
Penyakit Latah, Kebiasaan atau Sekedar Cari Perhatian?
“Latah ditandai dengan pengulangan kata-kata atau gerakan yang dilakukan orang lain. Kondisi ini dikenal dengan sebutan echopraxia dan dibedakan berdasarkan empat jenis dengan karakter yang berbeda.”

DAFTAR ISI
- Apa Itu Latah?
- Gejala dan Jenis-Jenis Latah
- Penyebab Latah dari Sudut Pandang Medis
- Perbedaan Latah dan Sindrom Tourette
- Cara Mengatasi Latah yang Mengganggu
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu melihat seseorang yang tiba-tiba menirukan ucapan orang lain atau melakukan gerakan spontan saat dikagetkan? Di Indonesia, fenomena ini sangat akrab kita kenal dengan istilah latah. Bagi sebagian orang, latah mungkin dianggap sebagai bahan hiburan atau sekadar keunikan perilaku. Namun, dari kacamata medis dan psikologis, latah adalah kondisi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan lucu.
Latah dikategorikan sebagai culture-bound syndrome atau sindrom terkait budaya yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Kondisi ini melibatkan reaksi kaget yang berlebihan (hyperstartle response) yang diikuti oleh perilaku tidak sadar. Meskipun sering kali memicu tawa, bagi pengidapnya, latah bisa menjadi pengalaman yang melelahkan, memalukan, bahkan membahayakan jika terjadi di situasi yang tidak tepat.
Penting untuk memahami bahwa latah bukanlah sesuatu yang dibuat-buat untuk mencari perhatian. Ada mekanisme saraf dan psikologis yang bekerja di baliknya. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala yang mengganggu produktivitas, ada baiknya untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai fenomena latah, mulai dari penyebabnya menurut sains, jenis-jenis reaksinya, hingga cara mengelolanya agar tidak mengganggu kualitas hidup kamu sehari-hari.
Apa Itu Latah?
Secara ilmiah, latah adalah kondisi reaksi kejutan yang ekstrem yang menyebabkan seseorang kehilangan kontrol sesaat atas ucapan atau tindakannya. Ketika seseorang yang memiliki kecenderungan latah dikejutkan (baik oleh suara keras, sentuhan tiba-tiba, atau gertakan), otak mereka merespons dengan cara yang tidak biasa dibandingkan orang pada umumnya.
Fenomena ini pertama kali didokumentasikan secara luas oleh peneliti Barat pada abad ke-19 di wilayah Melayu. Namun, hingga kini, latah tetap menjadi subjek penelitian yang menarik karena keunikan distribusinya yang dominan di wilayah geografis tertentu. Meskipun ada kondisi serupa di budaya lain—seperti Jumping Frenchmen of Maine di Amerika Utara atau Miryachit di Siberia—istilah latah tetap menjadi yang paling populer dalam literatur psikiatri budaya.
Gejala dan Jenis-Jenis Latah
Latah tidak hanya sekadar berkata “ayam” atau “copot” saat kaget. Secara klinis, gejala latah dapat dibagi menjadi beberapa kategori perilaku utama:
1. Ekolalia (Echolalia)
Pengidap akan mengulangi kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh orang yang mengejutkannya secara spontan dan tanpa sadar. Misalnya, jika seseorang berteriak “Awas!”, pengidap latah akan ikut berteriak “Awas!” berulang kali.
2. Ekopraksia (Echopraxia)
Kondisi ini terjadi ketika pengidap menirukan gerakan fisik orang di sekitarnya. Jika orang di depannya mengangkat tangan, pengidap latah secara otomatis akan ikut mengangkat tangan dengan gerakan yang hampir identik, seolah-olah mereka adalah cermin.
3. Koprolalia (Coprolalia)
Ini adalah jenis latah yang paling sering dianggap mengganggu secara sosial. Pengidap akan mengucapkan kata-kata kotor, tabu, atau kasar secara refleks saat mereka terkejut. Penting untuk dipahami bahwa mereka tidak berniat menghina atau berkata kasar; itu murni reaksi otomatis saraf.
4. Kepatuhan Otomatis (Automatic Obedience)
Dalam beberapa kasus yang cukup ekstrem, pengidap latah akan melakukan perintah apa pun yang diberikan secara mendadak saat mereka sedang dalam kondisi kaget. Misalnya, jika seseorang berteriak “Lompat!”, mereka mungkin akan benar-benar melompat tanpa berpikir panjang, yang tentu saja bisa sangat membahayakan keselamatan diri sendiri.
Faktor Pemicu Gejala Latah
- Suara keras yang tiba-tiba (klakson, barang jatuh, teriakan).
- Sentuhan fisik mendadak (tepukan di bahu atau tusukan di pinggang).
- Gertakan atau perintah yang diteriakkan dengan nada tinggi.
Penyebab Latah dari Sudut Pandang Medis
Hingga saat ini, belum ada penyebab tunggal yang pasti mengapa seseorang bisa menjadi latah. Namun, para ahli melihatnya dari kombinasi beberapa faktor berikut:
1. Faktor Psikologis dan Trauma
Banyak teori menyebutkan bahwa latah merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri terhadap kecemasan atau trauma masa lalu. Seseorang dengan tingkat kecemasan yang tinggi cenderung memiliki ambang batas kejutan yang lebih rendah, sehingga lebih mudah memicu reaksi latah.
2. Faktor Budaya dan Lingkungan
Karena latah sering ditemukan di kelompok masyarakat tertentu, ada unsur “belajar sosial” yang terlibat. Di Indonesia, latah terkadang dianggap sebagai sesuatu yang bisa menular atau dipelajari secara tidak sadar melalui interaksi sosial yang intens dengan pengidap latah lainnya.
3. Gangguan pada Sistem Saraf
Beberapa peneliti berpendapat adanya gangguan pada jalur penghambatan (inhibitory pathways) di otak. Pada orang normal, otak mampu menekan reaksi kejutan dalam hitungan milidetik. Pada pengidap latah, sistem penghambat ini mungkin tidak bekerja seefisien biasanya, sehingga reaksi kaget langsung diterjemahkan menjadi aksi motorik atau verbal.
Perbedaan Latah dan Sindrom Tourette
Banyak orang sering menyamakan latah dengan sindrom Tourette. Padahal, keduanya adalah kondisi yang berbeda secara fundamental. Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan “tic” (gerakan atau ucapan berulang) yang muncul secara spontan tanpa harus dipicu oleh rasa kaget. Sebaliknya, latah adalah reaksi yang hampir selalu membutuhkan pemicu (trigger) berupa kejutan dari luar.
Meskipun berbeda, keduanya sama-sama membutuhkan pemahaman dari lingkungan sekitar agar pengidapnya tidak merasa terasingkan. Jika kamu membutuhkan suplemen untuk mendukung kesehatan saraf atau kebugaran tubuh secara umum, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan mudah.
Cara Mengatasi Latah yang Mengganggu
Apakah latah bisa disembuhkan? Sebenarnya, latah tidak dianggap sebagai penyakit mematikan, namun bisa dikelola. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil:
1. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
Terapi ini membantu pengidap untuk mengenali pemicu latah mereka dan melatih otak untuk memberikan respons yang berbeda saat merasa kaget. Tujuannya adalah meningkatkan kontrol diri atas reaksi otomatis.
2. Relaksasi dan Manajemen Stres
Karena stres dapat memperburuk gejala, teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau latihan pernapasan dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan umum, sehingga reaksi kaget tidak terlalu ekstrem.
3. Edukasi Lingkungan
Ini adalah bagian terpenting. Lingkungan (keluarga dan teman) harus berhenti sengaja mengejutkan atau “menggoda” pengidap latah hanya untuk hiburan. Semakin sering seseorang dipicu latahnya, semakin kuat jalur saraf tersebut terbentuk, dan semakin sulit latah tersebut dihilangkan.
Punya Keluhan Kesehatan atau Kebiasaan yang Mengganggu? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan atau kebiasaan seperti latah yang mulai mengganggu aktivitas, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Studi Mengenai Fenomena Latah
The Journal of Nervous and Mental Disease menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa latah merupakan fenomena disosiatif di mana kesadaran seseorang terbelah sesaat akibat rangsangan kejut yang hebat. Studi ini menekankan pentingnya pendekatan bio-psiko-sosial dalam memahami kondisi ini.
Penelitian lain dalam lingkup antropologi medis menunjukkan bahwa latah sering kali memiliki fungsi sosial tersendiri di komunitas pedesaan tertentu, namun seiring modernisasi, kondisi ini lebih dipandang sebagai gangguan kecemasan yang memerlukan perhatian klinis.
Latah mungkin terlihat sepele, namun bagi mereka yang mengalaminya, kontrol atas diri sendiri adalah hal yang sangat berharga. Jika latah disertai dengan gejala lain seperti tremor, gangguan tidur, atau kecemasan berlebih, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional medis.
Kamu bisa mendapatkan berbagai kebutuhan kesehatan melalui Toko Kesehatan Halodoc secara praktis. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.
Referensi:
Simons, R. C. (2026). Boo!: Culture, Experience, and the Startle Reflex. Diakses pada 2026.
American Psychiatric Association. (2026). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Diakses pada 2026.
Winzeler, R. L. (2026). Latah in Southeast Asia: The History and Ethnography of a Culture-bound Syndrome. Diakses pada 2026.
World Health Organization (WHO). (2026). International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11). Diakses pada 2026.
FAQ
1. Apakah latah adalah penyakit keturunan?
Latah tidak secara langsung bersifat genetik atau keturunan melalui DNA. Namun, karena adanya faktor lingkungan dan pembelajaran sosial, seseorang bisa tumbuh menjadi latah jika mereka sering melihat atau berinteraksi dengan anggota keluarga yang latah.
2. Apakah latah berbahaya bagi kesehatan?
Secara fisik, latah tidak merusak organ tubuh. Namun, latah bisa berbahaya jika menyebabkan seseorang melakukan tindakan berisiko saat kaget, seperti menjatuhkan benda tajam, menyeberang jalan sembarangan, atau menyentuh benda panas karena perintah otomatis.
3. Mengapa pengidap latah sering mengucapkan kata kotor?
Fenomena ini disebut koprolalia. Ini terjadi karena saat kaget, kontrol bagian otak depan (prefrontal cortex) yang mengatur perilaku sosial menurun, sehingga kata-kata yang biasanya ditekan atau dianggap tabu keluar secara refleks.
4. Bisakah latah hilang dengan sendirinya?
Latah jarang hilang sepenuhnya tanpa upaya sadar, terutama jika penderitanya terus berada di lingkungan yang sering mengejutkannya. Namun, dengan teknik manajemen stres dan pengurangan pemicu, frekuensi latah bisa sangat berkurang.


