Ad Placeholder Image

Obat Tradisional Untuk Menghilangkan Bisa Ular: Pertolongan Pertama

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Rahasia Obat Tradisional untuk Hilangkan Bisa Ular

Obat Tradisional Untuk Menghilangkan Bisa Ular: Pertolongan PertamaObat Tradisional Untuk Menghilangkan Bisa Ular: Pertolongan Pertama

DAFTAR ISI


Gigitan ular berbisa merupakan salah satu kondisi gawat darurat medis yang membutuhkan penanganan segera dan tepat. Di Indonesia yang beriklim tropis, pertemuan antara manusia dan ular berbisa sering kali tidak terhindarkan, terutama di area perkebunan, persawahan, atau bahkan di pemukiman warga saat musim hujan. Salah satu gejala lokal yang paling umum dan cepat muncul setelah gigitan adalah pembengkakan hebat pada area yang tergigit, seperti kaki atau tangan.

Kondisi kaki yang tiba-tiba membengkak, memerah, dan terasa sangat nyeri setelah digigit ular menandakan bahwa bisa (venom) ular tersebut telah masuk ke dalam jaringan tubuh dan mulai merusak sel-sel di sekitarnya. Jika tidak segera ditangani, bisa ular dapat menyebar melalui aliran getah bening dan darah, memicu komplikasi sistemik fatal seperti perdarahan internal, kerusakan ginjal, hingga kelumpuhan otot pernapasan.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang mengandalkan cara-cara tradisional yang belum terbukti secara medis. Mencari obat kaki bengkak kena bisa ular yang dijual bebas atau menggunakan bahan herbal sangat tidak disarankan karena tidak ada satupun obat bebas yang mampu menetralisir racun ular selain Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang diberikan oleh dokter di rumah sakit.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kamu untuk mengetahui langkah pertolongan pertama yang benar secara medis guna meminimalisir penyebaran racun sambil menunggu bantuan medis tiba. Nah, bagaimana cara tepat menghadapi kondisi ini? Berikut ulasannya!

Mengapa Gigitan Ular Menyebabkan Kaki Bengkak?

Bisa ular adalah campuran kompleks dari berbagai enzim, protein, dan peptida yang dirancang oleh alam untuk melumpuhkan mangsa. Pada kasus gigitan ular yang menyebabkan kaki bengkak parah (biasanya dari keluarga Viperidae seperti ular tanah atau ular hijau ekor merah), racun yang disuntikkan bersifat sitotoksik dan hemotoksik.

Racun sitotoksik bekerja dengan cara menghancurkan sel-sel jaringan di sekitar area gigitan. Proses perusakan sel ini memicu respons peradangan ekstrem dari tubuh, yang bermanifestasi sebagai pembengkakan (edema) yang membesar dengan cepat, rasa nyeri yang luar biasa, kemerahan, dan terkadang pembentukan lepuh atau nekrosis (kematian jaringan darah). Sementara itu, racun hemotoksik merusak pembuluh darah dan mengganggu sistem pembekuan darah, sehingga cairan intravaskular bocor ke jaringan sekitarnya, memperparah pembengkakan.

Tanda-Tanda Bahaya Gigitan Ular (Red Flags)
  1. Pembengkakan menyebar melampaui satu sendi di atas lokasi gigitan dalam waktu singkat.
  2. Pendarahan terus-menerus dari bekas gigitan atau gusi.
  3. Kelopak mata terasa berat (ptosis) atau kesulitan menelan.
  4. Sesak napas atau dada terasa berat.
  5. Urin berwarna gelap atau kemerahan.

Pertolongan Pertama Saat Digigit Ular

Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami gigitan ular, langkah pertama yang paling penting adalah jangan panik. Kepanikan akan mempercepat detak jantung, yang pada akhirnya mempercepat penyebaran bisa ular ke seluruh tubuh. Berikut adalah pedoman pertolongan pertama yang direkomendasikan secara medis:

1. Imobilisasi (Batasi Pergerakan)

Segera istirahatkan korban dan pastikan bagian tubuh yang tergigit (misalnya kaki) sama sekali tidak digerakkan. Bisa ular umumnya menyebar melalui sistem limfatik (getah bening), dan pergerakan otot akan memompa cairan getah bening lebih cepat. Gunakan bidai (papan kayu, bambu, atau kardus kaku) dan balut dengan kain panjang agar persendian di atas dan di bawah luka gigitan tidak bisa bergerak. Ini mirip dengan prosedur pembidaian pada patah tulang.

2. Posisikan Area Gigitan di Bawah Jantung

Pastikan kaki yang bengkak berada pada posisi lebih rendah dari letak jantung. Hal ini bertujuan untuk memperlambat aliran darah dan cairan limfatik yang membawa racun menuju organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru.

3. Lepaskan Pakaian atau Perhiasan Ketat

Karena bisa ular menyebabkan pembengkakan yang sangat cepat dan masif, segera lepaskan jam tangan, cincin, gelang, atau pakaian yang ketat di sekitar area yang tergigit. Jika dibiarkan, benda-benda ini bisa bertindak seperti torniket tidak sengaja yang akan menghentikan aliran darah, memicu kematian jaringan (amputasi mungkin diperlukan nantinya).

4. Segera Bawa ke Fasilitas Kesehatan Terdekat

Jangan menunda-nunda! Hubungi ambulans atau segera bawa korban ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. Jangan membuang waktu mencari dukun atau mencoba pengobatan alternatif. Untuk berjaga-jaga merawat luka-luka ringan atau keperluan medis harian lainnya pasca masa pemulihan, kamu bisa beli produk kesehatan yang aman dan terjamin keasliannya melalui aplikasi Halodoc.

Mitos Pengobatan Tradisional yang Harus Dihindari

Di masyarakat luas, beredar berbagai mitos terkait penanganan gigitan ular. Bukannya menyembuhkan, tindakan-tindakan berikut justru dapat memperburuk keadaan dan membahayakan nyawa korban:

1. Dilarang Mengikat Terlalu Keras (Torniket)

Mengikat area di atas gigitan dengan sangat kencang menggunakan tali atau kain (torniket) sangat dilarang. Praktik ini memotong aliran darah arteri sepenuhnya. Akibatnya, racun terkonsentrasi di satu tempat dan merusak jaringan dengan sangat cepat (nekrosis), yang sering kali berujung pada amputasi organ. Selain itu, saat ikatan dilepas secara tiba-tiba, racun akan mengalir deras ke jantung (sindrom syok).

2. Dilarang Mengisap Bisa Ular atau Menyayat Luka

Mitos yang sering terlihat di film-film ini sangat berbahaya. Menyayat luka akan menyebabkan perdarahan parah, terlebih jika racun ular bersifat hemotoksik yang menghentikan proses pembekuan darah. Mengisap racun dengan mulut juga berisiko membuat racun masuk ke dalam tubuh penolong jika ada sariawan atau luka kecil di gusi penolong.

3. Dilarang Menempelkan Es, Herbal, atau Zat Kimia

Menempelkan es batu, bawang merah, dedaunan, tembakau, atau menyiram luka gigitan dengan cairan kimia tertentu tidak akan menetralisir racun yang sudah masuk ke aliran darah. Tindakan ini justru meningkatkan risiko terjadinya infeksi bakteri sekunder pada luka yang sudah terbuka.

Penanganan Medis di Rumah Sakit

Satu-satunya “obat” yang secara klinis diakui untuk mengatasi bisa ular adalah Serum Anti Bisa Ular (SABU). Di Indonesia, SABU yang diproduksi oleh Bio Farma bersifat polivalen, artinya dapat menetralisir bisa dari tiga jenis ular berbisa utama: Ular Kobra (Naja sputatrix), Ular Welang (Bungarus fasciatus), dan Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma).

1. Pemberian Antivenom (SABU)

Dokter akan mengevaluasi tingkat keparahan gejala klinis sebelum memberikan SABU secara intravena (melalui infus). Pemberian SABU harus dilakukan di bawah pengawasan ketat tenaga medis karena memiliki risiko memicu reaksi alergi berat (anafilaksis).

2. Terapi Suportif dan Pencegahan Infeksi

Selain SABU, dokter akan memberikan cairan infus untuk menjaga fungsi ginjal, obat pereda nyeri golongan opioid atau NSAID dosis rumah sakit, serta injeksi toksoid tetanus. Rongga mulut ular mengandung banyak bakteri mematikan, sehingga dokter juga akan meresepkan antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi sekunder pada jaringan yang bengkak dan rusak.

Studi Mengenai Penanganan Gigitan Ular

World Health Organization (WHO) menerbitkan data klinis komprehensif yang menjelaskan bahwa gigitan ular berbisa adalah Penyakit Tropis Terabaikan (Neglected Tropical Disease) yang sangat mematikan. Studi WHO menekankan bahwa intervensi cepat menggunakan imobilisasi yang benar dan pemberian antivenom spesifik adalah satu-satunya terapi kuratif yang terbukti menyelamatkan nyawa serta mencegah kecacatan permanen seperti amputasi.

Selain itu, jurnal dari Pusat Kedokteran Tropis melaporkan bahwa praktik pertolongan pertama tradisional yang salah, seperti insisi luka dan torniket, meningkatkan tingkat morbiditas dan durasi rawat inap secara signifikan. Edukasi publik mengenai pertolongan pertama medis sangat penting guna menekan angka kematian akibat komplikasi gigitan ular.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Gigitan ular bukanlah kondisi yang bisa ditangani secara mandiri di rumah. Jika gejala pasca gigitan masih meninggalkan trauma atau kamu membutuhkan perawatan luka lanjutan paska dirawat di rumah sakit, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter Spesialis Penyakit Dalam atau dokter Bedah di Halodoc. Segera prioritaskan keselamatan nyawa di IGD jika terjadi gigitan baru.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Snakebite envenoming.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Snakebites: First aid.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Buku Pedoman Penatalaksanaan Gigitan Ular Berbisa.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Management of Snakebite.

FAQ

1. Apakah kaki bengkak akibat gigitan ular bisa sembuh sendiri?

Tidak. Jika ular tersebut berbisa tinggi, kaki bengkak adalah tanda bahwa racun sedang merusak jaringan. Kondisi ini memerlukan intervensi medis segera dan pemberian antivenom (SABU) untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut dan mencegah kematian.

2. Obat apa yang bisa dibeli di apotek untuk gigitan ular?

Tidak ada obat bebas di apotek yang bisa menetralisir bisa ular. Gigitan ular berbisa harus ditangani di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang diberikan melalui infus oleh tenaga medis.

3. Mengapa tidak boleh mengikat kuat (torniket) bagian yang tergigit?

Mengikat area gigitan dengan sangat kuat akan memutus aliran darah ke anggota tubuh tersebut. Hal ini menyebabkan penumpukan racun mematikan di satu titik yang bisa menghancurkan otot dan saraf secara permanen, seringkali berujung pada keharusan amputasi.

4. Berapa lama waktu yang dimiliki seseorang setelah digigit ular berbisa?

Waktu emas (golden hour) bervariasi tergantung jenis ular dan lokasi gigitan, namun sebaiknya pertolongan medis didapatkan maksimal dalam waktu 2-6 jam pertama. Semakin cepat antivenom diberikan, semakin besar peluang korban untuk pulih tanpa komplikasi berat.