
Perut Bunyi Terus Padahal Tidak Lapar? Ini Lho Penyebabnya!
Perut bunyi terus bisa disebabkan oleh pergerakan makanan, cairan, dan gas di dalam saluran pencernaan.

DAFTAR ISI
- Memahami Suara Perut (Borborygmi) Secara Medis
- Penyebab Perut Bunyi Tapi Tidak Lapar
- Gejala Penyerta yang Perlu Diwaspadai
- Cara Tepat Mengatasi dan Mencegahnya
- Studi Terkait Kesehatan Saluran Cerna
- Tanya HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu sedang berada di tengah rapat yang hening atau sedang fokus belajar, lalu tiba-tiba perutmu mengeluarkan suara gemuruh yang keras padahal kamu baru saja makan? Kondisi ini pasti terasa sangat canggung. Sebagian besar orang mengasosiasikan suara gemuruh dari perut sebagai tanda lapar. Namun, faktanya suara perut bisa muncul kapan saja, terlepas dari apakah perutmu kosong atau sedang dalam keadaan terisi penuh.
Dalam dunia medis, fenomena suara gemuruh yang berasal dari perut dan usus ini dikenal dengan istilah borborygmi (dibaca: bor-boh-RIG-mee). Bunyi ini sebenarnya merupakan hal yang sangat lumrah dan menandakan bahwa saluran pencernaanmu sedang bekerja secara aktif. Proses pencernaan di dalam tubuh manusia tidak pernah benar-benar berhenti, dan organ-organ seperti lambung dan usus terus melakukan kontraksi otot untuk memproses makanan, cairan, serta gas.
Meskipun umumnya tidak berbahaya, intensitas suara perut yang terlalu sering, keras, dan muncul tanpa disertai rasa lapar bisa menjadi sinyal atau indikator dari kondisi kesehatan tertentu. Saluran cerna manusia adalah sistem yang kompleks, sering disebut sebagai “otak kedua” karena memiliki jutaan saraf yang sangat peka terhadap perubahan diet, stres, maupun infeksi bakteri. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam perutmu.
Jika kamu sering mengalami keluhan perut bunyi tapi tidak lapar yang dirasa mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai dengan rasa tidak nyaman lainnya, kamu perlu mengetahui faktor pemicunya. Mari kita bahas secara mendalam dan menyeluruh mengenai anatomi suara perut, penyebabnya, serta langkah-langkah medis maupun alami yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya!
Memahami Suara Perut (Borborygmi) Secara Medis
Untuk mengetahui mengapa perut bisa berbunyi meski kamu tidak lapar, kita harus memahami anatomi dan fisiologi dasar dari saluran pencernaan. Sistem pencernaan manusia pada dasarnya adalah sebuah tabung berongga yang panjangnya bisa mencapai 8 hingga 9 meter, dimulai dari mulut hingga berujung di anus. Di sepanjang saluran ini, otot-otot bekerja memompa dan mendorong isi perut ke arah bawah.
Proses pendorongan ini disebut dengan gerak peristaltik. Peristaltik adalah serangkaian kontraksi dan relaksasi otot polos yang terjadi seperti gelombang. Saat makanan, cairan, dan asam lambung bercampur menjadi adonan kental yang disebut kimus (chyme), usus akan meremas adonan ini. Bersamaan dengan makanan dan cairan, terdapat juga gas—baik gas yang tertelan saat kamu makan maupun gas yang dihasilkan oleh bakteri baik di dalam usus besar saat mereka memfermentasi sisa makanan.
Bunyi perut terjadi ketika gas dan cairan ini didorong secara bersamaan melalui rongga usus yang sempit. Bayangkan seperti suara air dan udara yang mengalir melalui pipa air di dalam dinding rumahmu; cairan dan gas yang bercampur dengan tekanan kontraksi otot inilah yang menciptakan efek akustik berupa suara gemuruh, gemercik, atau berderak yang bisa terdengar hingga ke luar tubuh.
Penyebab Perut Bunyi Tapi Tidak Lapar
Jika lapar bukanlah pemicunya, lalu apa yang membuat perutmu terus-menerus berbunyi? Berikut adalah beberapa penyebab utama yang paling sering ditemui dalam kasus klinis:
1. Proses Pencernaan Sedang Berlangsung Aktif
Setelah kamu makan, lambung dan usus akan langsung bekerja keras untuk memecah makanan agar nutrisinya bisa diserap oleh tubuh. Makanan padat yang kamu konsumsi akan dipecah dengan bantuan asam lambung dan enzim. Gerak peristaltik akan meningkat, dan percampuran makanan dengan cairan pencernaan ini sering kali menghasilkan suara. Jadi, jika perutmu berbunyi satu hingga dua jam setelah makan siang, itu adalah tanda bahwa sistem pencernaanmu sangat sehat dan sedang menjalankan tugasnya dengan baik.
2. Penumpukan Gas dalam Saluran Cerna
Gas adalah penyebab paling umum dari perut yang berisik. Gas dapat masuk ke saluran cerna melalui dua cara utama: aerofagia (menelan udara) dan fermentasi bakteri. Aerofagia terjadi jika kamu makan atau minum terlalu cepat, sering mengunyah permen karet, merokok, atau berbicara sambil makan. Sementara itu, fermentasi terjadi di usus besar ketika bakteri usus memecah karbohidrat kompleks (seperti serat, gula, dan pati) yang tidak tercerna dengan sempurna di usus halus. Kombinasi cairan dan gelembung gas dalam jumlah besar inilah yang menciptakan suara keras di perut.
3. Intoleransi Makanan dan Alergi
Banyak orang di Indonesia mengalami intoleransi laktosa, yaitu kondisi di mana tubuh tidak memproduksi cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa (gula alami dalam susu dan produk olahannya). Ketika laktosa yang tidak tercerna masuk ke usus besar, bakteri akan memfermentasinya secara brutal. Hasilnya adalah produksi gas hidrogen dan metana yang masif, memicu perut berbunyi keras, kembung, dan sering kali diikuti oleh diare. Hal serupa juga bisa terjadi pada intoleransi gluten (penyakit Celiac) atau intoleransi terhadap fruktosa.
Makanan Pemicu Gas Tinggi (FODMAP)
- Sayuran silangan: Brokoli, kubis, kembang kol, dan kubis brussel.
- Kacang-kacangan: Kacang merah, kacang kedelai, dan lentil (mengandung raffinose).
- Produk Susu: Susu sapi, keju krim, dan es krim.
- Pemanis Buatan: Sorbitol, mannitol, dan xylitol yang sering ditemukan di permen bebas gula.
4. Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS)
Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah gangguan kronis pada usus besar yang memengaruhi cara kerja usus. Pada penderita IBS, otot-otot dinding usus bisa berkontraksi lebih kuat dan lebih lama dari biasanya (memicu gas, kembung, dan diare), atau sebaliknya, berkontraksi terlalu lemah (memicu sembelit). Pergerakan yang tidak beraturan dan hipersensitivitas usus pada penderita IBS sering kali menghasilkan suara perut yang sangat bising, meskipun mereka sama sekali tidak merasa lapar.
5. Stres dan Kecemasan (Gut-Brain Axis)
Saluran pencernaan dan otak terhubung erat oleh jaringan saraf luas yang disebut sistem saraf enterik (sering disebut sumbu usus-otak atau gut-brain axis). Ketika kamu merasa stres, cemas, atau panik—misalnya saat akan presentasi atau ujian—otak akan melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon ini dapat mengubah motilitas (pergerakan) lambung dan usus. Beberapa orang mengalami perlambatan pencernaan, sementara yang lain mengalami percepatan gerak usus. Peningkatan aktivitas usus akibat stres inilah yang menyebabkan perut berbunyi secara tiba-tiba tanpa adanya rangsangan makanan.
6. Gastroenteritis atau Infeksi Usus
Gastroenteritis, atau yang sering disebut muntahber, adalah peradangan pada lambung dan usus akibat infeksi virus, bakteri, maupun parasit (misalnya dari keracunan makanan). Infeksi ini menyebabkan usus meradang dan berusaha keras untuk mengeluarkan racun atau patogen dari dalam tubuh. Akibatnya, gerak peristaltik meningkat tajam secara tidak terkendali. Hal ini akan menimbulkan suara perut gemuruh yang sangat kuat, diikuti oleh kram perut akut, mual, muntah, dan diare berair.
7. Obstruksi Usus (Penyumbatan Saluran Cerna)
Ini adalah kondisi medis darurat. Obstruksi usus terjadi ketika ada penyumbatan sebagian atau seluruhnya pada usus kecil atau usus besar—bisa karena tumor, jaringan parut pasca operasi (adhesi), atau hernia. Ketika usus tersumbat, otot usus akan berusaha keras berkontraksi untuk mendorong makanan dan cairan melewati area yang menyumbat tersebut. Usaha keras otot ini menciptakan suara gemuruh bernada tinggi (high-pitched bowel sounds) yang khas. Seiring waktu, jika tidak ditangani, suara ini akan menghilang (usus menjadi diam) yang menandakan kelelahan otot usus atau robekan.
Gejala Penyerta yang Perlu Diwaspadai
Sebagaimana telah dijelaskan, suara perut sebagian besar adalah proses fisiologis normal. Namun, sebagai apoteker dan praktisi kesehatan, saya sangat menyarankan agar kamu mulai waspada dan mempertimbangkan evaluasi medis apabila perut yang berbunyi sering kali dibarengi dengan tanda-tanda atau “red flags” berikut ini:
- Nyeri perut yang hebat dan kram: Terutama jika rasa nyerinya menetap atau bertambah parah seiring waktu, yang bisa mengindikasikan radang usus buntu akut, batu empedu, atau infeksi parah.
- Perubahan kebiasaan buang air besar yang drastis: Diare cair yang tak kunjung sembuh, atau sebaliknya, sembelit parah hingga berhari-hari tidak bisa buang angin.
- Mual dan muntah yang sering: Apalagi jika kamu tidak bisa menahan cairan masuk ke dalam tubuh, yang bisa berujung pada dehidrasi fatal.
- Adanya darah pada tinja: Feses yang berdarah (baik merah segar maupun hitam pekat seperti aspal) adalah indikasi perdarahan saluran cerna yang mutlak harus diperiksa oleh dokter spesialis.
- Penurunan berat badan tanpa sebab: Jika berat badanmu menyusut drastis padahal kamu tidak sedang diet, ini bisa menjadi tanda adanya gangguan penyerapan nutrisi (malabsorpsi), IBD (Inflammatory Bowel Disease), atau bahkan kondisi keganasan.
- Perut bengkak dan keras saat disentuh: Mengindikasikan penumpukan gas yang ekstrem, cairan di rongga perut (asites), atau penyumbatan usus.
Cara Tepat Mengatasi dan Mencegahnya
Jika perut bunyi yang kamu alami murni karena gas berlebih atau pencernaan aktif tanpa ada penyakit serius yang mendasarinya, ada banyak penyesuaian gaya hidup dan pengobatan rumahan yang bisa kamu lakukan secara mandiri untuk menenangkannya:
1. Perbaiki Cara Makan dan Minum
Langkah paling sederhana namun sangat efektif adalah mengunyah makanan secara perlahan dan menyeluruh. Proses pencernaan dimulai dari mulut, dan enzim air liur bertugas memecah makanan. Semakin halus makanan sebelum ditelan, semakin ringan kerja lambung dan ususmu. Selain itu, makan perlahan mencegah udara masuk berlebihan (aerofagia). Hindari juga kebiasaan minum dengan menggunakan sedotan, karena hal ini juga menyedot banyak udara ke dalam lambung.
2. Batasi Konsumsi Makanan Pemicu Gas
Jika kamu sadar bahwa produk susu, kubis, atau makanan pedas sering memicu perut bergemuruh, cobalah untuk menguranginya atau beralih ke diet rendah FODMAP untuk sementara waktu. Kamu juga bisa membuat buku catatan harian makanan (food diary) untuk melacak secara persis makanan atau minuman apa yang selalu menyebabkan reaks idi perutmu.
3. Rutin Minum Air Putih yang Cukup
Dehidrasi sering kali menyebabkan sembelit. Ketika tinja keras dan sulit dikeluarkan, penumpukan bakteri dan gas akan terjadi di belakangnya, menyebabkan perut berbunyi keras. Minum air putih minimal 8 gelas sehari dapat membantu melunakkan tinja, menjaga kelancaran proses pembuangan sisa makanan, dan meminimalisir penumpukan gas di dalam usus.
4. Kelola Tingkat Stres dan Kecemasan
Mengingat kuatnya koneksi antara otak dan saluran pencernaan, menjaga kesehatan mental adalah kunci dari usus yang tenang. Cobalah teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam (deep breathing), yoga, atau berjalan santai di pagi hari untuk menurunkan kadar hormon stres dalam tubuhmu. Pikiran yang tenang akan menghasilkan sistem pencernaan yang jauh lebih rileks.
5. Perhatikan Keseimbangan Mikrobioma Usus
Usus kita dihuni oleh triliunan bakteri baik yang sangat penting untuk pencernaan dan kekebalan tubuh. Terkadang, setelah konsumsi antibiotik jangka panjang atau karena pola makan yang buruk, bakteri baik ini bisa kalah jumlah dari bakteri jahat (kondisi disintesis). Mengonsumsi makanan kaya probiotik seperti yogurt (tanpa pemanis), kefir, tempe, atau suplemen probiotik tambahan dapat membantu mengembalikan harmoni di dalam usus besar dan mengurangi produksi gas penyebab suara gemuruh.
Tips Tambahan Cegah Perut Kembung & Berbunyi
- Jalan kaki ringan selama 10-15 menit setelah makan untuk merangsang pengosongan lambung secara normal.
- Hindari langsung rebahan atau tidur setelah makan, beri jeda minimal 2-3 jam.
- Kurangi konsumsi minuman bersoda dan minuman berkarbonasi lainnya.
Studi Mengenai Kesehatan Saluran Cerna dan Gas Usus
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang berfokus pada pengaruh gas usus terhadap gejala gastrointestinal. Studi tersebut menjelaskan bahwa volume gas di dalam usus pada individu yang sehat dan penderita IBS sebenarnya tidak jauh berbeda, namun penderita IBS memiliki persepsi viseral yang berlebihan terhadap gas normal tersebut.
Temuan ini sangat relevan dengan topik kita, membuktikan bahwa suara gemuruh perut sering kali tidak berhubungan dengan jumlah makanan yang masuk, melainkan bagaimana saraf usus merespons pergerakan gas dan cairan. Hal ini memperkuat anjuran medis bahwa memodifikasi mikrobioma usus dan mengurangi sensitivitas saraf melalui manajemen stres dapat menjadi kunci utama penanganan keluhan borborygmi berlebih.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Borborygmi (Stomach Growling): What It Is & Causes.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Symptoms & Causes of Gas in the Digestive Tract.
International Foundation for Gastrointestinal Disorders (IFFGD). Diakses pada 2024. Gut Bacteria and IBS.
FAQ
1. Apakah perut berbunyi padahal tidak lapar berbahaya?
Dalam sebagian besar kasus, hal ini sama sekali tidak berbahaya dan merupakan tanda bahwa sistem pencernaan sedang melakukan tugas asimilasinya. Namun, hal ini patut diwaspadai jika disertai rasa sakit, muntah, atau pendarahan dari dubur.
2. Bisakah cacingan menyebabkan perut berbunyi terus-menerus?
Meskipun tidak secara langsung menyebabkan suara yang keras, infeksi parasit usus dapat memicu peradangan, diare, dan gangguan penyerapan nutrisi, yang pada akhirnya memicu peningkatan gerak peristaltik dan gas, sehingga perut bisa menjadi lebih sering berbunyi.
3. Mengapa minum air putih bisa meredakan perut bunyi?
Air putih membantu melancarkan pergerakan makanan yang keras di sepanjang usus dan melarutkan serat yang belum terurai. Ini akan mengurangi beban kerja otot usus, sehingga mencegah bunyi yang tidak perlu akibat hambatan makanan.
4. Apakah kopi bisa memicu perut berbunyi keras?
Ya, kopi sangat bisa memicu perut berbunyi. Kafein adalah stimulan yang mempercepat gerak peristaltik (kontraksi usus), sementara sifat asam pada kopi dapat meningkatkan produksi asam lambung. Kombinasi keduanya sangat sering menghasilkan suara gemuruh mendadak di perut.


