OGDJ Bukan Aib: Mari Peduli Kesehatan Jiwa Bersama

DAFTAR ISI
- Makna Sebenarnya dari Singkatan ODGJ
- Perbedaan ODGJ dan ODMK
- Jenis-Jenis Gangguan Jiwa yang Umum
- Faktor Penyebab dan Pemicu
- Cara Mendukung dan Menghilangkan Stigma
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Mendengar istilah terkait masalah kejiwaan sering kali masih memunculkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, stigma negatif telah melekat erat pada individu yang mengalami masalah kesehatan mental. Padahal, sama seperti penyakit fisik pada umumnya, gangguan pada kejiwaan adalah kondisi medis yang memerlukan diagnosis yang tepat, penanganan berkelanjutan, serta dukungan penuh dari lingkungan sekitar, bukan dijauhi atau bahkan dikucilkan.
Dalam dunia medis dan regulasi kesehatan di Indonesia, ada istilah resmi yang digunakan untuk mengganti sebutan-sebutan kasar yang selama ini beredar di masyarakat. Memahami apa makna sesungguhnya di balik singkatan odgj adalah langkah pertama yang krusial untuk menghapus stigma negatif tersebut. Penggunaan istilah medis yang tepat bukan sekadar masalah ejaan, melainkan bentuk penghormatan dan pemanusiaan terhadap para penyintas gangguan kesehatan mental.
Kesehatan mental adalah fondasi penting dari kualitas hidup seseorang. Gangguan pada aspek ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, berperilaku, hingga berinteraksi dengan orang lain. Sayangnya, masih banyak yang menganggap kondisi ini sebagai bentuk kelemahan iman, kutukan, atau kurangnya kemauan untuk “berpikir positif”. Pandangan usang ini sering kali membuat pasien terlambat mendapatkan pertolongan medis yang sangat mereka butuhkan.
Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai kondisi kejiwaan, faktor yang memengaruhinya, serta bagaimana kita sebagai bagian dari masyarakat bisa memberikan dukungan nyata. Mari kita bedah lebih jauh agar pemahaman kita tentang kesehatan mental menjadi lebih terbuka dan berbasis pada fakta medis!
Makna Sebenarnya dari Singkatan ODGJ
Bagi kamu yang mungkin belum sepenuhnya familier, singkatan ODGJ merujuk pada “Orang Dengan Gangguan Jiwa”. Istilah ini secara resmi ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Penggunaan istilah ini dirancang khusus untuk menghilangkan kata-kata diskriminatif seperti “orang gila” atau “sakit jiwa” yang sarat akan makna merendahkan dan sering memicu tindakan pelanggaran hak asasi manusia, seperti pemasungan.
Secara klinis, ODGJ didefinisikan sebagai individu yang mengalami gangguan pada pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna. Kondisi ini dapat menimbulkan penderitaan yang signifikan (distress) serta hambatan (disability) dalam menjalankan fungsi keseharian mereka, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun hubungan sosial bermasyarakat.
Mengetahui makna singkatan odgj seharusnya membuka mata kita bahwa kondisi ini adalah masalah kesehatan yang memiliki dasar biologis, psikologis, dan sosial. Otak sebagai organ vital juga bisa mengalami disfungsi akibat ketidakseimbangan zat kimia neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, atau norepinefrin. Oleh karena itu, pendekatan medis yang komprehensif, mencakup farmakoterapi (obat-obatan) dan psikoterapi, mutlak diperlukan.
Perbedaan ODGJ dan ODMK
Selain ODGJ, kamu mungkin juga pernah mendengar istilah ODMK. Kedua istilah ini sering tertukar, padahal memiliki klasifikasi yang berbeda dalam undang-undang kesehatan jiwa di Indonesia.
1. ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan)
ODMK adalah seseorang yang memiliki masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan, dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup, sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Contohnya adalah orang yang sedang mengalami stres berat akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), korban bencana alam, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau individu yang sedang mengalami duka mendalam. Mereka belum masuk ke tahap gangguan klinis yang menetap, namun sangat rentan jika tidak dikelola dengan baik.
2. ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa)
Sementara itu, ODGJ adalah mereka yang sudah memenuhi kriteria diagnosis medis tertentu terkait gangguan kejiwaan yang mengubah pola pikir, suasana hati, atau perilaku secara signifikan. Kondisi ini biasanya berlangsung dalam periode waktu tertentu dan sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari mereka secara nyata.
Mitos vs Fakta Seputar Kesehatan Mental
- Mitos: Gangguan jiwa tidak bisa disembuhkan. Fakta: Banyak kondisi kesehatan mental dapat dikelola dengan sangat baik melalui pengobatan dan terapi, memungkinkan pasien hidup produktif.
- Mitos: Gangguan jiwa terjadi karena kurang iman atau ibadah. Fakta: Ini adalah kondisi medis yang melibatkan faktor genetik, biologi otak, dan trauma psikologis.
- Mitos: Pasien kejiwaan selalu berbahaya dan agresif. Fakta: Sebagian besar pasien justru sering menjadi korban kekerasan, bukan pelaku. Perilaku agresif hanya muncul pada fase akut yang tidak ditangani.
Jenis-Jenis Gangguan Jiwa yang Umum
Kondisi yang dialami oleh ODGJ sangatlah beragam. Gangguan mental bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan spektrum luas yang terbagi ke dalam beberapa diagnosis klinis. Berikut adalah beberapa jenis yang paling umum ditemui:
1. Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan mental berat yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. Pasien mungkin seolah-olah kehilangan kontak dengan realitas (psikosis). Gejala khasnya meliputi halusinasi (mendengar suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada), delusi atau waham (keyakinan kuat pada sesuatu yang tidak nyata), serta kekacauan dalam berpikir dan berbicara. Kondisi ini membutuhkan perawatan medis seumur hidup dengan obat antipsikotik.
2. Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)
Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) yang sangat ekstrem. Pasien akan mengalami fase mania atau hipomania (sangat energik, bicara cepat, tidak butuh tidur, impulsif) dan fase depresi mayor (sangat sedih, putus asa, kehilangan minat pada aktivitas, merasa tidak berharga). Fluktuasi ini bisa sangat melelahkan bagi pasien dan mengganggu stabilitas hidup mereka.
3. Depresi Mayor (Major Depressive Disorder)
Berbeda dengan rasa sedih biasa, depresi mayor adalah perasaan sedih yang menetap, kosong, dan putus asa yang berlangsung setidaknya selama dua minggu terus-menerus. Gejala fisiknya bisa berupa kelelahan kronis, perubahan nafsu makan, gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia), dan pada kasus yang parah, dapat memunculkan pikiran untuk melukai diri sendiri atau percobaan bunuh diri.
4. Gangguan Kecemasan Umum (Generalized Anxiety Disorder/GAD)
Individu dengan GAD mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan serta tidak proporsional terhadap hal-hal sehari-hari. Kecemasan ini sulit dikendalikan dan disertai dengan gejala fisik seperti otot tegang, jantung berdebar, keringat dingin, mual, dan kesulitan berkonsentrasi.
Faktor Penyebab dan Pemicu
Tidak ada satu penyebab tunggal mengapa seseorang bisa mengalami gangguan kejiwaan. Layaknya penyakit medis kompleks lainnya, kondisi ini dipicu oleh kombinasi dari berbagai faktor (biopsikososial), antara lain:
1. Faktor Biologis dan Genetik
Genetika memainkan peran penting. Jika seseorang memiliki anggota keluarga inti (orang tua atau saudara kandung) dengan riwayat gangguan mental seperti skizofrenia atau bipolar, risikonya untuk mengalami kondisi serupa menjadi lebih tinggi. Selain itu, ketidakseimbangan neurotransmiter di otak, cedera otak traumatis, atau paparan virus dan racun saat masih dalam kandungan juga berkontribusi secara biologis.
2. Faktor Psikologis
Trauma masa lalu memiliki dampak jangka panjang pada struktur dan fungsi otak. Pengalaman pelecehan seksual, kekerasan fisik, penelantaran di masa kanak-kanak, atau kehilangan orang yang sangat dicintai secara tragis dapat menjadi pemicu kerentanan psikologis di masa dewasa.
3. Faktor Lingkungan dan Sosial
Kondisi lingkungan yang penuh tekanan secara kronis sangat memengaruhi kesehatan mental. Kemiskinan ekstrem, diskriminasi, beban kerja yang terlalu berat, isolasi sosial, dan penyalahgunaan zat (narkotika dan alkohol) dapat memicu munculnya episode gangguan jiwa pada individu yang sudah memiliki kerentanan biologis.
Cara Mendukung dan Menghilangkan Stigma
Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi pasien kesehatan mental. Berikut adalah langkah konkret yang bisa kamu lakukan:
1. Edukasi Diri Sendiri
Langkah pertama adalah dengan memperbanyak literasi tentang kesehatan mental dari sumber yang terpercaya. Pahami bahwa ODGJ sedang berjuang melawan penyakit medis, bukan sedang mencari perhatian atau bersikap manja.
2. Gunakan Bahasa yang Empatik
Hentikan penggunaan kata-kata seperti “gila”, “sinting”, atau “psycho” sebagai bahan bercandaan sehari-hari. Bahasa yang merendahkan hanya akan melanggengkan stigma dan membuat pasien takut untuk mencari pertolongan medis karena rasa malu.
3. Tawarkan Telinga Tanpa Menghakimi
Jika orang terdekatmu menceritakan masalah kesehatan mentalnya, dengarkan mereka dengan empati. Jangan langsung memberikan nasihat yang tidak diminta atau menyepelekan perasaan mereka dengan kalimat toxic positivity seperti, “Ah, kamu kurang bersyukur saja,” atau “Orang lain masalahnya lebih berat dari kamu.”
4. Arahkan ke Bantuan Profesional
Dukungan moral sangat penting, tetapi penanganan medis jauh lebih krusial. Dorong dan dampingi mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater agar mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang akurat.
Studi Terkait Kesehatan Jiwa
World Health Organization (WHO) menerbitkan laporan komprehensif pada tahun 2022 yang menjelaskan bahwa sekitar 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan masalah kesehatan mental. Laporan tersebut menyoroti bahwa gangguan kecemasan dan depresi adalah yang paling umum terjadi.
Studi ini menekankan pentingnya merevolusi komitmen kesehatan mental secara global. Keterlambatan penanganan sering kali disebabkan oleh stigma sosial yang mengakar dan kurangnya akses ke fasilitas perawatan psikiatri. Hal ini membuktikan bahwa intervensi dini, edukasi masyarakat, dan penyediaan layanan medis yang setara dengan penyakit fisik adalah kunci utama untuk menurunkan beban kesehatan akibat gangguan mental di seluruh dunia.
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mengabaikan gejala gangguan jiwa hanya akan memperburuk kualitas hidup dan memicu komplikasi yang lebih berbahaya di masa depan. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala yang mengganggu pikiran dan perasaan hingga menghambat aktivitas sehari-hari, jangan pernah menunda untuk mencari bantuan medis.
Kamu bisa mendapatkan berbagai obat-obatan atau suplemen yang diresepkan oleh dokter dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Produk dijamin asli dan akan langsung diantar ke depan pintu rumahmu.
Selain itu, untuk mendapatkan diagnosis klinis yang tepat, kamu juga bisa berkonsultasi langsung dengan psikiater atau psikolog klinis berlisensi melalui Halodoc, kapan saja dan dari mana saja secara aman dan privat.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Mental Disorders Fact Sheet.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Mental illness – Symptoms and causes.
American Psychiatric Association. Diakses pada 2024. What Is Mental Illness?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Mental Health Disorders.
FAQ
1. Apa sebenarnya makna dari singkatan ODGJ?
ODGJ adalah singkatan dari Orang Dengan Gangguan Jiwa. Istilah medis dan legal ini digunakan di Indonesia untuk merujuk pada individu yang secara klinis didiagnosis mengalami gangguan pada pola pikir, perasaan, atau perilaku yang menimbulkan penderitaan dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari mereka.
2. Apakah kondisi kejiwaan atau ODGJ bisa disembuhkan?
Sebagian besar gangguan jiwa mungkin tidak bisa “disembuhkan” secara total seperti menyembuhkan penyakit infeksi bakteri, namun kondisi ini sangat bisa dikelola (remisi). Dengan kombinasi terapi obat-obatan (farmakoterapi) dan psikoterapi yang tepat dan rutin, pasien ODGJ dapat mengendalikan gejalanya dan hidup normal, produktif, serta berbaur dalam masyarakat.
3. Apa perbedaan utama antara ODGJ dan ODMK?
ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) adalah orang yang sedang menghadapi masalah psikososial (seperti stres berat, trauma, duka) sehingga berisiko terkena gangguan jiwa, namun belum tentu menjadi gangguan klinis. Sementara ODGJ adalah mereka yang sudah positif didiagnosis secara medis memiliki gangguan mental klinis yang memengaruhi fungsi otak dan perilakunya secara nyata.
4. Bagaimana cara yang tepat menghadapi anggota keluarga yang mengalami ODGJ?
Cara terbaik adalah memberikan dukungan emosional tanpa menghakimi, tidak menggunakan kata-kata kasar/stigma, memastikan lingkungan rumah aman, serta mendampingi mereka secara rutin untuk kontrol ke psikiater atau psikolog. Pastikan juga mereka meminum obat yang diresepkan dokter secara teratur sesuai dosis.



