Ad Placeholder Image

Perut Bayi Bunyi Keroncongan? Ini Normal Kok!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   07 Mei 2026

Perut Bayi Bunyi Keroncongan: Wajar, Tapi Kapan Cemas?

Perut Bayi Bunyi Keroncongan? Ini Normal Kok!Perut Bayi Bunyi Keroncongan? Ini Normal Kok!

Perut Bayi Bunyi Keroncongan: Normal atau Tanda Bahaya?

Suara keroncongan dari perut bayi sering kali memicu kekhawatiran bagi orang tua. Fenomena ini sebenarnya umum terjadi dan sebagian besar merupakan tanda normal dari sistem pencernaan bayi yang sedang bekerja. Memahami penyebab di baliknya dapat membantu orang tua membedakan antara kondisi yang wajar dan kapan diperlukan perhatian medis.

Bunyi keroncongan pada perut bayi adalah hasil dari gerakan usus yang dikenal sebagai peristaltik. Gerakan ini berperan penting dalam mendorong makanan melalui saluran pencernaan. Karena lapisan perut bayi yang masih tipis, suara ini bisa terdengar lebih jelas.

Apa Itu Perut Bayi Bunyi Keroncongan?

Perut bayi bunyi keroncongan atau borborygmi, adalah suara yang dihasilkan oleh pergerakan cairan dan gas di dalam usus halus dan usus besar. Sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga sangat sensitif terhadap perubahan kecil.

Bunyi ini menandakan aktivitas normal saat tubuh bayi mencerna ASI atau susu formula. Dinding perut bayi yang belum tebal seperti orang dewasa membuat suara internal ini lebih mudah terdeteksi dari luar.

Penyebab Umum Perut Bayi Bunyi Keroncongan

Beberapa faktor umum dapat menyebabkan perut bayi bunyi keroncongan. Sebagian besar bersifat normal dan tidak mengindikasikan masalah kesehatan serius.

  • Lapar. Ketika perut bayi kosong, usus akan bergerak untuk membersihkan sisa-sisa makanan dari pencernaan sebelumnya. Gerakan ini memicu suara keroncongan sebagai tanda bayi membutuhkan asupan ASI atau susu formula.
  • Pencernaan Makanan. Setelah menyusu, sistem pencernaan bayi mulai bekerja keras untuk memecah nutrisi dari ASI atau susu formula. Proses ini melibatkan gerakan peristaltik yang aktif, menghasilkan suara perut.
  • Udara Tertelan (Kembung). Bayi dapat menelan udara saat menyusu terlalu cepat, menangis, atau menggunakan dot. Udara yang terperangkap di dalam saluran pencernaan membentuk gas, yang kemudian bergerak dan menghasilkan bunyi keroncongan saat melewati usus.
  • Posisi Tubuh. Perubahan posisi tubuh bayi, seperti saat digendong atau berganti pakaian, dapat memengaruhi pergerakan gas dan cairan di dalam perut, sehingga memicu bunyi.

Kapan Harus Waspada Jika Perut Bayi Bunyi Keroncongan?

Meskipun seringkali normal, ada kondisi tertentu di mana perut bayi bunyi keroncongan bisa menjadi indikasi masalah kesehatan yang lebih serius. Orang tua perlu waspada jika bunyi tersebut disertai dengan beberapa gejala berikut:

  • Rewel atau Menangis Berlebihan. Jika bayi tampak sangat tidak nyaman, sulit ditenangkan, atau menangis lebih sering dari biasanya, hal ini bisa menjadi tanda nyeri atau ketidaknyamanan.
  • Perut Terlihat Keras dan Kembung. Perut yang terasa keras saat disentuh dan tampak buncit atau membengkak dapat menunjukkan penumpukan gas berlebih atau masalah pencernaan lainnya.
  • Diare atau Muntah. Perubahan pada pola buang air besar, seperti diare yang cair dan sering, atau muntah berulang, memerlukan perhatian medis segera. Ini bisa menjadi tanda infeksi atau alergi.
  • Demam. Suhu tubuh bayi yang tinggi bersamaan dengan bunyi perut dapat menandakan adanya infeksi atau peradangan.
  • Penurunan Nafsu Makan. Bayi yang tiba-tiba menolak untuk menyusu atau menunjukkan penurunan nafsu makan yang signifikan perlu diwaspadai.
  • Perubahan Warna Tinja. Tinja yang berdarah, sangat pucat, atau berwarna hitam pekat (melena) adalah tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis darurat.

Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda alergi susu formula, intoleransi laktosa, kolik, atau kondisi pencernaan lain yang membutuhkan diagnosis dan penanganan dari dokter anak.

Cara Mengatasi dan Mencegah Perut Bayi Bunyi Keroncongan Berlebihan

Untuk mengurangi kemungkinan perut bayi bunyi keroncongan yang disebabkan oleh gas atau ketidaknyamanan ringan, beberapa langkah dapat dilakukan.

  • Pastikan Posisi Menyusu yang Tepat. Saat menyusui, pastikan bayi melekat dengan baik pada payudara atau botol agar tidak menelan terlalu banyak udara.
  • Sendawakan Bayi Secara Teratur. Setelah menyusu, sendawakan bayi untuk mengeluarkan udara yang tertelan. Hal ini dapat membantu mengurangi penumpukan gas di perut.
  • Pijatan Lembut pada Perut. Pijat perut bayi searah jarum jam secara perlahan dapat membantu melancarkan pergerakan gas dan mengurangi kembung.
  • Gerakan Kaki Sepeda. Gerakkan kaki bayi seolah-olah sedang mengayuh sepeda. Gerakan ini dapat membantu gas bergerak keluar dari usus.
  • Perhatikan Jenis Dot (Jika Menggunakan Botol). Pilih dot dengan ukuran lubang yang sesuai untuk usia bayi agar aliran susu tidak terlalu cepat atau lambat, yang dapat menyebabkan bayi menelan udara.
  • Hindari Makanan Pemicu Gas (Untuk Ibu Menyusui). Jika bayi sensitif terhadap makanan tertentu, ibu menyusui mungkin perlu menghindari makanan yang dapat memicu gas seperti brokoli, kubis, atau produk susu.

Kesimpulan dan Rekomendasi Medis

Perut bayi bunyi keroncongan sebagian besar merupakan tanda aktivitas pencernaan yang normal. Namun, penting bagi orang tua untuk selalu memantau kondisi bayi. Perhatikan gejala penyerta seperti rewel berlebihan, perut keras, diare, muntah, atau demam.

Jika kekhawatiran muncul atau gejala yang disebutkan di atas terjadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan penyebabnya dan memberikan penanganan yang tepat. Konsultasi kesehatan profesional dapat diakses melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran medis yang akurat dan berbasis bukti.