Ad Placeholder Image

Pahami Tunarungu: Gangguan Pendengaran dan Artinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Mei 2026

Tunarungu: Penjelasan Singkat Gangguan Pendengaran

Pahami Tunarungu: Gangguan Pendengaran dan ArtinyaPahami Tunarungu: Gangguan Pendengaran dan Artinya

Tunarungu merupakan kondisi gangguan pendengaran yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menerima suara. Kondisi ini bervariasi dari ringan hingga berat, serta dapat terjadi sejak lahir atau berkembang di kemudian hari. Memahami tunarungu penting untuk mendukung komunikasi efektif dan penanganan yang tepat.

Apa yang Dimaksud Tunarungu?

Tunarungu adalah istilah yang merujuk pada kondisi seseorang yang mengalami gangguan pendengaran, baik secara parsial atau total. Gangguan ini dapat terjadi sejak seseorang dilahirkan (kongenital) atau berkembang setelah lahir (akuista). Dampak utamanya adalah kesulitan dalam menerima dan memproses informasi suara, yang sering kali juga memengaruhi kemampuan berbicara.

Meskipun istilah “tunarungu” sering digunakan dalam konteks formal atau medis, ada pula istilah “Tuli” yang lebih merujuk pada identitas budaya komunitas Tuli. Tingkat keparahan tunarungu bervariasi, mulai dari kurang dengar (ringan) hingga tuli total (berat). Kondisi ini secara signifikan memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan berinteraksi sosial, sehingga memerlukan adaptasi seperti penggunaan bahasa isyarat atau membaca gerak bibir.

Penyebab Tunarungu: Faktor Bawaan dan Akuisita

Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dikelompokkan menjadi penyebab bawaan (sejak lahir) dan setelah lahir.

  • Penyebab Bawaan (Kongenital)

    Ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tunarungu terjadi sejak seseorang dilahirkan atau berkembang selama masa kehamilan. Beberapa di antaranya meliputi:

    • Mutasi Genetik: Perubahan pada gen yang bertanggung jawab untuk perkembangan pendengaran.
    • Faktor Keturunan: Adanya riwayat tunarungu dalam keluarga.
    • Penyakit Ibu Saat Hamil: Infeksi tertentu yang dialami ibu selama kehamilan, seperti rubella, toksoplasmosis, atau infeksi sitomegalovirus (CMV).
  • Penyebab Setelah Lahir (Akuisita)

    Kondisi tunarungu yang berkembang setelah seseorang dilahirkan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

    • Paparan Suara Keras Jangka Panjang: Sering terpapar suara dengan intensitas tinggi, seperti di lingkungan kerja bising atau penggunaan headphone dengan volume sangat tinggi.
    • Cedera: Trauma pada kepala atau telinga yang merusak struktur pendengaran.
    • Penyakit Tertentu: Infeksi telinga kronis, meningitis (radang selaput otak), campak, gondongan, atau efek samping obat ototoksik tertentu yang dapat merusak koklea.
    • Faktor Usia: Penurunan fungsi pendengaran alami seiring bertambahnya usia, dikenal sebagai presbikusis.

Karakteristik Umum dan Dampak Tunarungu

Seseorang dengan tunarungu dapat menunjukkan beberapa karakteristik yang membedakan. Kesulitan dalam mendengar percakapan, terutama di lingkungan yang bising, adalah ciri umum. Sering meminta orang lain mengulang perkataan juga menjadi indikasi.

Dampak tunarungu sangat beragam, mulai dari tantangan dalam komunikasi verbal hingga kesulitan dalam pembelajaran dan interaksi sosial. Pada anak-anak, tunarungu dapat memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa secara signifikan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan metode komunikasi yang sesuai, seperti bahasa isyarat atau membaca gerak bibir, untuk memfasilitasi interaksi.

Metode Komunikasi Khusus bagi Tunarungu

Untuk mendukung komunikasi yang efektif dengan individu tunarungu, beberapa metode khusus dapat diterapkan.

  • Bahasa Isyarat: Sistem komunikasi visual menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan posisi tubuh.
  • Membaca Gerak Bibir: Kemampuan untuk memahami ucapan dengan mengamati gerakan bibir dan ekspresi wajah pembicara.
  • Komunikasi Tertulis: Penggunaan tulisan, baik secara manual maupun digital, sebagai sarana komunikasi.
  • Alat Bantu Dengar dan Implan Koklea: Alat bantu dengar memperkuat suara yang masuk ke telinga, sementara implan koklea adalah perangkat elektronik yang membantu individu dengan tuli berat untuk merasakan suara.

Pencegahan Gangguan Pendengaran

Meskipun tidak semua jenis tunarungu dapat dicegah, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengurangi risiko.

  • Melindungi Telinga: Hindari paparan suara keras yang berlebihan dan gunakan pelindung telinga di lingkungan bising.
  • Vaksinasi: Pastikan imunisasi lengkap, terutama untuk penyakit seperti campak, gondongan, dan rubella yang dapat menyebabkan tunarungu.
  • Pemeriksaan Rutin: Lakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala, terutama untuk bayi baru lahir dan individu dengan riwayat keluarga tunarungu.
  • Penanganan Infeksi: Segera obati infeksi telinga atau penyakit lain yang berpotensi merusak pendengaran.

Jika ada kekhawatiran terkait gangguan pendengaran, disarankan untuk mencari evaluasi medis profesional. Deteksi dini dan intervensi yang tepat dapat membuat perbedaan signifikan dalam kualitas hidup individu tunarungu. Kunjungan ke dokter spesialis THT melalui Halodoc dapat menjadi langkah awal yang baik untuk diagnosis dan penanganan yang akurat.