
Rahang Bunyi Saat Mengunyah? Kenali Penyebab dan Solusinya
Kenali Penyebab Rahang Bunyi Saat Mengunyah dan Solusinya

DAFTAR ISI
- Mengenal Sendi Rahang (TMJ) dan Fungsinya
- Berbagai Penyebab Rahang Berbunyi Saat Mengunyah
- Cara Mengatasi Keluhan Rahang Berbunyi Secara Mandiri
- Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri ke Dokter?
- Studi Terkait Gangguan Sendi Rahang
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu mendengar suara “klik” atau “pop” yang cukup keras dari area dekat telinga ketika sedang asyik makan siang? Kondisi saat mengunyah rahang berbunyi adalah salah satu keluhan kesehatan yang sangat umum terjadi. Meski sering kali tidak disertai rasa sakit pada awalnya, bunyi tersebut bisa terasa mengganggu dan membuat kita bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang salah dengan struktur tulang di area wajah.
Keluhan ini umumnya berkaitan dengan sendi temporomandibular atau yang dalam dunia medis dikenal dengan sebutan Temporomandibular Joint (TMJ). Sendi ini bekerja bagaikan engsel geser yang menghubungkan tulang rahang bawah dengan tulang tengkorakmu. Ketika fungsi engsel ini mengalami gangguan, pergeseran tulang rawan yang ada di dalamnya bisa menciptakan suara gemeretak, klik, atau bahkan sensasi tersangkut saat kamu membuka maupun menutup mulut.
Sangat penting untuk tidak mengabaikan kondisi ini begitu saja. Walaupun pada sebagian kasus rahang yang berbunyi dapat hilang dengan sendirinya, pada kasus lain hal ini bisa menjadi tanda awal dari peradangan sendi yang lebih serius, kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur, atau masalah pada susunan gigi. Jika dibiarkan tanpa penanganan, keluhan yang tadinya hanya berupa bunyi bisa berkembang menjadi rasa nyeri kronis, sakit kepala yang menjalar, hingga kesulitan untuk membuka mulut secara lebar (rahang terkunci).
Mengingat topik ini tidak secara langsung membutuhkan intervensi obat-obatan bebas tanpa diagnosis pasti, artikel ini tidak akan berfokus pada rekomendasi obat secara spesifik, melainkan panduan lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada rahangmu dan langkah penanganan medis yang tepat. Nah, mari kita bahas lebih dalam mengenai penyebab serta solusi dari kondisi rahang berbunyi ini!
Mengenal Sendi Rahang (TMJ) dan Fungsinya
Sebelum kita membahas mengapa rahang bisa berbunyi, kita perlu memahami anatomi dari sendi rahang itu sendiri. Sendi Temporomandibular (TMJ) adalah salah satu sendi paling kompleks yang ada di dalam tubuh manusia. Kamu memiliki dua sendi ini, letaknya berada tepat di depan telinga pada masing-masing sisi kepala. TMJ memungkinkan rahang bawah bergerak ke atas dan ke bawah, ke samping kanan dan kiri, serta maju dan mundur. Berkat fleksibilitas sendi inilah kamu bisa berbicara, mengunyah makanan, menelan, hingga menguap dengan nyaman.
Kompleksitas pergerakan ini didukung oleh tulang-tulang yang diselimuti oleh tulang rawan dan dipisahkan oleh cakram kecil (diskus artikularis) yang bertindak sebagai bantalan peredam kejut. Cakram kecil ini berfungsi untuk menjaga agar pergerakan sendi tetap mulus dan mencegah tulang-tulang saling bergesekan secara langsung. Otot-otot di sekitar wajah dan leher, serta jaringan ligamen, turut menjaga sendi ini agar tetap stabil di posisinya.
Masalah mulai timbul ketika keselarasan elemen-elemen tersebut terganggu. Ketika cakram bantalan tersebut bergeser dari posisi normalnya atau mengalami keausan, pergerakan sendi tidak lagi mulus. Akibatnya, setiap kali rahang bergerak—terutama saat mengunyah rahang berbunyi atau saat membuka mulut terlalu lebar—cakram yang keluar jalur tersebut akan “tersentak” kembali ke posisinya, menciptakan suara klik atau pop yang khas.
Berbagai Penyebab Rahang Berbunyi Saat Mengunyah
Suara klik pada rahang bukanlah sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah gejala (symptom) dari kondisi yang lebih luas, yang secara medis disebut sebagai Temporomandibular Joint Disorder (TMD). Ada berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya TMD dan menyebabkan rahang berbunyi, di antaranya adalah:
1. Bruxism (Kebiasaan Menggemeretakkan Gigi)
Bruxism adalah kebiasaan menggemeretakkan, menekan, atau menggesekkan gigi atas dan bawah secara tidak sadar. Kondisi ini paling sering terjadi saat seseorang sedang tertidur lelap (sleep bruxism), meskipun bisa juga terjadi saat sedang terjaga ketika seseorang merasa cemas atau berkonsentrasi penuh. Tekanan konstan dan berlebihan akibat bruxism menyebabkan otot-otot rahang menjadi tegang dan lelah. Dalam jangka panjang, tekanan ekstra ini bisa menggeser cakram pelindung sendi dan merusak tulang rawan, yang pada akhirnya menghasilkan bunyi klik saat rahang digunakan untuk mengunyah.
2. Stres dan Ketegangan Emosional
Kesehatan mental memiliki hubungan yang sangat erat dengan keluhan fisik. Ketika kamu mengalami stres, cemas, atau tertekan, tubuh secara otomatis akan merespons dengan menegangkan otot-otot, termasuk otot-otot di sekitar wajah dan leher. Banyak orang secara tidak sadar mengencangkan rahang mereka (clenching) saat sedang stres. Ketegangan otot yang berlangsung terus-menerus ini akan membebani sendi temporomandibular, memicu kelelahan otot, dan mengganggu pergerakan mulus dari rahang.
3. Artritis (Radang Sendi)
Sama halnya dengan sendi lutut atau siku, sendi rahang juga tidak luput dari risiko radang sendi. Osteoartritis dan rheumatoid arthritis adalah dua jenis radang sendi yang paling sering memengaruhi TMJ. Osteoartritis menyebabkan tulang rawan sendi menjadi aus dan rusak seiring bertambahnya usia, sementara rheumatoid arthritis adalah kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan sendi. Keduanya dapat menyebabkan kerusakan struktural pada sendi rahang, menimbulkan bunyi, rasa sakit, dan keterbatasan gerak.
4. Maloklusi (Susunan Gigi Tidak Rata)
Maloklusi merujuk pada ketidaksejajaran antara gigi rahang atas dan rahang bawah ketika mulut ditutup. Jika gigi-gigi tidak bertemu dengan benar saat kamu menggigit atau mengunyah, beban yang diterima oleh sendi rahang menjadi tidak seimbang. Salah satu sisi sendi mungkin harus bekerja jauh lebih keras daripada sisi lainnya untuk mengimbangi ketidaksejajaran tersebut. Seiring waktu, tekanan asimetris ini akan merusak persendian dan memicu bunyi klik.
5. Trauma atau Cedera Fisik
Benturan keras pada area wajah, rahang, atau leher akibat kecelakaan, terjatuh, atau cedera olahraga dapat merusak struktur TMJ. Trauma dapat menyebabkan tulang rahang retak, ligamen terkilir, atau cakram pelindung sendi bergeser dari posisi anatomisnya yang seharusnya. Pada beberapa kasus, efek dari trauma ini mungkin tidak langsung terasa, melainkan berkembang secara bertahap dan memicu bunyi rahang di kemudian hari.
Faktor Pemicu dan Kebiasaan Buruk yang Harus Dihindari
- Bertopang dagu: Kebiasaan menekan dagu dengan tangan saat duduk atau bekerja memberikan tekanan buruk pada satu sisi sendi rahang.
- Mengunyah satu sisi: Membiasakan diri mengunyah makanan hanya di sisi kanan atau kiri saja akan menciptakan ketidakseimbangan otot dan sendi.
- Menggigit benda keras: Menggigit kuku, ujung pena, es batu, atau membuka kemasan plastik dengan gigi dapat membebani TMJ secara ekstrem.
- Mengunyah permen karet: Gerakan mengunyah repetitif dalam durasi lama akan membuat otot rahang kelelahan.
Cara Mengatasi Keluhan Rahang Berbunyi Secara Mandiri
Jika bunyi pada rahang tidak disertai dengan rasa nyeri yang hebat atau pembengkakan, ada beberapa langkah perawatan mandiri (home remedies) yang bisa kamu coba lakukan di rumah untuk meredakan ketegangan pada otot dan sendi rahang. Berikut adalah beberapa metode konservatif yang direkomendasikan:
1. Penerapan Kompres Hangat dan Dingin
Terapi suhu sangat efektif untuk meredakan keluhan pada sendi. Jika otot rahangmu terasa tegang dan kaku akibat stres atau bruxism, aplikasikan kompres hangat (menggunakan handuk yang direndam air hangat atau botol air panas yang dibalut kain) pada sisi wajah yang bermasalah selama 15-20 menit. Panas akan meningkatkan sirkulasi darah dan merelaksasi otot. Sebaliknya, jika rahang terasa nyeri tajam atau jika dicurigai ada peradangan akut akut, gunakan kompres dingin (es yang dibalut kain) selama 10-15 menit untuk membuat area tersebut mati rasa sementara dan mengurangi inflamasi.
2. Diet Makanan Lunak (Soft Diet)
Untuk memberi waktu bagi sendi rahangmu beristirahat dan memulihkan diri, beralihlah ke pola makan yang didominasi oleh makanan lunak selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Pilihlah makanan yang tidak membutuhkan banyak tenaga untuk dikunyah, seperti bubur, sup, yogurt, telur orak-arik, ikan, kentang tumbuk, dan buah-buahan yang sudah dihaluskan. Hindari makanan yang keras (seperti kacang-kacangan, kerupuk keras), makanan yang kenyal (seperti daging liat, permen karamel), serta makanan yang berukuran besar yang mengharuskanmu membuka mulut terlalu lebar (seperti burger utuh atau apel utuh).
3. Pijat dan Relaksasi Otot Wajah
Melakukan pijatan lembut pada otot-otot pengunyah (otot masseter) yang terletak di sudut rahang bagian bawah pipi, dapat sangat membantu melepaskan ketegangan. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk memijat area tersebut dengan gerakan melingkar yang pelan namun memberikan tekanan yang cukup selama beberapa menit. Lakukan ini setiap hari, terutama sebelum tidur. Selain itu, praktikkan teknik manajemen stres seperti yoga, meditasi, atau latihan pernapasan dalam untuk mencegah kebiasaan mengencangkan rahang secara tidak sadar.
4. Latihan Peregangan Rahang
Ada beberapa latihan ringan yang bisa dilakukan untuk memperkuat dan meningkatkan fleksibilitas TMJ. Salah satu latihan dasar adalah dengan menempatkan ujung lidah di langit-langit mulut tepat di belakang gigi seri atas, kemudian perlahan buka dan tutup mulutmu senyaman mungkin tanpa menyebabkan rasa sakit. Gerakan ini melatih otot rahang untuk sejajar dan bergerak pada sumbu yang benar. Lakukan latihan ini sebanyak 5-10 repetisi beberapa kali sehari. Namun ingat, jika latihan ini justru menimbulkan rasa nyeri, segera hentikan.
Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri ke Dokter?
Meskipun rahang berbunyi kerap kali tidak berbahaya, ada beberapa tanda bahaya (red flags) yang mengindikasikan bahwa kamu memerlukan penanganan medis profesional dari dokter gigi atau dokter spesialis bedah mulut. Jangan tunda konsultasi medis jika kamu mengalami salah satu atau beberapa gejala berikut ini:
- Nyeri Berkelanjutan: Rasa sakit yang tajam atau berdenyut pada area rahang, wajah, telinga, leher, atau pundak yang tidak kunjung membaik meski sudah melakukan perawatan mandiri.
- Rahang Terkunci (Lockjaw): Ketidakmampuan untuk membuka atau menutup mulut sepenuhnya. Rahang terasa seperti tersangkut di satu posisi. Ini adalah keadaan darurat medis untuk TMJ.
- Kesulitan Mengunyah: Rasa sakit yang sangat mengganggu ketika mencoba menelan atau mengunyah makanan bertekstur paling lunak sekalipun.
- Perubahan Gigitan: Kamu merasa gigi rahang atas dan bawah tiba-tiba tidak bisa terkatup rapat atau posisinya terasa aneh dan tidak sejajar.
- Pembengkakan Wajah: Terlihat adanya pembengkakan yang asimetris di salah satu sisi wajah atau dekat area telinga.
Dokter gigi atau dokter spesialis akan melakukan pemeriksaan klinis secara menyeluruh, yang mungkin melibatkan rontgen gigi (panoramic X-ray), CT scan, atau MRI untuk melihat struktur tulang dan jaringan lunak pada TMJ secara detail. Berdasarkan diagnosis, dokter mungkin akan meresepkan pembuatan mouthguard atau occlusal splint untuk digunakan saat tidur guna mencegah efek merusak dari bruxism. Pada kasus yang lebih parah, prosedur medis seperti injeksi kortikosteroid, artrosentesis (pembilasan sendi), atau tindakan bedah rahang mungkin diperlukan.
Studi Terkait Gangguan Sendi Rahang
Journal of Oral & Facial Pain and Headache menerbitkan studi komprehensif mengenai prevalensi gangguan temporomandibular (TMD) di populasi umum. Studi tersebut menyoroti bahwa sekitar 20% hingga 30% populasi orang dewasa pernah mengalami setidaknya satu gejala TMD, seperti bunyi klik pada rahang, nyeri, atau keterbatasan gerak rahang pada suatu titik dalam hidup mereka.
Lebih lanjut, studi klinis tersebut menegaskan bahwa faktor stres psikososial dan kebiasaan bruxism berkontribusi secara signifikan terhadap memburuknya gejala. Penemuan ini memperkuat alasan medis mengapa pengelolaan stres (stress management) dan intervensi dini menggunakan alat pelindung mulut sangat penting untuk mencegah kerusakan sendi permanen, dibandingkan hanya berfokus pada penghilang rasa sakit sementara.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Gigi via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Gigi terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. TMJ disorders – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Temporomandibular Joint (TMJ) Disorders.
National Institute of Dental and Craniofacial Research (NIDCR). Diakses pada 2024. TMJ (Temporomandibular Joint & Muscle Disorders).
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Oral health.
FAQ
1. Apakah berbahaya jika saat mengunyah rahang berbunyi?
Umumnya, suara klik pada rahang tanpa disertai rasa nyeri atau kesulitan membuka mulut bukanlah kondisi yang berbahaya. Namun, jika bunyi tersebut terus-menerus terjadi, bertambah keras, dan mulai diikuti oleh rasa nyeri di wajah atau sakit kepala, ini bisa menandakan adanya gangguan struktur sendi TMJ yang memerlukan evaluasi dokter gigi.
2. Apakah rahang berbunyi bisa disembuhkan tanpa operasi?
Bisa. Mayoritas kasus gangguan TMJ dapat dikelola dengan perawatan konservatif non-bedah. Perawatan seperti kompres hangat, pijat otot wajah, diet makanan lunak, dan penggunaan pelindung gigi (mouthguard) saat tidur sudah sangat efektif untuk memulihkan fungsi rahang dan menghilangkan bunyinya.
3. Apakah kebiasaan makan permen karet bisa merusak rahang?
Mengunyah permen karet secara berlebihan atau terus-menerus setiap hari dapat membebani sendi rahang dan membuat otot masseter kelelahan. Jika kamu sudah memiliki riwayat rahang berbunyi atau nyeri, sangat disarankan untuk menghindari mengunyah permen karet agar kondisi sendi tidak semakin meradang.
4. Dokter spesialis apa yang menangani rahang berbunyi?
Langkah pertama yang paling tepat adalah berkonsultasi dengan Dokter Gigi umum. Jika gangguan yang terjadi cukup kompleks atau berkaitan dengan kerusakan tulang dan sendi tingkat lanjut, dokter gigi umum biasanya akan merujuk pasien ke Dokter Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial (Sp.BM) untuk penanganan lebih lanjut.


