Plasenta di Bawah: Hamil 7 Bulan, Bahaya?

DAFTAR ISI
- Apa Itu Plasenta di Bawah?
- Klasifikasi dan Jenis Plasenta Previa
- Gejala Utama yang Perlu Diwaspadai
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Diagnosis dan Penanganan Medis
- Studi Terkait Plasenta Previa
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Masa kehamilan adalah salah satu perjalanan paling menakjubkan bagi seorang calon ibu. Namun, perjalanan ini terkadang tidak lepas dari berbagai tantangan medis yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu kondisi yang cukup sering menjadi kekhawatiran, terutama saat memasuki trimester kedua dan ketiga, adalah diagnosis plasenta di bawah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai plasenta previa.
Plasenta sendiri merupakan organ vital yang terbentuk di dalam rahim selama masa kehamilan. Organ ini berfungsi sebagai saluran utama yang menyalurkan oksigen dan nutrisi dari tubuh ibu ke janin, sekaligus membuang zat sisa dari darah bayi. Normalnya, seiring bertambahnya usia kehamilan dan membesarnya ukuran rahim, plasenta akan bergeser ke bagian atas rahim. Namun, pada beberapa kasus, plasenta tetap berada di bagian bawah rahim hingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (serviks).
Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat memicu komplikasi serius, terutama perdarahan hebat selama kehamilan maupun saat proses persalinan. Penanganan yang tepat, pemantauan rutin, dan kehati-hatian ekstra sangat diperlukan untuk memastikan keselamatan ibu dan janin hingga hari persalinan tiba.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan plasenta di bawah, bagaimana mengenalinya, dan langkah penanganan apa yang perlu dilakukan? Berikut adalah ulasan medis lengkap yang perlu kamu ketahui.
Apa Itu Plasenta di Bawah?
Plasenta di bawah atau plasenta previa adalah sebuah komplikasi kehamilan di mana letak plasenta berada di bagian bawah rahim (uterus), sehingga menutupi sebagian atau seluruh leher rahim (serviks). Leher rahim sendiri adalah jalan lahir utama yang akan dilalui bayi saat proses persalinan normal (pervaginam).
Pada awal masa kehamilan, letak plasenta di bagian bawah rahim sebenarnya adalah hal yang cukup umum terjadi. Mengapa demikian? Karena pada trimester pertama, ukuran rahim masih relatif kecil, sehingga plasenta bisa menempel di area mana saja, termasuk di bagian bawah. Namun, seiring dengan bertambahnya usia kehamilan—biasanya memasuki bulan ke-7 (trimester ketiga)—rahim akan meregang dan membesar ke arah atas.
Proses peregangan rahim ke atas ini secara alami akan “menarik” plasenta ikut naik, menjauhi area serviks. Masalah baru akan muncul jika plasenta tidak kunjung bergeser naik atau tetap berada di posisi bawah hingga mendekati waktu taksiran persalinan. Jika kondisi ini terjadi, serviks yang merupakan jalan keluar bayi akan terhalang, dan risiko perdarahan akan meningkat secara signifikan ketika serviks mulai menipis dan membuka sebagai persiapan persalinan.
Klasifikasi dan Jenis Plasenta Previa
Dalam dunia medis, tingkat keparahan letak plasenta di bawah tidak selalu sama pada setiap ibu hamil. Kondisi ini diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan seberapa besar plasenta tersebut menutupi area serviks. Berikut adalah pembagiannya:
1. Plasenta Previa Totalis (Total)
Ini merupakan kondisi yang paling berisiko. Pada plasenta previa totalis, seluruh jalan lahir (mulut rahim atau serviks) tertutup sepenuhnya oleh plasenta. Ibu hamil dengan kondisi ini umumnya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal pervaginam karena jalan keluar bayi benar-benar terhalang. Persalinan caesar (C-section) menjadi satu-satunya metode yang paling aman.
2. Plasenta Previa Parsialis (Sebagian)
Pada kondisi ini, plasenta hanya menutupi sebagian mulut rahim. Meskipun tidak tertutup total, risiko perdarahan hebat saat persalinan normal tetap sangat tinggi, sehingga dokter biasanya akan tetap merekomendasikan operasi caesar untuk meminimalisasi komplikasi persalinan.
3. Plasenta Previa Marginalis (Tepi)
Plasenta berada tepat di tepi atau pinggiran mulut rahim. Karena plasenta berada sangat dekat dengan serviks, gesekan sekecil apa pun saat serviks mulai membuka bisa menyebabkan perdarahan. Pada beberapa kasus marginal yang ringan, persalinan normal mungkin masih bisa dipertimbangkan dengan pengawasan ekstra ketat, namun mayoritas tetap berujung pada tindakan operasi.
4. Low-Lying Placenta (Letak Rendah)
Pada jenis ini, plasenta menempel di bagian bawah rahim namun pinggirannya belum menyentuh mulut rahim sama sekali (biasanya berjarak kurang dari 2 cm dari mulut rahim). Kondisi ini sering kali terdeteksi pada USG trimester kedua dan memiliki peluang terbesar untuk naik dengan sendirinya seiring membesarnya ukuran rahim.
Gejala Utama yang Perlu Diwaspadai
Salah satu ciri paling khas dan krusial dari kondisi plasenta di bawah adalah terjadinya perdarahan dari vagina pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Berbeda dengan perdarahan akibat keguguran atau masalah kehamilan lainnya, perdarahan akibat plasenta previa memiliki karakteristik khusus:
- Tanpa Rasa Nyeri (Painless Bleeding): Darah keluar begitu saja dari vagina tanpa disertai rasa kram, mulas, atau nyeri pada perut dan panggul. Ini adalah tanda bahaya paling utama.
- Warna Darah: Darah yang keluar biasanya berwarna merah segar (bright red), bukan flek kecokelatan.
- Volume Darah: Volume darah yang keluar bisa bervariasi, mulai dari sekadar bercak ringan (spotting) hingga perdarahan yang sangat deras seperti sedang menstruasi berat.
- Berulang: Perdarahan bisa berhenti dengan sendirinya tanpa intervensi medis, namun biasanya akan kembali terjadi beberapa hari atau beberapa minggu kemudian.
Meskipun ciri utamanya adalah tanpa nyeri, pada beberapa ibu hamil, perdarahan ini mungkin bisa memicu terjadinya kontraksi rahim prematur. Oleh karena itu, jika kamu mengalami gejala seperti perdarahan tanpa rasa nyeri, jangan ditunda, segera lakukan konsultasi ke dokter kandungan atau segera kunjungi instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.
Tanda Bahaya Medis Kehamilan yang Wajib Diwaspadai
- Perdarahan vagina bervolume banyak dan berwarna merah segar.
- Kram atau kontraksi perut yang teratur sebelum usia kehamilan 37 minggu.
- Gerakan janin di dalam perut terasa berkurang drastis atau berhenti sama sekali.
- Penurunan kesadaran, pusing hebat, atau pandangan berkunang-kunang akibat banyaknya darah yang keluar.
Penyebab dan Faktor Risiko
Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa plasenta bisa menempel dan menetap di bagian bawah rahim belum diketahui secara absolut. Namun, para ahli obstetri dan ginekologi telah mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan peluang seorang ibu hamil mengalami plasenta previa:
1. Riwayat Operasi pada Rahim
Ibu yang pernah menjalani tindakan medis yang meninggalkan jaringan parut (bekas luka) pada dinding rahim memiliki risiko jauh lebih tinggi. Tindakan medis tersebut meliputi riwayat operasi caesar pada kehamilan sebelumnya, operasi pengangkatan miom (miomektomi), atau prosedur kuretase akibat keguguran.
2. Kehamilan Ganda (Kembar)
Mengandung bayi kembar dua, tiga, atau lebih membutuhkan plasenta yang berukuran lebih besar agar bisa menyuplai nutrisi untuk semua janin. Ukuran plasenta yang lebih luas ini meningkatkan kemungkinan plasenta tumbuh melebar hingga menutupi area leher rahim.
3. Usia Ibu Saat Hamil
Usia ibu hamil turut memainkan peran penting. Berdasarkan berbagai literatur medis, kehamilan yang terjadi pada usia di atas 35 tahun dihubungkan dengan peningkatan risiko terjadinya gangguan penempelan plasenta, termasuk plasenta letak rendah.
4. Kebiasaan Merokok dan Penggunaan Obat Terlarang
Zat-zat beracun dari rokok maupun obat-obatan terlarang dapat merusak sirkulasi darah dan integritas dinding rahim ibu, sehingga mengganggu proses implantasi plasenta yang sehat dan normal.
5. Riwayat Plasenta Previa Sebelumnya
Jika kamu pernah terdiagnosis mengalami plasenta letak bawah pada kehamilan pertama, risiko untuk mengalaminya kembali pada kehamilan-kehamilan berikutnya (rekurensi) akan meningkat secara signifikan.
Diagnosis dan Penanganan Medis
Diagnosis kondisi ini hampir selalu dilakukan menggunakan teknologi pencitraan Ultrasonografi (USG). Dokter biasanya akan mendeteksinya saat ibu melakukan pemeriksaan USG rutin di usia kehamilan sekitar 18 hingga 20 minggu (mid-pregnancy ultrasound). Jika plasenta terlihat berada di bawah, dokter akan terus memantaunya melalui USG berkala di trimester ketiga untuk melihat apakah plasenta sudah bergeser naik.
Jika posisi plasenta tetap berada di bawah, penanganan medis tidak bisa menggunakan obat-obatan yang dijual bebas. Secara medis, tidak ada obat atau suplemen apa pun yang dapat memindahkan posisi plasenta. Oleh karena itu, dokter akan berfokus pada meminimalisasi risiko perdarahan dan memastikan usia kandungan mencapai titik yang cukup aman untuk persalinan.
Langkah-langkah penanganan biasanya meliputi:
- Pelvic Rest: Ibu hamil dilarang sama sekali melakukan hubungan intim, dilarang menggunakan tampon, dan dokter juga tidak akan melakukan pemeriksaan dalam (vaginal touche) untuk menghindari robeknya jaringan plasenta.
- Bed Rest (Istirahat Total): Ibu mungkin diinstruksikan untuk mengurangi aktivitas fisik secara drastis atau menjalani rawat inap di rumah sakit (bed rest total) jika telah terjadi episode perdarahan yang signifikan.
- Konsumsi Zat Besi dan Vitamin: Perdarahan rentan menyebabkan ibu hamil mengalami anemia defisiensi besi. Untuk mencegah penurunan kadar hemoglobin akibat perdarahan, kamu bisa beli vitamin dan suplemen kehamilan yang mengandung zat besi maupun asam folat melalui aplikasi. Tentu saja, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai dosis suplemen yang paling tepat untuk kondisimu.
- Pemberian Kortikosteroid: Jika risiko kelahiran prematur sangat tinggi (bayi harus segera dilahirkan sebelum usia 37 minggu demi keselamatan ibu dan janin), dokter akan memberikan suntikan kortikosteroid untuk membantu mematangkan paru-paru janin secara lebih cepat.
- Persalinan Caesar (C-Section): Metode persalinan caesar yang direncanakan adalah penanganan utama untuk kasus plasenta previa parsialis maupun totalis, guna menghindari perdarahan fatal (hemorrhage) yang mengancam nyawa.
Studi Terkait Plasenta Previa
Journal of Obstetrics and Gynaecology Research menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa angka kejadian komplikasi pendarahan pasca-persalinan (postpartum hemorrhage) sangat berkaitan erat dengan kasus plasenta previa, terutama pada ibu dengan riwayat operasi caesar sebelumnya.
Studi ini menekankan pentingnya deteksi dini menggunakan USG transvaginal untuk memetakan lokasi pasti plasenta terhadap mulut rahim. Penanganan yang proaktif, termasuk kesiapan transfusi darah dan perencanaan operasi caesar yang matang oleh tim medis gabungan, terbukti mampu menurunkan risiko morbiditas (angka kesakitan) maupun mortalitas (angka kematian) pada ibu hamil dengan plasenta letak bawah secara signifikan.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, seperti perdarahan tanpa rasa nyeri di masa kehamilan, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Placenta previa – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Placenta Previa: Symptoms, Causes & Treatments.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth: A guide for midwives and doctors.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu Edisi Ketiga.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Placenta Previa – StatPearls.
FAQ
1. Apakah plasenta di bawah bisa kembali normal ke posisi atas?
Ya, pada sebagian besar kasus yang terdeteksi di trimester kedua (sekitar minggu ke-18 hingga 20), plasenta letak rendah bisa bergeser ke atas dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena rahim terus bertambah besar dan meregang seiring perkembangan janin. Namun, jika letak plasenta belum berubah hingga memasuki trimester ketiga (usia kehamilan di atas 32 minggu), kemungkinannya untuk naik akan semakin kecil.
2. Apakah ibu dengan plasenta previa boleh berhubungan intim?
Tidak disarankan. Dokter spesialis kandungan umumnya akan menyarankan ibu hamil dengan plasenta letak bawah untuk membatasi aktivitas seksual (pelvic rest). Penetrasi atau rangsangan pada area serviks dapat memicu kontraksi rahim dan gesekan yang menyebabkan perdarahan hebat yang sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan janin.
3. Apa yang harus saya lakukan jika mengalami perdarahan akibat plasenta di bawah?
Jika kamu mengalami perdarahan dari vagina—sekalipun hanya berupa bercak tanpa rasa nyeri—segera hubungi dokter kandungan atau pergi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Jangan mengabaikan perdarahan di masa kehamilan, karena tindakan medis cepat sangat dibutuhkan untuk mencegah syok perdarahan dan kelahiran prematur.
4. Apakah penderita plasenta letak bawah masih bisa melahirkan secara normal?
Kemungkinan persalinan normal sangat bergantung pada jenis plasenta previa yang dialami. Jika plasenta menutupi jalan lahir secara total (plasenta previa totalis) atau sebagian (parsialis), persalinan normal tidak mungkin dilakukan dan tindakan operasi caesar adalah prosedur medis wajib. Persalinan normal mungkin hanya bisa dipertimbangkan pada kasus letak rendah marginal yang benar-benar stabil dan di bawah pengawasan medis sangat ketat.



