Bahasa Gaul Ikut Ikutan: Gara-gara FOMO atau Tren?

DAFTAR ISI
- Apa Itu FOMO dalam Bahasa Gaul?
- Gejala FOMO yang Perlu Diwaspadai
- Dampak FOMO bagi Kesehatan Mental
- Cara Mengatasi FOMO dan Beralih ke JOMO
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu merasa cemas atau gelisah saat melihat unggahan teman di media sosial yang sedang berlibur, mencoba kafe baru, atau menghadiri konser musik yang sedang viral? Jika iya, mungkin kamu sedang mengalami apa yang disebut dengan FOMO. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah FOMO menjadi sangat populer, terutama di kalangan generasi Z dan milenial di Indonesia, hingga masuk ke dalam perbendaharaan bahasa gaul sehari-hari.
Meskipun terdengar seperti tren gaya hidup biasa, FOMO sebenarnya memiliki akar psikologis yang cukup dalam dan dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental seseorang. Keinginan untuk selalu “update” dan takut tertinggal informasi atau tren terkini membuat banyak orang terjebak dalam siklus penggunaan media sosial yang tidak sehat. Hal ini sering kali berujung pada kelelahan mental, stres, hingga gangguan tidur yang serius.
Memahami FOMO bukan sekadar mengerti arti katanya, melainkan juga menyadari bagaimana fenomena ini memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Penting bagi kita untuk mengenali batasan antara tetap terhubung dengan dunia luar dan menjaga ketenangan batin. Dengan pemahaman yang tepat, kamu bisa mengambil langkah preventif agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah gempuran arus informasi yang begitu cepat.
Nah, mau tahu apa saja penjelasan lengkap mengenai fenomena ini dan bagaimana cara menghadapinya agar tidak mengganggu kesehatanmu? Berikut ulasannya!
Apa Itu FOMO dalam Bahasa Gaul?
Secara harfiah, FOMO adalah akronim dari Fear of Missing Out. Dalam bahasa gaul Indonesia, FOMO sering digunakan untuk menyebut perilaku seseorang yang “ikut-ikutan” tren hanya karena takut dibilang tidak keren atau ketinggalan zaman. Fenomena ini erat kaitannya dengan penggunaan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (sebelumnya Twitter), di mana setiap orang berlomba-lomba memamerkan momen terbaik dalam hidup mereka.
FOMO pertama kali diidentifikasi oleh Dr. Dan Herman pada tahun 1996 dan kemudian dipopulerkan oleh Patrick J. McGinnis melalui artikelnya di majalah The Harbus. Namun, istilah ini baru meledak secara global seiring dengan masifnya penggunaan smartphone. Di Indonesia, istilah ini sering kali dikaitkan dengan istilah “pansos” (panjat sosial) atau keinginan untuk selalu terlihat relevan di mata pergaulan sosialnya.
Keinginan untuk selalu terhubung ini didorong oleh kebutuhan dasar manusia akan rasa memiliki (sense of belonging). Namun, di era digital, kebutuhan ini terdistorsi menjadi kompetisi yang tidak terlihat. Ketika kamu melihat orang lain melakukan sesuatu yang menyenangkan, otak akan merespons dengan rasa cemas bahwa hidupmu tidak seberuntung atau semenarik mereka.
Gejala FOMO yang Perlu Diwaspadai
FOMO bukan sekadar perasaan iri sesaat. Jika sudah mencapai tahap yang mengganggu, ada beberapa gejala yang bisa kamu amati pada diri sendiri atau orang terdekat:
- Ketergantungan pada Media Sosial: Mengecek ponsel segera setelah bangun tidur dan terus-menerus melakukan scrolling sepanjang hari, bahkan saat sedang makan atau bersama orang lain.
- Rasa Cemas Saat Tidak Memegang Ponsel: Muncul rasa takut jika tertinggal berita terbaru, diskon produk, atau gosip yang sedang hangat dibicarakan.
- Memaksakan Diri Ikut Tren: Mengeluarkan uang untuk barang atau pengalaman yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan atau disukai, hanya agar bisa membuat konten yang serupa dengan orang lain.
- Mengabaikan Realitas: Lebih mementingkan tampilan hidup di media sosial daripada menikmati momen secara nyata (live in the moment).
- Penurunan Rasa Percaya Diri: Sering membandingkan hidup sendiri dengan “panggung depan” orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.
Faktor Pemicu FOMO di Era Digital
- Penggunaan algoritma media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus bertahan di platform tersebut.
- Budaya “pamer” yang didukung oleh fitur Story dan konten video pendek.
- Tekanan teman sebaya (peer pressure) untuk selalu mengikuti gaya hidup tertentu.
Dampak FOMO bagi Kesehatan Mental
Dampak FOMO tidak bisa diremehkan. Secara psikologis, rasa takut tertinggal ini dapat memicu produksi hormon kortisol (hormon stres) yang berlebihan. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan kecemasan kronis dan depresi. Selain itu, penderita FOMO sering kali mengalami gangguan tidur atau insomnia karena kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam hanya untuk memantau aktivitas orang lain.
Kelelahan emosional juga merupakan dampak yang nyata. Berusaha untuk selalu “on” dan tersedia di dunia digital sangatlah menguras energi. Kamu mungkin merasa lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Ketidakpuasan hidup juga meningkat karena fokus kamu selalu tertuju pada apa yang tidak kamu miliki, alih-alih mensyukuri apa yang sudah ada.
Jika kamu merasa gejala kecemasan akibat FOMO mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau menyebabkan gangguan fisik seperti jantung berdebar dan sulit fokus, sebaiknya segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Penanganan dini dari profesional dapat membantu kamu mengelola stres dan kecemasan dengan lebih baik.
Cara Mengatasi FOMO dan Beralih ke JOMO
Lawan dari FOMO adalah JOMO, atau Joy of Missing Out. JOMO adalah kondisi di mana seseorang merasa bahagia dan tenang meskipun tidak mengikuti tren atau tidak mengetahui informasi tertentu. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk beralih dari FOMO ke JOMO:
1. Lakukan Digital Detox Secara Berkala
Tetapkan waktu di mana kamu sama sekali tidak menyentuh ponsel, misalnya dua jam sebelum tidur atau satu hari penuh di akhir pekan. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan hobi yang bersifat fisik, seperti membaca buku cetak, berkebun, atau berolahraga.
2. Batasi Notifikasi Media Sosial
Matikan notifikasi yang tidak penting. Kamu tidak perlu tahu setiap kali seseorang menyukai unggahanmu atau saat ada akun yang sedang melakukan siaran langsung. Jadwalkan waktu khusus untuk membuka media sosial, misalnya hanya 30 menit di pagi dan sore hari.
3. Praktikkan Mindfulness dan Gratitude
Belajarlah untuk hidup di masa sekarang. Setiap pagi, tuliskan tiga hal yang kamu syukuri. Fokus pada pencapaian dan kebahagiaan pribadimu akan mengurangi keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain.
4. Pahami Bahwa Media Sosial Adalah Kurasi
Ingatlah bahwa apa yang kamu lihat di media sosial hanyalah bagian terbaik dari hidup seseorang. Tidak ada orang yang mengunggah kegagalan, kesedihan, atau masalah rumah tangganya secara jujur 100% di publik. Jangan jadikan standar hidup orang lain sebagai patokan kebahagiaanmu.
Untuk mendukung kesehatan fisikmu selama proses perubahan gaya hidup ini, pastikan asupan nutrisi tetap terjaga. Jika kamu merasa tubuh kurang fit akibat stres yang berkepanjangan, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah, seperti vitamin atau suplemen daya tahan tubuh.
Studi Mengenai FOMO dan Penggunaan Media Sosial
Journal of Computers in Human Behavior menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa tingkat FOMO yang tinggi berhubungan erat dengan rendahnya kepuasan hidup dan rendahnya pemenuhan kebutuhan psikologis dasar. Studi tersebut juga menemukan bahwa FOMO bertindak sebagai mediator antara penggunaan media sosial yang berlebihan dan penurunan kesejahteraan emosional.
Temuan ini menegaskan bahwa FOMO bukanlah sekadar masalah sepele, melainkan fenomena psikologis yang nyata. Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat menciptakan siklus negatif di mana seseorang merasa harus terus terhubung untuk meredakan kecemasan, namun aktivitas tersebut justru memperburuk kondisi mentalnya.
FAQ
1. Apakah FOMO termasuk gangguan mental?
FOMO sendiri bukanlah diagnosis medis resmi dalam DSM-5, namun ia diakui sebagai fenomena psikologis yang dapat memicu atau memperburuk gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
2. Siapa yang paling rentan terkena FOMO?
Remaja dan orang dewasa muda (Gen Z dan Milenial) adalah kelompok yang paling rentan karena mereka tumbuh besar dengan teknologi digital dan sangat aktif di media sosial.
3. Bagaimana cara membedakan antara tetap update dan FOMO?
Perbedaannya terletak pada perasaanmu. Jika mencari informasi membuatmu merasa tertekan, cemas, atau merasa rendah diri, itu adalah FOMO. Jika informasi tersebut digunakan untuk edukasi atau hiburan tanpa tekanan emosional, itu adalah upaya untuk tetap update secara sehat.
4. Bisakah JOMO benar-benar dilakukan di zaman sekarang?
Sangat bisa. JOMO bukan berarti kamu menjadi antisosial atau buta teknologi, melainkan memiliki kontrol penuh atas kapan dan bagaimana kamu menggunakan teknologi untuk kebahagiaanmu sendiri.
Merasa Cemas Ketinggalan Tren di Media Sosial? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu sering merasa cemas atau gelisah saat melihat konten orang lain di media sosial? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.



