Terapi Oksigen: Bantu Bernapas Lega, Organ Sehat

DAFTAR ISI
- Kondisi Medis yang Membutuhkan Terapi Oksigen
- Jenis-jenis Alat Terapi Oksigen
- Metode Pemberian Terapi Oksigen
- Panduan Aman Melakukan Terapi Oksigen di Rumah
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Setiap sel di dalam tubuh manusia membutuhkan oksigen untuk dapat berfungsi dengan baik dan bertahan hidup. Dalam kondisi normal, paru-paru akan menyerap oksigen dari udara yang kamu hirup dan memindahkannya ke dalam aliran darah untuk didistribusikan ke seluruh tubuh. Namun, ada kalanya tubuh mengalami gangguan kesehatan yang membuat paru-paru tidak dapat menyerap oksigen dalam jumlah yang cukup.
Kondisi di mana kadar oksigen dalam darah berada di bawah batas normal dikenal dengan istilah hipoksemia. Jika dibiarkan, hipoksemia dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal. Oleh karena itu, penanganan medis yang cepat dan tepat sangat diperlukan. Salah satu intervensi medis utama untuk mengatasi kondisi ini adalah melalui terapi oksigen.
Terapi oksigen merupakan perawatan medis yang memberikan tambahan oksigen murni atau dengan konsentrasi tinggi kepada pasien untuk dihirup. Terapi ini bisa dilakukan di rumah sakit maupun di rumah, tergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien dan durasi terapi yang diresepkan oleh dokter. Penggunaan terapi ini bertujuan untuk mengembalikan kadar saturasi oksigen dalam darah kembali ke angka normal (umumnya di atas 95 persen).
Nah, ingin tahu lebih dalam mengenai manfaat, metode, hingga panduan aman melakukan terapi oksigen? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Kondisi Medis yang Membutuhkan Terapi Oksigen
Tidak semua gangguan pernapasan secara otomatis membutuhkan terapi oksigen. Terapi ini diberikan melalui resep dokter setelah pasien menjalani pemeriksaan medis, seperti tes oksimetri nadi (pulse oximetry) atau analisis gas darah arteri (AGD). Berikut adalah beberapa kondisi medis yang umumnya membutuhkan intervensi terapi oksigen:
1. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau PPOK adalah peradangan pada paru-paru yang berkembang dalam jangka panjang. Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dan ke paru-paru, sehingga penderitanya kerap mengalami kesulitan bernapas, batuk berdahak kronis, dan mengi. Pasien PPOK sering kali membutuhkan terapi oksigen jangka panjang (LTOT – Long Term Oxygen Therapy) di rumah untuk membantu memperpanjang angka harapan hidup dan meningkatkan kualitas aktivitas sehari-hari.
2. Pneumonia dan Infeksi Saluran Pernapasan Berat
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan peradangan pada kantung udara (alveolus) di salah satu atau kedua paru-paru. Alveolus bisa berisi cairan atau nanah, yang membuat oksigen sulit menembus masuk ke dalam aliran darah. Pada kasus pneumonia berat, peradangan jaringan paru akan menyebabkan sesak napas yang tak kunjung membaik. Pada fase ini, pemberian oksigen tambahan di rumah sakit sangat krusial untuk mencegah kegagalan organ.
3. Asma Bronkial Akut
Asma adalah penyakit kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran napas. Pada serangan asma yang parah (eksaserbasi asma akut), jalan napas menyempit secara drastis sehingga pasokan oksigen yang masuk ke paru-paru berkurang drastis. Terapi oksigen diberikan di unit gawat darurat bersamaan dengan pemberian obat bronkodilator untuk membuka kembali jalan napas.
4. Sleep Apnea
Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur yang membuat pernapasan seseorang berhenti secara berulang-ulang saat tertidur. Kondisi ini membuat kadar oksigen darah menurun drastis di malam hari. Meski penanganan utamanya adalah menggunakan mesin CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), dokter terkadang juga mengombinasikannya dengan aliran oksigen tambahan jika mesin CPAP saja tidak cukup untuk menjaga saturasi oksigen.
5. Gagal Jantung (Heart Failure)
Gagal jantung adalah kondisi ketika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya. Karena sirkulasi darah yang buruk, oksigen tidak terdistribusi dengan baik ke jaringan tubuh. Selain itu, penderita gagal jantung sering mengalami penumpukan cairan di paru-paru (edema paru) yang menghambat pertukaran gas. Terapi oksigen diberikan untuk meringankan kerja jantung dan paru-paru.
Gejala Tubuh Kekurangan Oksigen (Hipoksemia)
- Sesak napas, napas menjadi cepat dan dangkal.
- Jantung berdebar lebih cepat (takikardia).
- Warna kulit, bibir, atau kuku membiru (sianosis).
- Merasa sangat kelelahan, kebingungan mental, atau pusing.
- Gelisah tanpa sebab yang jelas dan kesulitan berkonsentrasi.
Jenis-jenis Alat Terapi Oksigen
Sistem pengiriman oksigen tersedia dalam beberapa jenis. Pilihan alat tergantung pada seberapa banyak oksigen yang dibutuhkan, mobilitas pasien, dan rekomendasi dokter. Jika kamu sedang menjalani rawat jalan dan membutuhkan peralatan medis ke rumah, kamu bisa membeli alat kesehatan dan kebutuhan medis pendukung dengan mudah dan praktis secara online.
1. Tabung Oksigen Gas Bertekanan (Compressed Gas)
Ini adalah jenis penyimpanan oksigen yang paling umum dan tradisional. Oksigen murni dikompresi di bawah tekanan tinggi ke dalam tabung baja atau aluminium. Tabung ini tersedia dalam berbagai ukuran, dari tabung besar untuk penggunaan statis di rumah, hingga tabung kecil portabel yang bisa dibawa bepergian. Karena berisi gas di bawah tekanan, tabung ini harus ditangani dengan sangat hati-hati dan diletakkan dalam posisi berdiri atau terikat erat agar tidak terjatuh.
2. Konsentrator Oksigen (Oxygen Concentrator)
Berbeda dengan tabung, konsentrator oksigen adalah mesin bertenaga listrik yang mengambil udara dari ruangan sekitarnya, menyaring nitrogen dan kotoran, lalu memurnikannya menjadi oksigen medis (konsentrasi sekitar 90-95 persen) untuk dihirup oleh pasien. Mesin ini sangat efisien untuk terapi jangka panjang di rumah karena tidak perlu diisi ulang secara terus-menerus. Namun, mesin ini membutuhkan sumber listrik konstan. Ada juga varian Portable Oxygen Concentrator (POC) yang lebih kecil dan dilengkapi dengan baterai.
3. Oksigen Cair (Liquid Oxygen)
Oksigen cair adalah bentuk oksigen yang telah didinginkan hingga suhu yang sangat ekstrem sehingga berubah menjadi cairan. Keuntungannya adalah tabung oksigen cair dapat menampung oksigen dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan gas bertekanan dengan ukuran wadah yang sama. Oksigen jenis ini sangat ideal bagi pasien yang aktif dan sering bepergian karena wadah portabelnya dapat diisi ulang dari tabung besar di rumah. Namun, oksigen cair dapat menguap seiring waktu jika tidak digunakan.
Metode Pemberian Terapi Oksigen
Selain sumber oksigennya, cara oksigen tersebut dihantarkan ke saluran pernapasan pasien juga bervariasi. Dokter akan menentukan metode penghantaran berdasarkan debit (liter per menit) oksigen yang dibutuhkan pasien.
1. Kanul Hidung (Nasal Cannula)
Ini adalah alat yang paling sering dijumpai. Terdiri dari selang plastik transparan berukuran kecil dengan dua cabang pendek yang dimasukkan ke dalam lubang hidung. Nasal kanul digunakan untuk pasien yang hanya membutuhkan laju aliran oksigen rendah hingga sedang (biasanya 1 hingga 6 liter per menit). Alat ini sangat nyaman karena pasien masih dapat berbicara, makan, dan minum secara normal saat menggunakannya.
2. Masker Wajah Sederhana (Simple Face Mask)
Masker wajah sederhana menutupi area hidung dan mulut secara keseluruhan. Alat ini digunakan jika pasien membutuhkan laju aliran oksigen yang lebih tinggi dari yang dapat diberikan oleh nasal kanul (biasanya antara 6 hingga 10 liter per menit). Masker ini memiliki lubang-lubang kecil di bagian samping yang memungkinkan karbon dioksida keluar saat mengembuskan napas.
3. Non-Rebreather Mask (NRM)
NRM adalah masker wajah yang dilengkapi dengan kantung reservoir (kantung penampung) oksigen di bagian bawahnya. Masker ini dirancang untuk memberikan oksigen konsentrasi tinggi (hingga 90-100 persen). NRM memiliki katup satu arah yang mencegah udara luar masuk saat menghirup napas dan mencegah udara yang diembuskan kembali ke kantung penampung. Masker ini umumnya digunakan dalam situasi darurat atau pada pasien dengan hipoksemia berat.
Panduan Aman Melakukan Terapi Oksigen di Rumah
Meskipun oksigen itu sendiri tidak mudah terbakar, oksigen murni bersifat menyokong dan mempercepat pembakaran. Artinya, api akan menyala jauh lebih besar dan lebih cepat di lingkungan yang kaya oksigen. Oleh karena itu, keselamatan adalah prioritas utama saat melakukan terapi di rumah.
1. Jauhkan dari Sumber Api dan Panas
Jauhkan peralatan oksigen setidaknya 2 hingga 3 meter dari sumber api terbuka, seperti kompor gas, lilin, perapian, atau pemanas ruangan. Jangan pernah merokok atau membiarkan orang lain merokok di ruangan yang sama dengan pasien yang sedang menggunakan terapi oksigen.
2. Hindari Produk Berbahan Dasar Minyak
Jangan menggunakan petroleum jelly (seperti Vaseline), losion berbahan dasar minyak, atau aerosol di wajah atau dada pasien saat menggunakan oksigen. Produk berbahan dasar minyak dapat bereaksi secara spontan dengan oksigen murni dan memicu percikan api. Gunakan pelembap berbahan dasar air (water-based) untuk mengatasi kulit atau hidung yang kering.
3. Patuhi Resep Dokter
Oksigen adalah obat keras. Jangan pernah menaikkan atau menurunkan dosis (laju aliran atau liter per menit) tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Memberikan terlalu banyak oksigen (hiperoksia) bisa sama berbahayanya dengan kekurangan oksigen, karena dapat menyebabkan keracunan oksigen, kerusakan sel paru, atau depresi pernapasan pada pasien PPOK.
4. Perawatan Peralatan
Ganti selang dan kanul hidung secara rutin sesuai rekomendasi pabrik atau petunjuk dokter untuk mencegah risiko infeksi saluran pernapasan. Jika menggunakan humidifier (pelembap tabung), pastikan hanya menggunakan air matang steril (air destilasi) dan bersihkan tabungnya setiap hari untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.
Studi Terkait
World Health Organization (WHO) dan berbagai jurnal pneumologi menyoroti pentingnya terapi oksigen sebagai pengobatan penopang hidup esensial. Dalam pedoman klinis untuk penanganan penyakit saluran pernapasan kronis dan akut, ditegaskan bahwa pemberian terapi oksigen yang dipantau dengan baik secara signifikan dapat menurunkan angka kematian dini pada pasien dengan PPOK stadium lanjut yang mengalami hipoksemia kronis.
Studi observasional jangka panjang juga membuktikan bahwa pasien yang mematuhi jadwal terapi oksigen lebih dari 15 jam per hari mengalami perbaikan signifikan dalam tekanan arteri pulmonalis, mencegah risiko gagal jantung kanan (kor pulmonale), dan menunjukkan peningkatan kualitas fungsi kognitif karena otak mendapatkan suplai oksigen yang memadai secara konsisten.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Oxygen therapy.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Oxygen Therapy: What It Is, Types & Side Effects.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Oxygen.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). Diakses pada 2024. Oxygen Therapy.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pedoman Terapi Oksigen pada Kasus Respirasi.
FAQ
1. Berapa kadar saturasi oksigen yang normal?
Kadar saturasi oksigen (SpO2) normal pada individu yang sehat biasanya berada di kisaran 95 persen hingga 100 persen. Jika kadar saturasi berada di bawah 90 persen, hal ini dikategorikan sebagai rendah (hipoksemia) dan memerlukan evaluasi serta intervensi medis segera, salah satunya dengan pemberian oksigen.
2. Apakah terapi oksigen menyebabkan efek samping?
Penggunaan oksigen umumnya aman jika dilakukan sesuai anjuran dokter. Namun, penggunaan jangka panjang bisa menyebabkan efek samping ringan seperti hidung kering, iritasi pada area di sekitar selang wajah, dan mimisan. Pada kasus di mana oksigen diberikan terlalu banyak (dosis tinggi tidak terkontrol), risiko efek samping serius seperti keracunan oksigen (oxygen toxicity) dapat terjadi.
3. Bolehkah saya membeli tabung oksigen untuk stok di rumah tanpa resep?
Meskipun alatnya bisa dibeli, oksigen murni secara medis diklasifikasikan sebagai obat. Laju alirannya (berapa liter per menit) dan seberapa lama oksigen harus dihirup harus berdasarkan resep medis dari dokter, karena kebutuhan setiap pasien sangat spesifik bergantung pada kondisi kesehatannya.
4. Berapa lama seseorang harus menjalani terapi oksigen?
Durasi terapi oksigen sangat bergantung pada penyebab dasarnya. Jika digunakan untuk mengatasi infeksi akut seperti pneumonia, pasien mungkin hanya membutuhkannya selama beberapa hari hingga sembuh. Namun, untuk kondisi paru kronis yang tidak bisa disembuhkan secara total seperti PPOK atau fibrosis paru, terapi oksigen mungkin harus digunakan dalam jangka panjang, bahkan seumur hidup (biasanya minimal 15 jam sehari).



