Contoh sederhananya adalah sayuran segar, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, telur, dan daging segar.