Ketuban Keruh: Penyebab, Ciri & Cara Mengatasinya

Ketuban keruh saat kehamilan bisa menjadi sumber kekhawatiran bagi ibu hamil. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan pada cairan ketuban yang normalnya jernih. Lantas, apa sebenarnya penyebab ketuban keruh dan bagaimana cara menanganinya? Simak informasi lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Ketuban Keruh?
Cairan ketuban adalah cairan yang mengelilingi dan melindungi bayi selama dalam kandungan. Normalnya, cairan ini berwarna jernih atau sedikit kekuningan. Ketuban keruh adalah kondisi ketika cairan ketuban kehilangan kejernihannya dan tampak keruh, berwarna kehijauan, kecoklatan, atau bahkan kekuningan.
Penyebab Ketuban Keruh
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan ketuban menjadi keruh, antara lain:
Mekonium
Mekonium adalah tinja pertama bayi. Jika bayi mengalami stres dalam kandungan (misalnya, kekurangan oksigen), mereka dapat mengeluarkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Hal ini akan membuat ketuban tampak keruh dan berwarna kehijauan atau kecoklatan.
Infeksi (Korioamnionitis)
Korioamnionitis adalah infeksi pada selaput ketuban. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh bakteri yang naik dari vagina atau anus ke dalam kantong ketuban. Selain ketuban keruh, gejala lain dari korioamnionitis meliputi demam, denyut jantung janin yang cepat, nyeri pada rahim, dan keputihan yang tidak normal.
Kehamilan Lewat Waktu (Postterm)
Kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu (kehamilan postterm) dapat meningkatkan risiko bayi mengeluarkan mekonium ke dalam cairan ketuban.
Dehidrasi Ibu
Ibu hamil yang kurang minum air putih dapat mengalami dehidrasi. Kondisi ini dapat membuat cairan ketuban menjadi lebih pekat dan tampak keruh.
Anemia Hemolitik pada Bayi
Anemia hemolitik adalah kondisi ketika sel darah merah bayi dihancurkan lebih cepat dari biasanya. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam darah, yang dapat membuat ketuban tampak keruh dan berwarna kuning.
Vernix Caseosa
Vernix caseosa adalah lapisan lilin putih yang melindungi kulit bayi dalam kandungan. Menjelang akhir kehamilan, vernix caseosa dapat terlepas dan bercampur dengan cairan ketuban, membuatnya tampak keruh. Kondisi ini umumnya normal.
Gejala Ketuban Keruh
Gejala utama ketuban keruh adalah perubahan warna dan kejernihan cairan ketuban. Warna ketuban bisa menjadi hijau, coklat, kuning, atau keruh seperti air cucian beras. Pada beberapa kasus, ketuban keruh juga dapat disertai dengan bau tidak sedap, terutama jika disebabkan oleh infeksi.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Ketuban Keruh?
Jika mengalami ketuban keruh, terutama jika disertai dengan gejala lain seperti demam atau bau tidak sedap, segera konsultasikan dengan dokter atau bidan. Ketuban keruh bisa menjadi tanda adanya masalah serius yang memerlukan penanganan medis segera.
Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti USG dan tes darah, untuk menentukan penyebab ketuban keruh dan kondisi bayi. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter akan menentukan tindakan medis yang sesuai. Tindakan tersebut bisa berupa pemberian antibiotik jika terdapat infeksi, atau percepatan persalinan jika kondisi bayi terancam.
Pencegahan Ketuban Keruh
Meskipun tidak semua penyebab ketuban keruh dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya kondisi ini, antara lain:
- Menjaga kebersihan diri dan pola hidup sehat selama hamil.
- Minum air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
- Hindari aktivitas berat yang berlebihan.
- Rutin melakukan kontrol kehamilan sesuai dengan jadwal yang dianjurkan dokter atau bidan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke dokter kandungan jika mengalami tanda-tanda ketuban pecah, terutama jika air ketuban berwarna keruh, kehijauan, atau kecoklatan, serta berbau tidak sedap. Jangan tunda untuk mencari pertolongan medis karena kondisi ini dapat membahayakan ibu dan bayi.
Ketuban keruh memerlukan penanganan medis yang tepat dan cepat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc jika memiliki pertanyaan atau kekhawatiran terkait kehamilan.



