Penyakit Suka Berantakan: Ini Cara Mengatasinya

Mengenal Penyakit Suka Berantakan: Hoarding Disorder dan Gejalanya
Kondisi penyakit suka berantakan yang ekstrem, di mana seseorang kesulitan membuang barang hingga menumpuk parah dan mengganggu fungsi ruangan, dikenal sebagai Hoarding Disorder atau Gangguan Menimbun. Ini merupakan masalah kesehatan mental serius yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Individu dengan Hoarding Disorder merasakan kecemasan yang mendalam ketika dihadapkan pada tindakan membuang barang, bahkan jika barang tersebut tidak memiliki nilai guna. Sebaliknya, mereka merasa aman dan nyaman saat dikelilingi oleh tumpukan barang yang mereka kumpulkan.
Apa Itu Hoarding Disorder?
Hoarding Disorder adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan kesulitan persisten untuk membuang atau berpisah dengan harta benda, terlepas dari nilai sebenarnya. Kesulitan ini berakibat pada penumpukan barang yang berlebihan, memenuhi ruang hidup, dan mengganggu penggunaannya.
Kondisi ini berbeda dari sekadar mengoleksi. Pada Hoarding Disorder, penumpukan terjadi secara acak dan tidak terorganisir, menyebabkan lingkungan menjadi tidak aman dan tidak higienis. Seringkali, Hoarding Disorder memiliki hubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Gejala Hoarding Disorder
Gejala Hoarding Disorder dapat bervariasi, namun ada beberapa tanda kunci yang sering terlihat pada individu dengan kondisi ini. Mengenali gejala-gejala ini penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat.
- Kesulitan ekstrem untuk membuang barang, bahkan benda yang tidak berharga atau rusak.
- Penumpukan barang yang sangat banyak hingga menutupi sebagian besar atau seluruh ruangan, membuatnya tidak bisa berfungsi sesuai tujuan.
- Perasaan cemas, sedih, atau marah saat akan membuang barang-barang.
- Rasa aman atau nyaman saat dikelilingi oleh barang-barang yang ditimbun.
- Kesulitan dalam mengambil keputusan mengenai barang apa yang harus disimpan atau dibuang.
- Menghindari situasi di mana barang-barang mereka mungkin akan dibuang atau diatur oleh orang lain.
- Masalah dalam menjaga kebersihan dan sanitasi karena penumpukan barang yang menghalangi akses ke area pembersihan.
- Isolasi sosial karena malu dengan kondisi rumah atau karena menolak kunjungan orang lain.
Penyebab Penyakit Suka Berantakan
Penyebab pasti Hoarding Disorder belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa faktor diyakini berperan. Faktor genetik dan riwayat keluarga dengan gangguan serupa dapat meningkatkan risiko seseorang.
Peristiwa traumatis atau stres yang signifikan dalam hidup juga bisa menjadi pemicu. Beberapa teori menunjukkan adanya perbedaan pada fungsi otak, terutama di area yang mengatur pengambilan keputusan dan pemrosesan emosi.
Gangguan kesehatan mental lain seperti depresi, kecemasan, atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD) sering kali ditemukan bersamaan dengan Hoarding Disorder.
Pengobatan Hoarding Disorder
Pengobatan Hoarding Disorder umumnya melibatkan kombinasi terapi dan dukungan. Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah pendekatan yang paling sering digunakan.
Dalam CBT, individu diajarkan keterampilan untuk mengatasi keinginan menimbun, mengurangi kecemasan terkait pembuangan barang, dan mengembangkan kebiasaan organisasi yang lebih baik. Terapi ini dapat dibantu dengan kunjungan ke rumah untuk membantu proses pembersihan dan pengaturan.
Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat-obatan, seperti antidepresan jenis SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor), untuk membantu mengelola gejala kecemasan atau depresi yang sering menyertai kondisi ini. Dukungan dari keluarga dan komunitas juga krusial dalam proses pemulihan.
Pencegahan Hoarding Disorder
Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah Hoarding Disorder, beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko atau mengelola gejalanya sejak dini. Penting untuk mencari bantuan profesional jika seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda kesulitan membuang barang secara berlebihan.
Mengembangkan kebiasaan organisasi yang baik sejak kecil dapat membantu. Selain itu, mengelola stres dan mencari dukungan untuk trauma masa lalu juga penting. Edukasi mengenai Hoarding Disorder dan kesadaran akan dampaknya dapat mendorong individu untuk mencari bantuan lebih awal.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika ada individu atau anggota keluarga menunjukkan gejala Hoarding Disorder yang signifikan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Penanganan dini dapat mencegah kondisi memburuk dan meningkatkan kualitas hidup.
Melalui aplikasi Halodoc, seseorang bisa berinteraksi dengan dokter atau psikolog yang ahli dalam menangani gangguan mental. Dapatkan informasi akurat dan rekomendasi penanganan yang sesuai untuk Hoarding Disorder.



