
Perut Bayi Bunyi Kruk Kruk? Ini Penyebab dan Cara Mengatasi
Perut Bayi Bunyi Kruk Kruk? Ini Penyebab dan Solusinya

DAFTAR ISI
- Penyebab Perut Bayi Bunyi saat Menyusu
- Apakah Kondisi Ini Normal secara Medis?
- Perbedaan Bunyi Perut Normal dan Gangguan Pencernaan
- Cara Mengatasi dan Mencegah Perut Bayi Berbunyi
- Kapan Harus Waspada dan Menghubungi Dokter?
- Studi Terkait
- FAQ
Mendengar suara “kruk-kruk” atau keroncongan dari perut bayi saat ia sedang asyik menyusu sering kali membuat orang tua merasa khawatir. Fenomena ini, yang dalam istilah medis dikenal sebagai borborygmi, sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi pada bayi, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Suara tersebut berasal dari pergerakan gas dan cairan di dalam usus yang sedang bekerja ekstra keras mengolah nutrisi dari ASI atau susu formula.
Sebagai orang tua, sangat penting bagi kamu untuk memahami bahwa sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan. Kapasitas lambung yang kecil serta otot-otot saluran cerna yang belum terkoordinasi dengan sempurna membuat proses perpindahan makanan sering kali disertai dengan suara yang cukup nyaring. Namun, memahami konteks di balik suara tersebut dapat membantu kamu menentukan apakah bayi merasa nyaman atau justru sedang mengalami gangguan kesehatan tertentu.
Penting untuk memperhatikan tanda-tanda penyerta lainnya. Jika perut bayi berbunyi namun ia tetap menyusu dengan tenang, berat badannya naik dengan baik, dan tidak rewel, maka kemungkinan besar hal tersebut adalah proses fisiologis yang normal. Sebaliknya, jika suara tersebut disertai dengan tangisan histeris atau perut yang terasa keras, mungkin ada indikasi ketidaknyamanan yang perlu ditangani. Untuk memastikan kondisi Si Kecil, kamu bisa melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang tepat.
Nah, mau tahu apa saja penyebab dan cara mengatasi perut bayi yang sering berbunyi saat menyusu? Berikut ulasan lengkapnya!
Penyebab Perut Bayi Bunyi saat Menyusu
Ada beberapa faktor yang mendasari mengapa perut bayi sering kali mengeluarkan suara saat proses menyusu berlangsung. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai faktor-faktor tersebut:
1. Udara yang Tertelan (Aerofagia)
Salah satu penyebab paling umum adalah masuknya udara ke dalam saluran pencernaan saat bayi mengisap. Hal ini sering terjadi jika posisi pelekatan (latch-on) antara mulut bayi dan puting ibu atau dot botol kurang sempurna. Udara yang terperangkap ini kemudian bergerak bersama susu di dalam usus, menciptakan suara gemuruh atau bunyi “kruk-kruk”.
2. Refleks Gastrokolik yang Aktif
Bayi memiliki refleks gastrokolik yang sangat sensitif. Refleks ini adalah respons alami tubuh di mana saat lambung terisi makanan (ASI/Susu), usus besar akan terstimulasi untuk bergerak. Gerakan peristaltik usus yang meningkat secara tiba-tiba inilah yang sering menimbulkan suara nyaring di perut bayi tepat saat mereka mulai menyusu.
3. Proses Pemecahan Laktosa
ASI kaya akan laktosa, yang merupakan sumber energi utama bagi bayi. Jika bayi mendapatkan terlalu banyak foremilk (susu awal yang lebih encer dan tinggi laktosa) dibandingkan hindmilk (susu akhir yang kaya lemak), usus mungkin akan bekerja lebih cepat untuk memecah gula tersebut. Proses fermentasi laktosa oleh bakteri usus dapat menghasilkan gas, yang kemudian memicu suara di dalam perut.
4. Sistem Pencernaan yang Belum Matang
Usus bayi baru lahir masih belajar untuk melakukan koordinasi gerakan peristaltik. Karena belum efisien, gerakan ini terkadang terjadi secara tidak teratur atau terlalu cepat, sehingga cairan dan gas di dalamnya menciptakan suara yang lebih terdengar dibandingkan pada orang dewasa.
Tips Mengurangi Udara yang Tertelan saat Menyusu
- Pastikan seluruh bagian puting dan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi saat menyusu.
- Gunakan botol susu anti-kolik jika bayi mengonsumsi susu formula atau ASI perah untuk meminimalisir gelembung udara.
- Jaga posisi kepala bayi agar lebih tinggi dari perutnya saat proses menyusu berlangsung.
Apakah Kondisi Ini Normal secara Medis?
Secara medis, borborygmi atau perut berbunyi adalah tanda bahwa usus bayi sedang berfungsi. Usus yang sehat harus terus bergerak untuk mendorong makanan, enzim pencernaan, dan limbah. Jika perut bayi justru tidak mengeluarkan suara sama sekali dalam jangka waktu lama, hal itu justru bisa menjadi indikasi adanya masalah seperti obstruksi usus.
Kondisi ini dianggap normal selama bayi menunjukkan ciri-ciri berikut:
- Bayi tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda kesakitan saat perut berbunyi.
- Nafsu makan atau keinginan menyusu tetap kuat.
- Pertumbuhan berat badan sesuai dengan kurva pertumbuhan pada KMS.
- Buang air besar (BAB) memiliki konsistensi yang normal (lunak, tidak cair berlebihan atau keras).
Perbedaan Bunyi Perut Normal dan Gangguan Pencernaan
Penting bagi orang tua untuk membedakan antara bunyi perut fisiologis dan bunyi perut yang menandakan adanya gangguan pencernaan seperti kolik atau intoleransi laktosa.
1. Kolik Infantil
Jika perut berbunyi disertai dengan tangisan yang berlangsung lebih dari tiga jam sehari, tiga hari seminggu, selama setidaknya tiga minggu, bayi mungkin mengalami kolik. Suara perut pada bayi kolik biasanya terdengar lebih intens karena adanya kontraksi otot usus yang berlebihan.
2. Intoleransi Laktosa atau Alergi Susu Sapi
Pada kondisi ini, suara perut biasanya diikuti dengan gejala lain yang lebih nyata, seperti diare, feses yang berbau sangat asam, munculnya ruam kulit, atau muntah yang menyemprot (projectile vomiting). Gas yang berlebihan akibat ketidakmampuan mencerna protein atau gula susu akan membuat perut berbunyi sangat nyaring secara konsisten.
Cara Mengatasi dan Mencegah Perut Bayi Berbunyi
Meskipun sering kali normal, kamu bisa melakukan langkah-langkah berikut untuk meminimalisir ketidaknyamanan gas di perut Si Kecil:
1. Perbaiki Posisi Menyusui
Gunakan posisi menyusui yang memungkinkan bayi melekat dengan baik. Posisi football hold atau cradle hold yang tepat dapat membantu bayi menelan lebih sedikit udara. Pastikan hidung bayi tidak tertekan sehingga ia bisa bernapas dengan lega saat mengisap.
2. Menyendawakan Bayi Secara Teratur
Jangan menunggu sampai bayi selesai menyusu untuk menyendawakannya. Jika perutnya mulai berbunyi, berhentilah sejenak, tegakkan tubuhnya, dan tepuk punggungnya dengan lembut sampai ia bersendawa. Hal ini membantu mengeluarkan udara sebelum masuk lebih jauh ke dalam usus.
3. Lakukan Pijat ILU (I Love You)
Pijatan lembut pada perut bayi dapat membantu menggerakkan gas yang terperangkap. Gunakan minyak telon yang hangat untuk merilekskan otot perut bayi. Jika butuh stok perawatan bayi, kamu bisa beli obat online di Halodoc yang menyediakan berbagai kebutuhan ibu dan anak dengan pengantaran cepat.
4. Tummy Time
Memberikan waktu bagi bayi untuk tengkurap (di bawah pengawasan) dapat memberikan tekanan alami yang lembut pada perutnya, yang membantu mendorong gas keluar secara alami melalui kentut.
Kapan Harus Waspada dan Menghubungi Dokter?
Walaupun perut bayi bunyi saat menyusu umumnya tidak berbahaya, ada beberapa gejala “red flag” yang memerlukan penanganan medis segera:
- Perut Teraba Keras dan Kembung: Jika perut bayi terasa sangat kencang seperti papan dan ia menangis saat disentuh.
- Demam: Suara perut yang disertai kenaikan suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius.
- Muntah Berwarna Hijau atau Berdarah: Ini bisa menandakan adanya sumbatan pada saluran cerna.
- Penurunan Berat Badan: Jika masalah pencernaan membuat bayi malas menyusu dan berat badannya menurun.
- Konstipasi Parah: Bayi tidak buang air besar dalam waktu yang tidak biasa disertai rasa sakit.
Studi Mengenai Kesehatan Pencernaan Bayi
The Journal of Pediatrics menerbitkan studi di tahun 2018 yang menjelaskan bahwa perkembangan mikrobiota usus pada bayi baru lahir sangat mempengaruhi bagaimana gas diproses di dalam sistem pencernaan. Keseimbangan bakteri baik di usus dapat mengurangi intensitas borborygmi dan risiko kolik.
Studi ini menekankan bahwa suara perut adalah bagian dari proses maturasi usus. Selain itu, pemberian ASI eksklusif terbukti membantu mempercepat pematangan fungsi motorik usus dibandingkan penggunaan susu formula pada bayi prematur, sehingga mengurangi keluhan gas berlebih.
Jika kamu merasa khawatir dengan intensitas suara perut Si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi. Kamu bisa mendapatkan saran medis dari tenaga profesional dengan mudah. Selain itu, kebutuhan produk kesehatan bayi bisa dipenuhi melalui Toko Kesehatan Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Baby reflux: Symptoms and Causes.
Healthline. Diakses pada 2026. Why Is My Baby’s Stomach Making Grumbling Noises?.
What to Expect. Diakses pada 2026. Gassy Baby: Symptoms, Causes and Remedies.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Borborygmi: Why Your Stomach Growls.
FAQ
1. Kenapa perut bayi bunyi kruk kruk saat menyusu?
Hal ini umumnya disebabkan oleh udara yang tertelan saat mengisap atau akibat refleks gastrokolik, di mana usus mulai bergerak aktif segera setelah lambung terisi ASI atau susu formula.
2. Apakah perut bayi berbunyi tanda ia lapar?
Bisa jadi. Selain saat menyusu, suara perut juga bisa terdengar saat lambung kosong karena otot pencernaan melakukan gerakan pembersihan, yang sering kali diartikan sebagai sinyal lapar pada bayi.
3. Bagaimana cara membedakan perut bunyi yang normal dan kolik?
Bunyi perut normal biasanya tidak membuat bayi rewel. Sedangkan pada kolik, suara perut diikuti dengan tangisan kencang yang sulit ditenangkan, wajah memerah, dan kaki yang ditarik ke arah perut.
4. Apakah posisi menyusui berpengaruh pada suara perut bayi?
Sangat berpengaruh. Posisi yang salah dapat menyebabkan bayi menelan banyak udara (aerofagia), yang akan menciptakan lebih banyak gelembung gas dan suara di dalam usus.
## Punya Keluhan Pencernaan pada Si Kecil? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu merasa khawatir karena perut bayi sering berbunyi kruk-kruk saat menyusu? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!
[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


