Ad Placeholder Image

Push Up Wanita: Tips Melakukannya dengan Benar

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Push up adalah latihan sederhana namun efektif untuk meningkatkan kekuatan, postur, dan kesehatan tulang wanita.

Push Up Wanita: Tips Melakukannya dengan BenarPush Up Wanita: Tips Melakukannya dengan Benar

DAFTAR ISI


Push up adalah salah satu latihan beban tubuh (bodyweight exercise) yang paling populer dan efektif untuk membangun kekuatan tubuh bagian atas. Meskipun terlihat sederhana, cara melakukan push up yang benar sering kali diabaikan oleh banyak orang, mulai dari pemula hingga mereka yang sudah rutin berolahraga. Latihan ini tidak memerlukan peralatan khusus dan dapat dilakukan di mana saja, menjadikannya pilihan utama bagi mereka yang ingin menjaga kebugaran fisik tanpa harus pergi ke pusat kebugaran.

Pentingnya mengetahui teknik yang tepat tidak hanya sekadar untuk mendapatkan hasil otot yang maksimal, tetapi juga untuk mencegah risiko cedera yang tidak diinginkan. Push up melibatkan pergerakan rantai kinetik tertutup, yang berarti tangan berada dalam posisi tetap pada permukaan tanah sementara tubuh bergerak. Mekanisme ini sangat baik untuk menstabilkan sendi, asalkan dilakukan dengan postur tubuh yang tepat.

Banyak orang mengeluhkan rasa sakit pada pergelangan tangan, siku, punggung bawah, atau bahu setelah melakukan push up. Keluhan-keluhan medis seperti ini biasanya muncul bukan karena gerakan push up itu sendiri berbahaya, melainkan karena bentuk atau form latihan yang keliru. Oleh karena itu, memahami biomekanika tubuh saat melakukan gerakan ini sangat krusial bagi setiap individu.

Nah, mau tahu bagaimana cara melakukan push up yang benar dari awal hingga akhir, serta variasi apa saja yang bisa kamu coba untuk memaksimalkan manfaatnya? Berikut ulasan lengkap dan panduan medisnya!

Anatomi Otot yang Bekerja Saat Push Up

Sebelum mempelajari teknik gerakan, ada baiknya kamu memahami terlebih dahulu kelompok otot mana saja yang menjadi target utama dan sekunder saat kamu melakukan push up. Secara anatomis, push up adalah latihan gabungan (compound movement) yang mengaktifkan berbagai kelompok otot sekaligus dalam satu waktu.

Otot utama yang bekerja (primary movers) adalah otot dada (pektoralis mayor dan minor), otot bahu bagian depan (anterior deltoid), dan otot lengan belakang (trisep brachii). Otot pektoralis berfungsi menarik lengan ke arah tengah tubuh saat kamu mendorong ke atas. Trisep bertugas meluruskan siku pada fase akhir gerakan. Sementara itu, deltoid anterior membantu mengangkat tubuh bersama dengan otot dada.

Selain otot penggerak utama, push up juga sangat bergantung pada otot stabilisator. Otot inti atau core (rektus abdominis, transversus abdominis, dan obliques) bekerja keras untuk menjaga agar tulang belakang tetap lurus dan panggul tidak turun. Otot punggung atas dan sekitar tulang belikat, seperti serratus anterior, juga turut berkontraksi untuk menjaga stabilitas korset bahu selama pergerakan naik turun.

Langkah-Langkah Cara Melakukan Push Up yang Benar

Mendapatkan manfaat maksimal dari push up sangat bergantung pada teknik yang sempurna. Melakukan 10 repetisi push up dengan bentuk yang benar jauh lebih efektif dan aman secara medis dibandingkan melakukan 50 repetisi namun dengan postur yang salah. Berikut adalah panduan langkah demi langkah cara melakukan push up yang benar:

1. Posisi Awal (Starting Position)

Mulailah dengan posisi telungkup di atas lantai. Tempatkan kedua telapak tangan sedikit lebih lebar dari bahu. Jari-jari tangan harus menunjuk lurus ke depan atau sedikit diputar ke luar untuk mengurangi tekanan pada pergelangan tangan. Pastikan lengan lurus tetapi siku jangan sampai terkunci kaku (hyperextended).

2. Aktivasi Otot Inti (Engage Your Core)

Angkat tubuhmu sehingga berat badan bertumpu pada telapak tangan dan ujung jari kaki. Bayangkan ada garis lurus yang membentang dari tumit, panggul, punggung bagian atas, hingga ke kepala. Kencangkan otot perut seolah-olah kamu sedang bersiap menerima pukulan di perut, dan kencangkan juga otot gluteus (bokong) agar panggul tidak turun atau menungging.

3. Fase Menurun (Eccentric Phase)

Tarik napas (inhale) secara perlahan sambil menekuk siku untuk menurunkan tubuhmu ke arah lantai. Pastikan siku membentuk sudut sekitar 45 derajat dari tubuhmu, jangan biarkan siku membuka terlalu lebar hingga membentuk huruf ‘T’ karena ini akan merusak sendi bahu. Turunkan tubuh hingga dada berada beberapa sentimeter dari lantai. Jaga agar leher tetap netral; pandangan mata mengarah sedikit ke depan, bukan ke arah kaki atau mendongak ke atas.

4. Fase Mendorong (Concentric Phase)

Hembuskan napas (exhale) lalu dorong tubuhmu kembali ke atas secara bertenaga menggunakan otot dada, bahu, dan lengan. Tekan telapak tangan kuat-kuat ke lantai seolah kamu sedang mendorong lantai menjauhi tubuh. Jaga form tubuh tetap lurus seperti papan baja dari bawah hingga lengan kembali lurus. Ini dihitung sebagai satu repetisi (rep).

5. Ritme dan Kontrol

Pastikan gerakan tidak dilakukan dengan terburu-buru. Turunlah secara perlahan (sekitar 2-3 detik) dan dorong ke atas dengan lebih cepat (sekitar 1 detik). Kontrol gerakan saat turun sangat penting untuk merangsang hipertrofi (pertumbuhan) otot.

Tips Pemanasan Sebelum Push Up
  1. Lakukan arm circles (putaran lengan) ke depan dan belakang selama 30 detik untuk melumasi sendi bahu (cairan sinovial).
  2. Lakukan wrist stretches (peregangan pergelangan tangan) dengan menarik jari-jari ke belakang secara perlahan untuk mencegah nyeri sendi.
  3. Lakukan posisi plank statis selama 20-30 detik untuk mengaktifkan otot inti (core) sebelum mulai melakukan push up penuh.

Variasi Push Up Sesuai Tingkat Kemampuan

Terkadang, melakukan push up standar di atas lantai terlalu sulit bagi pemula, atau mungkin terlalu mudah bagi atlet yang sudah berpengalaman. Modifikasi gerakan sangat diperbolehkan dan disarankan untuk memfasilitasi adaptasi otot (progressive overload).

1. Wall Push Up (Untuk Pemula)

Bagi pemula, lansia, atau mereka yang sedang dalam masa pemulihan cedera bahu, wall push up adalah titik awal yang sangat aman. Berdirilah menghadap dinding dengan jarak sekitar satu panjang lengan. Letakkan tangan di dinding dan lakukan gerakan dorong. Beban pada persendian sangat minim sehingga aman untuk persendian.

2. Incline Push Up

Variasi ini lebih berat dari wall push up tetapi lebih ringan dari push up standar. Gunakan permukaan yang ditinggikan seperti kursi, bangku taman, atau meja yang kokoh. Semakin tinggi permukaannya, semakin ringan beban tubuh yang harus diangkat. Sangat cocok untuk melatih teknik otot inti.

3. Knee Push Up

Dilakukan di lantai, namun beban tubuh bagian bawah bertumpu pada lutut, bukan ujung kaki. Pastikan untuk tetap menjaga garis lurus dari bahu hingga lutut. Ini membantu pemula merasakan kontraksi otot dada sebelum beralih ke posisi kaki penuh.

4. Decline Push Up (Tingkat Lanjut)

Bagi yang sudah menguasai push up standar, decline push up menawarkan tantangan baru. Letakkan ujung kaki di atas permukaan yang lebih tinggi (seperti kursi) sementara tangan berada di lantai. Variasi ini memindahkan beban lebih berat ke otot dada bagian atas (upper chest) dan otot bahu depan.

5. Diamond Push Up

Posisikan kedua telapak tangan saling berdekatan di bawah dada hingga ibu jari dan telunjuk membentuk pola menyerupai berlian (diamond). Posisi tangan yang sempit ini akan menggeser fokus beban dari otot dada ke otot trisep brachii.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Melihat betapa kompleksnya mekanisme biomekanik dari satu gerakan push up, wajar jika banyak orang melakukan kesalahan tanpa disadari. Beberapa kesalahan ini tidak hanya membuat latihan menjadi kurang efisien, tetapi juga dapat memicu masalah ortopedi jangka panjang.

Pertama, melebarkan siku hingga 90 derajat (flared elbows). Ketika siku membentuk garis lurus dengan bahu (seperti huruf T), tendon bisep dan bursa bahu akan terjepit. Hal ini sering menjadi penyebab utama sindrom pelampiasan bahu (shoulder impingement syndrome) pada orang yang gemar latihan beban. Selalu pastikan siku sedikit diselipkan ke arah tulang rusuk.

Kedua, panggul yang melorot atau turun (sagging hips). Hal ini terjadi karena otot perut dan bokong tidak dikencangkan secara aktif. Panggul yang turun akan menyebabkan tulang belakang bagian bawah (lumbar) melengkung secara berlebihan (hiperlordosis), yang dapat memicu nyeri punggung bawah kronis (lower back pain).

Ketiga, rentang gerak yang setengah-setengah (half reps). Banyak orang mencoba melakukan push up dalam jumlah banyak namun hanya turun beberapa sentimeter dan langsung naik kembali. Otot dada tidak akan mendapatkan peregangan yang maksimal dengan cara ini. Lebih baik melakukan 5 repetisi dengan dada menyentuh lantai secara penuh, daripada 20 repetisi setengah jalan.

Manfaat Push Up untuk Kesehatan Tubuh

Selain membangun otot bagian atas agar tampak lebih atletis, push up memberikan segudang manfaat kesehatan yang telah dibuktikan melalui berbagai literatur medis. Gerakan yang menuntut kekuatan penahan tubuh ini secara otomatis akan meningkatkan kepadatan tulang (bone mineral density) di area pergelangan tangan dan lengan, mengurangi risiko osteoporosis di masa tua.

Selain itu, karena push up melibatkan banyak kelompok otot besar secara bersamaan, jantung harus memompa darah lebih keras untuk menyuplai oksigen ke jaringan otot. Hal ini secara efektif meningkatkan sirkulasi darah dan melatih kapasitas kardiovaskular. Bagi individu yang jarang bergerak aktif (sedentary lifestyle), memasukkan push up ke dalam rutinitas harian dapat secara signifikan memperbaiki profil metabolisme, mengontrol gula darah, dan mengurangi resistensi insulin.

Postur tubuh juga dapat diperbaiki melalui push up yang benar. Di era modern ini, banyak orang mengalami postur membungkuk akibat terlalu lama duduk di depan komputer atau melihat layar ponsel (text neck syndrome). Dengan melakukan push up secara rutin dan mengaktifkan otot punggung bagian atas sebagai stabilisator, bahu yang melengkung ke depan dapat ditarik kembali ke posisi anatomis yang sehat.

Kapan Harus Berhenti dan Menghubungi Dokter?

Meskipun push up adalah latihan yang aman, kamu harus peka terhadap sinyal dari tubuhmu sendiri. Wajar jika otot terasa pegal satu hingga dua hari setelah latihan. Kondisi ini disebut DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness) yang merupakan respons peradangan mikro normal dari otot yang sedang memulihkan diri. Otot yang pegal karena DOMS biasanya akan sembuh dengan sendirinya melalui istirahat dan nutrisi yang cukup.

Namun, jika kamu merasakan nyeri sendi yang tajam, tertusuk, atau rasa sakit yang langsung muncul saat sedang melakukan gerakan turun atau naik—khususnya pada sendi bahu (rotator cuff), pergelangan tangan, atau siku—maka itu adalah sinyal bahaya. Hentikan latihan segera. Memaksakan diri untuk terus berlatih pada sendi yang meradang dapat menyebabkan robekan ligamen atau tendon yang memerlukan operasi ortopedi.

Bila keluhan berlanjut, sangat disarankan untuk mencari diagnosis medis yang akurat. Jika kamu mengalami cedera atau nyeri yang tidak kunjung membaik, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Dokter dapat memberikan saran apakah kamu memerlukan kompres dingin, istirahat dari aktivitas fisik (metode RICE), atau evaluasi lebih lanjut seperti X-Ray.

Studi Mengenai Kapasitas Push Up dan Penyakit Jantung

JAMA Network Open menerbitkan studi di tahun 2019 yang menjelaskan bahwa kapasitas seseorang dalam melakukan push up berbanding lurus dengan kesehatan jantung dan pembuluh darahnya di masa depan.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health ini mengobservasi sekelompok pemadam kebakaran pria selama kurang lebih 10 tahun. Hasilnya menemukan bahwa pria yang mampu melakukan 40 kali push up berturut-turut tanpa jeda memiliki risiko 96% lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular dibandingkan mereka yang hanya mampu melakukan kurang dari 10 kali push up. Temuan klinis ini menunjukkan bahwa kemampuan melakukan bodyweight exercise seperti push up dapat menjadi indikator sederhana dan murah untuk menilai status kebugaran dan risiko penyakit jantung seseorang.

Pada akhirnya, kebugaran fisik tidak dapat dicapai dalam waktu semalam. Lakukan push up secara rutin, utamakan teknik dan postur dibandingkan jumlah repetisi, dan pastikan tubuhmu memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri (recovery) antar sesi latihan. Konsumsi makanan yang kaya akan protein tanpa lemak, cukupi hidrasi harian, dan pertimbangkan asupan vitamin yang dapat mendukung sintesis protein.

Untuk mendukung pemulihan otot yang optimal pasca berolahraga, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah, seperti berbagai pilihan suplemen protein, vitamin D, hingga krim pereda nyeri sendi. Tetaplah aktif bergerak demi tubuh yang lebih kuat, tangguh, dan sehat di masa depan.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:

Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses pada 2024. Push-up capacity linked with lower incidence of cardiovascular disease events among men.
JAMA Network Open. Diakses pada 2024. Association Between Push-up Exercise Capacity and Future Cardiovascular Events Among Active Adult Men.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Strength training: How-to video collection.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. How to Do a Push-Up the Right Way.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Guidelines on physical activity and sedentary behaviour.

FAQ

1. Apakah cara melakukan push up yang benar bisa mengecilkan perut buncit?

Push up pada dasarnya adalah latihan ketahanan (resistance training) untuk mengencangkan otot dada dan lengan. Meskipun push up membakar kalori dan melatih otot perut (core), latihan ini saja tidak cukup untuk menghilangkan lemak perut (spot reduction). Untuk mengecilkan perut buncit, kamu harus menggabungkan latihan beban, olahraga kardiovaskular (seperti berlari), dan yang paling penting menjaga defisit kalori harian.

2. Berapa kali sebaiknya melakukan push up dalam sehari untuk pemula?

Bagi pemula, disarankan untuk tidak melakukan push up setiap hari guna mencegah kelelahan otot (overtraining). Mulailah dengan 2-3 set yang terdiri dari 5-10 repetisi yang dilakukan 3 kali dalam seminggu. Biarkan otot beristirahat minimal 48 jam sebelum melatih kelompok otot yang sama agar serat otot memiliki waktu untuk melakukan perbaikan dan tumbuh lebih kuat.

3. Mengapa pergelangan tangan sering terasa sakit saat melakukan push up?

Rasa sakit pada pergelangan tangan umumnya terjadi karena persendian harus menahan berat badan dalam sudut yang ekstrem (ekstensi 90 derajat). Ini menempatkan tekanan besar pada ligamen pergelangan tangan. Untuk mengatasinya, kamu bisa mencoba melakukan push up menggunakan genggaman pada dumbbell (sehingga pergelangan tangan tetap lurus netral) atau menggunakan bantalan khusus push up (push-up bars).

4. Apakah wanita dan pria memiliki cara melakukan push up yang berbeda?

Secara anatomis, teknik biomekanik push up yang benar sama saja antara pria dan wanita. Posisi punggung lurus, bahu terkunci, dan siku menyudut 45 derajat berlaku untuk kedua jenis kelamin. Hanya saja, wanita secara alami memiliki proporsi kekuatan tubuh bagian atas yang lebih kecil dibanding pria, sehingga banyak wanita lebih disarankan untuk memulai dengan variasi incline push up atau knee push up untuk membangun kekuatan dasar terlebih dahulu.