Ad Placeholder Image

Penyebab Pembengkakan Kelenjar Getah Bening di Belakang Telinga

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Kelenjar getah bening terdapat di seluruh tubuh, termasuk juga di belakang telinga.

Penyebab Pembengkakan Kelenjar Getah Bening di Belakang TelingaPenyebab Pembengkakan Kelenjar Getah Bening di Belakang Telinga

DAFTAR ISI


Menemukan benjolan di leher bawah telinga secara tiba-tiba sering kali memicu rasa cemas dan khawatir. Reaksi ini sangat wajar, mengingat leher merupakan area vital yang menjadi jalur bagi pembuluh darah utama, saraf penting, serta saluran pernapasan dan pencernaan. Namun, sebelum kamu panik, penting untuk diketahui bahwa sebagian besar benjolan yang muncul di area ini bersifat jinak dan merupakan respons alami tubuh terhadap suatu kondisi yang ringan, seperti infeksi.

Benjolan ini bisa bervariasi dalam ukuran, tekstur, dan rasa sakit. Ada yang terasa lunak dan mudah digerakkan saat disentuh, namun ada pula yang terasa keras, kaku, dan menempel kuat pada jaringan di sekitarnya. Perbedaan karakteristik ini sangat krusial karena dapat menjadi petunjuk awal mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuhmu. Dalam banyak kasus, benjolan tersebut hanyalah kelenjar getah bening yang sedang bekerja keras melawan bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh, misalnya saat kamu sedang mengalami radang tenggorokan atau flu.

Meski sebagian besar kasus bukanlah kondisi yang mengancam nyawa, kamu tetap tidak boleh mengabaikannya begitu saja. Mengawasi perkembangan benjolan, memperhatikan gejala lain yang menyertai, serta memahami kapan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan medis adalah langkah perlindungan diri yang utama. Mengabaikan benjolan yang terus membesar atau berubah sifat justru bisa menunda penanganan dari kondisi kesehatan yang mungkin membutuhkan intervensi segera.

Nah, mau tahu apa saja penyebab sebenarnya dari kondisi ini dan bagaimana cara menyikapinya dengan bijak? Berikut ulasan medis lengkap yang perlu kamu pahami!

Memahami Anatomi Leher dan Sekitarnya

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penyebab benjolan, sangat membantu jika kita memahami sedikit tentang anatomi di area leher, khususnya tepat di bawah telinga. Area ini dikenal sebagai regio servikal atas dan regio parotis. Di area ini, terdapat jaringan padat yang terdiri dari otot sternokleidomastoid, pembuluh darah karotis, kelenjar air liur parotis, serta jaringan kelenjar getah bening yang sangat banyak jumlahnya.

Kelenjar getah bening (limfonodi) di area ini berfungsi sebagai pos penjagaan sistem imun. Cairan getah bening yang membawa sel-sel imun dan memilah benda asing dari kepala, kulit kepala, wajah, dan telinga akan melewati kelenjar-kelenjar ini. Ketika ada patogen (virus, bakteri, atau jamur), sel-sel darah putih di dalam kelenjar akan memperbanyak diri dengan cepat untuk melawan infeksi, sehingga kelenjar tersebut membengkak dan teraba sebagai benjolan dari luar kulit.

Penyebab Benjolan di Leher Bawah Telinga

Berdasarkan klasifikasi medis, ada berbagai faktor yang dapat memicu munculnya benjolan di area leher persis di bawah daun telinga. Beberapa di antaranya sangat umum terjadi dan mudah diatasi, sementara yang lain mungkin memerlukan pemeriksaan spesialis secara komprehensif.

1. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening (Limfadenopati)

Ini adalah penyebab paling dominan. Infeksi di sekitar kepala dan leher akan langsung memicu pembengkakan kelenjar di area ini. Penyebab infeksi bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi telinga (otitis media), radang tenggorokan (faringitis), infeksi gigi atau gusi, infeksi sinus (sinusitis), hingga infeksi virus umum seperti influenza atau mononukleosis. Benjolan akibat limfadenopati biasanya terasa lunak, seukuran kacang polong atau kelereng, bisa digerakkan, dan sering kali terasa nyeri jika ditekan.

2. Kista Epidermoid dan Sebasea

Kista adalah kantung tertutup di bawah kulit yang berisi cairan, udara, atau material padat seperti keratin atau sebum (minyak). Kista sebasea terbentuk dari kelenjar minyak yang tersumbat, sedangkan kista epidermoid terbentuk dari sel-sel kulit permukaan yang terperangkap di bawah lapisan kulit. Kista ini umumnya tumbuh lambat, tidak menimbulkan rasa sakit kecuali jika terinfeksi, dan sering kali memiliki titik kecil berwarna gelap di bagian tengahnya.

3. Lipoma

Lipoma adalah tumor jinak yang sepenuhnya terdiri dari jaringan lemak yang tumbuh secara lambat di antara kulit dan lapisan otot. Karakteristik utama lipoma adalah teksturnya yang sangat kenyal dan empuk (seperti adonan), sangat mudah digerakkan ketika disentuh dengan jari, dan hampir selalu tidak menimbulkan rasa sakit. Lipoma bisa muncul di area leher bawah telinga dan umumnya tidak memerlukan penanganan khusus kecuali pertumbuhannya mengganggu saraf di sekitarnya atau demi alasan estetika.

4. Infeksi atau Penyumbatan Kelenjar Air Liur

Tepat di depan dan di bawah telinga terdapat kelenjar parotis, yaitu kelenjar air liur terbesar pada manusia. Kelenjar ini bisa membengkak karena beberapa alasan. Salah satunya adalah infeksi virus mumps (gondongan), yang menyebabkan pembengkakan pada satu atau kedua sisi wajah bawah telinga. Penyebab lainnya adalah batu kelenjar air liur (sialolithiasis) yang menyumbat aliran air liur, memicu penumpukan cairan, pembengkakan, dan rasa sakit yang memburuk terutama saat kamu sedang makan atau melihat makanan yang asam.

5. Mastoiditis

Tulang mastoid adalah bagian dari tulang tengkorak yang menonjol tepat di belakang dan bawah telinga. Jika infeksi telinga tengah (otitis media) tidak ditangani dengan tuntas, bakteri dapat menyebar ke rongga udara di dalam tulang mastoid, menyebabkan kondisi serius yang disebut mastoiditis. Pembengkakan ini biasanya disertai dengan kemerahan kulit, telinga yang terdorong ke depan, demam tinggi, dan keluarnya cairan bernanah dari telinga.

6. Abses Kulit

Benjolan juga bisa berupa abses atau bisul yang merupakan kumpulan nanah di bawah kulit akibat infeksi bakteri akut (biasanya Staphylococcus aureus). Abses umumnya terasa sangat nyeri, berdenyut, kemerahan, teraba hangat, dan kulit di atasnya terlihat mengkilap. Kondisi ini sering kali membutuhkan tindakan medis ringan untuk mengeluarkan nanah.

7. Kondisi Ganas (Kanker dan Tumor)

Meskipun persentasenya sangat kecil dibandingkan penyebab jinak lainnya, benjolan di leher bisa menjadi indikasi adanya sel kanker. Ini bisa berupa limfoma (kanker kelenjar getah bening itu sendiri), leukemia, atau kanker metastasis dari organ lain di kepala dan leher (seperti kanker tiroid, kanker tenggorokan, atau kanker mulut). Karakteristik benjolan yang dicurigai ganas adalah teksturnya sangat keras (seperti batu), tidak bisa digerakkan (terfiksasi pada jaringan sekitar), tidak terasa nyeri sama sekali, dan terus membesar seiring berjalannya waktu.

Waspada! Faktor Risiko Pembesaran Benjolan
  1. Usia di atas 40 tahun: Risiko benjolan terkait kondisi ganas meningkat signifikan pada kelompok usia ini.
  2. Riwayat merokok dan konsumsi alkohol: Faktor risiko utama untuk kanker area kepala dan leher.
  3. Kebersihan gigi yang buruk: Meningkatkan risiko abses gigi yang menyebar ke kelenjar leher.

Gejala Penyerta yang Sering Muncul

Memerhatikan gejala lain yang muncul bersamaan dengan benjolan sangatlah penting untuk membantu mengerucutkan kemungkinan penyebabnya. Beberapa gejala penyerta yang sering dilaporkan antara lain:

  • Nyeri dan kelembutan: Indikasi kuat adanya proses inflamasi atau infeksi aktif.
  • Demam dan kelelahan ekstrim: Menandakan sistem kekebalan tubuh sedang melawan infeksi sistemik yang cukup kuat.
  • Keringat malam hari tanpa sebab: Sering dikaitkan dengan infeksi kronis seperti tuberkulosis (TB kelenjar) atau kondisi limfoma.
  • Penurunan berat badan drastis: Gejala sistemik yang perlu diwaspadai sebagai tanda bahaya (red flag).
  • Sulit menelan (disfagia) atau suara serak: Mengindikasikan benjolan mungkin menekan kerongkongan atau pita suara.
  • Masalah pendengaran: Jika benjolan berkaitan dengan infeksi tulang mastoid atau infeksi telinga.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Benjolan Ini?

Ketika kamu memeriksakan diri, dokter tidak hanya akan melihat benjolannya saja. Mereka akan menelusuri riwayat kesehatanmu secara mendalam. Proses diagnosis biasanya meliputi langkah-langkah berikut:

1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Dokter akan bertanya sejak kapan benjolan muncul, apakah ukurannya berubah, dan menanyakan gejala penyerta. Selanjutnya, dokter akan melakukan palpasi (meraba) benjolan untuk mengevaluasi ukuran, konsistensi (keras/lunak), mobilitas (bisa digerakkan/tidak), dan adanya rasa nyeri.

2. Tes Laboratorium Darah

Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count) akan dilakukan untuk melihat apakah terjadi peningkatan sel darah putih yang menandakan adanya infeksi bakteri atau virus.

3. Pemeriksaan Pencitraan (Imaging)

Jika benjolan terasa mencurigakan atau lokasinya dalam, dokter dapat menyarankan USG leher untuk membedakan apakah benjolan tersebut padat atau berisi cairan (kistik). Dalam kasus yang lebih kompleks, CT Scan atau MRI kepala dan leher mungkin diperlukan untuk melihat perluasan massa ke jaringan sekitarnya.

4. Biopsi (Pengambilan Sampel Jaringan)

Jika dicurigai adanya kondisi keganasan atau infeksi spesifik seperti TB kelenjar, dokter spesialis akan melakukan FNA (Fine Needle Aspiration) atau biopsi eksisi untuk mengambil sampel sel dari benjolan tersebut lalu memeriksanya di bawah mikroskop.

Cara Penanganan Awal di Rumah

Untuk benjolan yang disebabkan oleh infeksi ringan atau kelelahan, ada beberapa langkah perawatan mandiri yang bisa kamu lakukan untuk meringankan ketidaknyamanan, antara lain:

  • Kompres Hangat: Celupkan handuk bersih ke dalam air hangat, peras, dan tempelkan perlahan pada area benjolan selama 15-20 menit beberapa kali sehari. Suhu hangat akan meningkatkan sirkulasi darah lokal dan membantu mengurangi rasa nyeri serta pembengkakan.
  • Istirahat yang Cukup: Tubuh memerlukan energi ekstra untuk mengaktifkan sistem imun dan melawan infeksi. Pastikan kamu tidur minimal 7-8 jam di malam hari.
  • Hidrasi Optimal: Minum air putih minimal 2 liter sehari sangat membantu menjaga sirkulasi cairan getah bening tetap lancar dan membuang racun atau sel-sel mati dari dalam tubuh.
  • Hindari Memencet Benjolan: Jangan pernah mencoba memencet, menusuk, atau memijat benjolan dengan keras. Tindakan ini berisiko memecahkan kapsul benjolan ke dalam, menyebarkan infeksi ke jaringan yang lebih luas, dan menyebabkan iritasi parah.

Jika benjolan disertai dengan rasa nyeri berdenyut atau memicu sakit kepala ringan dan demam, kamu mungkin membutuhkan terapi simptomatik sementara. Untuk meredakan nyeri sementara, kamu bisa mencari obat pereda nyeri. Kamu juga bisa dengan mudah beli obat secara online melalui aplikasi untuk mengatasi gejala penyerta seperti demam atau nyeri tubuh sebelum mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Kapan Harus Segera Mendapat Penanganan Medis?

Membedakan benjolan yang tidak berbahaya dengan benjolan yang membutuhkan intervensi segera adalah kunci keselamatan. Jika kamu mengalami benjolan yang tak kunjung hilang lebih dari dua hingga tiga minggu, apalagi jika disertai demam tinggi atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, jangan menunda lebih lama. Segera lakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat agar kondisi tidak memburuk.

Pertimbangkan juga untuk mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika benjolan tiba-tiba membesar dengan sangat cepat, kemerahan yang meluas ke area dada, atau jika kamu mulai merasakan kesulitan bernapas atau menelan ludah.

Studi Terkait Evaluasi Benjolan Leher

American Family Physician menerbitkan studi komprehensif terkait pendekatan klinis pada massa leher, yang menyimpulkan bahwa evaluasi sistematis sangat penting untuk mencegah misdiagnosis. Studi tersebut menjelaskan bahwa pada pasien dewasa muda (di bawah 40 tahun), 80% kasus benjolan di leher bawah telinga bersifat inflamasi jinak atau bawaan lahir. Namun, sebaliknya, pada pasien berusia di atas 40 tahun yang tidak memiliki gejala infeksi aktif, kemungkinan benjolan tersebut terkait dengan kondisi neoplastik (keganasan) meningkat drastis, sehingga evaluasi biopsi dini sangat direkomendasikan.

Temuan medis ini menegaskan bahwa usia dan riwayat gaya hidup (seperti paparan asap rokok) merupakan variabel yang tidak bisa dilepaskan dari proses observasi kelainan anatomis di area leher.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Swollen Lymph Nodes – Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Neck Mass: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment.
Healthline. Diakses pada 2024. What Causes a Lump Under the Ear?
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Head and Neck Cancer.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Kenali Gejala Pembengkakan Kelenjar Getah Bening.

FAQ

1. Apakah benjolan di leher bawah telinga selalu menandakan adanya kanker?

Tidak. Sebagian besar kasus benjolan di area leher bawah telinga adalah respons jinak tubuh terhadap infeksi bakteri atau virus, seperti pembengkakan kelenjar getah bening atau kista. Kanker adalah penyebab yang jauh lebih jarang, namun tetap perlu dievaluasi jika benjolan keras dan tidak terasa sakit.

2. Berapa lama pembengkakan kelenjar getah bening akan kempes?

Umumnya, kelenjar getah bening yang membengkak karena infeksi ringan seperti radang tenggorokan atau flu akan mengecil dan hilang dengan sendirinya dalam waktu 2 hingga 3 minggu seiring dengan meredanya infeksi utama.

3. Apakah benjolan di leher boleh dipijat agar cepat kempes?

Sangat tidak disarankan. Memijat, menekan, atau memencet benjolan dapat menyebabkan iritasi jaringan, memperparah peradangan, dan berpotensi memecahkan kapsul infeksi yang justru akan menyebarkan bakteri ke jaringan sehat di sekitarnya.

4. Apa perbedaan utama antara lipoma dan kista pada benjolan leher?

Lipoma terbuat dari kumpulan lemak, terasa sangat kenyal dan mudah bergeser di bawah kulit, serta tumbuh lebih dalam. Sedangkan kista adalah kantung berisi cairan atau material kulit mati, letaknya lebih dekat dengan permukaan kulit, kadang memiliki titik hitam di tengahnya, dan bisa memerah jika meradang.