• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perawatan Infeksi COVID-19 Berdasarkan Tingkat Gejalanya

Perawatan Infeksi COVID-19 Berdasarkan Tingkat Gejalanya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Perawatan Infeksi COVID-19 Berdasarkan Tingkat Gejalanya

“Kasus infeksi COVID-19 semakin meningkat dan rumah sakit pun banyak yang penuh. Jika terinfeksi, jangan panik dan memaksakan diri untuk harus isolasi di rumah sakit atau faskes dari pemerintah. Penting untuk mengetahui perawatan COVID-19 sesuai dengan tingkat gejalanya.”

Halodoc, Jakarta – Kasus infeksi COVID-19 di Indonesia kian meningkat jumlahnya. Apalagi setelah banyaknya bermunculan virus corona varian delta. Rumah sakit pun banyak yang penuh, begitu juga tempat isolasi yang disediakan pemerintah. Banyak pasien baru yang tidak bisa mendapatkan fasilitas tersebut. 

Melansir dari Buku Saku Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 2 yang diunggah Kementerian Kesehatan, di tengah situasi peningkatan kasus seperti sekarang, hanya pasien bergejala sedang dan berat yang bisa di rawat di rumah sakit, baik rumah sakit khusus COVID-19, rumah sakit rujukan, ICU maupun HCU. Siapapun perlu mengenali gejala COVID-19, mana yang bisa dirawat di rumah, dan gejala seperti apa yang sebaiknya dirawat di rumah sakit. 

Baca juga: Ini Cara Virus Corona Menyerang Tubuh

Perawatan Infeksi COVID-19 Berdasarkan gejalanya

Sebagian besar kasus COVID-19 bersifat ringan, tapi bukan berarti bebas gejala. Kebanyakan orang yang terinfeksi COVID-19 mengalami demam dan batuk, tapi gejala lainnya bervariasi tergantung tingkat keparahan penyakitnya. 

1. Asimtomatik atau Tanpa Gejala

Infeksi virus corona tanpa gejala bisa terjadi. Bagi pengidap virus corona tanpa gejala yang memiliki saturasi oksigen masih di atas 95 persen, bisa dirawat dengan melakukan isolasi mandiri di rumah atau fasilitas isolasi pemerintah apabila di rumah tidak memungkinkan.

Isolasi bisa dilakukan selama 10 hari sejak pengambilan spesimen yang diagnosisnya positif COVID-19. Selain itu, pengobatan sebaiknya tetap mengikuti anjuran dokter. Kamu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc saat menjalani isolasi mandiri. 

2. Gejala Ringan

Pengidap COVID-19 dengan gejala ringan memiliki berbagai gejala. Misalnya, demam batuk, sakit tenggorokan, malaise, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, diare, kehilangan penciuman. Pengidap tidak mengalami sesak napas, dispnea saat beraktivitas, atau pencitraan abnormal. 

Sebagian besar pengidap bisa menjalani isolasi mandiri disertai pendampingan dokter melalui telemedicine atau kunjungan telepon. Tidak diperlukan pencitraan atau evaluasi laboratorium khusus secara rutin.  Pasien yang lebih tua dengan komorbiditas memiliki risiko perkembangan penyakit yang lebih tinggi. Untuk itu, dokter harus memantau pasien ini dengan cermat sampai pulih secara klinis. 

Baca juga: Terjangkit Virus Corona, Kapan Gejalanya Akan Berakhir?

3. Gejala Sedang

Pengidap COVID-19 dengan gejala sedang biasanya memiliki tanda:

  • Demam.
  • Batuk kering.
  • Kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Anosmia.
  • Ageusia.
  • Nyeri tulang.
  • Nyeri tenggorokan.
  • Nyeri perut.
  • Diare.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Ruam pada kulit.
  • Frekuensi napas 20-30 kali per menit.
  • Saturasi oksigen di bawah 95 persen.

Jika kamu mengalami tanda di atas, maka sebaiknya kunjungi rumah sakit terdekat. Isolasi di rumah sakit selama 10 hari sejak gejala muncul dan 3 hari setelah gejala hilang. 

Sementara itu, perawatan yang perlu dilakukan yaitu mengonsumsi obat-obatan antivirus, antibiotik, dan vitamin lainnya yang berdasarkan tinjauan dokter yang bertanggung jawab. Seseorang mungkin memerlukan pengobatan komorbid jika ada, terapi O2 secara non-invasif dengan arus sedang hingga tinggi (HNFC).

4. Gejala Parah

Pengidap COVID-19 dianggap parah jika memiliki saturasi oksigen di bawah 95 persen. Pengidap dengan gejala parah kemungkinkan mengalami perburukan klinis secara cepat, untuk itu harus dirawat di rumah sakit.

Terapi oksigen harus diberikan segera menggunakan perangkat oksigen aliran tinggi. Jika dicurigai adanya sepsis, pengidap perlu mendapatkan antibiotik empiris, evaluasi setiap hari oleh dokter, dan de-eskalasi atau menghentikan antibiotik jika tidak ada bukti infeksi bakteri. 

Baca juga: Mutasi Virus Corona dan Kemampuan mRNA Terbatas

Itulah perawatan infeksi COVID-19 sesuai dengan gejalanya. Tentu tidak ada yang berharap kamu ataupun keluarga dan kerabat terinfeksi COVID-19, hanya saja informasi dan pengetahuan tentang protokol selama COVID-19 harus dipahami oleh siapa saja, mengingat virus corona bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. 

Jika sewaktu-waktu kamu, keluarga, dan kerabat terdekat mengalami infeksi COVID-19, segera hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mengetahui bagaimana tingkat gejala dan perawatan yang tepat. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
NIH. Diakses pada 2021. Clinical Spectrum of SARS-CoV-2 Infection
CDC. Diakses pada 2021. Interim Clinical Guidance for Management of Patients with Confirmed Coronavirus Disease (COVID-19)
Healthline. Diakses pada 2021. Everything You Should Know About the 2019 Coronavirus and COVID-19
Medical News Today. Diakses pada 2021. What are the symptoms of COVID-19 by severity level?