Ad Placeholder Image

Perlengketan Usus: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Perlengketan usus merupakan kondisi yang umumnya disebabkan oleh riwayat operasi perut dan infeksi intra-abdomen.

Perlengketan Usus: Gejala, Penyebab, dan Cara MengobatinyaPerlengketan Usus: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

DAFTAR ISI


Apa Itu Perlengketan Usus?

Sistem pencernaan manusia adalah jaringan yang kompleks dan sangat sensitif. Normalnya, usus dan organ-organ di dalam rongga perut memiliki permukaan yang licin. Hal ini memungkinkan organ-organ tersebut untuk bergeser dan bergerak dengan bebas satu sama lain ketika tubuh bergerak atau saat proses pencernaan berlangsung. Namun, kondisi ini bisa berubah drastis akibat masalah medis yang disebut dengan perlengketan usus.

Perlengketan usus (intestinal adhesions) adalah terbentuknya jaringan parut (jaringan ikat fibrosa) di antara organ-organ dalam rongga perut atau antara organ dengan dinding perut. Jaringan parut ini bertindak layaknya “lem” atau pita karet super kuat yang mengikat organ-organ yang seharusnya terpisah. Akibatnya, usus bisa terpelintir, terlipat, atau tertarik dari posisi aslinya.

Kondisi ini bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh. Meskipun sebagian orang yang memiliki perlengketan ringan tidak pernah merasakan gejala apapun seumur hidupnya, pada kasus yang lebih parah, perlengketan ini dapat menyumbat pergerakan makanan, cairan, feses, dan gas di dalam saluran pencernaan. Kondisi sumbatan inilah yang memicu berbagai keluhan nyeri kronis hingga keadaan gawat darurat medis.

Karena kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan struktur anatomi di dalam perut akibat jaringan parut, perlengketan usus tidak dapat disembuhkan hanya dengan mengonsumsi obat-obatan bebas atau suplemen. Penanganan yang tepat sangat bergantung pada diagnosis dokter spesialis dan seringkali memerlukan intervensi medis secara langsung. Mari kita bahas lebih dalam mengenai gejala, penyebab, dan cara mengatasinya.

Gejala Perlengketan Usus yang Harus Diwaspadai

Seperti yang telah disebutkan, tidak semua perlengketan usus menimbulkan gejala. Namun, ketika jaringan parut mulai membatasi pergerakan usus atau menyebabkan sumbatan (obstruksi usus), berbagai keluhan akan mulai bermunculan. Gejala ini bisa datang secara tiba-tiba (akut) atau hilang timbul selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun (kronis).

Gejala paling umum dan sering menjadi keluhan utama adalah nyeri perut. Nyeri ini sering dideskripsikan sebagai rasa kram yang hebat dan datang secara bergelombang (kolik). Nyeri biasanya berpusat di sekitar pusar atau menyebar ke seluruh bagian perut. Selain nyeri, ada beberapa tanda dan gejala lain yang harus sangat diwaspadai:

  • Mual dan Muntah: Karena makanan dan cairan tidak bisa melewati saluran cerna yang tersumbat, tubuh akan merespons dengan memuntahkannya kembali. Muntah yang terjadi bisa berwarna hijau atau kuning pekat (cairan empedu) jika sumbatan terjadi di usus kecil bagian atas.
  • Perut Kembung dan Membesar: Gas dan feses yang terperangkap di atas area sumbatan akan menyebabkan perut terlihat membuncit, terasa keras, dan sangat tidak nyaman.
  • Konstipasi (Sembelit): Ketidakmampuan untuk buang air besar merupakan tanda khas dari sumbatan usus.
  • Tidak Bisa Buang Angin (Kentut): Ini adalah tanda bahaya (red flag) dari obstruksi usus total. Jika kamu merasakan kram perut hebat disertai ketidakmampuan untuk buang angin, ini menandakan usus benar-benar tersumbat rapat.
  • Dehidrasi: Akibat muntah terus-menerus dan ketidakmampuan usus menyerap cairan, penderita akan mengalami dehidrasi yang ditandai dengan mulut kering, jarang buang air kecil, dan detak jantung yang cepat.
Tanda Bahaya Medis (Red Flags)
  1. Nyeri perut yang sangat tajam, intens, dan muncul mendadak.
  2. Perut terasa sangat kaku saat disentuh (defans muskuler).
  3. Demam tinggi yang menyertai nyeri perut.
  4. Muntah terus-menerus hingga tidak bisa menelan air putih sama sekali.

Penyebab dan Faktor Risiko Terjadinya Perlengketan

Penyebab utama terbentuknya perlengketan usus adalah operasi atau pembedahan di area perut (abdomen) dan panggul (pelvis). Faktanya, literatur medis mencatat bahwa lebih dari 90% orang yang pernah menjalani operasi perut bagian bawah akan mengembangkan beberapa bentuk perlengketan perut. Tubuh membentuk jaringan parut sebagai bagian dari proses penyembuhan alami setelah jaringan dipotong atau dimanipulasi oleh ahli bedah.

Beberapa jenis operasi yang memiliki risiko paling tinggi menyebabkan perlengketan antara lain:

  • Operasi pengangkatan usus buntu (Apendektomi), terutama jika usus buntu sudah pecah sebelum dioperasi.
  • Operasi caesar (Sectio Caesarea) pada ibu melahirkan.
  • Operasi pengangkatan rahim (Histerektomi) atau operasi terkait kista ovarium.
  • Operasi pengangkatan sebagian usus (Reseksi usus) akibat tumor, kanker, atau peradangan kronis.

Selain operasi, perlengketan usus juga bisa dipicu oleh kondisi peradangan atau infeksi berat di dalam rongga perut yang tidak berhubungan dengan sayatan pisau bedah. Saat terjadi peradangan hebat, cairan dan sel-sel inflamasi akan melapisi organ, yang kemudian perlahan-lahan berubah menjadi jaringan parut. Beberapa kondisi non-bedah yang memicu hal ini meliputi:

Pertama, radang usus buntu yang tidak segera ditangani, penyakit radang panggul (PID) pada wanita akibat infeksi menular seksual, serta endometriosis. Pada endometriosis, jaringan yang mirip dengan lapisan dinding rahim tumbuh di luar rahim, menempel pada usus dan organ lain, memicu perdarahan internal dan pembentukan jaringan parut setiap siklus menstruasi. Terapi radiasi untuk pengobatan kanker di area perut atau panggul juga merupakan faktor risiko yang signifikan.

Komplikasi Berbahaya: Obstruksi dan Kematian Jaringan

Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, perlengketan usus bukanlah sekadar masalah nyeri biasa. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Dua komplikasi paling fatal adalah Obstruksi Usus (Bowel Obstruction) dan Strangulasi Usus.

Obstruksi usus terjadi ketika jaringan perlengketan menjepit atau memelintir usus hingga salurannya menyempit atau tertutup total. Bayangkan sebuah selang air yang dilipat atau diinjak; air tidak akan bisa mengalir. Begitu pula dengan makanan, cairan, asam lambung, dan gas di dalam usus. Akumulasi tekanan di atas sumbatan bisa menyebabkan dinding usus meregang hingga batas maksimalnya, bahkan berisiko pecah (perforasi). Jika usus pecah, isi usus yang penuh dengan bakteri akan tumpah ke dalam rongga perut, menyebabkan infeksi mematikan yang disebut peritonitis.

Komplikasi yang lebih parah adalah strangulasi usus. Hal ini terjadi ketika jaringan parut melilit usus sangat kuat hingga memotong aliran darah ke bagian usus tersebut (iskemia). Tanpa suplai darah yang membawa oksigen dan nutrisi, jaringan usus akan mati (nekrosis) hanya dalam waktu beberapa jam. Jaringan usus yang mati akan membusuk di dalam perut, memicu sepsis (infeksi darah menyeluruh) yang sangat fatal. Jika kamu mengalami tanda-tanda ke arah ini, jangan menunda, segera hubungi layanan gawat darurat atau lakukan konsultasi dokter spesialis bedah untuk mendapatkan penanganan segera.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Perlengketan Usus?

Mendiagnosis perlengketan usus seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi para profesional medis. Jaringan parut atau perlengketan itu sendiri jarang bisa terlihat dengan jelas melalui pemeriksaan foto Rontgen biasa atau Ultrasonografi (USG). Dokter biasanya mendiagnosis kondisi ini berdasarkan riwayat kesehatan pasien (terutama riwayat operasi sebelumnya), pemeriksaan fisik perut, dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

Proses diagnosis biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik. Dokter akan menekan area perut untuk mencari letak nyeri, kekakuan, dan mendengarkan suara bising usus menggunakan stetoskop. Pada kasus sumbatan usus, bising usus bisa terdengar sangat nyaring (metallic sound) atau justru tidak terdengar sama sekali (menandakan usus sudah berhenti bergerak).

Pemeriksaan penunjang yang menjadi standar emas (gold standard) untuk melihat sumbatan akibat perlengketan adalah CT Scan perut. CT Scan dapat memberikan gambaran melintang dari organ dalam perut secara mendetail. Dokter dapat melihat bagian usus mana yang melebar karena penumpukan cairan dan gas, serta di titik mana usus tersebut mulai menyempit atau kolaps. Selain itu, tes darah lengkap juga akan dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda infeksi, peradangan, atau dehidrasi akibat muntah berlebihan.

Langkah Penanganan dan Pengobatan Medis

Pengobatan perlengketan usus sangat bergantung pada seberapa parah gejala dan sumbatan yang terjadi. Pendekatan medis dibagi menjadi dua, yaitu penanganan konservatif (tanpa operasi) dan tindakan pembedahan operatif.

1. Penanganan Konservatif (Observasi Medis)

Jika usus hanya tersumbat sebagian (obstruksi parsial), dokter biasanya akan merawat pasien di rumah sakit dan mengistirahatkan usus (bowel rest). Pasien akan dilarang makan dan minum melalui mulut sementara waktu. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi, pasien akan diberikan cairan infus secara berkelanjutan.

Selain itu, dokter mungkin akan memasukkan selang kecil melalui hidung hingga ke lambung (Nasogastric Tube / NGT). Selang ini berfungsi untuk menyedot cairan lambung dan gas yang menumpuk di atas sumbatan, sehingga mengurangi rasa kembung, mual, muntah, dan mencegah risiko usus pecah. Setelah beberapa hari diistirahatkan, sumbatan parsial seringkali dapat terurai dengan sendirinya tanpa perlu operasi.

2. Tindakan Operatif (Adhesiolisis)

Jika sumbatan total terjadi, atau jika ada kecurigaan bahwa usus mengalami kekurangan darah (strangulasi), operasi darurat adalah satu-satunya jalan keluar. Prosedur bedah untuk memotong dan membebaskan usus dari jaringan parut disebut adhesiolisis.

Dokter bedah akan memotong pita-pita jaringan fibrosa yang mencekik usus. Jika ada bagian usus yang sudah mati karena kekurangan darah, bagian tersebut harus dipotong dan diangkat (reseksi usus), lalu ujung-ujung usus yang sehat akan disambungkan kembali. Sayangnya, operasi adhesiolisis ini membawa dilema tersendiri: membedah perut berisiko memicu terbentuknya jaringan perlengketan baru di masa depan. Oleh karena itu, dokter bedah saat ini sangat berhati-hati dan sering kali menggunakan teknik laparoskopi (operasi lubang kunci) atau memasang pelindung anti-adhesi untuk meminimalkan risiko tersebut.

Panduan Diet untuk Penderita Perlengketan Usus

Bagi pasien yang memiliki riwayat perlengketan usus namun tidak dalam kondisi sumbatan total, mengatur pola makan sangatlah krusial untuk mencegah terjadinya serangan nyeri dan obstruksi berulang. Usus yang memiliki perlengketan cenderung lebih sempit dan rentan tersumbat oleh makanan bertekstur keras dan berserat tinggi.

Dokter biasanya akan menyarankan penderita untuk mengadopsi Diet Rendah Sisa (Low-Residue Diet). Tujuannya adalah mengurangi ukuran dan frekuensi tinja, sehingga usus tidak perlu bekerja terlalu keras dan risiko makanan tersangkut di area yang menyempit bisa diminimalkan.

  • Makanan yang harus dihindari: Sayuran mentah, kacang-kacangan utuh, biji-bijian, jagung, kulit buah (seperti apel, anggur), daging merah berlemak yang keras, dan makanan pedas. Serat kasar ini sulit dicerna dan akan membentuk massa padat di dalam usus.
  • Makanan yang dianjurkan: Nasi putih, roti putih, daging ayam cincang, ikan rebus, telur, tahu, kaldu, dan buah-buahan yang sudah dikupas, dimasak, atau dihaluskan (seperti pisang atau saus apel).

Selain jenis makanan, cara makan pun harus diubah. Penderita sangat dianjurkan untuk makan dalam porsi kecil namun sering (5-6 kali sehari), ketimbang 3 porsi besar. Setiap suapan makanan wajib dikunyah hingga benar-benar halus seperti bubur sebelum ditelan. Selama masa pemulihan di rumah pasca-perawatan perut, kamu mungkin perlu melengkapi nutrisi tubuh yang hilang. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan produk vitamin, suplemen cair, atau obat pereda nyeri ringan yang direkomendasikan dokter secara praktis tanpa harus keluar rumah.

Tips Mencegah Kekambuhan Gejala
  1. Kunyah makanan hingga menjadi cairan kental sebelum menelan.
  2. Minum air putih setidaknya 8-10 gelas sehari untuk melunakkan feses.
  3. Tetap aktif bergerak secara ringan (seperti jalan kaki) untuk membantu motilitas pergerakan usus.

Studi Terkait Perlengketan Usus

World Journal of Emergency Surgery menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2013 yang menjelaskan bahwa pembentukan perlengketan pasca-operasi adalah komplikasi bedah yang paling umum namun sering diabaikan. Studi ini menyoroti bahwa penggunaan metode operasi minimal invasif (seperti laparoskopi) secara signifikan menurunkan tingkat perlengketan dibandingkan dengan bedah terbuka (laparotomi).

Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menekankan pentingnya dokter bedah untuk menggunakan cairan penghalang adhesi (adhesion barriers) secara rutin selama prosedur laparotomi panggul atau usus untuk mengurangi morbiditas pasien di masa depan. Pemahaman medis tentang pencegahan perlengketan terus berkembang untuk meningkatkan kualitas hidup pasien pasca bedah abdomen.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika gejala kram perut, kembung, dan tidak bisa buang angin terus berlanjut atau semakin parah, jangan ambil risiko untuk mengobatinya sendiri di rumah. Segera kunjungi instalasi gawat darurat terdekat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Intestinal obstruction – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Abdominal Adhesions: Causes, Symptoms & Treatment.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Abdominal Adhesions.
World Journal of Emergency Surgery. Diakses pada 2024. Adhesions after abdominal surgery: a retrospective clinical study.

FAQ

1. Apakah perlengketan usus bisa sembuh dengan sendirinya tanpa operasi?

Jaringan parut atau perlengketan itu sendiri tidak bisa hilang atau meleleh dengan sendirinya. Namun, jika perlengketan tersebut hanya menyebabkan sumbatan ringan, gejalanya bisa reda dengan metode istirahat usus (puasa dan cairan infus) di rumah sakit tanpa perlu pisau bedah.

2. Apa tanda paling awal jika usus saya mulai tersumbat akibat perlengketan?

Tanda awalnya biasanya berupa kram perut hebat yang hilang timbul, disertai bunyi perut yang bergemuruh keras. Ini sering diikuti dengan mual, perut kembung, dan kesulitan untuk buang air besar selama beberapa hari.

3. Apakah saya boleh berolahraga jika memiliki riwayat perlengketan usus?

Olahraga ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki atau berenang, justru sangat dianjurkan karena dapat merangsang pergerakan peristaltik usus yang sehat. Namun, hindari olahraga angkat beban berat atau aktivitas yang memberikan tekanan ekstrim pada dinding perut tanpa persetujuan dokter.

4. Makanan apa yang paling memicu kambuhnya penyumbatan usus?

Makanan berserat tinggi dan kasar sangat berisiko tersangkut. Hindari konsumsi sayuran mentah (seperti brokoli mentah, seledri), buah-buahan dengan kulit atau biji tebal, kacang tanah utuh, dan jagung. Selalu masak makanan hingga lunak dan kunyah dengan sempurna.