Plasenta Dibawah 7 Bulan: Kenali Gejala dan Solusi Aman

DAFTAR ISI
- Mengenal Kondisi Plasenta Bergeser
- Ciri-ciri Plasenta Bergeser yang Utama
- Faktor Risiko Plasenta Previa
- Diagnosis dan Klasifikasi
- Penanganan dan Perawatan Mandiri
- Studi Terkait
- FAQ
Kesehatan plasenta merupakan salah satu pilar utama dalam menunjang tumbuh kembang janin selama masa kehamilan. Plasenta berfungsi sebagai saluran nutrisi, oksigen, dan pembuangan zat sisa antara ibu dan bayi. Namun, terdapat kondisi medis di mana posisi plasenta tidak berada di tempat yang semestinya, atau yang sering dikenal masyarakat sebagai plasenta bergeser (plasenta previa). Kondisi ini terjadi ketika plasenta menempel pada bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (serviks).
Mengetahui ciri-ciri plasenta bergeser sejak dini sangatlah krusial bagi setiap ibu hamil. Hal ini dikarenakan plasenta previa dapat memicu komplikasi serius, seperti pendarahan hebat (hemoragi) baik sebelum maupun saat proses persalinan. Pendarahan ini tidak hanya membahayakan nyawa ibu, tetapi juga dapat menyebabkan bayi lahir prematur atau mengalami gawat janin akibat kekurangan oksigen.
Meskipun istilah “bergeser” sering digunakan, secara medis plasenta sebenarnya tidak berpindah tempat layaknya benda yang bergerak. Seiring dengan pertumbuhan rahim yang meregang ke atas, posisi plasenta biasanya akan ikut tertarik menjauhi leher rahim. Namun, jika rahim bagian bawah tetap tertutup oleh plasenta hingga trimester kedua atau ketiga, maka kondisi ini memerlukan pengawasan medis yang sangat ketat.
Nah, mau tahu apa saja ciri-ciri dan langkah penanganan yang tepat untuk kondisi ini? Berikut ulasannya!
Mengenal Kondisi Plasenta Bergeser (Plasenta Previa)
Dalam kehamilan normal, plasenta biasanya menempel pada bagian atas atau samping rahim. Posisi ini memberikan ruang yang cukup bagi janin untuk berkembang dan membiarkan jalan lahir tetap terbuka untuk proses persalinan nanti. Plasenta previa atau plasenta bergeser terjadi ketika plasenta justru berimplantasi di segmen bawah rahim.
Kondisi ini sering kali terdeteksi pada pemeriksaan USG rutin di trimester kedua. Berita baiknya, banyak kasus plasenta yang berada di bawah pada awal kehamilan akan “naik” dengan sendirinya seiring membesarnya rahim. Namun, jika posisi plasenta tetap berada di bawah hingga mendekati hari perkiraan lahir (HPL), maka tindakan medis khusus seperti operasi caesar biasanya menjadi jalan keluar yang paling aman.
Ciri-ciri Plasenta Bergeser yang Paling Umum
Gejala plasenta previa bisa bervariasi pada setiap ibu hamil, namun ada beberapa tanda klasik yang harus diwaspadai:
1. Pendarahan Vagina Tanpa Rasa Sakit
Ciri yang paling khas adalah munculnya pendarahan dari vagina pada trimester kedua atau ketiga, terutama setelah usia kehamilan 20 minggu. Darah yang keluar biasanya berwarna merah segar. Yang membedakannya dengan keguguran atau solusio plasenta adalah pendarahan ini umumnya tidak disertai rasa nyeri atau kram perut yang hebat.
2. Pendarahan yang Hilang Timbul
Pendarahan akibat plasenta bergeser mungkin berhenti dengan sendirinya, namun cenderung muncul kembali setelah beberapa hari atau minggu kemudian. Intensitas pendarahan bisa meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan karena peregangan dinding rahim bagian bawah yang menyebabkan pembuluh darah plasenta robek.
3. Posisi Janin Tidak Normal
Karena plasenta menutupi jalan lahir, janin mungkin kesulitan untuk masuk ke posisi kepala di bawah. Akibatnya, ibu hamil dengan plasenta previa sering kali mendapati posisi bayi sungsang (kaki di bawah) atau melintang.
4. Kontraksi Dini
Pada beberapa kasus, pendarahan dapat memicu kontraksi rahim. Meskipun rasa sakitnya tidak sehebat persalinan normal, kontraksi ini merupakan tanda peringatan bahwa rahim sedang bereaksi terhadap gangguan pada plasenta.
Mengapa Plasenta Bisa Bergeser?
Penyebab pasti plasenta previa belum diketahui secara sepenuhnya, namun beberapa faktor meningkatkan risikonya:
- Riwayat operasi pada rahim, termasuk operasi caesar, kuretase, atau pengangkatan miom.
- Kehamilan kembar, yang memerlukan plasenta lebih besar sehingga berisiko menutupi serviks.
- Usia ibu di atas 35 tahun saat hamil.
- Pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
- Kebiasaan merokok atau penggunaan obat-obatan terlarang yang mengganggu suplai oksigen ke rahim.
Tips Keamanan untuk Ibu dengan Plasenta Previa
- Hindari hubungan intim (penetrasi) karena dapat memicu pendarahan pada serviks.
- Kurangi aktivitas fisik yang berat atau olahraga intensitas tinggi.
- Jangan melakukan pemeriksaan dalam (vagina) kecuali oleh tenaga medis profesional dengan fasilitas darurat.
Diagnosis dan Klasifikasi
Diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG), baik melalui perut (transabdominal) maupun melalui vagina (transvaginal) dengan sangat hati-hati. Berdasarkan posisinya, plasenta previa dibagi menjadi:
- Plasenta Previa Totalis: Plasenta menutupi seluruh lubang jalan lahir.
- Plasenta Previa Parsialis: Plasenta menutupi sebagian lubang jalan lahir.
- Plasenta Previa Marginalis: Tepi plasenta berada di pinggir lubang jalan lahir.
- Plasenta Letak Rendah: Plasenta berada di dekat lubang jalan lahir tetapi tidak menutupinya (biasanya dalam jarak 2 cm).
Penanganan dan Kapan Harus ke Dokter
Penanganan plasenta bergeser bergantung pada banyaknya pendarahan, usia kandungan, dan kesehatan janin. Jika pendarahan minimal, dokter mungkin menyarankan bed rest total di rumah. Namun, jika pendarahan hebat terjadi, rawat inap di rumah sakit sering kali diperlukan untuk pemantauan ketat dan persiapan transfusi darah jika diperlukan.
Penting bagi kamu untuk tetap tenang namun waspada. Jika kamu mengalami flek atau pendarahan sekecil apa pun di trimester kedua atau ketiga, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan awal dan evaluasi medis yang tepat.
Studi Mengenai Plasenta Previa
The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa deteksi dini plasenta previa melalui USG rutin di usia kehamilan 18-22 minggu dapat menurunkan risiko morbiditas maternal secara signifikan.
Studi tersebut menekankan bahwa manajemen ekspektan (pemantauan) efektif dilakukan pada pasien dengan plasenta letak rendah yang tidak mengalami gejala, karena sebagian besar posisi plasenta akan terkoreksi sendiri seiring perkembangan segmen bawah rahim.
FAQ
1. Apakah plasenta bergeser bisa kembali normal?
Ya, pada awal kehamilan (trimester kedua), plasenta sering kali tampak di bawah. Seiring rahim membesar, plasenta cenderung tertarik ke atas menjauhi serviks. Namun, jika sudah di trimester ketiga, kemungkinannya lebih kecil.
2. Bisakah melahirkan normal dengan plasenta previa?
Jika plasenta menutupi jalan lahir (totalis atau parsialis), persalinan normal sangat berisiko memicu pendarahan fatal, sehingga operasi caesar wajib dilakukan. Persalinan normal hanya mungkin dipertimbangkan pada kasus plasenta letak rendah tertentu.
3. Apakah pendarahan plasenta previa selalu berbahaya?
Setiap pendarahan pada trimester kedua dan ketiga harus dianggap serius karena berisiko menyebabkan syok pada ibu dan kurangnya oksigen pada janin.
4. Apa yang membedakan pendarahan plasenta previa dengan solusio plasenta?
Pendarahan plasenta previa biasanya tidak nyeri dan darah berwarna merah segar, sedangkan solusio plasenta (plasenta lepas) biasanya disertai nyeri perut hebat dan darah mungkin berwarna lebih gelap.
Punya Kekhawatiran tentang Kondisi Kehamilan? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan atau kekhawatiran mengenai posisi plasenta, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.



