Step: Pahami Kejang Demam pada Anak

DAFTAR ISI
- Rekomendasi Obat Penurun Panas untuk Anak
- Penanganan Pertama Saat Anak Step
- Studi Mengenai Kejang Demam pada Anak
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Melihat anak tiba-tiba mengalami kejang saat sedang demam tinggi tentu menjadi momen yang sangat menakutkan bagi setiap orang tua. Kondisi ini sering kali dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan sebutan “step”. Secara medis, step adalah kejang demam (febrile seizure), yaitu bangkitan kejang yang terjadi pada anak akibat lonjakan suhu tubuh yang drastis, biasanya di atas 38 derajat Celsius, dan bukan disebabkan oleh infeksi pada otak (seperti meningitis) atau gangguan metabolik.
Kejang demam umumnya dialami oleh anak-anak yang berada pada rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun, di mana sistem saraf pusat mereka masih dalam tahap perkembangan dan sangat sensitif terhadap perubahan suhu tubuh. Saat anak mengalami infeksi ringan seperti radang tenggorokan, flu, atau infeksi telinga, sistem imun tubuh akan merespons dengan meningkatkan suhu tubuh. Lonjakan suhu yang terjadi secara tiba-tiba inilah yang memicu aktivitas listrik abnormal di otak anak, sehingga terjadilah kejang.
Meskipun terlihat sangat mengkhawatirkan, penting bagi kamu untuk mengetahui bahwa sebagian besar kejang demam bersifat jinak (tidak berbahaya), tidak merusak otak, dan tidak memengaruhi kecerdasan anak di masa depan. Kunci utamanya adalah orang tua tidak boleh panik. Menguasai langkah demi langkah penanganan pertama di rumah dan mengetahui cara mengelola demam anak adalah pertolongan terbaik yang bisa kamu berikan.
Untuk membantu mengontrol suhu tubuh anak sebelum atau sesudah kejang (ketika anak sudah sadar penuh), kamu bisa memanfaatkan obat penurun panas yang aman. Nah, mau tahu apa saja pilihan rekomendasi obat penurun panas untuk anak yang bisa dijadikan stok di kotak P3K rumah? Berikut ulasannya!
Rekomendasi Obat Penurun Panas untuk Anak
Mengelola demam adalah langkah esensial untuk memberikan kenyamanan pada anak yang sedang sakit. Obat penurun panas (antipiretik) bekerja dengan cara memengaruhi pusat pengatur suhu di otak (hipotalamus) agar suhu tubuh kembali normal. Berikut adalah beberapa rekomendasi produk yang efektif, aman untuk penggunaan mandiri, dan mudah didapatkan:
1. Sanmol Sirup 60 ml
Sanmol Sirup adalah obat penurun panas dan pereda nyeri (analgesik-antipiretik) yang sangat populer dan dipercaya oleh banyak orang tua di Indonesia. Obat ini mengandung bahan aktif Paracetamol sebanyak 120 mg dalam setiap 5 ml sirup. Paracetamol bekerja secara sentral dengan menghambat pembentukan prostaglandin di sistem saraf pusat, yang secara efektif meredakan rasa sakit dan menurunkan suhu tubuh saat demam.
Manfaat spesifik dari Sanmol Sirup adalah untuk menurunkan demam yang menyertai infeksi seperti flu, batuk, atau setelah imunisasi, serta meredakan nyeri ringan hingga sedang seperti sakit kepala dan sakit gigi pada anak. Obat ini aman di lambung jika digunakan sesuai dosis.
Dosis dan aturan pakai:
- Anak usia 0-1 tahun: 2.5 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
- Anak usia 1-2 tahun: 5 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
- Anak usia 2-6 tahun: 5-10 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
- Anak usia 6-9 tahun: 10-15 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
Peringatan: Hindari penggunaan jangka panjang dan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal berat.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Sanmol Sirup 60 ml di Toko Kesehatan Halodoc
2. Tempra Drops 15 ml
Untuk bayi dan anak di bawah usia 2 tahun, sediaan obat dalam bentuk drops (tetes) seringkali lebih mudah dan presisi untuk diberikan. Tempra Drops mengandung Paracetamol 80 mg dalam setiap 0.8 ml. Bentuk sediaan tetes ini dilengkapi dengan pipet takar khusus sehingga memudahkan orang tua memberikan dosis yang sangat akurat untuk bayi.
Cara kerja Tempra Drops sama dengan paracetamol pada umumnya, yaitu mengurangi produksi prostaglandin di otak sehingga ambang rasa sakit meningkat dan demam dapat diturunkan. Obat ini sangat bermanfaat untuk mengatasi demam pasca imunisasi, tumbuh gigi, atau demam akibat infeksi virus ringan.
Dosis dan aturan pakai:
- Bayi usia 3-9 bulan: 0.8 ml, diberikan 3-4 kali sehari (atau sesuai petunjuk dokter).
- Bayi usia 10-24 bulan: 1.2 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
Peringatan: Jangan melebihi dosis yang dianjurkan. Hubungi dokter jika demam tidak kunjung turun setelah 2 hari penggunaan.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Tempra Drops 15 ml di Toko Kesehatan Halodoc
Do’s and Don’ts: Penanganan Pertama Saat Anak Step (Kejang Demam)
- DO: Baringkan anak di tempat yang datar, aman, dan luas. Jauhkan dari benda-benda keras atau tajam.
- DO: Miringkan posisi tubuh anak ke salah satu sisi agar air liur atau muntah dapat keluar dan tidak menyumbat jalan napas.
- DO: Longgarkan pakaian anak, terutama di area leher, agar ia bisa bernapas dengan lebih lega.
- DON’T: Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut anak (seperti sendok, jari, atau kain) dengan alasan mencegah lidah tergigit. Ini justru berisiko menyumbat jalan napas dan merusak gigi.
- DON’T: Jangan menahan atau mengekang gerakan tubuh anak saat kejang berlangsung. Biarkan kejang berhenti dengan sendirinya.
- DON’T: Jangan memberikan obat penurun panas (sirup/tablet) atau minuman apa pun saat anak sedang kejang karena berisiko tersedak. Tunggu hingga anak benar-benar sadar.
3. Proris Suspensi 60 ml
Proris Suspensi merupakan obat penurun panas dan pereda nyeri yang mengandung Ibuprofen sebanyak 100 mg per 5 ml. Ibuprofen termasuk dalam golongan Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS). Cara kerjanya adalah dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) secara non-selektif, sehingga menurunkan sintesis prostaglandin yang menjadi pemicu peradangan, nyeri, dan demam.
Keunggulan dari Ibuprofen adalah kemampuannya yang tidak hanya menurunkan demam, tetapi juga meredakan reaksi peradangan yang mungkin mendasari infeksi (seperti radang tenggorokan hebat). Proris Suspensi sangat bermanfaat jika demam anak tidak berespons baik dengan paracetamol, atau jika anak mengalami nyeri yang cukup mengganggu.
Dosis dan aturan pakai (diberikan setelah makan):
- Anak usia 1-2 tahun: 2.5 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
- Anak usia 3-7 tahun: 5 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
- Anak usia 8-12 tahun: 10 ml, diberikan 3-4 kali sehari.
Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan. Sebaiknya tidak diberikan pada anak dengan riwayat alergi NSAID, asma berat, atau yang dicurigai menderita demam berdarah (karena risiko perdarahan).
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Proris Suspensi 60 ml di Toko Kesehatan Halodoc
4. Bye Bye Fever Anak 1 Lembar
Selain obat minum, terapi fisik juga memegang peranan penting dalam menurunkan demam anak dan mencegah step. Bye Bye Fever Anak adalah alat kesehatan berupa plester kompres demam berbahan dasar hidrogel. Hidrogel ini mengandung air yang akan menyerap panas dari tubuh dan menguapkannya secara perlahan melalui permukaan plester.
Manfaat dari produk ini adalah memberikan efek dingin seketika dan menenangkan anak yang sedang rewel karena demam. Efek pendinginan dari satu lembar plester bisa bertahan hingga 10 jam. Penggunaan kompres ini sangat disarankan sebagai pendamping obat oral untuk mempercepat proses penurunan suhu tubuh.
Aturan pakai:
- Buka lapisan pelindung transparan dari plester.
- Tempelkan permukaan hidrogel yang lengket pada dahi, leher, atau ketiak anak.
- Dapat dipotong menggunakan gunting sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
- Hanya untuk penggunaan luar (jangan ditempel pada mata atau kulit yang terluka).
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Bye Bye Fever Anak 1 Lembar di Toko Kesehatan Halodoc
Penanganan Lanjutan dan Kapan Harus ke Dokter
Memahami perbedaan antara kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks sangat penting untuk menilai tingkat kegawatdaruratan medis. Kejang demam sederhana biasanya berlangsung kurang dari 15 menit, terjadi di seluruh tubuh (kelojotan umum), dan tidak berulang dalam waktu 24 jam. Sementara itu, kejang demam kompleks berlangsung lebih dari 15 menit, hanya terjadi pada satu sisi tubuh, atau berulang beberapa kali dalam satu hari.
1. Catat Durasi dan Karakteristik Kejang
Saat anak mengalami step, pastikan kamu selalu melihat jam dan mencatat berapa lama kejang tersebut berlangsung. Observasi juga bentuk kejangnya, apakah tangannya saja yang kaku, atau seluruh tubuh. Informasi ini sangat krusial dan akan sangat membantu dokter spesialis anak dalam menentukan diagnosis yang akurat setelahnya.
2. Bawa ke IGD jika Terdapat Tanda Bahaya
Jika ini adalah kejang demam pertama anak, sangat penting untuk tahu kapan harus ke dokter guna mendapatkan penanganan medis dan menyingkirkan kemungkinan infeksi serius seperti ensefalitis atau meningitis. Kamu harus segera membawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, anak tampak kebiruan pada bibir atau wajah, anak mengalami kesulitan bernapas, atau jika anak tetap tidak sadar dan lemas setelah kejang berhenti.
Studi Mengenai Kejang Demam pada Anak
Pediatrics Journal menerbitkan studi komprehensif yang mengkaji dampak jangka panjang dari kejang demam sederhana terhadap perkembangan neurologis anak. Studi tersebut menjelaskan bahwa anak yang memiliki riwayat kejang demam sederhana tidak memiliki risiko penurunan IQ, kesulitan belajar, maupun kerusakan otak permanen dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami kejang demam.
Temuan ini memberikan kelegaan bagi para orang tua bahwa secara medis, kejang demam sederhana memiliki prognosis yang sangat baik. Meskipun risiko epilepsi di masa depan sedikit lebih tinggi dibandingkan populasi umum (sekitar 1-2%), sebagian besar anak akan tumbuh sehat dan “sembuh” dari risiko kejang demam saat mereka melewati usia 5 atau 6 tahun, seiring dengan semakin matangnya sistem saraf pusat mereka.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Kondisi medis anak yang mendadak sakit di rumah memang butuh penanganan yang cepat dan responsif. Kamu juga bisa beli obat penurun panas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc tanpa perlu repot keluar rumah, apalagi meninggalkan anak yang sedang sakit.
Selain itu, jangan pernah ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc. Penanganan dan diagnosis yang tepat dari ahli medis adalah investasi terbaik untuk masa depan kesehatan anak.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Febrile seizure – Symptoms and causes.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Kejang Demam Pada Anak.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Diakses pada 2024. Febrile Seizures Fact Sheet.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Penanganan Kejang Demam di Rumah.
FAQ
1. Apakah anak yang pernah step pasti akan mengalami epilepsi?
Tidak. Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam sederhana tidak akan berkembang menjadi epilepsi. Risiko epilepsi hanya meningkat sedikit pada anak dengan riwayat kejang demam kompleks atau riwayat keluarga dengan epilepsi.
2. Bisakah kejang demam dicegah dengan minum paracetamol terus-menerus?
Minum obat penurun panas secara terus-menerus tidak terbukti efektif mencegah terjadinya kejang demam, karena kejang dipicu oleh peningkatan suhu yang mendadak, bukan sekadar suhu yang tinggi. Obat penurun panas diberikan murni untuk memberikan kenyamanan dan meredakan gejala penyerta pada anak.
3. Mengapa tidak boleh memasukkan sendok ke mulut anak saat kejang?
Memasukkan benda keras seperti sendok ke dalam mulut anak yang sedang kejang sangat berbahaya karena dapat mematahkan gigi anak, melukai gusi, dan paling fatal adalah menyumbat jalan napas yang bisa menyebabkan asfiksia (gagal napas).
4. Sampai umur berapa anak rentan terkena kejang demam?
Kejang demam paling umum terjadi pada rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun, dengan puncaknya terjadi antara usia 12 hingga 18 bulan. Seiring bertambahnya usia dan matangnya sistem saraf, risiko terjadinya kejang demam akan menurun drastis dan menghilang dengan sendirinya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



