Ad Placeholder Image

Pica: Kenapa Suka Makan Tanah, Es, Sabun?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   04 Maret 2026

Pica: Saat Tubuh Ingin Makan Bukan Makanan

Pica: Kenapa Suka Makan Tanah, Es, Sabun?Pica: Kenapa Suka Makan Tanah, Es, Sabun?

Pica Adalah: Memahami Gangguan Makan Non-Nutritif dan Dampaknya

Pica adalah gangguan makan serius yang ditandai dengan perilaku kompulsif mengonsumsi zat non-makanan yang tidak bernilai gizi. Kondisi ini sering kali ditemukan pada anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas intelektual. Seseorang dikatakan mengalami pica jika perilaku ini berlangsung minimal satu bulan dan bukan merupakan bagian dari praktik budaya atau tahap perkembangan normal. Memahami apa itu pica dan dampaknya sangat penting untuk penanganan yang tepat.

Apa Itu Pica?

Pica adalah kondisi ketika seseorang secara terus-menerus memakan benda-benda yang tidak seharusnya dimakan. Benda-benda ini tidak memiliki nilai gizi dan seringkali membahayakan kesehatan. Contoh benda yang dikonsumsi meliputi tanah, es batu, sabun, kertas, atau cat. Perilaku ini berbeda dari kebiasaan anak kecil yang sesekali memasukkan benda ke mulut sebagai bagian dari eksplorasi normal. Diagnosis pica hanya diberikan jika perilaku ini tidak sesuai dengan tahap perkembangan individu, misalnya jika terjadi pada anak di atas usia dua tahun.

Ciri-Ciri dan Gejala Pica

Ciri utama pica adalah konsumsi benda-benda non-makanan secara berulang dan terus-menerus. Jenis benda yang dikonsumsi bisa sangat bervariasi dan seringkali spesifik pada individu yang mengalami kondisi ini.

  • Tanah atau lumpur, yang dikenal sebagai *geophagia*.
  • Es batu dalam jumlah banyak, disebut *pagophagia*.
  • Pati atau tepung mentah, dikenal sebagai *amylophagia*.
  • Rambut, baik rambut sendiri maupun orang lain.
  • Cat kering, terutama dari dinding atau benda lain.
  • Potongan logam kecil.
  • Sabun atau deterjen.
  • Kertas atau kain.

Perilaku ini harus berlangsung setidaknya satu bulan untuk memenuhi kriteria diagnosis pica. Penting untuk membedakannya dari kebiasaan yang tidak berbahaya atau perilaku eksplorasi normal pada anak di bawah dua tahun.

Penyebab Pica

Penyebab pica sering kali kompleks dan bisa melibatkan beberapa faktor. Salah satu penyebab utama yang sering dikaitkan adalah kekurangan nutrisi tertentu dalam tubuh.

  • **Kekurangan Nutrisi:** Defisiensi zat besi dan seng adalah dua kekurangan gizi yang paling sering dihubungkan dengan pica. Tubuh mungkin secara tidak sadar mencoba mencari nutrisi yang hilang melalui konsumsi zat non-makanan.
  • **Gangguan Kesehatan Mental:** Pica dapat menjadi gejala atau komorbiditas pada beberapa gangguan kesehatan mental. Kondisi seperti gangguan spektrum autisme, gangguan perkembangan, atau disabilitas intelektual sering dikaitkan.
  • **Kehamilan:** Pica juga umum terjadi pada ibu hamil. Perubahan hormon dan kebutuhan nutrisi yang meningkat selama kehamilan dapat memicu keinginan untuk mengonsumsi benda non-makanan.
  • **Kondisi Lingkungan dan Sosial:** Dalam beberapa kasus, pica bisa terkait dengan kondisi lingkungan yang kurang stimulasi atau kurangnya pengawasan.

Memahami penyebab dasar sangat penting untuk merencanakan intervensi dan penanganan yang efektif bagi penderita pica.

Dampak Kesehatan Pica

Mengonsumsi benda non-makanan dapat menimbulkan berbagai risiko serius bagi kesehatan. Dampak pica bervariasi tergantung pada jenis benda yang dimakan.

  • **Masalah Pencernaan:** Konsumsi benda asing dapat menyebabkan sembelit, nyeri perut, hingga penyumbatan usus yang memerlukan intervensi medis darurat.
  • **Keracunan:** Beberapa benda seperti cat kering (mengandung timbal) atau tanah (mengandung pestisida/bahan kimia) dapat menyebabkan keracunan. Keracunan timbal, misalnya, bisa merusak otak dan sistem saraf.
  • **Infeksi Parasit:** Memakan tanah atau kotoran berisiko tinggi menyebabkan infeksi parasit di saluran pencernaan. Ini dapat memicu gejala seperti diare, mual, dan penurunan berat badan.
  • **Anemia:** Meskipun sering dikaitkan dengan defisiensi zat besi, konsumsi benda non-makanan tertentu dapat memperburuk anemia atau menyebabkan masalah penyerapan nutrisi lain.
  • **Kerusakan Gigi:** Benda keras seperti es batu, kerikil, atau potongan logam dapat merusak enamel gigi, menyebabkan gigi retak, patah, atau aus.

Risiko ini menunjukkan perlunya deteksi dini dan penanganan pica yang komprehensif.

Diagnosis dan Penanganan Pica

Diagnosis pica didasarkan pada riwayat konsumsi zat non-makanan selama minimal satu bulan, di luar praktik budaya atau tahap perkembangan normal. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh.

  • **Evaluasi Medis:** Pemeriksaan fisik dan tes darah dapat dilakukan untuk mencari tanda-tanda kekurangan nutrisi, keracunan (misalnya timbal), atau infeksi parasit.
  • **Penilaian Perilaku:** Observasi perilaku makan dan wawancara dengan individu atau pengasuh penting untuk mengonfirmasi pola konsumsi non-makanan.
  • **Kriteria Usia:** Diagnosis pica umumnya tidak diberikan pada anak di bawah dua tahun, karena perilaku memasukkan benda ke mulut masih dianggap normal pada usia tersebut.

Penanganan pica biasanya fokus pada penyebab yang mendasari. Ini mungkin melibatkan suplementasi nutrisi jika ada defisiensi. Terapi perilaku juga sering digunakan untuk membantu mengurangi atau menghentikan perilaku pica. Pendekatan ini dapat meliputi modifikasi lingkungan, penguatan positif untuk perilaku makan yang sesuai, dan intervensi kognitif-perilaku.

Pencegahan Pica

Pencegahan pica melibatkan beberapa strategi, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi. Memastikan asupan nutrisi yang cukup adalah langkah fundamental.

  • **Asupan Nutrisi Seimbang:** Konsumsi makanan kaya zat besi, seng, dan vitamin lainnya sangat penting. Suplementasi dapat dipertimbangkan di bawah pengawasan medis, terutama pada ibu hamil atau individu dengan defisiensi.
  • **Lingkungan Aman:** Menjauhkan benda-benda non-makanan yang berbahaya dari jangkauan anak-anak atau individu dengan disabilitas intelektual dapat mengurangi risiko.
  • **Edukasi dan Kesadaran:** Meningkatkan pemahaman tentang pica di kalangan orang tua dan pengasuh membantu deteksi dini dan penanganan.
  • **Penanganan Kondisi Penyerta:** Mengelola gangguan kesehatan mental atau perkembangan yang mendasari pica juga merupakan bagian penting dari pencegahan.

Pencegahan yang efektif membutuhkan pendekatan multi-aspek dan perhatian terhadap kebutuhan individu.

Jika ada kekhawatiran mengenai perilaku makan yang tidak biasa atau gejala yang mengarah pada pica, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan. Melalui aplikasi Halodoc, dapatkan rekomendasi medis praktis dan penanganan yang tepat dari dokter ahli.