Ad Placeholder Image

Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Playing Victim: Arti dalam Bahasa Gaul, Biar Gak Ketinggalan!

Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana seseorang yang jelas-jelas melakukan kesalahan justru memutarbalikkan fakta dan membuat dirinya seolah-olah menjadi pihak yang paling tersakiti? Fenomena ini sering kita dengar dengan istilah playing victim. Namun, belakangan muncul istilah “flying victim” di media sosial Indonesia yang sebenarnya merujuk pada fenomena serupa atau kesalahan penyebutan dari playing victim itu sendiri.

Kondisi ini bukan sekadar perilaku mencari perhatian, melainkan sebuah pola perilaku kompleks yang bisa merusak kesehatan mental orang-orang di sekitarnya. Mentalitas korban atau victim mentality sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri bagi seseorang untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Jika dibiarkan, perilaku ini dapat menciptakan lingkungan yang toksik, baik dalam hubungan asmara, pertemanan, maupun dunia kerja.

Memahami akar permasalahan dari perilaku ini sangat penting agar kamu tidak terjebak dalam manipulasi emosional yang dilakukan. Terkadang, menghadapi orang dengan karakter seperti ini menguras energi mental yang sangat besar, sehingga kamu mungkin membutuhkan bantuan profesional untuk menjaga stabilitas emosimu sendiri.

Nah, mau tahu apa saja penjelasan mendalam mengenai fenomena ini, cara mengidentifikasinya, serta langkah medis atau psikologis yang bisa diambil? Berikut ulasannya!

Mengenal Istilah Flying Victim dan Playing Victim

Istilah “flying victim” mungkin terdengar asing dalam literatur psikologi formal, namun di kalangan netizen Indonesia, istilah ini sering muncul sebagai variasi atau bahkan kesalahan ketik dari playing victim. Secara esensi, keduanya merujuk pada perilaku seseorang yang memposisikan dirinya sebagai korban dalam setiap konflik, meskipun fakta menunjukkan sebaliknya.

Dalam psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian tertentu atau trauma masa lalu. Seseorang dengan mentalitas ini merasa bahwa dunia tidak adil bagi mereka dan mereka tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Mereka cenderung menyalahkan faktor eksternal—seperti orang lain, nasib, atau situasi—atas kegagalan atau kesalahan yang mereka buat sendiri.

Tanda-tanda Seseorang Melakukan Playing Victim

Mengidentifikasi perilaku ini sejak dini sangat membantu kamu dalam menetapkan batasan (boundaries). Berikut adalah beberapa ciri utama yang sering muncul:

  • Menghindari Tanggung Jawab: Mereka selalu punya alasan mengapa sesuatu bukan salah mereka.
  • Memutarbalikkan Fakta: Saat dikonfrontasi, mereka akan fokus pada kesalahan kecil yang kamu buat untuk mengalihkan perhatian dari kesalahan besar mereka.
  • Menceritakan Penderitaan Secara Berlebihan: Mereka sering berbagi cerita sedih untuk memancing empati dan simpati dari orang lain.
  • Sulit Meminta Maaf: Kata “maaf” jarang keluar dari mulut mereka, kecuali jika itu diikuti dengan kata “tapi” yang kembali menyalahkan keadaan.
  • Merasa Tak Berdaya: Mereka sering menunjukkan sikap pasif-agresif dan merasa tidak bisa mengubah nasibnya.
Cara Mengenali Manipulasi Emosional
  1. Perhatikan apakah pola ini berulang dalam setiap masalah yang mereka hadapi.
  2. Cek apakah mereka pernah mengakui kesalahan secara tulus tanpa menyalahkan orang lain.
  3. Rasakan apakah kamu merasa lelah secara mental (burnout) setiap kali berinteraksi dengan mereka.

Mengapa Seseorang Melakukan Playing Victim?

Perilaku ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor psikologis yang melatarbelakanginya:

1. Trauma Masa Lalu

Seseorang yang pernah mengalami trauma nyata di masa kecil dan tidak mendapatkan validasi atau penanganan yang tepat mungkin mengembangkan mekanisme pertahanan diri ini. Mereka merasa “aman” ketika menjadi korban karena di situlah mereka mendapatkan perhatian yang sebelumnya tidak mereka peroleh.

2. Kebutuhan akan Kontrol

Dengan menjadi korban, seseorang sebenarnya sedang memanipulasi orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Ini adalah bentuk kontrol yang halus namun merusak.

3. Menghindari Rasa Bersalah

Menghadapi rasa bersalah itu menyakitkan. Bagi sebagian orang, lebih mudah untuk merasa dizalimi daripada harus mengakui bahwa mereka telah menyakiti orang lain.

Dampak Psikologis bagi Lingkungan Sekitar

Berinteraksi dengan orang yang terus-menerus melakukan playing victim dapat menyebabkan stres kronis, kecemasan, bahkan depresi bagi korbannya yang sebenarnya. Jika kamu merasa tertekan, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan dari psikolog atau psikiater.

Cara Menghadapi Orang dengan Mentalitas Korban

Menghadapi orang seperti ini memerlukan strategi khusus agar kesehatan mentalmu tetap terjaga:

1. Tetapkan Batasan yang Tegas

Jangan biarkan dirimu terseret dalam drama mereka. Kamu berhak untuk tidak mendengarkan keluhan yang sama berulang kali jika itu mulai mengganggu produktivitasmu.

2. Jangan Berusaha “Menyelamatkan” Mereka

Orang dengan mentalitas korban sering mencari “penyelamat”. Jika kamu mencoba memperbaiki hidup mereka, mereka akan selalu menemukan masalah baru agar tetap bisa dibantu. Biarkan mereka mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri.

3. Gunakan Fakta, Bukan Emosi

Saat berdiskusi, tetaplah pada fakta yang terjadi. Jangan biarkan argumen bergeser ke ranah emosional yang subjektif.

Untuk mendukung kesehatan saraf dan mengurangi dampak stres akibat tekanan lingkungan, terkadang tubuh memerlukan asupan nutrisi tambahan. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen seperti Vitamin B Kompleks atau Magnesium yang dapat membantu menenangkan sistem saraf.

Studi Mengenai Mentalitas Korban

Scientific Reports menerbitkan studi di tahun 2020 yang menjelaskan bahwa “Interpersonal Victimhood” merupakan kepribadian yang stabil. Studi ini menunjukkan bahwa orang dengan skor tinggi dalam hal ini cenderung memiliki keinginan untuk membalas dendam, kurangnya empati, dan merasa dirinya paling benar.

Penelitian ini menegaskan bahwa perilaku ini bukan sekadar fase sementara, melainkan bagian dari struktur kepribadian yang memerlukan intervensi psikologis mendalam jika ingin diubah secara permanen.

Jika kamu atau orang terdekat merasa terjebak dalam pola perilaku ini, jangan ragu untuk mencari bantuan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mengabaikan gejala stres akibat manipulasi emosional hanya akan memperburuk kondisi kesehatanmu di masa depan.

Kamu bisa mendapatkan produk kesehatan untuk menunjang daya tahan tubuh saat stres dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Referensi:
Gabay, R., et al. (2020). The Tendency for Interpersonal Victimhood: The Personality Construct and its Consequences. Personality and Individual Differences.
Mayo Clinic. (2024). Personality Disorders: Symptoms & Causes.
Cleveland Clinic. (2023). Playing Victim: How to Recognize and Deal with Victim Mentality.
Psychology Today. (2025). The Psychology of Victimhood.

FAQ

1. Apakah playing victim termasuk gangguan jiwa?

Playing victim bukan gangguan jiwa tunggal, tetapi sering kali merupakan gejala dari gangguan kepribadian seperti Borderline Personality Disorder (BPD) atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).

2. Bagaimana cara membedakan korban sungguhan dengan orang yang playing victim?

Korban sungguhan biasanya mencari solusi untuk pulih, sedangkan pelaku playing victim fokus pada menyalahkan orang lain dan mempertahankan statusnya sebagai korban untuk mendapatkan keuntungan.

3. Apakah perilaku ini bisa disembuhkan?

Bisa, namun memerlukan kemauan keras dari individu tersebut untuk menjalani terapi perilaku kognitif (CBT) dan mengakui pola perilakunya selama ini.

4. Apa yang harus dilakukan jika pasangan saya sering melakukan hal ini?

Komunikasikan perasaanmu dengan jujur, tetapkan batasan, dan sarankan untuk menjalani konseling pasangan jika hubungan dirasa mulai tidak sehat.

Punya Keluhan Kesehatan Mental tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa lelah menghadapi tekanan emosional atau bingung dengan gejala kesehatan yang kamu alami? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant (HILDA) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.