Ad Placeholder Image

Pahami Spina Bifida Occulta: Tersembunyi, Tanpa Gejala

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   04 Juni 2026

Spina Bifida Occulta: Yuk Kenali Si Tersembunyi

Pahami Spina Bifida Occulta: Tersembunyi, Tanpa GejalaPahami Spina Bifida Occulta: Tersembunyi, Tanpa Gejala

Ringkasan: Spina bifida adalah cacat lahir yang terjadi akibat kegagalan pembentukan tabung saraf secara sempurna pada janin, sehingga tulang belakang tidak menutup dengan benar. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan fisik yang bervariasi dari ringan hingga berat. Penanganan dini melalui pembedahan dan pemenuhan asam folat saat kehamilan menjadi faktor kunci dalam manajemen risiko.

Apa Itu Spina Bifida?

Spina bifida adalah jenis cacat tabung saraf (neural tube defect) yang muncul ketika tulang belakang dan sumsum tulang belakang janin tidak terbentuk dengan benar di dalam rahim. Kondisi ini menyebabkan celah pada tulang belakang karena tabung saraf tidak menutup secara sempurna pada bulan pertama kehamilan. Hal ini mengakibatkan saraf tulang belakang rentan terhadap kerusakan karena terpapar cairan ketuban atau lingkungan eksternal.

Secara medis, kondisi ini diklasifikasikan sebagai kelainan kongenital yang memengaruhi perkembangan sistem saraf pusat. Tingkat keparahan spina bifida sangat bergantung pada ukuran dan lokasi celah pada tulang belakang serta kondisi saraf yang terlibat. Pasien mungkin memerlukan perawatan medis seumur hidup untuk mengelola komplikasi saraf, mobilitas, dan fungsi organ dalam.

“Neural tube defects (NTDs) are a group of serious birth defects of the brain and spine that occur early in pregnancy when the neural tube fails to close completely.” — World Health Organization (WHO), 2023

Jenis-Jenis Spina Bifida

Terdapat tiga jenis utama spina bifida yang dibedakan berdasarkan tingkat keparahan dan bentuk kelainan fisik yang muncul. Pemahaman mengenai jenis ini penting untuk menentukan metode pengobatan serta prognosis jangka panjang bagi pasien.

1. Spina Bifida Occulta

Spina bifida occulta adalah bentuk paling ringan dan paling umum yang sering kali tidak terdeteksi hingga usia dewasa. Pada jenis ini, terdapat celah kecil pada satu atau lebih tulang belakang tanpa adanya kerusakan pada sumsum tulang belakang atau saraf. Gejala fisik yang muncul biasanya hanya berupa lesung pipit kecil, bercak rambut, atau tanda lahir di area punggung bawah.

2. Meningocele

Meningocele terjadi ketika selaput pelindung saraf tulang belakang (meninges) menonjol keluar melalui celah di tulang belakang, membentuk kantung berisi cairan di punggung. Meskipun kantung ini terlihat secara fisik, sumsum tulang belakang biasanya tetap berada di posisinya yang normal. Jenis ini relatif jarang dan biasanya dapat diperbaiki melalui prosedur pembedahan dengan risiko kerusakan saraf yang minimal.

3. Myelomeningocele

Myelomeningocele merupakan bentuk yang paling parah karena sumsum tulang belakang dan saraf menonjol keluar melalui celah tulang belakang ke dalam kantung di punggung. Kondisi ini sering menyebabkan kerusakan saraf permanen dan gangguan fungsi tubuh yang signifikan di bawah lokasi celah. Pasien dengan jenis ini sering mengalami kelumpuhan otot, gangguan kontrol kandung kemih, dan penumpukan cairan di otak (hidrosefalus).

Apa Gejala Spina Bifida?

Gejala spina bifida bervariasi secara signifikan tergantung pada jenis dan tingkat kerusakan saraf yang dialami penderita. Pada kasus ringan seperti occulta, gejala mungkin tidak terlihat sama sekali atau hanya berupa tanda kecil di kulit punggung. Namun, pada kasus berat, gangguan fungsional akan langsung terlihat sejak bayi lahir.

Berikut adalah beberapa gejala umum yang dapat diidentifikasi berdasarkan kategori fisiknya:

  • Adanya kantung yang menonjol di area punggung bawah pada saat bayi baru lahir.
  • Kelemahan otot atau kelumpuhan pada tungkai bawah (kaki).
  • Masalah ortopedi seperti kaki pengkor (clubfoot) atau skoliosis (tulang belakang miring).
  • Gangguan fungsi ekskresi seperti inkontinensia urin (sulit menahan buang air kecil) dan gangguan buang air besar.
  • Tanda kulit di area tulang belakang berupa lesung pipit, kumpulan rambut, atau area kulit yang lebih gelap.
  • Akumulasi cairan di dalam otak yang menyebabkan pembengkakan kepala (hidrosefalus).
  • Gangguan kognitif atau kesulitan belajar pada beberapa kasus myelomeningocele.

Apa Penyebab Spina Bifida?

Penyebab pasti spina bifida hingga saat ini belum diketahui secara spesifik oleh para ahli medis. Namun, para peneliti meyakini bahwa kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor genetik, pengaruh lingkungan, dan status gizi ibu selama masa awal kehamilan. Gangguan pada proses penutupan tabung saraf biasanya terjadi pada minggu ketiga atau keempat setelah konsepsi.

Kekurangan nutrisi esensial, khususnya asam folat (vitamin B9), memegang peran krusial dalam kegagalan perkembangan tabung saraf janin. Tanpa asupan yang cukup, sel-sel saraf tidak dapat berkembang dan menyatu dengan sempurna. Selain nutrisi, riwayat keluarga dengan kelainan serupa juga dapat meningkatkan probabilitas terjadinya kondisi ini pada kehamilan berikutnya.

Faktor Risiko Spina Bifida

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seorang wanita melahirkan bayi dengan kondisi spina bifida. Memahami faktor-faktor ini sangat penting untuk langkah preventif dan manajemen kehamilan yang lebih ketat oleh tenaga medis.

Faktor risiko utama meliputi:

  • Kekurangan Asam Folat: Rendahnya kadar folat dalam tubuh ibu sebelum dan selama awal kehamilan merupakan faktor risiko paling signifikan.
  • Riwayat Keluarga: Pasangan yang sebelumnya memiliki anak dengan cacat tabung saraf memiliki peluang lebih tinggi mengalami hal serupa.
  • Kesehatan Ibu: Penderita diabetes yang tidak terkontrol dan obesitas maternal meningkatkan risiko kelainan perkembangan janin.
  • Paparan Suhu Tinggi: Penggunaan sauna, bak mandi air panas, atau demam tinggi pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan tabung saraf.
  • Penggunaan Obat-obatan: Konsumsi obat anti-kejang tertentu (seperti valproate) selama kehamilan diketahui dapat memicu kecacatan ini.

Bagaimana Diagnosis Spina Bifida?

Diagnosis spina bifida dapat dilakukan pada masa prenatal (sebelum lahir) melalui skrining rutin atau secara postnatal (setelah lahir) melalui pemeriksaan fisik. Teknologi medis modern memungkinkan deteksi dini sehingga orang tua dan dokter dapat mempersiapkan penanganan medis yang diperlukan segera setelah persalinan.

Metode diagnostik yang umum digunakan meliputi:

  • Tes Darah (Maternal Serum Alpha-fetoprotein/MSAFP): Pemeriksaan untuk melihat kadar protein AFP yang tinggi, yang dapat mengindikasikan adanya celah pada tabung saraf.
  • Ultrasonografi (USG): Pemindaian visual janin untuk mendeteksi adanya tonjolan di punggung atau kelainan struktur tulang belakang.
  • Amniosentesis: Prosedur pengambilan sampel cairan ketuban untuk mengukur kadar protein sebagai konfirmasi diagnosis jika hasil tes darah abnormal.
  • Pencitraan Postnatal: Setelah bayi lahir, dokter mungkin melakukan MRI atau CT scan untuk melihat tingkat keparahan kerusakan saraf secara mendetail.

Bagaimana Pengobatan Spina Bifida?

Pengobatan spina bifida difokuskan pada meminimalisir komplikasi saraf dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Meskipun kerusakan saraf yang sudah terjadi bersifat permanen, intervensi medis yang cepat dapat mencegah kerusakan lebih lanjut dan membantu mobilitas pasien di masa depan.

Beberapa langkah penanganan meliputi:

  • Pembedahan Prenatal: Operasi yang dilakukan saat bayi masih di dalam rahim (sebelum minggu ke-26 kehamilan) untuk menutup celah tulang belakang.
  • Pembedahan Postnatal: Operasi yang dilakukan dalam 24 hingga 48 jam setelah bayi lahir untuk memasukkan kembali sumsum saraf dan menutup celah kulit.
  • Pemasangan Shunt: Prosedur pemasangan tabung khusus untuk mengalirkan kelebihan cairan di otak ke area perut bagi pasien dengan hidrosefalus.
  • Terapi Fisik dan Okupasi: Program latihan untuk memperkuat otot, membantu pasien berjalan, dan menggunakan alat bantu jika diperlukan.
  • Manajemen Kandung Kemih: Penggunaan kateter atau obat-obatan untuk membantu fungsi ekskresi dan mencegah kerusakan ginjal.

Bagaimana Cara Mencegah Spina Bifida?

Langkah pencegahan yang paling efektif adalah memastikan asupan nutrisi yang optimal bagi wanita di usia subur, terutama sebelum merencanakan kehamilan. Asam folat terbukti secara ilmiah dapat menurunkan risiko cacat tabung saraf hingga lebih dari 70 persen jika dikonsumsi secara konsisten.

Strategi pencegahan meliputi:

  • Konsumsi suplemen asam folat minimal 400 mikrogram (mcg) setiap hari bagi semua wanita usia subur.
  • Meningkatkan konsumsi makanan kaya folat seperti bayam, brokoli, kacang-kacangan, dan sereal yang difortifikasi.
  • Melakukan kontrol rutin terhadap penyakit kronis seperti diabetes sebelum memutuskan untuk hamil.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan tanpa pengawasan dokter saat merencanakan kehamilan.
  • Mengontrol berat badan agar berada di rentang ideal sebelum masa konsepsi.

“All women of reproductive age should consume 400 micrograms (mcg) of folic acid each day, in addition to consuming food with folate from a varied diet, to help prevent neural tube defects.” — Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2022

Kapan Harus ke Dokter?

Deteksi dini dan penanganan oleh tim ahli sangat krusial bagi bayi yang lahir dengan kecacatan tabung saraf. Segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja jika ditemukan tanda-tanda abnormalitas pada punggung bayi atau adanya keterlambatan perkembangan motorik.

Tenaga medis spesialis saraf anak atau dokter spesialis anak akan memberikan diagnosis dan rencana perawatan yang komprehensif. Tindakan cepat sangat diperlukan untuk mencegah infeksi pada saraf yang terpapar dan mengelola risiko hidrosefalus yang dapat mengancam nyawa. Pemeriksaan rutin juga wajib dilakukan untuk memantau fungsi ginjal dan kandung kemih penderita secara berkala.

Kesimpulan

Spina bifida adalah tantangan medis kompleks yang memerlukan koordinasi berbagai disiplin ilmu kedokteran untuk penanganannya. Meskipun kondisi ini dapat menyebabkan disabilitas fisik permanen, kemajuan dalam bedah janin dan terapi rehabilitatif memberikan harapan bagi pasien untuk hidup lebih mandiri. Upaya pencegahan melalui suplemen asam folat tetap menjadi standar emas dalam menurunkan angka kejadian kasus ini secara global. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.