• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Obesitas Rentan Sebabkan Asam Lambung, Benarkah?

Obesitas Rentan Sebabkan Asam Lambung, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Obesitas alias kelebihan berat badan sebaiknya dihindari, sebab bisa meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan menyerang. Orang yang memiliki berat badan berlebih disebut rentan mengembangkan penyakit fisik maupun mental, seperti depresi, mudah merasa lelah, hingga penyakit jantung. Selain itu, obesitas ternyata juga bisa meningkatkan risiko penyakit asam lambung. 

Penyakit asam lambung alias gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan kondisi yang memicu munculnya sensasi terbakar di area dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Umumnya, gejala penyakit asam lambung bisa muncul setidaknya 2 kali dalam seminggu. Lantas, apa hubungan antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan penyakit asam lambung? 

Menurunkan Berat Badan untuk Menghindari Penyakit Asam Lambung 

Orang yang memiliki berat badan berlebih disebut lebih rentan mengalami penyakit asam lambung. Gejala utama penyakit ini adalah muncul rasa terbakar di dada dan biasanya akan menjadi lebih parah setelah makan atau saat berbaring. Selain itu, kondisi ini juga disertai dengan keluhan gangguan pencernaan lain, seperti sering bersendawa, mual dan muntah, hingga sesak napas. 

Risiko penyakit ini menjadi lebih tinggi pada orang yang mengalami berat badan berlebih, sebab kelebihan berat badan bisa meningkatkan tekanan pada perut. Hal ini kemudian bisa memicu asam lambung naik dan memicu berbagai gejala. Maka dari itu, mengatur berat badan agar lebih ideal bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah gejala penyakit asam lambung sering muncul. 

Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk mengatasi obesitas adalah dengan mengurangi jumlah asupan kalori harian. Hindari konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak, sehingga berat badan bisa lebih terkontrol dan terhindar dari penyakit asam lambung. Sebagai gantinya, disarankan untuk mengonsumsi lebih banyak makanan sehat yang mengandung protein, lemak tak jenuh, serat, vitamin, dan mineral. 

Mengatur pola makan juga sebaiknya diimbangi dengan melakukan aktivitas fisik alias rutin berolahraga. Jika kamu memiliki riwayat penyakit asam lambung, biasakanlah untuk berjalan kaki setelah makan. Selain bisa membantu menurunkan berat badan, jalan kaki setelah makan juga bisa membantu sistem pencernaan serta mencegah asam lambung naik ke tenggorokan. 

Menghindari gejala asam lambung dilakukan dengan menerapkan kebiasaan, seperti makan dalam porsi yang lebih kecil, jangan makan mendekati waktu tidur, misalnya 2 jam sebelum tidur, kunyah makanan secara perlahan, serta hindari makanan yang bisa meningkatkan risiko penyakit asam lambung muncul, contohnya makanan pedas dan makanan yang banyak mengandung lemak.

Nyatanya, ada hubungan yang erat antara obesitas dengan penyakit asam lambung. Menurunkan berat badan dengan cara yang sehat merupakan cara terbaik untuk mengurangi risiko penyakit ini menyerang. Penyakit ini sebaiknya tidak diabaikan begitu saja, sebab asam lambung yang tidak ditangani dengan tepat bisa memicu komplikasi berupa peradangan pada saluran kerongkongan atau esofagus. Semakin lama, peradangan tersebut bisa memicu munculnya luka sampai ke jaringan parut di kerongkongan. Kondisi ini bisa menyebabkan pengidapnya sulit menelan. 

Cari tahu lebih lanjut tentang penyakit asam lambung dan kaitannya dengan obesitas dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Weight Loss and Acid Reflux.
WebMD. Diakses pada 2019. Heartburn? Lose Weight for Relief.
Obesity Action. Obesity & Heartburn: What is the Link?