Ad Placeholder Image

Pahami Bahasa Gaul Ikut Ikutan Biar Gak FOMO

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Bahasa Gaul Ikut Ikutan: Gara-gara FOMO atau Tren?

Pahami Bahasa Gaul Ikut Ikutan Biar Gak FOMOPahami Bahasa Gaul Ikut Ikutan Biar Gak FOMO

DAFTAR ISI


Di era digital yang serba cepat ini, kamu mungkin sering mendengar istilah “FOMO” di media sosial atau percakapan sehari-hari. Istilah ini sering dikaitkan dengan perilaku seseorang yang selalu ingin ikut-ikutan tren atau merasa gelisah jika tidak mengetahui informasi terbaru. Namun, tahukah kamu bahwa di balik populernya istilah ini, terdapat fenomena psikologis yang cukup serius?

FOMO bukan sekadar bahasa gaul biasa. Ini adalah kondisi yang mencerminkan kecemasan sosial yang dipicu oleh paparan informasi di dunia maya secara terus-menerus. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu kesejahteraan mental dan kualitas hidup seseorang secara signifikan.

Memahami arti dan dampak dari FOMO sangat penting agar kamu bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga kesehatan mental. Dengan literasi yang tepat, kamu bisa terhindar dari rasa cemas yang tidak perlu. Nah, mau tahu lebih dalam tentang fenomena ini? Berikut ulasannya!

Apa itu FOMO? Bahasa Gaul dan Artinya

Secara harfiah, FOMO adalah akronim dari Fear of Missing Out. Dalam bahasa gaul, artinya adalah perasaan takut ketinggalan. Ketakutan ini merujuk pada kekhawatiran seseorang bahwa orang lain mungkin mengalami pengalaman yang menyenangkan, bermanfaat, atau berharga, sementara dirinya sendiri tidak terlibat di dalamnya.

Fenomena ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun semakin menguat seiring dengan perkembangan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter). Melalui platform tersebut, kita bisa melihat aktivitas orang lain secara real-time. Saat melihat teman sedang berlibur, makan di restoran mewah, atau mencapai kesuksesan tertentu, timbul rasa “ketinggalan” yang memicu stres ringan hingga kecemasan.

Penting untuk diingat bahwa FOMO bukan sekadar rasa iri. Ini lebih ke arah persepsi bahwa hidup orang lain lebih menarik dibandingkan hidup kita sendiri, yang kemudian memicu dorongan impulsif untuk selalu terhubung dengan internet agar tidak ketinggalan informasi sekecil apa pun.

Gejala dan Ciri-Ciri FOMO

Seseorang yang mengalami FOMO sering kali tidak menyadari bahwa perilakunya sudah mulai tidak sehat. Berikut adalah beberapa ciri-ciri umum yang perlu kamu waspadai:

1. Selalu Mengecek Gadget Setiap Saat

Ciri yang paling menonjol adalah obsesi untuk memeriksa ponsel. Bahkan saat bangun tidur, sedang makan, atau di tengah percakapan dengan orang lain, kamu merasa harus membuka media sosial untuk melihat pembaruan terbaru.

2. Prioritas yang Terganggu

Kamu mungkin lebih memprioritaskan aktivitas di dunia maya daripada kehidupan nyata. Misalnya, kamu merasa lebih penting membagikan momen di media sosial daripada menikmati momen itu sendiri bersama orang-orang di sekitarmu.

3. Sering Merasa Tidak Puas

Setelah melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar ponsel, kamu mulai membandingkan diri dan merasa hidupmu membosankan. Hal ini sering memicu penurunan rasa percaya diri.

4. Sulit Mengatakan “Tidak”

Karena takut ketinggalan momen seru, kamu cenderung menyanggupi semua ajakan atau mengikuti semua tren, meskipun sebenarnya kamu sedang lelah atau tidak memiliki anggaran untuk itu.

Faktor Pemicu FOMO di Media Sosial
  1. Penggunaan algoritma yang terus menampilkan konten gaya hidup mewah.
  2. Kebutuhan akan validasi sosial melalui jumlah “likes” dan komentar.
  3. Ketidakmampuan membedakan antara realitas dan kurasi konten (konten yang hanya menampilkan bagian terbaik saja).

Dampak FOMO bagi Kesehatan Mental

Meskipun terlihat sepele, dampak jangka panjang dari FOMO bisa sangat merugikan kesehatan psikologis. Rasa takut ketinggalan ini sering kali memicu stres kronis karena otak terus berada dalam mode “waspada” terhadap informasi baru.

Selain stres, FOMO juga berkaitan erat dengan gangguan tidur atau insomnia. Kebiasaan scrolling hingga larut malam dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Jika kamu merasa gejala ini sudah mengganggu aktivitas harian, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Dampak lainnya adalah penurunan produktivitas. Fokus yang terus terbagi antara pekerjaan dan notifikasi media sosial membuat kualitas hasil kerja menurun. Selain itu, dalam kasus yang lebih berat, FOMO dapat menjadi pemicu depresi dan gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Cara Mengatasi FOMO secara Mandiri

Langkah pertama untuk mengatasi FOMO adalah menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah “sorotan” (highlight), bukan gambaran utuh dari kehidupan seseorang. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan:

1. Membatasi Waktu Layar (Screen Time)

Gunakan fitur pengingat waktu pada ponselmu untuk membatasi durasi penggunaan media sosial. Kamu bisa memulai dengan tidak membuka ponsel 1 jam sebelum tidur dan 1 jam setelah bangun tidur.

2. Fokus pada Rasa Syukur (Gratitude)

Alih-alih fokus pada apa yang tidak kamu miliki, mulailah mencatat hal-hal yang kamu syukuri setiap harinya. Jurnal syukur dapat membantu mengalihkan fokus dari kehidupan orang lain ke kebahagiaan pribadimu sendiri.

3. Praktikkan JOMO (Joy of Missing Out)

JOMO adalah kebalikan dari FOMO. Ini adalah perasaan bahagia saat kamu bisa menikmati waktu luang tanpa merasa terbebani oleh apa yang dilakukan orang lain. Nikmatilah ketenangan saat sedang tidak terhubung dengan dunia maya.

Jika rasa cemas akibat FOMO membuat tubuh terasa lelah atau imunitas menurun, pastikan kamu tetap menjaga asupan nutrisi dan bisa beli obat online di Halodoc untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan suplemen tubuhmu.

Studi Mengenai FOMO dan Kesehatan

Journal of Computers in Human Behavior menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa tingkat FOMO yang tinggi berkorelasi positif dengan penggunaan media sosial yang bermasalah dan tingkat kepuasan hidup yang rendah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki kebutuhan dasar untuk terhubung secara sosial (social relatedness) namun tidak terpenuhi di kehidupan nyata, cenderung mencari kompensasi melalui media sosial, yang justru memperparah gejala FOMO mereka. Hal ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara interaksi digital dan interaksi tatap muka.

Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika kamu merasa perasaan cemas dan takut ketinggalan ini sudah sulit dikendalikan. Kesehatan mentalmu adalah prioritas utama.

Kamu bisa mendapatkan dukungan kesehatan mental atau produk kesehatan lainnya dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc.

Referensi:
Przybylski, A. K., dkk. (2013). Fear of Missing Out: Prevalence, Dynamics, and Consequences of Experiencing FOMO. Computers in Human Behavior.
Mayo Clinic. (2024). Social Media and Teen Mental Health. Diakses pada 2026.
Psychology Today. (2023). What Is FOMO? The Science of Fear of Missing Out. Diakses pada 2026.
Cleveland Clinic. (2024). How To Deal With FOMO. Diakses pada 2026.

FAQ

1. Apa penyebab utama seseorang mengalami FOMO?

Penyebab utamanya adalah penggunaan media sosial yang berlebihan yang memicu perbandingan sosial secara konstan dan keinginan untuk mendapatkan validasi dari orang lain.

2. Apakah FOMO termasuk gangguan mental?

FOMO sendiri bukan diagnosis medis resmi dalam DSM-5, namun ia diakui sebagai fenomena psikologis yang dapat memicu atau memperburuk gangguan kecemasan dan depresi.

3. Bagaimana cara membedakan FOMO yang normal dan yang berbahaya?

FOMO yang normal hanya muncul sesekali. Menjadi berbahaya jika sudah mengganggu pola tidur, konsentrasi kerja, hingga menyebabkan stres fisik dan isolasi di dunia nyata.

4. Apakah orang dewasa juga bisa mengalami FOMO?

Ya, meskipun lebih sering dikaitkan dengan remaja dan dewasa muda (Generasi Z dan Milenial), orang dewasa dari berbagai kelompok usia juga dapat mengalaminya seiring meningkatnya penggunaan teknologi.

## Punya Rasa Cemas karena Sering Merasa Ketinggalan Tren? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu sering merasa gelisah saat tidak melihat media sosial atau takut ketinggalan kabar terbaru? Tidak perlu khawatir berlebihan! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.