Ad Placeholder Image

Pemasangan Kateter Pria: Efek Samping, Gejala, Cara Atasi

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   06 Mei 2026

Pria, Ketahui Efek Samping Kateter Biar Tetap Nyaman

Pemasangan Kateter Pria: Efek Samping, Gejala, Cara AtasiPemasangan Kateter Pria: Efek Samping, Gejala, Cara Atasi

Mengenal Efek Samping Pemasangan Kateter pada Pria dan Cara Mengelolanya

Pemasangan kateter urine merupakan prosedur medis umum yang membantu pasien yang kesulitan buang air kecil. Meskipun penting, tindakan ini dapat menimbulkan beberapa efek samping pada pria, terutama jika digunakan dalam jangka panjang. Efek samping yang umum termasuk infeksi saluran kemih (ISK), nyeri, kejang kandung kemih, cedera uretra, hingga darah dalam urine. Mengenali efek samping ini dan mengetahui cara pencegahannya sangat penting untuk memastikan kenyamanan dan kesehatan pasien.

Apa Itu Kateterisasi Urine pada Pria?

Kateterisasi urine adalah prosedur medis untuk memasukkan selang tipis dan fleksibel yang disebut kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra. Tujuannya adalah untuk mengalirkan urine dari tubuh. Prosedur ini sering diperlukan untuk kondisi seperti retensi urine, setelah operasi, atau untuk pemantauan output urine pada pasien kritis.

Kateter dapat bersifat sementara atau jangka panjang, tergantung pada kebutuhan medis pasien. Penggunaannya membantu mengosongkan kandung kemih ketika seseorang tidak dapat melakukannya secara alami.

Efek Samping Pemasangan Kateter pada Pria yang Perlu Diperhatikan

Meskipun kateter urine memberikan banyak manfaat, terdapat beberapa efek samping yang dapat terjadi pada pria. Pemahaman mengenai efek ini membantu dalam deteksi dini dan pengelolaan yang tepat.

Infeksi Saluran Kemih (ISK)

ISK adalah salah satu efek samping paling umum dari pemasangan kateter. Bakteri dapat masuk ke saluran kemih melalui kateter dan menyebabkan infeksi. Gejala ISK meliputi demam, menggigil, nyeri saat buang air kecil, urine keruh atau berbau menyengat, serta nyeri pada perut bagian bawah.

Nyeri dan Ketidaknyamanan

Pemasangan dan keberadaan kateter dalam uretra dapat menyebabkan rasa nyeri atau tidak nyaman. Hal ini bisa terjadi di area penis, uretra, atau kandung kemih. Rasa tidak nyaman ini seringkali bersifat ringan, namun bisa bertambah parah jika terjadi iritasi atau peradangan.

Kejang Kandung Kemih (Spasme)

Kandung kemih dapat mengalami kejang atau spasme sebagai respons terhadap adanya benda asing seperti kateter. Kejang ini terasa seperti kram yang menyakitkan di perut bagian bawah. Spasme dapat menyebabkan rasa ingin buang air kecil yang kuat dan tiba-tiba, meskipun kateter sudah terpasang.

Cedera atau Trauma pada Uretra

Proses pemasangan atau pergerakan kateter yang tidak tepat dapat menyebabkan cedera pada uretra. Cedera ini bisa berupa abrasi, robekan kecil, atau penyempitan uretra (striktur) jika terjadi berulang kali. Perdarahan atau rasa sakit yang hebat saat pemasangan bisa menjadi tanda cedera.

Darah dalam Urine (Hematuria)

Kehadiran kateter di saluran kemih dapat menyebabkan sedikit perdarahan yang mengakibatkan urine berwarna merah muda atau merah. Hematuria ringan umumnya tidak berbahaya dan seringkali disebabkan oleh iritasi pada dinding uretra atau kandung kemih. Namun, perdarahan hebat memerlukan evaluasi medis.

Rasa Ingin Terus Buang Air Kecil (BAK)

Adanya kateter seringkali memicu sensasi ingin buang air kecil terus-menerus, meskipun urine sudah dialirkan. Sensasi ini disebabkan oleh iritasi pada kandung kemih yang menginterpretasikan keberadaan kateter sebagai kebutuhan untuk berkemih. Kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan pasien sehari-hari.

Pencegahan dan Pengelolaan Efek Samping Pemasangan Kateter pada Pria

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengurangi risiko dan mengelola efek samping yang timbul dari pemasangan kateter:

  • Menjaga Kebersihan Area Kateter: Membersihkan area sekitar kateter secara rutin dengan sabun dan air dapat mencegah masuknya bakteri. Hal ini merupakan kunci utama dalam pencegahan ISK.
  • Pergantian Kateter Secara Teratur: Mengganti kateter sesuai jadwal yang direkomendasikan dokter sangat penting. Kateter yang terlalu lama terpasang meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi lainnya.
  • Pastikan Cairan Adekuat: Memastikan asupan cairan yang cukup membantu menjaga aliran urine lancar. Aliran urine yang baik dapat membantu membilas bakteri dari saluran kemih.
  • Fiksasi Kateter dengan Benar: Memastikan kateter terpasang dengan stabil mencegah gerakan berlebihan yang dapat menyebabkan iritasi atau cedera pada uretra.
  • Hindari Tarikan pada Kateter: Tarikan yang tidak disengaja pada kateter harus dihindari karena dapat menyebabkan nyeri, cedera, atau bahkan lepasnya kateter.

Kapan Harus Konsultasi Medis?

Penting untuk segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang menunjukkan komplikasi serius terkait pemasangan kateter. Konsultasi dokter diperlukan jika timbul demam, urine menjadi keruh atau berbau menyengat, terdapat darah dalam urine dalam jumlah banyak, atau terjadi nyeri hebat yang tidak mereda. Jangan menunda penanganan untuk mencegah kondisi memburuk.

Kesimpulan

Pemasangan kateter pada pria adalah prosedur yang bermanfaat, namun berpotensi menimbulkan berbagai efek samping. Memahami risiko seperti ISK, nyeri, spasme kandung kemih, cedera uretra, hematuria, dan rasa ingin buang air kecil terus-menerus adalah langkah awal dalam pengelolaan yang efektif. Dengan menjaga kebersihan, mengganti kateter secara teratur, dan segera berkonsultasi dengan profesional medis saat timbul gejala, pasien dapat meminimalkan komplikasi dan menjaga kualitas hidup. Jika terdapat kekhawatiran atau pertanyaan lebih lanjut mengenai penggunaan kateter, disarankan untuk mencari informasi dan saran dari tenaga medis terpercaya.