Ad Placeholder Image

Pica: Kenali Penyebab & Dampak Makan Benda Aneh

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   13 Februari 2026

Pica: Kenali Penyebab & Dampaknya!

Pica: Kenali Penyebab & Dampak Makan Benda AnehPica: Kenali Penyebab & Dampak Makan Benda Aneh

Pica adalah kondisi yang menyebabkan seseorang mengidam dan mengonsumsi benda-benda non-makanan yang tidak memiliki nilai gizi. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan gangguan perkembangan. Apa saja penyebab dan bagaimana cara mengatasi pica? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Pica?

Pica adalah gangguan makan yang ditandai dengan keinginan kuat untuk mengonsumsi benda-benda non-makanan secara terus-menerus selama setidaknya satu bulan. Benda-benda tersebut umumnya tidak bernilai gizi dan tidak dianggap sebagai bagian dari praktik budaya yang normal. Contohnya adalah tanah, es batu, kertas, sabun, rambut, cat, dan lainnya.

Gejala Pica yang Perlu Diketahui

Gejala utama pica adalah mengonsumsi benda-benda non-makanan secara kompulsif. Jenis benda yang dikonsumsi bervariasi, di antaranya:

  • Geophagia: Mengonsumsi tanah atau lumpur
  • Pagophagia: Mengonsumsi es batu
  • Amylophagia: Mengonsumsi pati atau tepung mentah

Selain itu, pica juga dapat melibatkan konsumsi rambut, cat kering, logam, sabun, dan benda-benda aneh lainnya. Perilaku ini harus berlangsung setidaknya satu bulan dan tidak sesuai dengan usia perkembangan individu.

Penyebab Pica dan Faktor Risikonya

Penyebab pasti pica belum diketahui sepenuhnya, tetapi ada beberapa faktor yang diduga berperan, yaitu:

  • Kekurangan Nutrisi: Kekurangan zat besi, zinc, atau nutrisi lainnya dapat memicu pica sebagai respons tubuh untuk mencari zat yang hilang.
  • Gangguan Mental: Pica sering dikaitkan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), autisme, atau gangguan intelektual.
  • Kehamilan: Beberapa wanita hamil mengalami pica karena perubahan hormonal atau kekurangan nutrisi.
  • Faktor Sosial dan Lingkungan: Kemiskinan, kurangnya pengawasan, atau stres emosional juga dapat meningkatkan risiko pica.

Bagaimana Pica Didiagnosis?

Diagnosis pica melibatkan evaluasi medis dan psikologis. Dokter akan menanyakan riwayat makan, kebiasaan, dan gejala yang dialami. Pemeriksaan fisik dan tes darah dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kekurangan nutrisi atau masalah kesehatan lainnya.

Kriteria diagnosis pica menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) meliputi:

  • Mengonsumsi benda non-makanan secara terus-menerus selama setidaknya satu bulan.
  • Perilaku ini tidak sesuai dengan usia perkembangan individu.
  • Perilaku ini bukan bagian dari praktik budaya atau sosial yang diterima secara luas.
  • Jika terjadi pada individu dengan gangguan mental atau kondisi medis, perilaku makan tersebut harus cukup parah untuk memerlukan perhatian medis tambahan.

Dampak Kesehatan Akibat Pica

Pica dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, tergantung pada jenis benda yang dikonsumsi. Beberapa risiko kesehatan yang mungkin terjadi meliputi:

  • Keracunan: Mengonsumsi benda-benda seperti cat atau logam dapat menyebabkan keracunan timbal atau zat berbahaya lainnya.
  • Infeksi: Tanah atau kotoran dapat mengandung parasit atau bakteri yang menyebabkan infeksi.
  • Masalah Pencernaan: Mengonsumsi benda-benda keras atau tidak larut dapat menyebabkan sembelit, penyumbatan usus, atau perforasi.
  • Kekurangan Nutrisi: Pica dapat mengganggu penyerapan nutrisi penting dan memperburuk kekurangan yang sudah ada.
  • Kerusakan Gigi: Mengunyah es batu atau benda keras lainnya dapat merusak enamel gigi dan menyebabkan masalah gigi.

Pilihan Pengobatan untuk Pica

Pengobatan pica berfokus pada mengatasi penyebab yang mendasari dan mengurangi perilaku makan yang tidak sehat. Beberapa pilihan pengobatan meliputi:

  • Suplementasi Nutrisi: Jika pica disebabkan oleh kekurangan nutrisi, dokter akan meresepkan suplemen zat besi, zinc, atau vitamin lainnya.
  • Terapi Perilaku: Terapi perilaku seperti applied behavior analysis (ABA) atau terapi kognitif-perilaku (CBT) dapat membantu mengubah perilaku makan yang tidak sehat.
  • Pengobatan Gangguan Mental: Jika pica terkait dengan gangguan mental, pengobatan yang sesuai seperti antidepresan atau antipsikotik mungkin diperlukan.
  • Konseling: Konseling dapat membantu individu dan keluarga mengatasi stres emosional atau masalah sosial yang berkontribusi pada pica.

Bagaimana Mencegah Pica?

Meskipun tidak selalu mungkin untuk mencegah pica, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko, antara lain:

  • Memastikan Nutrisi yang Cukup: Memberikan makanan bergizi seimbang dapat mencegah kekurangan nutrisi yang dapat memicu pica.
  • Pengawasan yang Ketat: Mengawasi anak-anak atau individu dengan gangguan perkembangan dapat mencegah mereka mengonsumsi benda-benda berbahaya.
  • Mengelola Stres: Mengajarkan strategi koping yang sehat untuk mengatasi stres dan emosi dapat mengurangi risiko pica.
  • Konsultasi Medis: Segera mencari bantuan medis jika ada kekhawatiran tentang perilaku makan yang tidak biasa.

Pica adalah kondisi yang kompleks dan memerlukan penanganan yang komprehensif. Jika seseorang menunjukkan gejala pica, segera konsultasikan dengan dokter atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Jangan ragu untuk menggunakan fitur konsultasi dokter di aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran medis yang akurat dan terpercaya.