Ad Placeholder Image

Prosedur Pemeriksaan Visum yang Penting untuk Dipahami

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Pemeriksaan visum berfungsi sebagai alat bukti objektif medis untuk mengungkap fakta kekerasan fisik maupun mental korban.

Prosedur Pemeriksaan Visum yang Penting untuk DipahamiProsedur Pemeriksaan Visum yang Penting untuk Dipahami

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu mendengar istilah “visum” dalam berita kriminal atau kasus kecelakaan? Bagi masyarakat awam, istilah visum sering kali dikaitkan dengan pemeriksaan medis untuk membuktikan adanya tindak kekerasan. Namun, secara medis dan hukum, arti visum polisi atau yang secara resmi disebut Visum et Repertum memiliki cakupan yang jauh lebih luas dan mendalam.

Visum merupakan elemen krusial dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Dokumen ini menjadi jembatan antara ilmu kedokteran dan ilmu hukum, di mana temuan medis diubah menjadi alat bukti yang sah di depan hakim. Memahami prosedur dan arti visum sangat penting, terutama bagi mereka yang sedang mencari keadilan atau ingin memahami perlindungan hukum terhadap integritas fisik seseorang.

Pemeriksaan visum tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus mengikuti kaidah kedokteran forensik yang ketat. Jika kamu atau orang terdekat mengalami kejadian yang memerlukan pembuktian medis, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan arahan medis awal sebelum menempuh jalur hukum.

Nah, mau tahu apa saja detail mengenai prosedur dan arti visum polisi? Berikut ulasannya!

Apa Itu Visum et Repertum?

Secara etimologi, Visum et Repertum berasal dari bahasa Latin. Visum berarti “melihat” dan Repertum berarti “melaporkan”. Jadi, secara harfiah, visum adalah apa yang dilihat dan ditemukan oleh dokter. Dalam konteks hukum di Indonesia, visum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis (resmi) dari penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup maupun mati, ataupun bagian dari tubuh manusia.

Hasil pemeriksaan ini didasarkan pada keilmuan dokter dan dilakukan di bawah sumpah jabatan. Penting untuk diingat bahwa visum bukanlah sekadar surat keterangan sakit biasa. Visum adalah alat bukti surat yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Tanpa visum, pembuktian adanya kekerasan fisik atau penyebab kematian dalam sebuah kasus pidana akan menjadi sangat sulit bagi jaksa penuntut umum.

Dasar Hukum Visum di Indonesia

Pelaksanaan visum di Indonesia memiliki payung hukum yang kuat. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan medis tersebut memiliki kekuatan pembuktian yang tidak dapat diganggu gugat selama dilakukan sesuai prosedur. Beberapa dasar hukum utamanya meliputi:

  • Pasal 133 KUHAP: Menjelaskan bahwa dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter.
  • Pasal 184 KUHAP: Menetapkan keterangan ahli dan surat (termasuk visum) sebagai alat bukti yang sah.
  • Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan: Mengatur mengenai standar pelayanan kesehatan termasuk dalam hal pemeriksaan forensik.

Jenis-Jenis Visum Polisi

Tergantung pada kondisi korban dan kebutuhan penyidikan, terdapat beberapa jenis visum yang umum dilakukan dalam praktik kedokteran forensik:

1. Visum et Repertum Korban Hidup

Ini adalah jenis visum yang paling sering dilakukan. Visum ini terbagi lagi menjadi tiga kategori:

  • Visum Seketika: Dibuat saat korban pertama kali diperiksa dan luka-lukanya tidak memerlukan perawatan lanjutan yang dapat mengubah derajat hukuman.
  • Visum Sementara: Dibuat jika korban memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Dokter akan mencatat temuan awal namun belum bisa menyimpulkan derajat luka secara final.
  • Visum Lanjutan: Dibuat setelah korban dinyatakan sembuh atau selesai menjalani perawatan, untuk memberikan kesimpulan akhir mengenai dampak kesehatan korban.

2. Visum et Repertum Jenazah

Dilakukan terhadap orang yang sudah meninggal dunia untuk menentukan penyebab pasti kematian, waktu kematian, serta mekanisme kematian (misalnya akibat benda tumpul, senjata tajam, atau racun). Pemeriksaan ini sering kali melibatkan proses autopsi atau bedah mayat.

3. Visum et Repertum Psikiatrik

Visum ini dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) untuk memeriksa kesehatan mental seseorang. Biasanya diminta untuk menentukan apakah seorang tersangka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum atau untuk menilai kondisi psikis korban kekerasan seksual.

4. Visum et Repertum Barang Bukti Lain

Selain tubuh manusia, dokter forensik juga bisa diminta memeriksa barang bukti lain yang berasal dari tubuh manusia, seperti bercak darah, cairan mani, atau potongan rambut yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).

Pentingnya Kecepatan dalam Visum
  1. Luka fisik dapat sembuh atau berubah bentuk seiring berjalannya waktu, sehingga menunda visum berisiko menghilangkan bukti primer.
  2. Jejak biologis seperti sperma atau residu racun memiliki masa kedaluwarsa di dalam tubuh.
  3. Dokumentasi medis yang cepat mempermudah polisi dalam melakukan pengejaran terhadap pelaku berdasarkan pola kekerasan.

Prosedur Pengajuan Visum yang Benar

Banyak masyarakat mengira mereka bisa datang ke rumah sakit dan meminta visum secara mandiri. Hal ini kurang tepat jika tujuannya adalah untuk bukti hukum (pro-justitia). Berikut adalah alur yang benar:

1. Melaporkan Kejadian ke Kantor Polisi

Langkah pertama adalah membuat laporan polisi (LP). Korban atau keluarga melaporkan tindak pidana yang dialami kepada penyidik di kantor kepolisian terdekat (Polsek atau Polres).

2. Penerbitan Surat Permintaan Visum (SPV)

Penyidik akan menilai apakah kasus tersebut memerlukan visum. Jika iya, penyidik akan menerbitkan Surat Permintaan Visum (SPV) yang ditujukan kepada rumah sakit atau dokter tertentu.

3. Pemeriksaan Medis oleh Dokter

Korban membawa SPV tersebut ke rumah sakit. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari anamnesis (tanya jawab), pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang seperti rontgen atau tes laboratorium jika diperlukan. Selama masa tunggu hasil visum resmi, korban mungkin memerlukan perawatan luka. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk kebutuhan perawatan luka ringan di rumah sesuai anjuran dokter.

4. Penyusunan Laporan Visum

Dokter akan menyusun laporan tertulis yang berisi: Projustitia (untuk keadilan), identitas dokter, identitas korban, hasil pemeriksaan (objektif), dan kesimpulan (pendapat ahli).

Perbedaan Visum dan Rekam Medis

Meskipun keduanya dibuat oleh dokter, visum dan rekam medis memiliki perbedaan fundamental:

  • Tujuan: Rekam medis dibuat untuk kepentingan pengobatan dan pemulihan pasien, sedangkan visum dibuat untuk kepentingan peradilan.
  • Kerahasiaan: Rekam medis adalah rahasia antara dokter dan pasien. Visum adalah rahasia negara yang hanya boleh diserahkan kepada penyidik yang memintanya.
  • Format: Rekam medis berisi istilah medis teknis, sedangkan visum harus ditulis sedemikian rupa sehingga orang awam hukum (seperti hakim) dapat memahami temuan medis tersebut tanpa menghilangkan akurasi ilmiahnya.

Studi Mengenai Visum et Repertum

Jurnal Ilmu Hukum menerbitkan studi di tahun 2021 yang menjelaskan bahwa kualitas visum et repertum sangat dipengaruhi oleh objektivitas dokter dan kecepatan permintaan dari penyidik. Studi tersebut menekankan bahwa keterlambatan permintaan visum lebih dari 24 jam secara signifikan menurunkan akurasi temuan luka pada kasus kekerasan tumpul ringan.

Temuan ini menggarisbawahi bahwa efektivitas visum sebagai alat bukti sangat bergantung pada koordinasi antara pihak kepolisian dan fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, edukasi masyarakat mengenai alur visum sangat krusial untuk memastikan hak-hak korban terlindungi secara hukum.

Jika kamu mengalami cedera atau trauma fisik, jangan menunda untuk mendapatkan bantuan. Selain untuk kesehatan, pemeriksaan medis awal adalah langkah penting untuk dokumentasi masa depan. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc untuk mendapatkan arahan awal yang tepat.

Referensi:
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Pedoman Pelayanan Kedokteran Forensik.
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 133 dan 184.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Physical Examination and Forensic Evidence.
Jurnal Kedokteran Indonesia. Diakses pada 2026. Peran Visum et Repertum dalam Pembuktian Tindak Pidana Kekerasan.

FAQ

1. Apakah visum bisa dilakukan tanpa lapor polisi?

Bisa, namun statusnya bukan sebagai Visum et Repertum untuk kepentingan peradilan, melainkan hanya sebagai rekam medis biasa atau surat keterangan dokter. Untuk digunakan sebagai alat bukti yang sah di pengadilan, visum harus berdasarkan permintaan resmi dari penyidik polisi.

2. Berapa biaya untuk melakukan visum?

Dalam kasus tindak pidana di mana visum diminta oleh penyidik, biaya visum seharusnya ditanggung oleh negara melalui anggaran kepolisian. Namun, dalam praktiknya, biaya ini seringkali bergantung pada kebijakan rumah sakit daerah dan ketersediaan anggaran dinas terkait.

3. Berapa lama hasil visum biasanya keluar?

Waktu keluarnya hasil visum bervariasi tergantung kerumitan kasus. Visum seketika bisa selesai dalam 1-3 hari, sedangkan visum jenazah yang memerlukan autopsi atau uji laboratorium (toksikologi) bisa memakan waktu berminggu-minggu.

4. Apakah luka yang sudah sembuh masih bisa divisum?

Luka yang sudah sembuh total sulit untuk mendapatkan hasil visum yang akurat mengenai penyebab asalnya. Namun, bekas luka (sikatriks) masih bisa diperiksa oleh dokter forensik untuk memperkirakan jenis benda yang menyebabkan luka tersebut di masa lalu.


Punya Pertanyaan Mengenai Prosedur Medis? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya kekhawatiran tentang kesehatan atau bingung mengenai prosedur pemeriksaan medis? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.