
Perlu Tahu, Ini Kadar Kolesterol Normal Berdasarkan Usia
Kadar kolesterol normal setiap orang berbeda-beda, tergantung dari faktor genetik, usia, dan jenis kelamin.

DAFTAR ISI
- Memahami Kadar Kolesterol: Apakah 197 Normal?
- Rincian Profil Lipid yang Harus Diperhatikan
- Gejala dan Risiko Kolesterol Tinggi
- Cara Alami Menjaga Kadar Kolesterol Tetap Normal
- Studi Terkait Kolesterol dan Kesehatan Jantung
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Mendapatkan hasil tes darah bisa menjadi momen yang menegangkan, terutama jika kamu baru pertama kali melakukan pemeriksaan profil lipid atau cek kolesterol. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari hasil lab adalah: kolesterol 197 apakah normal? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu kolesterol dan bagaimana zat ini bekerja di dalam tubuh manusia.
Secara umum, kolesterol adalah senyawa lemak berlilin yang diproduksi oleh organ hati dan juga bisa didapatkan dari makanan hewani yang kita konsumsi sehari-hari. Meski sering dikaitkan dengan penyakit berbahaya, tubuhmu sebenarnya sangat membutuhkan kolesterol untuk membangun dinding sel yang sehat, memproduksi hormon (seperti testosteron dan estrogen), serta menghasilkan vitamin D dan asam empedu yang bertugas mencerna lemak dalam usus.
Namun, masalah akan muncul ketika kadar kolesterol dalam darah terlalu tinggi. Kolesterol ekstra yang mengalir dalam aliran darah dapat menempel pada dinding arteri, membentuk plak, dan pada akhirnya mempersempit atau menyumbat pembuluh darah. Kondisi inilah yang menjadi cikal bakal berbagai penyakit kardiovaskular kronis seperti serangan jantung koroner dan penyakit stroke. Oleh karena itu, memahami angka hasil tes kolesterolmu adalah langkah pertahanan pertama dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Bagi kamu yang bertanya-tanya tentang angka 197 mg/dL pada hasil pemeriksaanmu, penting untuk menyadari bahwa membaca hasil tes kolesterol tidak bisa hanya mengandalkan satu angka tunggal. Kamu perlu melihat gambaran besarnya melalui pemeriksaan profil lipid lengkap. Nah, mari kita bahas secara mendalam mengenai angka kolesterol ini dan apa langkah selanjutnya yang perlu kamu ambil!
Memahami Kadar Kolesterol: Apakah 197 Normal?
Berdasarkan pedoman kesehatan standar yang dikeluarkan oleh berbagai institusi medis global, termasuk Kementerian Kesehatan RI dan American Heart Association (AHA), kadar kolesterol total dalam darah diukur dalam satuan miligram per desiliter (mg/dL). Kategori kolesterol total untuk orang dewasa umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan:
- Normal (Desirable): Kurang dari 200 mg/dL.
- Ambang Batas Tinggi (Borderline High): 200 hingga 239 mg/dL.
- Tinggi (High): 240 mg/dL atau lebih.
Melihat pedoman di atas, jika angka kolesterol total kamu adalah 197 mg/dL, maka secara teknis angka tersebut masih berada di bawah angka 200 mg/dL. Dengan kata lain, kolesterol 197 termasuk dalam kategori normal. Ini adalah kabar baik dan menunjukkan bahwa secara akumulatif, lemak dalam darahmu belum mencapai level yang secara langsung mengkhawatirkan.
Akan tetapi, para dokter spesialis penyakit dalam dan ahli kardiologi selalu menekankan bahwa angka kolesterol total saja bisa menipu atau memberikan rasa aman palsu. Mengapa demikian? Karena kolesterol total adalah gabungan dari beberapa jenis lemak darah, yaitu Low-Density Lipoprotein (LDL), High-Density Lipoprotein (HDL), dan persentase dari Trigliserida. Kamu bisa memiliki kolesterol total 197 mg/dL yang sangat sehat, atau kolesterol 197 mg/dL yang justru berisiko tinggi. Semuanya bergantung pada komposisi pembentuk angka tersebut.
Faktor Pemicu Kenaikan Kolesterol
- Pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans (gorengan, makanan cepat saji, daging merah berlemak).
- Gaya hidup sedenter atau kurang aktivitas fisik dan olahraga rutin.
- Kebiasaan merokok yang dapat merusak dinding pembuluh darah dan menurunkan HDL (kolesterol baik).
- Kondisi genetik atau riwayat keluarga (Familial Hypercholesterolemia).
- Kondisi medis tertentu seperti diabetes, hipotiroidisme, dan penyakit ginjal.
Rincian Profil Lipid yang Harus Diperhatikan
Karena angka 197 mg/dL belum menceritakan keseluruhan kondisi kesehatan pembuluh darahmu, mari kita bedah satu per satu komponen profil lipid yang wajib kamu perhatikan bersamaan dengan hasil kolesterol totalmu.
1. Low-Density Lipoprotein (LDL)
LDL sering dijuluki sebagai “kolesterol jahat”. Tugas utamanya adalah membawa kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, LDL akan menumpuk di dinding pembuluh darah arteri dan membentuk plak aterosklerosis. Plak ini keras dan kaku, membuat pembuluh darah menyempit (stenosis) dan mengurangi aliran darah kaya oksigen ke jantung atau otak. Kadar LDL yang ideal bagi orang sehat adalah di bawah 100 mg/dL. Jika angka 197 mg/dL milikmu ternyata didominasi oleh LDL (misalnya LDL kamu mencapai 140 mg/dL), maka kamu tetap memiliki risiko gangguan kardiovaskular yang perlu ditangani.
2. High-Density Lipoprotein (HDL)
Berbanding terbalik dengan LDL, HDL mendapat julukan “kolesterol baik”. Fungsinya bagaikan petugas kebersihan di dalam darah. HDL bergerak menyusuri aliran darah, memungut kelebihan kolesterol LDL dari dinding arteri, dan membawanya kembali ke hati untuk dipecah dan dibuang dari tubuh. Kadar HDL yang optimal adalah 60 mg/dL atau lebih. Semakin tinggi kadar HDL kamu, semakin rendah risiko kamu terkena penyakit jantung. Jika dari total 197 mg/dL, HDL kamu sangat rendah (misalnya di bawah 40 mg/dL untuk pria atau di bawah 50 mg/dL untuk wanita), ini adalah tanda bahaya meskipun total kolesterolmu “normal”.
3. Trigliserida
Trigliserida bukanlah kolesterol, melainkan jenis lemak (lipid) paling umum yang ada di dalam tubuh. Saat kamu mengonsumsi kalori lebih dari yang tubuhmu butuhkan untuk beraktivitas (terutama kalori dari karbohidrat sederhana dan gula), tubuh akan mengubah sisa kalori tersebut menjadi trigliserida dan menyimpannya di sel-sel lemak. Saat tubuh butuh energi di antara waktu makan, hormon akan melepaskan trigliserida ini. Kadar trigliserida yang normal adalah di bawah 150 mg/dL. Trigliserida tinggi yang dikombinasikan dengan LDL tinggi atau HDL rendah adalah resep utama terjadinya serangan jantung dan sindrom metabolik.
Gejala dan Risiko Kolesterol Tinggi
Satu hal yang membuat kolesterol tinggi sangat berbahaya adalah julukannya sebagai “silent killer” atau pembunuh diam-diam. Pada sebagian besar kasus, kolesterol tinggi sama sekali tidak menimbulkan gejala yang nyata. Kamu tidak akan merasa pusing, pegal di tengkuk, atau sesak napas hanya karena kolesterolmu menyentuh angka 250 mg/dL atau lebih. Mitos bahwa tengkuk pegal pasti karena kolesterol adalah hal yang sering disalahpahami masyarakat.
Gejala biasanya baru akan muncul ketika tumpukan plak kolesterol sudah cukup tebal untuk menyumbat aliran darah secara signifikan, atau ketika plak tersebut pecah dan membentuk gumpalan darah. Kondisi lanjutan inilah yang memunculkan keluhan medis serius, seperti:
- Angina Pektoris: Rasa nyeri, tertekan, atau berat di dada yang terjadi ketika otot jantung tidak mendapat cukup darah kaya oksigen.
- Serangan Jantung (Infark Miokard): Terjadi ketika pembuluh darah koroner yang menuju jantung tersumbat total oleh gumpalan darah akibat plak yang pecah.
- Stroke: Kondisi gawat darurat ketika aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak terputus, baik karena sumbatan plak maupun gumpalan darah.
- Penyakit Arteri Perifer (PAD): Penyempitan pembuluh darah di area kaki atau lengan, yang menyebabkan rasa nyeri hebat, kram saat berjalan, atau bahkan luka yang sulit sembuh.
Mengingat berbahayanya komplikasi di atas dan absennya gejala awal, jalan satu-satunya untuk mengetahui kadar kolesterolmu adalah melalui tes darah rutin. Jika kamu sudah mulai merasakan gejala seperti nyeri dada ringan atau kram kaki yang tidak wajar, ini saat yang tepat untuk konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan medis sesegera mungkin.
Cara Alami Menjaga Kadar Kolesterol Tetap Normal
Meski kolesterol 197 terbilang normal, angkanya sudah mendekati ambang batas 200 mg/dL. Kamu harus segera melakukan tindakan preventif agar angka ini tidak melonjak naik di pemeriksaan berikutnya. Kabar baiknya, kolesterol sangat sensitif terhadap perubahan gaya hidup. Berikut adalah langkah-langkah medis yang direkomendasikan untuk mempertahankan atau menurunkan kolesterol secara alami:
1. Terapkan Pola Makan Jantung Sehat
Diet sangat memengaruhi produksi dan penyerapan lemak dalam tubuh. Hindari lemak jenuh yang banyak terdapat pada daging merah berlemak, mentega, dan produk susu full-fat. Jauhi juga lemak trans yang biasanya bersembunyi pada makanan olahan, margarin, gorengan, dan kue-kue kemasan. Sebagai gantinya, perbanyak konsumsi makanan kaya asam lemak omega-3 seperti ikan salmon, sarden, makarel, dan biji chia. Omega-3 tidak serta merta menurunkan LDL, tetapi sangat efektif menurunkan trigliserida dan menaikkan HDL. Jangan lupa, perbanyak asupan serat larut dari oatmeal, kacang-kacangan, apel, dan pir, yang bekerja mengikat kolesterol di sistem pencernaan sebelum diserap tubuh.
2. Rutin Berolahraga dan Beraktivitas Fisik
Olahraga bukan sekadar untuk menurunkan berat badan, tetapi secara aktif membantu tubuh memproduksi lebih banyak enzim yang memindahkan kolesterol LDL dari darah ke hati untuk dihancurkan. AHA menyarankan setidaknya 150 menit latihan aerobik intensitas sedang (seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, atau senam zumba) setiap minggu. Kamu bisa membaginya menjadi 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu. Aktivitas fisik yang konsisten terbukti efektif untuk meningkatkan angka kolesterol baik (HDL).
3. Berhenti Merokok dan Batasi Alkohol
Merokok merusak permukaan dinding pembuluh darah (endotelium), membuatnya lebih mudah dihinggapi dan ditempeli oleh plak kolesterol. Selain itu, bahan kimia dalam rokok menurunkan kadar HDL dalam tubuh. Berhenti merokok adalah salah satu cara paling instan untuk memperbaiki profil lipidmu. Dalam satu tahun setelah berhenti, risiko penyakit jantungmu akan turun drastis. Jika kamu mengonsumsi alkohol, lakukanlah dengan porsi yang sangat terbatas, karena alkohol berlebih dapat memicu lonjakan trigliserida, tekanan darah, dan kerusakan hati.
4. Konsumsi Suplemen Pendukung bila Perlu
Terkadang, mengubah pola makan membutuhkan proses yang panjang. Sebagai pendamping perbaikan gaya hidup, kamu bisa mempertimbangkan asupan suplemen seperti minyak ikan (fish oil), ekstrak bawang putih, atau vitamin penurun lipid lainnya setelah berdiskusi dengan dokter. Untuk kebutuhan ini, kamu bisa dengan mudah beli obat, suplemen, atau produk kesehatan online di Halodoc, produk 100% asli dan diantar ke rumah. Sangat praktis tanpa perlu keluar rumah dan antre di apotek!
Studi Terkait Kolesterol dan Kesehatan Jantung
Circulation (Jurnal resmi American Heart Association) menerbitkan studi pedoman manajemen kolesterol yang menjelaskan bahwa menurunkan level LDL secara konsisten memiliki hubungan linier dengan penurunan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke iskemik.
Studi ini menegaskan kembali bahwa “lower is better” (lebih rendah lebih baik) terutama bagi profil kolesterol LDL pada individu yang memiliki risiko genetik atau komorbid (penyakit penyerta) seperti diabetes. Penemuan ini menunjukkan bahwa meskipun kolesterol total kamu seperti 197 mg/dL tampak aman, jika fraksi LDL-nya dominan, kamu tetap membutuhkan intervensi intensif, baik secara diet maupun farmakologis (obat-obatan) untuk mencegah serangan jantung di masa depan.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2023. Kenali Gejala dan Cara Mencegah Kolesterol Tinggi.
American Heart Association (AHA). Diakses pada 2023. What Your Cholesterol Levels Mean.
Mayo Clinic. Diakses pada 2023. High cholesterol – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2023. Cholesterol Numbers: What They Mean.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2023. Cardiovascular diseases (CVDs).
FAQ
1. Kolesterol 197 apakah normal?
Ya, angka kolesterol total 197 mg/dL secara teknis diklasifikasikan sebagai normal atau optimal, karena masih berada di bawah batas kewaspadaan yaitu 200 mg/dL. Namun, kamu tetap perlu memastikan bahwa rincian pembentuknya, yaitu LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, berada dalam batas rendah, sementara HDL (kolesterol baik) berada di batas yang tinggi.
2. Apakah saya tetap berisiko terkena serangan jantung dengan kolesterol 197?
Bisa jadi. Risiko serangan jantung tidak hanya bergantung pada kolesterol total. Jika kolesterol total kamu 197, tetapi LDL kamu sangat tinggi, HDL sangat rendah, atau kamu memiliki faktor risiko lain seperti merokok, tekanan darah tinggi (hipertensi), obesitas, dan diabetes, maka risiko penyakit kardiovaskular tetap mengintai.
3. Makanan apa saja yang bisa menurunkan kolesterol jahat (LDL) dengan cepat?
Tidak ada yang bisa menurunkan kolesterol secara instan, namun makanan kaya serat larut sangat efektif. Makanan tersebut meliputi oatmeal, biji-bijian utuh, kacang merah, apel, anggur, stroberi, jeruk, dan terong. Kandungan serat larut membantu mengikat kolesterol di usus dan membuangnya melalui feses sebelum diserap tubuh.
4. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan tes kolesterol darah?
Ahli medis menyarankan orang dewasa yang sehat untuk mulai rutin memeriksakan kolesterol (profil lipid lengkap) setidaknya setiap 4 hingga 6 tahun sekali mulai dari usia 20 tahun. Jika kamu memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi, penyakit jantung prematur, atau kamu memiliki diabetes dan obesitas, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering, biasanya setahun sekali sesuai rekomendasi dokter.


