Ternyata Ini Penyebab Kejang Berulang pada Orang Dewasa

DAFTAR ISI
- Memahami Kondisi Kejang pada Orang Dewasa
- Penyebab Kejang pada Orang Dewasa
- Pertolongan Pertama Saat Melihat Orang Kejang
- Kapan Harus Segera ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Kejang sering kali diidentikkan dengan anak-anak yang sedang mengalami demam tinggi. Namun, tahukah kamu bahwa kejang juga bisa terjadi pada orang dewasa yang sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat kejang sama sekali? Kondisi ini tentu sangat mengejutkan dan sering kali memicu kepanikan, baik bagi penderitanya maupun orang-orang di sekitarnya.
Secara medis, kejang terjadi akibat adanya gangguan atau lonjakan aktivitas listrik yang tidak normal di dalam otak. Pada orang dewasa, kejang pertama kali (new-onset seizure) adalah sebuah “lampu merah” atau tanda peringatan dari tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada sistem saraf pusat. Berbeda dengan kejang demam pada anak yang umumnya tidak berbahaya, kejang pada usia dewasa sangat jarang terjadi tanpa adanya penyakit atau kondisi medis yang mendasarinya.
Mengetahui secara pasti apa penyebab di balik lonjakan listrik otak ini sangatlah krusial. Penanganan kejang tidak hanya berfokus pada menghentikan gerakan kelojotan yang terjadi, tetapi juga harus mengobati akar masalahnya agar kerusakan otak permanen dapat dicegah. Oleh karena itu, investigasi medis yang menyeluruh mutlak diperlukan.
Lantas, apa saja sebenarnya faktor medis, gaya hidup, atau penyakit yang bisa memicu terjadinya kondisi ini? Mari kita bahas secara mendalam berbagai penyebab kejang pada orang dewasa beserta cara tepat untuk meresponsnya!
Memahami Kondisi Kejang pada Orang Dewasa
Otak manusia bekerja layaknya sebuah pusat komando super canggih yang mengirimkan dan menerima sinyal listrik melalui miliaran sel saraf (neuron). Sinyal-sinyal ini mengatur segalanya, mulai dari detak jantung, pernapasan, pergerakan otot, hingga pikiran dan memori. Dalam kondisi normal, aktivitas listrik ini berjalan sangat teratur dan seimbang.
Namun, ketika terjadi gangguan pada keseimbangan tersebut, sekelompok neuron dapat melepaskan sinyal listrik secara berlebihan dan bersamaan. “Badai listrik” di otak inilah yang bermanifestasi menjadi kejang. Gejalanya bisa sangat bervariasi, tergantung di bagian otak mana gangguan tersebut terjadi. Ada orang yang mengalami kejang seluruh tubuh (kelojotan hebat dan hilang kesadaran), namun ada juga yang hanya mengalami tatapan kosong, gerakan bibir mengecap, atau otot yang tiba-tiba kaku.
Penting untuk dipahami bahwa mengalami satu kali kejang tidak otomatis membuat seseorang didiagnosis mengidap epilepsi. Seseorang baru dikatakan mengidap epilepsi jika ia mengalami dua kali kejang atau lebih tanpa adanya pemicu langsung (seperti demam atau penurunan gula darah) dengan jeda waktu lebih dari 24 jam di antara kedua kejang tersebut.
Penyebab Kejang pada Orang Dewasa
Berikut adalah berbagai kondisi medis dan faktor pemicu yang paling sering menyebabkan kejang pada individu yang sudah memasuki usia dewasa:
1. Stroke dan Gangguan Pembuluh Darah
Stroke merupakan penyebab paling utama dari kejang yang baru pertama kali terjadi pada orang dewasa, terutama pada mereka yang berusia di atas 60 tahun. Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terputus, baik karena sumbatan (stroke iskemik) maupun pembuluh darah yang pecah (stroke hemoragik).
Kekurangan oksigen akibat stroke menyebabkan sel-sel otak mati dan meninggalkan jaringan parut (gliosis) pada otak. Jaringan parut ini dapat mengganggu aliran listrik normal otak dan bertindak sebagai “fokus epileptogenik”, yakni titik awal di mana sinyal listrik abnormal dipicu. Kejang bisa terjadi segera pada fase akut stroke, atau muncul berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah pasien sembuh dari stroke.
2. Cedera Kepala Berat (Trauma Otak)
Benturan keras pada kepala akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau cedera olahraga ekstrem dapat menyebabkan kerusakan fisik pada struktur otak. Kondisi yang dikenal sebagai Cedera Otak Traumatik (TBI) ini dapat memicu perdarahan dalam tengkorak, memar otak, atau pembengkakan otak.
Sama seperti stroke, cedera kepala berat dapat menyebabkan kejang langsung saat kejadian, maupun menyebabkan kondisi yang disebut Epilepsi Pasca-Trauma (Post-Traumatic Epilepsy) di kemudian hari. Risiko terjadinya kejang akan semakin tinggi jika cedera kepala disertai dengan retaknya tulang tengkorak atau adanya benda asing yang menembus jaringan otak.
3. Tumor Otak
Kehadiran massa atau tumor di dalam otak, baik yang bersifat jinak maupun ganas (kanker), akan mendesak jaringan otak sehat di sekitarnya. Tekanan ini tidak hanya memicu sakit kepala yang hebat dan persisten, tetapi juga mengiritasi sel-sel saraf sehingga memicu aktivitas listrik abnormal.
Kejang sering kali menjadi gejala pertama yang disadari oleh penderita tumor otak. Karakteristik kejang pada kasus ini sering kali bersifat fokal (parsial), artinya hanya memengaruhi satu bagian tubuh tertentu, seperti kedutan pada satu sisi lengan atau wajah, sebelum akhirnya dapat menyebar ke seluruh tubuh.
4. Infeksi Sistem Saraf Pusat
Infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit yang menyerang otak dan selaput pelindungnya sangat rentan memicu kejang. Dua kondisi infeksi yang paling umum adalah meningitis (peradangan pada selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang) serta ensefalitis (peradangan pada jaringan otak itu sendiri).
Patogen yang menyerang akan memicu respons imun yang kuat, menyebabkan pembengkakan, demam tinggi, dan kerusakan jaringan saraf langsung. Infeksi seperti HIV/AIDS tahap lanjut, sifilis neuro, atau infeksi parasit seperti neurosistiserkosis (akibat cacing pita babi) juga merupakan penyebab kejang yang signifikan pada populasi dewasa tertentu.
5. Gangguan Metabolik dan Elektrolit
Otak membutuhkan lingkungan kimiawi yang sangat spesifik untuk dapat berfungsi normal. Perubahan drastis pada kadar zat tertentu dalam darah dapat memicu kejang secara instan. Beberapa kondisi metabolik yang sering memicu kejang meliputi:
- Hipoglikemia: Kadar gula darah yang anjlok drastis, sering terjadi pada pasien diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah namun terlambat makan.
- Hiponatremia: Kadar natrium (garam) dalam darah yang terlalu rendah. Hal ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal, penggunaan obat diuretik, atau dehidrasi parah.
- Hipokalsemia: Kadar kalsium yang rendah, yang sangat berpengaruh pada transmisi sinyal saraf.
- Gagal Ginjal dan Hati: Penumpukan racun (seperti ureum atau amonia) dalam darah karena organ tidak mampu menyaringnya dapat meracuni otak secara langsung.
6. Putus Alkohol dan Efek Obat-obatan
Konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang akan menekan aktivitas sistem saraf. Jika seorang alkoholik tiba-tiba berhenti minum, otaknya akan mengalami “rebound” atau lonjakan aktivitas yang ekstrem. Kondisi putus alkohol parah (Delirium Tremens) dapat menyebabkan kejang yang mengancam nyawa.
Selain itu, penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti kokain, amfetamin, dan metamfetamin juga memicu stimulasi otak berlebihan yang berujung pada kejang. Bahkan, overdosis obat resep tertentu (seperti antidepresan golongan tertentu atau tramadol) juga dapat menurunkan ambang kejang seseorang.
7. Epilepsi yang Baru Muncul di Usia Dewasa
Meskipun sebagian besar epilepsi terdiagnosis di masa kanak-kanak, ada juga jenis epilepsi yang baru bermanifestasi (muncul) ketika seseorang berada di usia 20-an, 30-an, atau bahkan lebih tua. Kondisi ini sering kali bersifat idiopatik atau kriptogenik, yang berarti meskipun telah dilakukan pemindaian otak modern (seperti MRI atau CT Scan), dokter tidak dapat menemukan penyebab struktural yang pasti.
Tanda Peringatan (Aura) Sebelum Kejang Terjadi
Sebagian orang dewasa yang sering mengalami kejang biasanya merasakan sensasi aneh sebelum kejang benar-benar terjadi. Fase ini disebut sebagai “Aura”. Mengenali aura dapat membantu penderita mencari posisi aman sebelum kehilangan kesadaran. Beberapa tanda aura meliputi:
- Mencium bau aneh yang sebenarnya tidak ada (seperti bau karet terbakar).
- Merasakan deja vu yang sangat intens atau rasa takut tiba-tiba (panic attack).
- Melihat kilatan cahaya, garis zig-zag, atau gangguan visual lainnya.
- Kesemutan atau mati rasa pada satu sisi bagian tubuh yang merambat perlahan.
- Sensasi aneh yang naik dari perut ke tenggorokan.
Pertolongan Pertama Saat Melihat Orang Kejang
Melihat orang dewasa kejang secara mendadak memang menakutkan, namun panik tidak akan membantu. Sebagai penolong, fokus utama kamu adalah mencegah penderita mengalami cedera tambahan. Berikut adalah panduan medis pertolongan pertama yang benar:
- Amankan Area: Jauhkan benda keras, tajam, atau berbahaya (seperti meja kaca atau benda panas) dari sekitar penderita.
- Baringkan ke Samping: Miringkan tubuh penderita ke salah satu sisi (kiri atau kanan). Posisi ini menjaga jalan napas tetap terbuka dan mencegah tersedak jika penderita muntah atau mengeluarkan banyak air liur.
- Alasi Kepala: Letakkan bantal, jaket lipat, atau benda empuk lainnya di bawah kepala penderita agar kepalanya tidak terbentur lantai berulang kali.
- JANGAN Masukkan Apapun ke Dalam Mulut: Ini adalah mitos yang sangat berbahaya. Jangan memasukkan sendok, jari, atau kain ke dalam mulut penderita yang sedang kejang. Hal ini justru bisa menyebabkan gigi patah, menyumbat jalan napas, atau membuat jari kamu tergigit kuat.
- JANGAN Tahan Gerakannya: Jangan memeluk atau menahan tubuh penderita dengan paksa. Biarkan kejang berlangsung, menahan tubuh hanya akan menyebabkan otot sobek atau tulang patah.
- Perhatikan Waktu: Catat atau ingat jam berapa kejang dimulai dan berapa lama berlangsung. Informasi ini sangat vital bagi dokter nantinya.
Karena penyebab kejang pada orang dewasa sering kali terkait dengan masalah neurologis yang kompleks, sangat disarankan untuk tidak menunda pencarian bantuan medis. Untuk mengetahui diagnosis pastinya dan merencanakan pemeriksaan lebih lanjut seperti EEG (Elektroensefalogram), kamu bisa konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia kapan saja.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Jika kejang yang dialami memenuhi salah satu dari kriteria di bawah ini, segera hubungi ambulans atau bawa penderita ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat:
- Ini adalah kali pertama orang tersebut mengalami kejang sepanjang hidupnya.
- Kejang berlangsung terus menerus lebih dari 5 menit (kondisi ini disebut Status Epileptikus dan merupakan kegawatdaruratan medis).
- Penderita tidak kunjung sadar atau kesulitan bernapas normal setelah kejang berhenti.
- Terjadi kejang kedua secara berturut-turut sebelum penderita sepenuhnya sadar dari kejang pertama.
- Kejang terjadi di dalam air, pada wanita yang sedang hamil, atau penderita memiliki riwayat penyakit diabetes dan jantung.
Penanganan kejang umumnya membutuhkan obat anti-epilepsi (OAE) yang diresepkan oleh dokter saraf (neurolog). Obat ini masuk dalam golongan obat keras dan wajib diawasi penggunaannya. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat dan resep dari dokter saraf, kamu bisa langsung beli obat online di Halodoc agar perawatan tidak terputus dan kualitas obat terjamin asli.
Studi Mengenai Penyebab Kejang pada Dewasa
Epilepsy Research menerbitkan sebuah tinjauan yang menggarisbawahi bahwa etiologi atau penyebab kejang onset dewasa sangat bergantung pada kelompok usia.
Studi tersebut menemukan bahwa pada populasi dewasa muda (usia 20-30 tahun), penyebab terbanyak adalah cedera kepala, infeksi sistem saraf pusat, dan konsumsi alkohol berlebih. Sementara itu, pada orang dewasa lanjut usia (di atas 60 tahun), stroke iskemik maupun hemoragik menjadi penyumbang terbesar sebagai pemicu kejang, diikuti oleh penyakit neurodegeneratif dan tumor otak. Hal ini membuktikan pentingnya skrining riwayat penyakit vaskular bagi pasien lansia yang tiba-tiba mengalami kejang tanpa sebab yang jelas.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Seizures – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Seizures: Causes, Symptoms & Treatment.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Epilepsy.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Diakses pada 2024. The Epilepsies and Seizures: Hope Through Research.
Epilepsy Foundation. Diakses pada 2024. Seizure First Aid.
FAQ
1. Apakah stres pikiran bisa menjadi penyebab kejang pada orang dewasa?
Stres berat secara emosional dan psikologis jarang menjadi penyebab utama kejang pertama kali pada individu yang sehat. Namun, pada orang yang sudah mengidap epilepsi, stres ekstrem, kelelahan parah, dan kurang tidur merupakan faktor pemicu utama yang bisa menurunkan ambang batas otak, sehingga memicu kambuhnya kejang.
2. Apakah kejang pada orang dewasa bisa disembuhkan total?
Hal ini sangat bergantung pada penyebab dasarnya. Jika kejang disebabkan oleh gangguan elektrolit, putus alkohol, atau infeksi yang dapat disembuhkan, maka kejang tidak akan kembali setelah kondisi primernya teratasi. Namun, jika disebabkan oleh stroke, tumor, atau cedera kepala permanen, kondisi ini mungkin berkembang menjadi epilepsi yang membutuhkan kontrol obat-obatan jangka panjang.
3. Mengapa tidak boleh memasukkan sendok ke mulut orang yang sedang kejang?
Memasukkan sendok, jari, atau benda keras lainnya ke dalam mulut saat kejang sangat berbahaya. Kekuatan rahang saat kejang sangat kuat, sehingga benda tersebut dapat mematahkan gigi, merobek gusi, atau tergelincir ke tenggorokan dan menyumbat jalan napas. Penderita kejang tidak akan menelan lidahnya sendiri; cukup baringkan mereka dalam posisi miring untuk menjaga jalan napas tetap aman.
4. Dokter spesialis apa yang harus dikunjungi untuk masalah kejang?
Jika kamu atau kerabat dewasa mengalami kejang untuk pertama kalinya, dokter yang paling tepat untuk dituju adalah Dokter Spesialis Saraf (Neurolog). Mereka akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik dan merujuk tes penunjang seperti tes darah lengkap, CT Scan atau MRI otak, serta Elektroensefalogram (EEG) untuk mendeteksi gelombang listrik tidak normal di dalam otak.



