Orang Buta: Fakta, Kehidupan & Cara Mendukung

DAFTAR ISI
- Pengertian Kebutaan secara Medis
- Bagaimana Mata Kita Bekerja?
- Berbagai Kondisi yang Menjadi Penyebab Kebutaan
- Tanda dan Gejala Penurunan Fungsi Penglihatan
- Proses Diagnosis dan Pemeriksaan Mata
- Cara Efektif Mencegah Kebutaan
- Studi Mengenai Kebutaan Global
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Mata sering disebut sebagai jendela dunia. Melalui organ penglihatan inilah kita bisa menikmati keindahan warna-warni alam, membaca buku, bekerja, hingga melihat wajah orang-orang yang kita sayangi. Fungsi penglihatan memegang peranan yang sangat esensial dalam kehidupan sehari-hari manusia. Namun, apa jadinya jika kemampuan luar biasa ini perlahan-lahan memudar atau bahkan menghilang sepenuhnya? Pertanyaan mengenai apa itu buta sering kali muncul ketika seseorang atau kerabat terdekatnya mulai mengalami masalah penurunan tajam penglihatan yang signifikan.
Kebutaan bukanlah sebuah kondisi yang terjadi begitu saja tanpa alasan. Memahami kondisi ini sangatlah penting karena sebagian besar kasus gangguan penglihatan berat sebenarnya dapat dicegah atau diobati jika terdeteksi sejak dini. Sayangnya, banyak orang yang menyepelekan gejala ringan pada mata seperti pandangan kabur, mata cepat lelah, atau silau saat melihat cahaya, padahal ini bisa menjadi tanda awal dari penyakit mata yang serius. Ketidaktahuan dan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis sering kali berujung pada kerusakan mata yang bersifat permanen.
Pada artikel kali ini, kita akan membahas secara mendalam dan menyeluruh mengenai kondisi kebutaan. Mulai dari definisi medisnya, proses anatomi mengapa seseorang bisa kehilangan penglihatannya, berbagai penyakit yang menjadi dalang utamanya, hingga langkah-langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan mulai hari ini. Dengan memahami kondisi ini secara komprehensif, kamu diharapkan bisa lebih waspada dan proaktif dalam menjaga aset berharga bernama penglihatan.
Nah, mau tahu fakta-fakta penting seputar kesehatan mata dan kebutaan? Berikut ulasan lengkapnya!
Pengertian Kebutaan secara Medis
Ketika mendengar kata “buta”, banyak orang langsung membayangkan kondisi di mana seseorang hanya melihat kegelapan total atau warna hitam pekat. Padahal, definisi medis mengenai kebutaan jauh lebih kompleks dari sekadar tidak bisa melihat sama sekali. Secara umum, kebutaan adalah hilangnya fungsi penglihatan yang tidak dapat dikoreksi lagi, baik dengan menggunakan kacamata, lensa kontak, obat-obatan, maupun tindakan operasi. Kebutaan bisa terjadi pada satu mata (unilateral) atau kedua mata (bilateral).
Dalam dunia medis dan regulasi kesehatan, terdapat istilah yang disebut sebagai “kebutaan legal” (legal blindness). Seseorang dikatakan mengalami kebutaan legal apabila ketajaman penglihatannya hanya mencapai 20/200 atau lebih buruk pada mata yang lebih baik, meskipun sudah menggunakan alat bantu penglihatan terbaik. Angka 20/200 berarti apa yang bisa dilihat dengan jelas oleh orang bermata normal pada jarak 200 kaki (sekitar 60 meter), hanya bisa dilihat oleh penderita pada jarak 20 kaki (sekitar 6 meter).
Selain tajam penglihatan, kebutaan legal juga bisa diukur dari luas lapang pandang. Jika seseorang memiliki lapang pandang (peripheral vision) kurang dari 20 derajat (normalnya adalah hampir 180 derajat), orang tersebut juga dikategorikan mengalami kebutaan legal, kondisi ini sering disebut sebagai tunnel vision atau penglihatan seperti berada di dalam lorong sempit. Di sisi lain, ada pula istilah kebutaan total (total blindness), yaitu kondisi di mana mata sama sekali tidak mampu merespons cahaya, sehingga penderitanya tidak bisa membedakan antara terang dan gelap.
Bagaimana Mata Kita Bekerja?
Untuk memahami bagaimana kebutaan bisa terjadi, kita perlu menyegarkan kembali ingatan tentang bagaimana mata bekerja dalam memproses cahaya menjadi gambar. Proses melihat adalah sebuah mekanisme biologis yang sangat menakjubkan dan melibatkan kerja sama yang erat antara berbagai struktur mata dengan otak.
Cahaya pertama kali masuk ke mata melalui kornea, yaitu lapisan bening berbentuk kubah di bagian paling depan mata. Kornea berfungsi seperti jendela yang memfokuskan cahaya. Selanjutnya, cahaya akan melewati pupil (lubang di tengah iris atau bagian mata yang berwarna) yang dapat membesar atau mengecil untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk. Setelah itu, cahaya melewati lensa mata yang akan memfokuskan sinar tersebut tepat ke bagian belakang mata, yaitu retina.
Retina adalah lapisan jaringan tipis yang sangat peka terhadap cahaya. Di dalam retina terdapat jutaan sel fotoreseptor (sel batang dan sel kerucut) yang bertugas mengubah cahaya menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik inilah yang kemudian dikirim melalui saraf optik (saraf mata) menuju ke korteks visual di otak. Otak kemudian menerjemahkan sinyal-sinyal listrik tersebut menjadi gambar tiga dimensi yang kita lihat sehari-hari. Jika salah satu dari bagian-bagian vital ini—mulai dari kornea, lensa, retina, hingga saraf optik—mengalami kerusakan parah, maka proses pengiriman visual ke otak akan terputus, dan inilah yang memicu kebutaan.
Berbagai Kondisi yang Menjadi Penyebab Kebutaan
Kebutaan jarang sekali terjadi secara mendadak tanpa penyebab yang mendasarinya (kecuali karena trauma fisik akut). Di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, ada beberapa penyakit mata kronis yang menjadi penyebab utama hilangnya penglihatan. Berikut adalah penjelasannya:
1. Katarak
Katarak adalah kondisi di mana lensa mata yang seharusnya bening menjadi keruh seperti berawan. Hal ini umumnya terjadi karena proses penuaan, di mana protein-protein di dalam lensa mulai rusak dan menggumpal. Kekeruhan ini menghalangi cahaya untuk mencapai retina, sehingga penglihatan menjadi buram, kabur, dan warna terlihat pudar. Katarak adalah penyebab kebutaan nomor satu di dunia. Kabar baiknya, kebutaan akibat katarak bersifat reversible atau dapat disembuhkan melalui tindakan operasi pengangkatan lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan (Intraocular Lens/IOL).
2. Glaukoma
Glaukoma sering dijuluki sebagai “pencuri penglihatan” karena penyakit ini dapat merusak saraf optik secara perlahan tanpa menimbulkan gejala awal yang nyata. Kerusakan saraf optik pada glaukoma umumnya disebabkan oleh tingginya tekanan di dalam bola mata (tekanan intraokular). Cairan alami di dalam mata (aqueous humor) yang seharusnya mengalir keluar dengan lancar mengalami penyumbatan, sehingga menumpuk dan menekan saraf optik. Penglihatan yang hilang akibat glaukoma bersifat permanen dan dimulai dari area tepi (lapang pandang perifer) hingga perlahan-lahan menyempit ke tengah.
3. Degenerasi Makula Terkait Usia (Age-related Macular Degeneration/AMD)
Makula adalah area kecil di pusat retina yang bertanggung jawab atas penglihatan sentral yang tajam dan detail—penglihatan yang kita gunakan untuk membaca, mengenali wajah, dan mengemudi. Seiring bertambahnya usia, makula dapat mengalami kerusakan atau penipisan (AMD kering) atau pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang mudah pecah (AMD basah). Penderita degenerasi makula tidak kehilangan penglihatan perifernya, tetapi mereka kehilangan kemampuan untuk melihat tepat di tengah fokus pandangannya.
4. Retinopati Diabetik
Ini adalah komplikasi mematikan bagi mata akibat penyakit diabetes melitus. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil (kapiler) yang menyuplai nutrisi ke retina mata. Pembuluh darah ini bisa membengkak, bocor, atau bahkan memicu pertumbuhan pembuluh darah baru yang sangat rapuh. Jika pembuluh darah tersebut pecah dan darah menutupi retina, penderita bisa mengalami kebutaan. Mengontrol gula darah secara ketat adalah kunci utama untuk mencegah kondisi ini.
5. Trauma atau Cedera Mata
Benturan keras pada mata, paparan bahan kimia korosif (seperti asam atau air keras), luka tusuk, atau luka bakar dapat merusak struktur kornea, lensa, atau retina dalam sekejap. Cedera mata berat sering kali membutuhkan tindakan operasi darurat untuk menyelamatkan penglihatan, namun pada kasus yang fatal, trauma fisik dapat langsung menyebabkan kebutaan permanen.
6. Kekurangan Vitamin A (Xerophthalmia)
Di negara-negara berkembang, defisiensi vitamin A masih menjadi penyebab utama kebutaan pada anak-anak. Kekurangan vitamin A yang parah dapat menyebabkan kornea menjadi sangat kering (xerosis kornea) hingga akhirnya berlubang atau meleleh (keratomalasia). Padahal, kondisi ini sangat mudah dicegah dengan asupan gizi yang seimbang atau suplementasi vitamin A yang rutin.
Faktor Risiko yang Mempercepat Penurunan Fungsi Penglihatan
- Faktor Usia: Risiko penyakit mata seperti katarak, glaukoma, dan makula meningkat tajam setelah usia 50 tahun.
- Riwayat Keluarga: Penyakit seperti glaukoma memiliki komponen genetik yang kuat. Jika orang tua memiliki glaukoma, risiko anak untuk terkena akan berlipat ganda.
- Gaya Hidup Buruk: Merokok sangat berkaitan erat dengan peningkatan risiko degenerasi makula dan katarak akibat paparan radikal bebas.
- Kondisi Medis Sistemik: Hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol adalah musuh utama bagi pembuluh darah mikro di retina mata.
- Paparan Sinar UV: Terlalu sering terpapar sinar matahari secara langsung tanpa kacamata pelindung dapat mempercepat terjadinya katarak dan kerusakan makula.
Tanda dan Gejala Penurunan Fungsi Penglihatan
Mendeteksi masalah mata sejak dini adalah kunci untuk mencegah kebutaan. Kebanyakan orang abai karena merasa mata sebelahnya masih bisa melihat dengan jelas. Padahal, otak manusia memiliki kemampuan untuk mengkompensasi penglihatan yang buruk pada satu mata dengan mata yang sehat. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala-gejala penurunan fungsi penglihatan, antara lain:
- Pandangan menjadi buram, kabur, atau berawan, seperti melihat dari balik kaca yang berembun.
- Kesulitan melihat di malam hari atau di tempat dengan pencahayaan rendah (rabun senja).
- Melihat lingkaran cahaya (halo) di sekitar lampu jalan atau lampu kendaraan.
- Seringnya muncul bayangan benda terbang (floaters) atau kilatan cahaya (flashes) secara tiba-tiba di lapang pandang.
- Kehilangan penglihatan tepi, sering menabrak benda di sisi kiri atau kanan saat berjalan.
- Melihat garis lurus tampak bergelombang atau bengkok (gejala khas dari masalah makula).
- Mata sering merah, terasa nyeri kronis, dan sangat sensitif terhadap cahaya terang.
Proses Diagnosis dan Pemeriksaan Mata
Untuk menegakkan diagnosis mengenai seberapa parah gangguan penglihatan yang dialami, seorang dokter spesialis mata (oftalmologis) akan melakukan serangkaian pemeriksaan medis yang komprehensif. Pemeriksaan ini tidak hanya menggunakan huruf-huruf pada papan Snellen, tetapi melibatkan alat-alat canggih untuk melihat struktur terdalam mata.
1. Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan (Visual Acuity Test)
Ini adalah tes standar menggunakan Snellen Chart untuk mengukur seberapa jelas pasien bisa melihat dari jarak tertentu. Tes ini akan menentukan apakah pasien membutuhkan koreksi kacamata atau jika penurunan penglihatan tidak bisa diperbaiki dengan lensa tambahan.
2. Tonometri
Pemeriksaan tonometri digunakan untuk mengukur tekanan intraokular di dalam bola mata. Ini adalah tes skrining utama untuk mendeteksi glaukoma. Dokter akan menggunakan alat yang menembakkan embusan udara kecil ke mata atau menyentuhkan probe secara perlahan ke kornea yang sudah diberi obat bius tetes.
3. Pemeriksaan Slit-Lamp
Dengan menggunakan mikroskop khusus yang dilengkapi cahaya intens, dokter dapat melihat struktur mata bagian depan secara detail dan tiga dimensi. Tes ini efektif untuk melihat adanya kelainan pada kornea, lensa (seperti katarak), iris, dan bilik mata depan.
4. Ophthalmoscopy dan OCT
Dokter akan meneteskan obat untuk memperlebar pupil (dilatasi) sehingga bisa melihat retina dan saraf optik di bagian belakang mata dengan jelas. Untuk pemeriksaan yang lebih mikroskopis, dokter menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), yaitu teknologi pemindaian yang menghasilkan gambar penampang melintang dari lapisan retina, sangat krusial untuk mendeteksi makula dan retinopati diabetik.
Cara Efektif Mencegah Kebutaan
Sebagian besar penyebab kebutaan berkembang secara perlahan dan sebenarnya bisa dicegah jika kita menerapkan gaya hidup yang mendukung kesehatan mata. Berikut adalah langkah-langkah esensial yang harus mulai diterapkan sebagai investasi jangka panjang bagi organ penglihatan:
Pertama, lakukan pemeriksaan mata rutin setiap 1-2 tahun sekali. Terutama jika kamu sudah berusia di atas 40 tahun atau memiliki riwayat penyakit diabetes, hipertensi, atau riwayat keluarga dengan penyakit mata. Pemeriksaan rutin adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi glaukoma atau retinopati sebelum gejalanya merusak tajam penglihatan. Ingat, kerusakan saraf optik tidak bisa dikembalikan.
Kedua, kontrol penyakit sistemik. Jika kamu mengidap diabetes atau darah tinggi, pastikan untuk minum obat secara teratur dan menjaga angka gula darah serta tekanan darah tetap stabil. Lonjakan gula darah adalah ancaman harian bagi retina mata.
Ketiga, perhatikan asupan nutrisi untuk mata. Mengonsumsi sayuran berdaun hijau gelap (bayam, kale) yang kaya akan lutein dan zeaxanthin sangat dianjurkan. Selain itu, asupan asam lemak omega-3 dari ikan salmon atau tuna, serta buah-buahan yang kaya vitamin C dan E sangat membantu menjaga makula. Sebagai tambahan praktis, kamu bisa beli vitamin dan suplemen kesehatan secara online di Halodoc untuk memastikan kebutuhan nutrisi harian mata terpenuhi dengan baik.
Keempat, gunakan kacamata hitam anti-UV saat beraktivitas di luar ruangan yang terik. Paparan sinar ultraviolet matahari yang intens dalam jangka panjang dapat memanggang protein lensa mata dan mempercepat terjadinya katarak serta kerusakan makula. Pastikan kacamata hitam kamu memiliki label perlindungan UV400.
Kelima, terapkan aturan 20-20-20 saat menatap layar gawai. Mata yang terlalu lama menatap layar komputer atau ponsel akan jarang berkedip, menyebabkan mata kering dan kelelahan otot mata (Computer Vision Syndrome). Istirahatkan mata setiap 20 menit dengan mengalihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (6 meter) selama minimal 20 detik.
Studi Mengenai Kebutaan Global
World Health Organization (WHO) menerbitkan Laporan Visi Dunia yang menjelaskan bahwa secara global setidaknya ada 2,2 miliar orang yang mengalami gangguan penglihatan jarak dekat maupun jarak jauh. Namun yang mengejutkan, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa sekitar 1 miliar kasus di antaranya—atau hampir separuhnya—merupakan kondisi yang sebenarnya dapat dicegah atau masih belum tertangani dengan baik.
Studi ini memberikan pukulan telak bahwa kurangnya akses ke pemeriksaan mata yang memadai, ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya kacamata koreksi, serta penundaan operasi katarak menjadi faktor penyumbang terbesar angka kebutaan global. Hal ini menekankan bahwa kesadaran personal dan pemeriksaan proaktif adalah senjata utama melawan kehilangan penglihatan.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Blindness and vision impairment.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Eye disease: Know the signs.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Blindness and Visual Impairment.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Situasi Gangguan Penglihatan.
National Eye Institute (NEI). Diakses pada 2024. Learn About Eye Health.
FAQ
1. Apakah semua jenis kebutaan tidak dapat disembuhkan?
Tidak semua jenis kebutaan bersifat permanen. Kebutaan yang disebabkan oleh katarak, misalnya, sangat bisa disembuhkan melalui prosedur operasi pengangkatan lensa keruh dan menggantinya dengan lensa buatan. Namun, jika kebutaan disebabkan oleh kerusakan saraf optik seperti pada glaukoma atau atrofi saraf mata, maka hilangnya penglihatan bersifat permanen dan tidak bisa dikembalikan.
2. Apa bedanya buta total dengan buta legal?
Buta total berarti mata sama sekali tidak mampu menangkap dan membedakan cahaya, dunia terlihat sepenuhnya gelap. Sedangkan buta legal adalah istilah medis dan hukum di mana ketajaman penglihatan seseorang kurang dari 20/200, atau lapang pandangnya menyempit secara drastis, tetapi penderitanya mungkin masih bisa melihat siluet atau cahaya samar-samar.
3. Mengapa penyakit diabetes sangat berbahaya bagi mata?
Diabetes menyebabkan kadar gula darah dalam tubuh menjadi sangat tinggi secara kronis. Gula darah yang tinggi ini dapat merusak dinding pembuluh darah kecil yang ada di retina mata. Akibatnya, pembuluh darah menjadi bocor, mengeluarkan cairan atau darah, dan merusak sel-sel retina yang peka cahaya. Kondisi yang disebut retinopati diabetik ini bisa memicu kebutaan jika tidak segera ditangani.
4. Kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan mata ke dokter?
Sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan mata rutin minimal 1-2 tahun sekali meskipun tidak ada keluhan. Namun, kamu harus segera ke dokter spesialis mata jika mendadak mengalami pandangan kabur, melihat kilatan cahaya terang seperti lampu kilat (flashes), melihat banyak bintik hitam terbang (floaters) secara mendadak, atau mengalami nyeri hebat pada bola mata disertai mata merah.



