Pasteurisasi: Proses, Tujuan, & Contoh Produknya

DAFTAR ISI
- Apa itu Proses Pasteurisasi?
- Tujuan Utama Pasteurisasi
- Metode-Metode Pasteurisasi
- Produk Hasil Pasteurisasi
- Perbedaan Pasteurisasi dan Sterilisasi
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu memperhatikan label pada kemasan susu atau jus yang kamu beli di supermarket? Sering kali terdapat tulisan “dipasteurisasi” atau “pasteurized”. Bagi banyak orang, istilah ini mungkin terdengar teknis, namun bagi keamanan pangan, proses pasteurisasi adalah salah satu penemuan paling krusial dalam sejarah kesehatan masyarakat modern. Tanpa proses ini, risiko kita terkena infeksi bakteri berbahaya dari makanan dan minuman akan meningkat drastis.
Secara medis, konsumsi produk mentah yang tidak diolah dengan benar dapat memicu berbagai gangguan pencernaan serius, mulai dari diare hingga infeksi bakteri sistemik. Sebagai apoteker, saya sering menemui pasien yang mengeluhkan gejala keracunan makanan akibat mengonsumsi susu mentah atau produk yang tidak melalui kontrol suhu yang tepat. Oleh karena itu, memahami apa itu proses pasteurisasi bukan hanya soal pengetahuan pangan, tapi juga soal menjaga keselamatan diri dan keluarga.
Dalam artikel ini, kita akan membedah secara mendalam mengenai mekanisme pasteurisasi, berbagai metodenya, hingga mengapa produk yang dipasteurisasi jauh lebih aman dikonsumsi dibandingkan produk mentah. Jika kamu mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tertentu, sangat disarankan untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.
Nah, mau tahu lebih lanjut mengenai proses yang menjaga keamanan asupan harianmu ini? Berikut ulasannya!
Apa itu Proses Pasteurisasi?
Proses pasteurisasi adalah teknik pemanasan makanan atau minuman cair pada suhu tertentu dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan membunuh mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) seperti bakteri, virus, protozoa, kapang, dan khamir. Teknik ini dinamai sesuai dengan penemunya, seorang ilmuwan asal Prancis bernama Louis Pasteur, yang pertama kali mendemonstrasikan bahwa pemanasan singkat dapat mencegah kerusakan pada minuman seperti anggur dan bir pada tahun 1864.
Berbeda dengan proses pendidihan yang ekstrem, pasteurisasi tidak bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme yang ada (sterilisasi total). Fokus utamanya adalah mereduksi jumlah mikroba berbahaya hingga ke level yang aman bagi manusia tanpa merusak struktur kimia, rasa, atau nilai gizi produk tersebut secara signifikan. Hal ini sangat penting, terutama pada susu, di mana protein dan vitamin sensitif terhadap panas berlebih.
Tujuan Utama Pasteurisasi
Implementasi proses pasteurisasi dalam industri pangan memiliki beberapa tujuan fundamental yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat:
1. Menghancurkan Bakteri Patogen
Susu mentah secara alami dapat mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Listeria monocytogenes, Campylobacter, dan Mycobacterium tuberculosis. Pasteurisasi efektif melenyapkan bakteri-bakteri ini, sehingga mencegah penyakit bawaan makanan (foodborne diseases).
2. Memperpanjang Masa Simpan
Selain membunuh patogen, pasteurisasi juga menonaktifkan enzim tertentu dan mengurangi jumlah bakteri pembusuk. Hal ini membuat produk seperti susu tetap segar lebih lama saat disimpan di dalam lemari es dibandingkan susu mentah yang bisa basi dalam hitungan jam.
3. Menjaga Kualitas Nutrisi
Karena menggunakan suhu yang terkontrol dan tidak mencapai titik didih dalam waktu lama, sebagian besar nutrisi penting dalam susu, seperti kalsium dan protein, tetap terjaga dengan baik. Meskipun ada sedikit penurunan vitamin C atau B, nilainya dianggap tidak signifikan dibandingkan manfaat keamanan yang didapat.
Bakteri yang Sering Menyerang Produk Non-Pasteurisasi
- Listeria: Sangat berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan keguguran.
- Salmonella: Pemicu utama tipes dan diare parah.
- E. coli: Dapat menyebabkan gagal ginjal pada anak-anak (HUS).
Metode-Metode Pasteurisasi
Dalam industri modern, terdapat beberapa metode pasteurisasi yang digunakan tergantung pada jenis produk dan daya tahan yang diinginkan:
1. High Temperature Short Time (HTST)
Ini adalah metode yang paling umum digunakan untuk susu komersial. Produk dipanaskan hingga suhu sekitar 72°C selama minimal 15 detik, kemudian segera didinginkan. Metode ini efektif membunuh patogen sambil mempertahankan rasa segar susu.
2. Low Temperature Long Time (LTLT)
Sering disebut sebagai metode “Batch”. Produk dipanaskan pada suhu yang lebih rendah, yaitu sekitar 63°C, namun dalam waktu yang lebih lama, yakni 30 menit. Metode ini biasanya digunakan dalam skala industri kecil atau pembuatan keju.
3. Ultra-High Temperature (UHT)
Meskipun sering dianggap berbeda, UHT sebenarnya adalah bentuk pasteurisasi yang sangat ekstrem. Susu dipanaskan hingga 135-150°C selama hanya 1-2 detik. Hasilnya adalah susu yang hampir steril dan bisa bertahan hingga 6-9 bulan dalam kemasan aseptik tanpa pendinginan sebelum dibuka.
Produk Hasil Pasteurisasi
Selain susu sapi, banyak produk lain yang wajib atau sering melalui proses pasteurisasi untuk menjamin keamanannya:
- Susu dan Olahannya: Termasuk susu kambing, krim, dan mentega.
- Telur Cair: Untuk menghindari risiko Salmonella pada produk mayones atau eggnog.
- Jus Buah: Terutama jus apel dan jeruk kemasan untuk mencegah fermentasi liar dan bakteri.
- Madu: Untuk mencegah kristalisasi dan membunuh khamir, meskipun madu mentah juga populer di kalangan tertentu.
- Cuka Apel: Sebagian besar cuka komersial dipasteurisasi untuk menghentikan proses fermentasi lebih lanjut.
Perbedaan Pasteurisasi dan Sterilisasi
Banyak orang keliru menganggap keduanya sama. Perbedaan utamanya terletak pada intensitas panas dan hasil akhirnya. Sterilisasi menggunakan suhu di atas 100°C untuk membunuh seluruh mikroorganisme, termasuk spora bakteri yang sangat tahan panas. Dampaknya, rasa makanan bisa berubah secara signifikan (rasa “gosong” atau teroksidasi) dan beberapa vitamin hilang.
Pasteurisasi lebih “lembut”. Sasarannya hanya mikroba yang sensitif terhadap panas dan patogen utama. Produk pasteurisasi (kecuali UHT) masih mengandung beberapa bakteri non-patogen yang bisa berkembang biak jika tidak disimpan di suhu dingin (refrigerasi).
Studi Mengenai Keamanan Pangan
Journal of Food Protection menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa risiko penyakit akibat mengonsumsi susu mentah hampir 150 kali lebih tinggi dibandingkan dengan susu yang telah melalui proses pasteurisasi. Studi ini menekankan bahwa klaim kesehatan mengenai susu mentah sering kali tidak sebanding dengan risiko infeksi yang ditimbulkannya.
Penelitian lain dalam Frontiers in Microbiology menunjukkan bahwa pasteurisasi HTST secara konsisten mampu mereduksi populasi Listeria monocytogenes hingga lebih dari 5 log (99,999%), yang merupakan standar emas keamanan pangan di banyak negara maju.
Jika kamu merasa kurang enak badan atau mengalami gejala pencernaan setelah mencoba produk susu tertentu, jangan tunda untuk mencari bantuan medis. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk meringankan gejala ringan atau berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.
Punya Keluhan Kesehatan Setelah Mengonsumsi Makanan? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu merasa mual, perut kembung, atau diare setelah mengonsumsi produk susu tertentu tapi bingung apakah ini gejala serius? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2026. Raw Milk Questions and Answers.
Food and Drug Administration (FDA). Diakses pada 2026. The Dangers of Raw Milk: Unpasteurized Milk Can Pose a Serious Health Risk.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Food Safety: Key Facts.
International Dairy Foods Association. Diakses pada 2026. Pasteurization: Definition and Methods.
FAQ
1. Apakah susu pasteurisasi boleh langsung diminum?
Ya, susu pasteurisasi sangat aman untuk langsung diminum karena proses pemanasannya sudah membunuh bakteri patogen berbahaya. Pastikan kamu membelinya dari sumber terpercaya dan kemasannya masih dalam keadaan baik.
2. Apakah pasteurisasi menghilangkan nutrisi dalam susu?
Pasteurisasi hanya sedikit mengurangi kadar vitamin yang sensitif panas seperti vitamin C dan B12, namun jumlahnya sangat minimal. Protein, kalsium, dan mineral utama lainnya tetap utuh dan bermanfaat bagi tubuh.
3. Berapa lama susu pasteurisasi tahan di kulkas?
Umumnya, susu pasteurisasi (HTST) tahan sekitar 7 hingga 14 hari di dalam lemari es sebelum dibuka. Namun, selalu periksa tanggal kedaluwarsa pada kemasan dan segera habiskan dalam 3-5 hari setelah dibuka.
4. Apa bedanya susu pasteurisasi dengan susu UHT?
Perbedaan utamanya terletak pada suhu pemanasan. Susu pasteurisasi menggunakan suhu rendah dan harus disimpan di kulkas, sedangkan susu UHT menggunakan suhu sangat tinggi dan bisa disimpan di suhu ruang sebelum kemasannya dibuka.



