Ad Placeholder Image

Proses Pembelahan Meiosis: Tahapan Mudah dan Lengkap

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Meiosis terdiri dari dua tahap utama: Meiosis I dan Meiosis II.

Proses Pembelahan Meiosis: Tahapan Mudah dan LengkapProses Pembelahan Meiosis: Tahapan Mudah dan Lengkap

DAFTAR ISI


Tubuh manusia adalah keajaiban biologis yang tersusun dari triliunan sel. Sel-sel ini terus-menerus membelah diri untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, hingga reproduksi. Dalam dunia biologi, ada dua jenis pembelahan sel utama yang harus kamu ketahui, yaitu mitosis dan meiosis. Jika mitosis bertujuan untuk memperbanyak sel tubuh (sel somatik), maka pembelahan meiosis memiliki tugas yang jauh lebih spesifik dan krusial bagi kelangsungan spesies manusia.

Pembelahan meiosis adalah proses pembelahan sel yang terjadi khusus pada sel-sel kelamin (gamet), yaitu sperma pada pria dan sel telur (ovum) pada wanita. Tanpa adanya meiosis, reproduksi seksual tidak akan mungkin terjadi. Proses ini memastikan bahwa setiap anak yang lahir memiliki jumlah kromosom yang normal dan mewarisi perpaduan sifat genetik yang unik dari kedua orang tuanya.

Meski terjadi secara alami di dalam tubuh, proses pembelahan meiosis sangat kompleks dan rentan terhadap kesalahan. Jika terjadi kegagalan atau kelainan selama proses pemisahan kromosom, hal ini dapat berdampak pada kesehatan janin, memicu infertilitas, hingga menyebabkan kelainan genetik bawaan pada bayi. Oleh karena itu, memahami bagaimana meiosis bekerja dapat memberikan wawasan penting tentang kesehatan reproduksi dan perkembangan janin.

Penasaran bagaimana sel-sel dalam tubuhmu bekerja untuk menciptakan generasi baru? Mari kita bedah secara tuntas proses, tahapan, hingga dampak medis dari pembelahan meiosis berikut ini!

Pengertian dan Tujuan Pembelahan Meiosis

Pembelahan meiosis adalah pembelahan sel reduksi yang mengubah sel induk diploid (memiliki dua set kromosom, atau 46 kromosom pada manusia) menjadi empat sel anak haploid (memiliki satu set kromosom, atau 23 kromosom). Pengurangan jumlah kromosom ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah desain biologis yang sangat cerdas.

Tujuan utama pembelahan meiosis meliputi:

  1. Menjaga Jumlah Kromosom Tetap Konstan: Saat sel sperma yang memiliki 23 kromosom bertemu dengan sel telur yang juga memiliki 23 kromosom, proses pembuahan akan menghasilkan zigot dengan 46 kromosom. Jika meiosis tidak mereduksi jumlah kromosom, jumlah kromosom akan terus berlipat ganda pada setiap generasi, yang tidak kompatibel dengan kehidupan manusia.
  2. Menciptakan Keanekaragaman Genetik: Selama meiosis, terjadi proses yang disebut “pindah silang” (crossing over). Bagian-bagian dari kromosom ayah dan ibu saling bertukar materi genetik. Inilah alasan mengapa kamu mungkin memiliki mata seperti ayahmu tetapi rambut seperti ibumu, dan mengapa kamu tidak identik dengan saudara kandungmu (kecuali kembar identik).

Proses meiosis terjadi dalam dua tahap pembelahan berturut-turut, yang dikenal sebagai Meiosis I dan Meiosis II. Mari kita pelajari detail tahapan masing-masing.

Tahapan Pembelahan Meiosis I

Meiosis I sering disebut sebagai pembelahan reduksi karena pada tahap inilah jumlah kromosom dibagi dua. Fase ini sangat penting dan kompleks, terdiri dari empat sub-tahapan utama:

1. Profase I

Profase I adalah fase terpanjang dan paling rumit dalam meiosis. Fase ini sendiri dibagi lagi menjadi lima sub-fase:

  • Leptoten: Kromatin menebal dan memendek membentuk kromosom. Setiap kromosom terdiri dari dua kromatid bersaudara yang identik.
  • Zigoten: Kromosom homolog (pasangan kromosom dari ayah dan ibu yang memiliki ukuran dan bentuk yang sama) mulai saling berpasangan. Proses ini disebut sinapsis.
  • Pakiten: Pasangan kromosom homolog semakin rapat dan membentuk struktur tetrad (empat kromatid). Di sinilah keajaiban terjadi—terjadi proses crossing over atau pindah silang genetik yang menciptakan kombinasi gen baru.
  • Diploten: Kromosom homolog mulai menjauh, namun masih terhubung di titik persilangan yang disebut kiasmata.
  • Diakinesis: Membran inti sel mulai menghilang, dan benang spindel mulai terbentuk untuk menarik kromosom nanti.

2. Metafase I

Pasangan kromosom homolog yang masih dalam bentuk tetrad berbaris di bagian tengah sel (bidang ekuator). Penempatan ini terjadi secara acak (independent assortment), yang semakin menambah variasi genetik. Benang spindel dari kutub sel yang berlawanan menempel pada sentromer masing-masing kromosom homolog.

3. Anafase I

Benang spindel memendek dan menarik kromosom homolog ke kutub sel yang berlawanan. Penting untuk dicatat bahwa pada Anafase I, kromatid bersaudara tidak terpisah; melainkan seluruh kromosom (yang terdiri dari dua kromatid) bergerak ke arah kutub. Ini adalah momen di mana sel berubah dari diploid menjadi haploid.

4. Telofase I dan Sitokinesis

Kromosom telah mencapai kutub sel. Membran inti sel mulai terbentuk kembali di sekitar setiap kelompok kromosom. Selanjutnya, sitoplasma membelah (sitokinesis), menghasilkan dua sel anak. Setiap sel anak kini bersifat haploid (n), namun setiap kromosom di dalamnya masih memiliki sepasang kromatid bersaudara.

Perbedaan Mitosis dan Meiosis Secara Singkat
  1. Lokasi: Mitosis terjadi di sel tubuh (somatik), sedangkan meiosis hanya di organ reproduksi (testis dan ovarium).
  2. Jumlah Pembelahan: Mitosis membelah 1 kali, meiosis membelah 2 kali.
  3. Hasil Akhir: Mitosis menghasilkan 2 sel anak identik (diploid), meiosis menghasilkan 4 sel anak unik (haploid).

Tahapan Pembelahan Meiosis II

Setelah istirahat sejenak (interkinesis), kedua sel anak hasil Meiosis I langsung memasuki Meiosis II tanpa melalui proses replikasi DNA lagi. Proses ini sangat mirip dengan pembelahan mitosis biasa.

1. Profase II

Kromosom kembali memadat dan membran inti yang baru saja terbentuk kembali melebur. Benang spindel mulai terbentuk lagi pada kedua sel anak tersebut.

2. Metafase II

Kromosom tunggal (yang masih terdiri dari dua kromatid bersaudara) bergerak dan berbaris rapi di bidang ekuator sel. Sentromer kromosom diikat oleh benang spindel dari dua kutub yang berlawanan.

3. Anafase II

Di sinilah kromatid bersaudara akhirnya berpisah. Sentromer terbelah, dan kromatid ditarik oleh benang spindel menuju kutub sel yang berlawanan. Kromatid yang terpisah ini kini dianggap sebagai kromosom individu.

4. Telofase II dan Sitokinesis

Kromosom mulai terurai kembali menjadi benang kromatin. Membran inti sel kembali terbentuk. Sitoplasma membelah sekali lagi, sehingga dari dua sel yang memasuki Meiosis II, kini dihasilkan empat sel anak haploid. Pada pria, keempat sel ini akan berkembang menjadi sperma yang fungsional. Sedangkan pada wanita, pembelahan sitoplasma tidak merata, menghasilkan satu sel telur besar (ovum fungsional) dan tiga badan polar yang akhirnya berdegenerasi.

Kelainan Genetik Akibat Kegagalan Meiosis

Meski proses meiosis berjalan sangat terstruktur, kesalahan sesekali dapat terjadi. Kesalahan paling umum disebut nondisjunction, yaitu gagal berpisahnya kromosom homolog pada Anafase I atau kromatid bersaudara pada Anafase II.

Kegagalan ini menyebabkan sel telur atau sperma memiliki jumlah kromosom yang tidak normal (terlalu banyak atau terlalu sedikit), kondisi yang dikenal sebagai aneuploidi. Beberapa sindrom genetik yang diakibatkan oleh kegagalan meiosis antara lain:

  • Sindrom Down (Trisomi 21): Individu memiliki tiga salinan kromosom 21. Ditandai dengan ciri wajah khas, keterlambatan perkembangan, dan risiko masalah jantung bawaan.
  • Sindrom Edwards (Trisomi 18): Kondisi serius di mana bayi memiliki kelainan fisik parah dan harapan hidup yang sangat rendah.
  • Sindrom Klinefelter (XXY): Laki-laki yang memiliki kromosom X tambahan, sering kali menyebabkan infertilitas dan karakteristik fisik tertentu.
  • Sindrom Turner (X0): Perempuan yang kehilangan satu kromosom X, menyebabkan perawakan pendek dan gangguan fungsi ovarium.

Risiko terjadinya nondisjunction ini diketahui meningkat seiring bertambahnya usia ibu hamil. Oleh karena itu, jika kamu berencana merencanakan kehamilan di usia lebih dari 35 tahun, atau memiliki riwayat keluarga dengan kondisi genetik tertentu, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter spesialis kandungan dan genetika guna melakukan pemeriksaan skrining genetik atau Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT).

Cara Menjaga Kesehatan Sel Reproduksi

Kualitas pembelahan sel dan kesehatan gamet (sperma dan sel telur) sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan asupan nutrisi. Meskipun kesalahan genetik tidak dapat dicegah 100%, kamu bisa meminimalkan risiko mutasi sel dengan cara:

1. Mengonsumsi Antioksidan dan Vitamin Esensial

Stres oksidatif akibat radikal bebas dapat merusak DNA dalam sel reproduksi. Konsumsi makanan kaya antioksidan (seperti buah beri, bayam, dan kacang-kacangan) sangat membantu. Selain itu, asupan asam folat (Vitamin B9) terbukti secara medis krusial dalam pembentukan DNA dan pembelahan sel yang sehat, mencegah cacat tabung saraf pada janin.

Untuk mendukung pembelahan sel yang sehat selama masa persiapan kehamilan, kamu bisa beli vitamin dan suplemen kehamilan secara online di Halodoc, produk dijamin asli dan diantar langsung ke rumah.

2. Menjauhi Paparan Toksin

Zat kimia berbahaya seperti merkuri, pestisida, radiasi sinar X yang berlebihan, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol dapat merusak materi genetik dalam gamet. Berhentilah merokok dan hindari paparan polusi kronis demi menjaga kualitas kromosom.

3. Menjaga Berat Badan Ideal

Obesitas memicu gangguan hormon yang secara langsung memengaruhi kualitas pelepasan sel telur (ovulasi) pada wanita dan menurunkan kualitas serta kuantitas sperma pada pria akibat peradangan sistemik.

Studi Mengenai Kegagalan Meiosis dan Usia

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa faktor usia maternal (usia ibu) memiliki korelasi yang sangat kuat dengan persentase kegagalan meiosis (aneuploidi) pada sel telur.

Studi ini menemukan bahwa sel telur wanita sebenarnya sudah tertahan di fase Profase I meiosis sejak ia masih di dalam kandungan ibunya. Sel-sel ini akan menyelesaikan meiosis secara bertahap setiap bulan sejak masa pubertas hingga menopause. Lamanya sel telur “menunggu” dalam fase diam ini (bisa mencapai 30 hingga 40 tahun) menyebabkan kompleks protein kohesin yang menahan kromosom menjadi rapuh, sehingga saat pembelahan dilanjutkan, kromosom rentan gagal terpisah dengan benar.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Down Syndrome: Causes & Symptoms.
Nature Reviews Genetics. Diakses pada 2024. Mechanisms of chromosome segregation and aneuploidy in human oocytes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Cellular Division: Meiosis vs Mitosis.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Meiosis and Maternal Aging: Insights from Mice and Humans.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pentingnya Skrining Genetik pada Kehamilan Risiko Tinggi.

FAQ

1. Di bagian tubuh mana pembelahan meiosis terjadi?

Pembelahan meiosis hanya terjadi secara eksklusif di dalam organ reproduksi (gonad). Pada laki-laki, proses ini terjadi di testis untuk menghasilkan sperma (spermatogenesis). Pada perempuan, terjadi di ovarium untuk menghasilkan sel telur (oogenesis).

2. Apakah mutasi genetik selama meiosis bisa disembuhkan?

Kelainan jumlah kromosom (seperti Sindrom Down) yang terjadi akibat mutasi atau kegagalan pembelahan pada meiosis bersifat permanen sejak masa zigot terbentuk, sehingga tidak bisa disembuhkan. Penanganan medis difokuskan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengatasi gejala penyertanya.

3. Berapa lama proses pembelahan meiosis berlangsung pada manusia?

Pada laki-laki, proses meiosis dari sel spermatogonium hingga menjadi sperma matang memakan waktu sekitar 64 hingga 72 hari dan berlangsung terus-menerus. Pada perempuan, meiosis dimulai sebelum lahir, tertunda di fase Profase I, dan baru dilanjutkan satu per satu setiap siklus menstruasi hingga masa menopause.

4. Apakah gaya hidup bisa menyebabkan kegagalan meiosis?

Ya, paparan radikal bebas tinggi, asap rokok, narkoba, radiasi berbahaya, dan kekurangan nutrisi seperti asam folat dapat merusak integritas DNA selama pembelahan sel, yang meningkatkan risiko pembentukan sel telur atau sperma yang cacat secara genetik.