Ad Placeholder Image

Pusar Bau? Ini Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Pusar Bau? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya!

Pusar Bau? Ini Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya!Pusar Bau? Ini Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya!

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu menyadari adanya aroma yang tidak sedap muncul dari area perut bagian tengah? Pusar atau udel sering kali menjadi salah satu bagian tubuh yang paling terabaikan saat kita mandi. Padahal, bentuknya yang berlipat dan menjorok ke dalam menjadikannya tempat persembunyian yang ideal bagi keringat, sel kulit mati, hingga sisa sabun. Saat penumpukan ini dibiarkan, mikroorganisme akan berkembang biak dan memicu masalah aroma.

Mengetahui kenapa udel bau merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mendeteksi apakah kondisi tersebut sekadar masalah kebersihan biasa atau justru merupakan tanda dari infeksi yang membutuhkan penanganan medis. Banyak orang yang mengabaikan keluhan ini hingga akhirnya muncul gejala lanjutan seperti kemerahan, rasa gatal yang hebat, hingga keluarnya cairan atau nanah dari dalam pusar.

Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, infeksi pada pusar dapat menyebar ke area kulit di sekitarnya dan menyebabkan rasa tidak nyaman yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Terutama bagi kamu yang memiliki kondisi medis tertentu seperti diabetes, menjaga kebersihan area ini menjadi kewajiban yang tidak boleh dilewatkan untuk mencegah komplikasi infeksi kulit yang lebih serius.

Nah, mau tahu apa saja penyebab pasti dari masalah ini dan bagaimana cara paling ampuh serta aman untuk mengatasinya? Berikut ulasan medis lengkapnya!

Anatomi Pusar dan Mengapa Rentan Berbau

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penyebabnya, penting untuk memahami anatomi pusar itu sendiri. Pusar sebenarnya adalah jaringan parut yang tersisa dari tali pusar yang menghubungkan kamu dengan ibu saat masih berada di dalam kandungan. Setelah tali pusar dipotong dan sembuh saat bayi, sisa jaringan ini membentuk lekukan atau tonjolan di perut.

Mayoritas orang memiliki pusar yang menjorok ke dalam (dikenal dengan istilah innie). Bentuk anatomi yang cekung seperti gua kecil ini membuatnya sangat rentan menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam kotoran. Keringat yang mengalir dari dada atau perut, sel-sel kulit mati yang luruh setiap hari, serat pakaian dari baju yang kamu kenakan, hingga sisa-sisa losion atau sabun, semuanya bisa terperangkap di dalam lekukan pusar.

Area yang tertutup ini memiliki suhu yang hangat dan cenderung lembap. Kombinasi antara kelembapan, suhu hangat, dan adanya “makanan” berupa sel kulit mati menciptakan lingkungan yang sangat sempurna bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Ketika mikroorganisme ini memecah kotoran dan sel kulit mati, proses metabolisme mereka akan menghasilkan gas dan senyawa yang memicu bau tidak sedap, mirip dengan proses yang terjadi pada ketiak atau sela jari kaki.

Berbagai Penyebab Utama Pusar Berbau

Ada beberapa kondisi medis dan faktor kebiasaan yang bisa memicu munculnya aroma tidak sedap dari udel. Berikut adalah penyebab paling umum yang perlu kamu ketahui:

1. Penumpukan Kotoran dan Daki (Kondisi Kurang Higienis)

Penyebab paling sederhana dan paling sering terjadi adalah kurangnya kebersihan. Banyak orang yang mandi setiap hari namun lupa atau tidak sengaja melewatkan bagian pusar saat menggosok tubuh. Daki yang menumpuk dari waktu ke waktu akan mengeras dan bercampur dengan bakteri alami kulit. Kondisi ini secara medis kadang bisa membentuk omphalolith atau batu pusar, yaitu massa keras dari sebum (minyak kulit) dan keratin yang teroksidasi sehingga berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau menyengat.

2. Infeksi Jamur (Kandidiasis)

Pusar yang berbau asam atau seperti ragi sering kali menjadi pertanda adanya infeksi jamur. Jamur Candida albicans adalah flora normal yang hidup di kulit, namun ia bisa tumbuh di luar kendali jika menemukan lingkungan yang gelap, hangat, dan sangat lembap. Infeksi jamur pada pusar (kandidiasis kutaneus) biasanya ditandai dengan kulit pusar yang tampak merah menyala, terasa sangat gatal, bersisik, dan kadang disertai cairan putih yang kental.

3. Infeksi Bakteri

Di dalam pusar manusia terdapat ribuan jenis bakteri. Jika terdapat luka kecil di dalam pusar—misalnya akibat kebiasaan mengorek pusar dengan kuku yang tajam atau akibat tindikan—bakteri seperti Staphylococcus atau Streptococcus dapat masuk dan menyebabkan infeksi. Infeksi bakteri ditandai dengan bau yang sangat busuk, rasa nyeri yang berdenyut, pembengkakan, dan keluarnya cairan berwarna kuning atau hijau (nanah).

4. Kista Sebasea dan Kista Epidermoid

Kista adalah benjolan berupa kantung tertutup di bawah kulit yang bisa berisi cairan atau materi padat. Kista epidermoid terbentuk dari sel-sel kulit, sedangkan kista sebasea terbentuk dari kelenjar minyak (sebum). Jika kista ini terbentuk di area pusar dan mengalami peradangan atau pecah, ia akan mengeluarkan cairan kental berwarna kekuningan yang aromanya sangat tidak sedap, mirip seperti bau keju busuk.

5. Kista Urakhus (Urachal Cyst)

Ini adalah kondisi yang lebih jarang terjadi. Urakhus adalah saluran kecil yang menghubungkan kandung kemih janin ke tali pusar. Saluran ini seharusnya menutup dan menyusut sebelum bayi lahir. Namun, pada beberapa kasus, saluran ini tidak menutup sempurna sehingga membentuk kista di kemudian hari. Kista urakhus dapat terinfeksi dan menyebabkan keluarnya cairan keruh atau berdarah dari pusar disertai bau tidak sedap, nyeri perut bagian bawah, dan demam.

Faktor Pemicu dan Tips Pencegahan Utama
  1. Hindari mengorek pusar: Menggunakan kuku tajam atau benda keras untuk membersihkan pusar dapat menyebabkan luka mikroskopis yang menjadi pintu masuk bakteri.
  2. Keringkan dengan sempurna: Setelah mandi atau berenang, pastikan untuk mengeringkan area pusar dengan menepuknya perlahan menggunakan handuk bersih. Kelembapan adalah musuh utama.
  3. Kurangi penggunaan losion berlebih: Jangan mengoleskan krim pelembap atau losion tebal ke dalam lekukan pusar karena akan menyumbat pori-pori dan menjebak kotoran.

Faktor Risiko yang Memperparah Kondisi

Selain penyebab langsung di atas, terdapat beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan mengalami pusar berbau dan infeksi:

1. Penyakit Diabetes

Orang dengan diabetes memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi dari batas normal. Kondisi ini menyebabkan keringat dan cairan tubuh lainnya mengandung lebih banyak gula. Jamur Candida sangat menyukai gula sebagai sumber makanannya. Selain itu, penderita diabetes sering kali memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, sehingga tubuh mereka lebih sulit melawan infeksi jamur maupun bakteri di area pusar.

2. Bentuk Pusar “Innie” yang Dalam

Anatomi sangat menentukan. Jika kamu memiliki pusar dengan bentuk cekungan yang sangat dalam dan memiliki banyak lipatan kulit (biasanya terjadi seiring penambahan berat badan), sirkulasi udara di area tersebut akan sangat minim. Kondisi ini membuat kelembapan terperangkap lebih lama.

3. Obesitas

Kelebihan berat badan sering kali memicu lipatan perut yang lebih tebal dan menutupi pusar secara keseluruhan. Gesekan antar kulit, produksi keringat yang berlebih, dan sulitnya menjangkau area tersebut saat mandi menjadikan obesitas sebagai faktor risiko utama infeksi kulit di area pusar.

4. Tindik Pusar (Belly Button Piercing)

Tindik membuat luka terbuka di kulit yang memerlukan waktu cukup lama untuk sembuh sempurna. Jika alat tindik tidak steril atau perawatan pasca-tindik tidak dilakukan secara higienis, risiko infeksi bakteri akan meningkat drastis. Infeksi pada tindikan dapat menyebabkan penumpukan nanah, abses, dan bau yang menyengat.

Cara Membersihkan dan Mengatasi Pusar Berbau

Jika masalah bau pada pusarmu belum disertai gejala infeksi parah (seperti nyeri hebat atau nanah), kamu bisa melakukan perawatan mandiri di rumah secara aman. Berikut adalah langkah-langkah medis yang direkomendasikan:

1. Pembersihan Rutin Harian

Saat mandi, gunakan sabun antibakteri yang lembut atau sabun berbahan dasar gliserin yang aman untuk kulit sensitif. Gunakan waslap bersih atau jari tangan untuk membasuh area pusar dengan lembut. Jangan digosok terlalu keras. Bilas dengan air mengalir hingga tidak ada sisa sabun yang tertinggal, karena sisa sabun yang mengering justru bisa memicu iritasi.

2. Gunakan Cotton Bud (Korek Kuping) atau Kapas

Untuk kotoran atau daki yang menempel kuat, jangan dipaksa lepas menggunakan kuku. Celupkan cotton bud bersih ke dalam air garam steril (saline), alkohol medis 70%, atau baby oil. Usapkan secara perlahan ke dinding pusar untuk melunakkan kotoran. Putar perlahan hingga kotoran terangkat. Segera ganti cotton bud jika sudah kotor, jangan memasukkan bagian yang kotor kembali ke dalam pusar.

3. Menjaga Area Tetap Kering

Setelah selesai dibersihkan, gunakan ujung handuk yang bersih dan kering untuk menepuk-nepuk bagian dalam pusar. Pastikan area tersebut benar-benar kering sebelum kamu mengenakan pakaian. Jika perlu, gunakan kapas kering atau kipas angin kecil untuk memastikan tidak ada sisa air yang menggenang di dalam lekukan.

4. Pakaian Longgar dan Menyerap Keringat

Gunakan pakaian dalam dan baju berbahan katun yang mudah menyerap keringat. Pakaian ketat berbahan sintetis seperti nilon atau poliester dapat menjebak panas dan keringat di sekitar perut, sehingga memperparah kondisi kelembapan kulit.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Pembersihan rutin biasanya sudah cukup untuk mengatasi bau pusar akibat kotoran dan keringat. Namun, kamu diwajibkan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika menemukan gejala-gejala infeksi di bawah ini:

  • Keluar cairan berwarna kuning, kehijauan, atau kecokelatan (nanah) dari dalam pusar.
  • Kulit di sekitar pusar tampak sangat merah, terasa panas saat disentuh, dan bengkak (tanda selulitis).
  • Terasa nyeri yang berdenyut-denyut tajam di area perut sekitar pusar.
  • Timbulnya benjolan yang semakin membesar dan terasa sakit.
  • Kamu mengalami demam atau badan terasa menggigil.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik langsung, mengambil sampel cairan atau usapan (swab) dari pusar untuk diperiksa di laboratorium. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mungkin akan meresepkan krim antibiotik untuk infeksi bakteri, salep antijamur untuk kandidiasis, atau melakukan prosedur insisi kecil untuk mengeluarkan nanah dari kista yang meradang.

Studi Terkait Kebersihan Pusar

PLOS ONE menerbitkan studi komprehensif di tahun 2012 bertajuk “A Jungle in There: Bacteria in Belly Buttons” yang menjelaskan bahwa pusar manusia adalah rumah tangga ekologis yang sangat kaya. Dalam studi tersebut, para peneliti mengambil sampel usapan pusar dari 60 sukarelawan dan menemukan lebih dari 2.368 spesies bakteri yang berbeda.

Menariknya, sebagian besar bakteri tersebut adalah bakteri baik yang berfungsi melindungi kulit. Namun, studi ini juga menekankan bahwa penumpukan keringat dan gangguan pada keseimbangan flora normal kulit dapat memicu dominasi patogen jahat, yang akhirnya menghasilkan senyawa penyebab bau busuk. Penemuan ini memperkuat alasan medis mengapa menjaga kebersihan pusar—tanpa harus menggunakan bahan kimia keras yang membunuh seluruh bakteri baik—sangatlah krusial untuk kesehatan kulit.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala kemerahan, bengkak, atau pusar mengeluarkan nanah seperti yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk memeriksakan diri. Kamu bisa berkonsultasi mengenai keluhan ini langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Belly Button Smells.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Yeast infection (vaginal) – Symptoms and causes. (Referensi umum infeksi jamur Candida).
PLOS ONE. Diakses pada 2024. A Jungle in There: Bacteria in Belly Buttons are Highly Diverse, but Predictable.
Healthline. Diakses pada 2024. Why Does My Belly Button Smell?
Medical News Today. Diakses pada 2024. What causes a smelly belly button?

FAQ

1. Apakah wajar jika pusar sesekali berbau?

Ya, sangat wajar. Pusar memiliki lipatan yang mudah menjebak keringat, kulit mati, dan kotoran. Jika aroma tersebut hilang setelah kamu mandi dan membersihkannya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena itu hanyalah tumpukan daki biasa.

2. Bolehkah menggunakan alkohol untuk membersihkan pusar?

Boleh, tetapi tidak disarankan untuk penggunaan setiap hari. Alkohol 70% atau antiseptik bisa digunakan sesekali jika ada kotoran yang membandel atau jika pusar mulai kemerahan. Namun, penggunaan rutin dapat membuat kulit pusar menjadi sangat kering, iritasi, dan membunuh bakteri baik di area tersebut.

3. Apakah bau pusar bisa menjadi tanda penyakit diabetes?

Bau pusar itu sendiri bukan gejala langsung diabetes. Namun, bau yang disebabkan oleh infeksi jamur berulang pada pusar bisa menjadi indikator peringatan. Gula darah yang tidak terkontrol pada penderita diabetes membuat mereka sangat rentan terkena infeksi jamur kulit, termasuk di area pusar.

4. Bagaimana cara membersihkan pusar pada bayi baru lahir?

Pada bayi, kebersihan tali pusar yang belum puput sangat penting. Cukup bersihkan area di sekitarnya menggunakan kapas yang dicelupkan ke air matang bersih atau air sabun yang sangat ringan. Pastikan area tali pusar dikeringkan dengan sempurna dan biarkan terkena udara agar cepat mengering dan puput secara alami.